BERKREASI DARI BAHAN YANG TAK TERPAKAI, YUK !!! Juni 25, 2009
Posted by elindasari in Belajar.Tags: Awet, Banquet, Botol Minuman Mineral, Bungkus Bekas Buah Apple bentuk Mangkok, Bungkus Bekas Buah Apple/ Pear, Gampang, Hemat, Interior, ketrampilan, Kreasi Bahan Daur Ulang, Kreasi dari Bahan Bekas / Sampah, Landscape, Meja Tamu, Meja VIP, Menghasilkan Uang, Mudah, murah, Panggung, Perayaan, Seni, Vase
10 comments
Kreasi dari bahan Daur Ulang
Akhir-akhir ini kerap kali kita mendengar berbagai slogan yang berbau pelestarian lingkungan, mulai istilah “Go green, Green Bulding, Let’s green, etc”, pokoknya semuanya bertemakan seputar”Green, Green & Green”.
Dari hal ini saya jadi terinspirasi dan saya mencoba membuat sebuah kreasi / ketrampilan yang bertema “Go Green” yang akan dipakai untuk “LANDSCAPE & Interior” dalam perjamuan suatu perayaan pesta Ulang Tahun.. Kebetulan kreasi ini saya buat dalam rangka hari ulang tahun “Ibu” pimpinan perusahaan saya beberapa waktu yang lalu.

Bunga Daur Ulang yang Unik
Sengaja saya membuat kreasi berbagai macam bunga ini dari berbagai bahan bekas / tidak dipakai. Bahan-bahan tersebut sangat mudah kita jumpai disekitar kita. Bahan2 itu antara lain: pembungkus buah (apel dan pear) yang terdiri dari jaring-jaring buah yang berwarna putih dan pink, dan juga pembungkus buah apel import yang berbentuk mangkok berwarna merah serta bekas botol minuman mineral ataupun plastik softdrink.

Salah satu sudut lain landscape kreasi bunga daur ulang
(Hem, pikir-pikir ini adalah salah satu bentuk menyalurkan salah satu hobby dan kreasi saya membuat pernak-pernik dari bahan-bahan bekas, hehehe)
Ok, biar para pembaca nggak penasaran dengan hasil kreasi saya ini saya akan tampilkan foto-fotonya.
Bunga Tulip Putih

Bunga Tulip Putih (Bahan Bungkus buah)
Bahan dasarnya terbuat dari bungkus bekas buah pear/ apel berwarna putih.
Putik bunga terbuat dari moteh-moteh kalung berwarna merah atau kuning (kalau yang ini bisa dibeli di toko moteh-moteh), bisa juga memanfa’atkan dari sisa kalung imitasi yang sudah tidak terpakai.

Bunga Lily yang Putih Berseri
Sedangkan untuk tangkainya terbuat dari kawat bekas (bisanya kalau kita atau tetangga kita sedang merenovasi rumah suka ada sisa kawat yang nggak terpakai, nah ini bisa kita minta / beli dengan harga yang relative murah) yang kemuadian dilit dengan krep tape pembungkus batang yang dapat kita beli di toko2 perlengkapan ketrampilan / toko buku.
Selain bahan-bahan diatas kita hanya membutuhkan double tape, selotif bening ukuran sedang dan lem UHU (ini juga nggak banyak).
Bunga Terompet Pink

Bunga Terompet Pink
Bahan dasarnya terbuat dari bungkus bekas buah pear/ apel berwarna pink.
Sedangkan untuk tangkainya terbuat dari kawat bekas (bisanya kalau kita atau tetangga kita sedang merenovasi rumah suka ada sisa kawat yang nggak terpakai, nah ini bisa kita minta / beli dengan harga yang relative murah).

Bunga Terompet Pink yang unik
Selain bahan-bahn diatas kita hanya membutuhkan double tape, selotif bening ukuran sedang dan lem UHU (ini juga nggak banyak) yang kemuadian dilit dengan krep tape pembungkus batang yang dapat kita beli di toko2 perlengkapan ketrampilan / toko buku.
Bahan-bahan membuat bunga Terompet Pink ini sama dengan bunga Tulip berwarna putih, hanya saja bunga terompet ini tidak membutuhkan putik (so lebih irit, tapi hasil nggak kalah cantik lho, ceileh….).

Bunga Terompet Pink menghiasi salah satu sudut Landscape
Bunga Matahari

Bunga Matahari dari atas
Bahan dasarnya terbuat dari bungkus bekas apel berwarna merah yang berbentuk seperti mangkok (memang mungkin tidak setiap toko buah atau pasar swalayan memiliki jenis pembungkus buah apel jenis ini). Tapi sekedar info kalau pembungkus ini bisa anda jumpai di toko buah (khususnya di Jakarta) seperti di TOTAL BUAH, Swalayan FARMERS dan mungkin juga di toko2 khusus menjual buah2 import.

Bunga Matahari dari samping
Dan seringkali bungkus2 buah ini dibuang sengaja oleh para pembeli ketika ingin menimbang buah (mungkin dengan alasan sedikit irit, hahaha).
Nah, bagi kita yang punya hobby dengan ketrampilan / kreasi, pembungkus ini bisa kita manfa’atkan menjadi bunga Matahari.

Bunga Matahari Merah yang cerah
Sedangkan Putik bunga Matahari, terbuat dari kertas krep warna kuning (warna cerah) yang dipotong2 kecil dan memanjang yang kemudian dililitkan dengan lem UHU di sebuah potongan gabus kecil (juga kita manfa’atkan dari kotak bekas buah). Kotak bekas buah ini juga bisa kita minta atau kita beli dengan harga yang sangat murah di toko2 buah, karena biasanya kotak2 ini juga dibuang ke tempat sampah.
Dan bagian belakang bunga matahari dapat kita ambil dengan memanfa’atkan dari bekas tutup botol minuman mineral.
Nah agar bagian bunga bisa menempel indah ditangkainya kita lilit dengan kertas krep berwarna hijau (cari yang warnanya mirip batang / daun).
Sedangkan untuk tangkainya terbuat dari kawat bekas (bisanya kalau kita atau tetangga kita sedang merenovasi rumah suka ada sisa kawat yang nggak terpakai, nah ini bisa kita minta / beli dengan harga yang relative murah) yang kemuadian dilit dengan krep tape pembungkus batang yang dapat kita beli di toko2 perlengkapan ketrampilan / toko buku..

Bunga Matahari di Landscape bwah panggung
Selain bahan-bahn diatas kita hanya membutuhkan double tipe, selotif bening ukuran sedang dan lem UHU (ini juga nggak banyak).
Lalu saya juga membuat BUNGA TULIP BERWARNA MERAH DAN KUNING

Bunga Tulip Kuning yang Menawan

Bunga Tulip Merah dari Botol Mineral yang cantik
Untuk bunga Tulip merah dan Tulip Kuning ini, bahan dasarnya saya manfa’atkan dari bekas botol minuman mineral atau botol softdrink. Biasanya untuk mendapatkan satu tangkai bunga dengan ukuran sedang saya bisa ambil dari satu bekas botol minuman mineral (botol ukuran 500 ml) saja.

Tulip Merah (Bahan Botol Mineral)
Botol2 tersebut kita potong sesuai pola yang berbentuk kelopak (satu bunga terdiri dari 11-12 kelopak). Lalu kelopak2 tersebut kita satukan dengan menggunakan lem UHU. Setelah kering kita buat lubang untuk memasukkan tangkai bunga dengan menggunakan paku / obeng yang telah dipanaskan (ukuran lubang disesuaikan dengan ukuran kawat tangkai bunga).
Setelah proses ini selesai kitabisa mewarnai bunga2 tersebut dengan menggunakan cat semprot seperti: Pilox (pilih yang warnanya cerah dan mengkilat) agar menghasilkan bunga-bunga yang cantik aneka warna. Kita juga dapat menyemprotkan bunga2 ini sekaligus agar lebih effien dan menghemat cat dan agar hasilnya lebih maksimal pengecatan harus rata (tidak perlu terlalu tebal) agar tampak alami.

Bungan Tulip Merah (Bahan Botol Mineral) tampak samping

Tulip Kuning (Bahan Botol Mineral) dari samping
Setelah itu tinggal proses memasang tangkai. Untuk tangkainya terbuat dari kawat bekas (bisanya kalau kita atau tetangga kita sedang merenovasi rumah suka ada sisa kawat yang nggak terpakai, nah ini bisa kita minta / beli dengan harga yang relative murah) yang kemuadian dilit dengan krep tape pembungkus batang yang dapat kita beli di toko2 perlengkapan ketrampilan / toko buku.
Lalu proses selanjutnya , kita tinggal masukkan tangkai bunga ke lubang bunga yang telah kita siapkan sebelumnya, dan biar hasilnya cantik kita dapat memasangkan putik bunga dari moteh-moteh yang dapat kita beli di toko pernak-pernik ketrampilan moteh ataupun bisa juga dapat memanfa’atkan dari sisa kalung imitasi yang telah tidak terpakai.
Hanya saja kali ini, kita menggunakan lem plastic / lem tembak agar hasilnya lebih kuat dan rapi. (Lem tembak inipun dapat kita perolah dengan mudah di toko yang menjual pernak-pernik ketrampilan ataupun di toko buku, harga lemnya sendiri berkisar Rp. 3500 per enam batang, dsangakan alatnya sendiri/ penembak lem ukuran sedang sekitar 35 rb dan dapat kita pakai terus menerus utk ketrampilan kita yang lain).
Nah sekarang mari kita lihat foto-foto hasilnya cantik bukan ?. (Hahaha…ini muji sendiri yach !)
Para pembaca dan pecinta ketrampilan sekalian,
Disini saya akan tampilkan hasil foto-foto hasil kreasi bunga-bunga ini yang telah menghiasi berbagai vas bunga di meja penerima tamu, meja tamu dan meja VIP, meja banquet & dessert dan tentu saja yang telah menghiasi “landscape” di bawah panggung utama ruangan ini.

Hasil Kreasi Bunga Daur Ulang

Hasil Kreasi Bunga Daur Ulang di Vase

Hasil Kreasi Bunga di Vase Banquet VIP

Hasil Kreasi di Vase Banquet Perjamuan

Hasil Ktreasi Bunga di Vase2

Hasil Kreasi Bunga di Meja VIP

Hasil Kreasi di Vase meja penerima tamu

Tulip Pink penghias meja tamu. JPG

sisi kanan kreasi landcape bunga daur ulang

sisi kiri kreasi landscape bunga daur ulang
Gimana ?
Lumayan kreatif bukan mengigat semua bunga-bunga yang menghiasi ruangan pesta perjamuan ini berasal dari bahan-bahan bekas yang sering kita jumpai di seputar kita.
O, yach sebagai informasi tambahan bahwa semua bunga-bunga ini (totalnya tak kurang dari 750 tangkai bunga, dan untuk kreasi ini menghabiskan total biaya sekitar 350 ribu rupiah saja lho). Saya juga mengerjakan kreasi bunga-bunga ini sekitar 7 hari saja (itupun nggak full, karena kalau hari kerja saya baru bisa memulai kegiatan ini pada malam hari).
Dan hasil kreasi ini setelah acara dapat anda manfa’atkan untuk keperluan lain karena hasil kreasi ini relative awet, tidak gampang rusak dan mudah untuk dibersihkan.
Gimana ada para pembaca dan pecinta ketrampilan yang tertarik untuk mencobanya juga ?.
(Jika masih ada yang belum jelas seputar pembuatan kreasi ini, silahkan tinggalkan pesan di komentar postingan blog ini, saya pasti senang membantu para pembaca sekalian)
Semoga tulisan saya ini bermanfa’at dan memberi inspirasi.
Oh , So “Wonderful Life”, if you have “Balancing Life” Juni 18, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Balancing Life, Juice sayur & buah, luar biasa, Lukisan, Nasehat, Nikmati, Pernak-pernik, Tante, Wonderful Life
15 comments
Hari Minggu lalu (+/- seminggu yang lalu), saya sempat mengunjungi rumah seorang tante saya di bilangan Jakarta Selatan. Terus terang hal ini agak setengah terpaksa saya lakukan, karena ibu saya meminta saya terus untuk mengantarkan buah tangan ibu dari kampung, untuk tante saya tersebut. Yach jadi meski dengan perasaan setengah mengomel dalam hati tugas mengantarkan oleh-oleh ini saya lakoni juga.
Terus terang maksud hati saya bukan semata-mata menolak keinginan ibu saya, hanya saja saya merasa hari Minggu ini juga saya masih ada pekerjaan yang lebih penting yang harus saya selesaikan. Karena dari dua minggu yang lalu sempat tertunda karena ada tamu dan kerjaan itu akhirnya belum kelar.

Ekspresi mendengar nasehat Tante
Padahal, saya sudah mengorbankan hari Sabtu dan hari Minggu yang lalu (+/- 2 pekan lalu) untuk bersama anak-anak. Pada akhir pekan 2 minggu yang lalu, saya sudah meminta suami saya untuk mengajak anak-anak pergi dan bermain tanpa saya, meskipun disambut dengan cembetut oleh suami dan kedua putra saya.
“Hem, I’m sorry, my son, my honey, To day, Mommy must do some works, so you can play in garden with your nanny or you can round a way with your father, ok ?”, pinta saya kepada kedua buah hati saya yang ingin mengajak saya bermain di akhir pekan 2 minggu yang lalu. Sementara itu saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya hingga sore akhir pekan berakhir.
Ok, balik lagi ke session awal (hari Minggu lalu), setibanya saya dirumah tante saya itu (Minggu kemarin), saya disambut hangat oleh putri bungsu tanteku.
“Ei, tante Bintang, sudah lama nich nggak main kemari, sudah sombong nich tante…sampai-sampai pas acara nikahan bang Fahri nggak datang !”ujar keponakan saya (anak tanteku yang bungsu) ini membuka pembicaraan kami kala itu tatkala aku baru turun dari mobil. Ternyata keponakanku ini sedang asyik menggunting batang dan daun bunga yang mulai kering.
Aku hanya membalasnya dengan perasaan setangah malu,” Yach maklumlah nasib pegawai kayak gini, terkadang mesti bela-belain lemburin kerjaan meski nggak dibayar dan merelakan waktu weekend”. “Ini ada oleh-oleh dari kampong, 2 minggu lalu mama habis mudik”, lanjutku lagi sambil menyerahkan oleh2 titip Mama untuk keluarga tante ini.
“Aduh tante terima ksih banyak yach, sudah merepotin. Yuk, masuk tante !”, ajak keponakanku ini lagi. “Saya panggil mama dulu yacht tante”, lanjutnya lagi sambil berlalu meninggalku di ruang tamu yang tampak elegant.
Sebenarnya ada perasaan nggak enak juga, karena gara-gara lumayan sibuk waktu untuk saling berkunjung dan saling bertegur sapa meski lewat telp, kurasakan agak berkurang akhir-akhir ini. Padahal dulunya hampir tiap bulan saya dan keluarga berkunjung kemari. Karena tanteku ini yang paling akrab denganku sedari aku kecil. Saya jadi agak menyesal juga.
Sebenarnya secara tak sengaja, sedari kedatanganku tadi saya sempat terpukau sa’at melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah di rumah tanteku ini.
“Ei…ma’af jadi agak lama nunggunya !”, seru tanteku yang langsung memelukku. “Yuk, kita ke dapur, kebetulan tante lagi bantuin si mbaknya masak kue maksubah dibelakang, kamu pasti suka khan ?” seru tanteku dengan wajah yang semeringgah.
Sambil masuk ke dapur, saya tetap memperhatikan tatanan rumah tanteku yang memang tertata rapi dan dipenuhi berbagai koleksi benda-benda yang unik dan berbagai lukisan dengan ukuran yang juga bervariasi.
(lagi…)
Sorry Sir ! I don’t know about It ! Juni 12, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Belum Tahu, Bertumbuh, Cerdas, Cost Plan, I don't know, Revisi, Sadar, Sir, Sorry, Tidak Tahu
9 comments

Sorry Sir, I don't know about it!
“Sorry Sir ! , I don’t about it !”. Yach, kalimat itulah yang akhirnya dengan berat hati harus meluncur dari mulutku untuk mengakhiri session presentasiku kali ini. Kalimat ini sangat berat kuucapkan mengingat saya harus mengakui di hadapan atasan saya yang notabene selama ini nggak pernah meragukan kemampuan saya (halah….yang bener…), kalau saya betul-betul tidak dapat menjelaskan jawaban yang lebih detail dan mungkin lebih tepat pada atasan saya kali ini. Asli mati kutu, mati gaya, tapi belum sampai mati beneran, qiqiqi….
Ah, benar-benar saya tidak menyangka dan memprediksi sebelumnya, kalau ternyata tetap ada kemungkinan yang sempat ditanyakan oleh atasan saya tersebut, dan hal ini bisa saja terjadi atau menimpa cost plant yang sedang saya usulkan / presentasikan kali ini. “Edan, kok saya bisa nggak memprediksi hal ini yach !”, lagi-lagi saya mulai mengutuk diri sendiri.
Ups…meski sedikit lemas karena hasil presentasiku kali ini nggak seperti saya targetkan, saya nggak kecewa (ah..boong…). Yach, saya harus segera merevisi semua report cost planku lagi….”Tetap semangatttttt”….aku mencoba meneriaki diriku sendiri biar tetap eksis, meski kuakui otakku mulai lemot juga dan oksigen yang ada di kepala seakan mulai tertatih-tatih karena uber-uberan dengan waktu. Wow serasa bernafas dalam lumpur, megap-megap, oi….
Ditengah kemelut yang mengelayuti pikiranku aku mencoba kembali memompakan aliran darah ke otakku, hingga aku mulai sedikit demi sedikit mulai kembali membuka sheet otakku lagi, agar mulai mampu berpikir jernih lagi.
(lagi…)
To Be a Perfect Woman ?. No, Thanks !. Mei 20, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: bersyukur, Bintang, Cerita Lalu, Dipuja, Disanjung, Kampus, Monica Belluci, Replica, Sempurna, Tania
29 comments
Menjadi seorang wanita yang sempurna akan lebih Ok dari kita semua ?. Hem…apakah hal itu hanya justru mengindikasikan rasa percaya diri kita yang rendah ?. Hah…entahlah…
Yap..itulah sekelumit pikiran yang melayang-layang dalam unsur elektro kimia otakku pagi ini. Hem, saya coba berpikir sejenak untuk mencerna dan menganalisa dari sisi pikiran dan perasaanku sebebas-bebasnya. Aku mulai menguraikannya dalam opini bebasku. Pikirankupun langsung melayang ke beberapa orang yang pernah kukenal dari masa lalu.

To Be a Perfect Woman ? No, Thanks !
Tania adalah sosok perempuan yang hebat, atau boleh kuberi gelar “luar biasa”. Betapa tidak, apa yang dulu pernah kudambakan melekat erat pada dirinya. Tahukah kau sobat, kalau boleh kugambarkan disini sosok seorang Tania yang dulu kukenal. Berwajah cantik, perpaduan wajah blasteran Indo yang oriental dengan Itali. Menjadikannya tak ubah seorang model berkelas. Ditambah penampilannya yang selalu trendi, berotak cemerlang lengkap dengan segudang prestasi yang diraihnya baik dibidang akademik maupun bidang lainnya. Suara dan bahasa tubuhnya sangat sempurna. Wow…sungguh gambaran wanita yang sangat sempurna dimataku kala itu.
Apalagi ditunjang olah fakta-fakta yang lain, orangtuanya kaya raya, dan pada sa’at kami duduk dibangku kuliah, Tania sudah mempunyai seorang pacar / cowoq yang juga tak kalah sempurna dengannya. Duch semakin lengkaplah sosok seorang Tania yang pernah kukagumi.
Kalau aku boleh menambahkannya lagi, Tania selalu jadi rebutan perhatian, semua tindak tanduknya, tingkah polanya, selalu jadi pusat perhatian. Sehingga tak dinyana lagi kalau Tania juga selalu dikelilingi oleh para sahabat / teman.
Dan tahukah kau para sobat, kalau aku boleh jujur mengungkapkan isi hatiku pada sa’at itu, aku “Iri” padanya, karena aku sangat bahkan terlalu mengaguminya. Astaga…
Yach, bisa dibilang di kampusku dulu, sosok Tania tak ubah seorang Super Star, bahkan beberapa orang teman terdekat sempat mengatakan kalau sosok Tania tak ubah replica “Monica Belluci”. Seorang Tania selalu menjadi buah bibir dan topic yang menarik & hangat dikalangan kampusku.
(lagi…)
Buya & Ummi Mei 19, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Anak-anak, Ayah & Ibu, Buya & Ummi, Hari tua, Kampong, Kampung, Kegiatan, Orang tua, pulang
5 comments
Usia buya & ummi saya boleh dibilang sudah menjelang senja. Buyaku kini telah berusia 69 tahun, sedangkan ummiku telah berusia 62 tahun. Meski demikian mereka berdua Alhamdullillah masih terlihat segar. Meski 2 tahun yang lalu ummiku sempet terserang sakit kanker, dan sejak itu harus rajin control dan check up setiap 6 bulan sekali ke Jakarta. Begitu juga dengan buyaku tahun lalu sempet terserang stroke ringan, sehingga untuk sa’at ini jika berjalan harus menggunakan tongkat.
Namun yang membuat kami, anak-anak buya dan ummi kagum pada mereka, adalah kesuka-citaan mereka menikmati hidup mereka di usia senja. Buya dan Ummiku tergolong orang tua yang masih masih aktif di tempat-tempat pengajian, masih aktif mengontrol kebun di kampong kami, masih aktif dibeberapa arisan keluarga, dan yang paling bikin kami semua rada deg-degan dengan kegiatan mereka adalah, mereka berdua masih suka bepergian meski sekedar plesiran..
Yach, kegiatan bepergiaan / plesiran ini bisa bersifat sekedar datang ke pesta pernikahan keluarga, kerabat, maupun berkunjung ke rumah kami, anak-anak mereka, yang tinggalnya kebetulan tidak satu kota. Kebetulan kami, anak-anak buya & ummi semuanya ada tujuh orang. Kami semua tinggal menyebar di beberapa kota di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan bahkan negara. Sedangkan buya dan ummiku tinggal di kota kelahiran mereka di Sumatera Selatan.
Hem sungguh mengkhawatirkan menurut kami (anak-anak buya & ummi) mengingat usia mereka sudah tidak muda lagi, denagn sering kalinya mereka melakukan kegiatan tersebut tanpa didampingan kami (anak-anak mereka).
Saya masih ingat, diusia 67 tahun, buyaku masih mampu mengendarai kendaraan / mobil, meski hanya untuk ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer, demi mengantar ummiku belanja keperluan sehari-hari. Kami sebagai anak-anaknya, terus terang agak khawatir dengan kebiasaan buyaku yang kami nilai rada-rada “nekat” ini.
Tetapi sejak buyaku terserang stroke tahun lalu, akhirnya buyaku menghentikan sendiri kebiasaannya untuk mengendarai mobil sendiri itu. Yach, itulah sekelumit kebiasaan buyaku.
Sedangkan kebiasaan ummiku adalah beliau masih lincah dan heboh bila untuk urusan bersih-bersih / beres-beres rumah, ngurusi tanaman di depan dan samping rumah, merangkai bunga, masak-memasak bahkan untuk urusan belanja dan tentu saja disamping mengurus suami, buya kami.
(Ma’af buya, ummi, bukan ananda bermaksud membeberkan keburukan buya & ummi yach…)
Terkadang saya sebagai anaknya rada-rada khawatir sendiri bila mendengar laporan kalau beliau lagi sibuk dan kemudian kecapekan dengan kegiatannya yang lumayan padat, lalu jatuh sakit. Duch buya, ummi, nanti kalau jatuh sakit, dsb gimana …
Tapi itulah sosok buya dan ummiku, meski terkadang kami semua merasa sangat khawatir akan kegiatan yang mereka jalani, khawatir karena kecapekan dan jatuh sakit, sehingga seringkali larangan-larangan kami dianggap sebagai penghalang keduanya untuk lebih enjoy atas aktivitas mereka di hari tuanya.
Sebagai salah satu anak buya & ummi yang kebetulan menurut saya tinggalnya tidak terlalu jauh dari kota kelahiran mereka, saya merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguk buya dan ummiku. Setiap kali itulah saya ingin mengajaknya keduanya untuk tinggal bersama kami di Jakarta.
“Nggak usah, lain kali saja !” jawab buya dan ummiku. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami sa’at mengajak mereka untuk ikut pindah ke Jakarta.
Memang, kadang-kadang secara berkala buya dan ummiku mengalah dengan berkunjung ke Jakarta dan mau menginap bersama kami anak-anaknya. Namun setelah 2 minggu kemudian mereka minta pulang. Ada-ada saja alasannya. Kangen kamponglah, disini suasananya warga di kota Jakarta nggak seperti dikampung, jauh dari masjidlah, kegiatan mereka di masjid tertundalah, kebun nggak ditenggoklah, tanaman nanti pada rusaklah, rumah nanti nggak ada yang nguruslah, ada saudara & kerabat yang kan menikahkan anaklah, dll. Sedemikian banyak hal yang membuat mereka cinta dan enggan meninggalkan kampong dan rumah mereka berlama-lama. Haiyah….
Suatu hari sekitar Februari lalu, buya dan ummiku mau ikut saya ke Jakarta. Saya dan suami sangat senang, karena dengan begitu mereka akan bisa bermain dan bersenda-gurau dengan anak-anak dirumah sepeninggal saya bekerja di kantor. Tetapi, mungkin suasana dirumahku berbeda dengan suasana di kampong kota kelahiran buya & ummiku, sehingga mereka merasa kurang kerasan selama di Jakarta. Dan seperti biasanya meraka mulai minta pulang. Biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. Saya sangat memahami keinginan mereka untuk tetap bisa punya kesibukan sendiri di hari tua mereka. Tapi terus terang seringkali perasaan was-was, khawatir terhadap mereka itu lebih besar saya rasakan bila mereka tinggal berlainan kota dengan saya. Hem…
“Saya sedang sibuk, buya, ummi, tak boleh ambil cuti. Terus, papanya anak-anak juga masih sibuk training , dll. Tunggulah sampai akhir bulan, tinggallah sepuluh hari lagi. Akhir bulan ini saya akan antar buya dan ummi pulang ke kampong,” balas saya sekenahnya, meskipun sebenarnya kalau saya mau jujur, saya nggak rela mereka pulang ke kampong. Anak saya yang tertua pun ikut membujuk opa dan oma mereka agar nggak minta pulang.
“Biarlah buya dan ummi pulang sendiri jika kalian sibuk. Tolong belikan saja tiket pesawat atau bis untuk buya dan ummi untuk besok lusa,” kata buyaku mewakili keinginan mereka berdua yang membuat saya bertambah kesal. Memang buya dan ummiku sudah beberapa hari ini ingin pulang. Tapi saya masih coba menahan dan membujuk mereka.
“Nggak usah saja pulang besok lusa, buya , ummi,” bujuk saya saat makan malam.
Tapi kali ini ekspresi wajah keduanya hanya diam dan tak lama setelah makan malam keduanya lalu masuk ke kamar. Tidak bercengkrama bersama cucu-cucu seperti biasanya.
Esok paginya sa’at saya hendak berangkat ke kantor, buya dan ummiku kembali lagi minta saya untuk membelikannya tiket pesawat atau bis untuk besok. Terus terang kali ini saya sudah mulai kesal karena mereka tidak mau menuruti keinginan saya.
“Buya dan ummi ini benar-benar nggak mau mengerti ya. Please, saya sedang sibuk, sibuk banget, jadi tolonglah ngertiin sedikit, kalau memang buya dan ummi nggak mau menurut kata-kataku, anak buya & ummi, ok, saya nggak peduli dech, buya & ummi mau ngapa-ngapain lagi, terserah !!!”, ujarku dengan kata-kata yang lost control karena mulai marah atas rengekan mereka.
Dan tanpa salam tangan seperti biasanya, saya ngelonyor pergi ke kantor. Saya pergi ke kantor dengan mengendarai mobil dan membawa sejuta perasaaan kesal. Saya marah karena buya dan umiku sudah tidak mau lagi menuruti kata-kataku. Saya marah atas sikap buya & ummiku yang kuanggap tidak mau mengerti kesibukkan kami, anak-anak mereka disini. Saya kesal, kesal sekali…
Setibanya dikantor, perasaanku masih kacau balau. Konsentrasiku mulai terpecah antara tugas-tugas yang sedang menumpuk dan keinginan buya dan ummiku. Saya mencoba segera menyalakan computer dimeja kerjaku.
Tapi tiba-tiba, tak sengaja tanganku menyentuh gelas minuman di mejaku. Gelas itu terguling, airnya segera membasahi berkas-berkas dan beberapa peralatan yang ada dimejaku, termasuk frame foto keluargaku. Secara reflex tanganku coba menyelamatkan berkas-berkas tsb, termasuk frame foto keluargaku. Untunglah berkas-berkas tsb tidak terlalu masalah. Tapi sayang air yang masuk frame foto terlalu banyak, sehingga saya harus segara membuka frame tsb agar foto didalamnya tetap utuh dan bisa diselamatkan.
Namun ketika saya membuka foto tsb, saya menemukan tulisan tangan yang pernah ditulis buya & ummiku sekitar +/- 15 tahun yang lalu di balik foto tersebut,
“Kasih Sayang dan do’a dari Buya & Ummi akan selalu bersama anak-anak buya & ummi tercinta, dimanapun kalian berada sampai akhir hayat kami”
Peluk Cium selalu dari buya & Ummi,
Selesai membaca tulisan tersebut, tiba-tiba jantungku berdebar kencang, kenanganku melayang ke masa lalu, ketika kami sekeluarga masih kumpul dulu di kampong, bagaimana kasih sayang buya & ummiku dulu, teringat bagaimana bijaknya buya & ummi dulu, ingat kenakalan kami dulu, ingat berbagai kenangnan manis kami sekeluarga dulu, dll.
Saya jadi terdiam membisu, jiwa ini serasa terbang. Betapa saya sudah melukai perasaan buya & ummiku pagi tadi. Saya sudah melampau batas atas sikapku kepada kedua orangtuaku. Saya sudah egois, ingin memaksakan kehendakku terhadap mereka. Bukankah kebahagian menurut mereka, belum tentu sama menurut versi diriku, anak-anak buya & ummi. Ah, aku mulai menyadari kekeliruanku. Aku sudah egois ingin memaksakan keinginan diriku. Sikapku tidaklah adil buat mereka. O, Tuhan ampunkan hambamu ini. Buya, Ummi ma’afkan anakmu ini.
###

Segera kutelpon Buya & Ummi
Tak ingin kubuang waktu, segera kuraih telpon untuk menelpon keduanya dirumah. Saya ingin segera meminta ma’af dan ampun kepada keduanya atas sikapku tadi pagi. Saya benar-benar menyesal telah melukai perasaan keduanya dengan kata-kataku yang tidak pantas. Saya malu dan sangat menyesal akan sikapku.
(lagi…)
KADO SPESIAL DARI SEORANG SAHABAT Mei 18, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: 10 Mei, Blog, Blogger, Buku, Kado Special, Makin Cantik Aja !, persahabatan, Sahabat, Tutinonka, ulang tahun
3 comments

Kado Special dari seorang Sahabat
Seperti biasa, setiap hari Sabtu (jika hari libur), kegiatan pagi saya isi dengan memasak untuk keluarga tercinta. Maklum jika hari kerja, mulai dari hari Senin sampai Jum’at biasanya urusan memasak lebih saya serahkan kepada si mbak, meski untuk urusan menu tetap saya yang kontrol.
So..jika para sahabat main ke rumah saya, tak jarang mereka akan ngeledek dan menggoda saya, karena mereka akan membaca sesuatu di ruang makan keluarga saya. Yach, terdapat daftar menu untuk 30 hari kedepan yang saya laminating lengkap dengan gambar-gambar yang lucu yang saya tempel dgn magnet di kulkas sehingga akan jadi pemandangan yang unik, dekat meja makan keluarga saya.
Saya sengaja membuat menu selama 1 bulan setelah berkonsultasi, lebih tepatnya bernego dulu dengan putra saya yang tertua (+/- 10 tahun), tentang menu yang akan dinikmatinya selama 1 bulan ke depan selama saya nggak ada dirumah alias di kantor, termasuk hari Sabtu dan Minggu. Hanya pengecualiannya kalau hari Sabtu atau Minggu yang jadi coki-nya saya, hahaha .
Sedangkan untuk putraku yang kedua menunya lebih special krn masih nasi tim dan sejenisnya. Nah kalau ini susternya yang masak & bikin menu, hihihi…
Tiba-tiba ketika saya lagi heboh memasak, kebetulan hari ini saya lagi coba masak rendang untuk makan siang, Pangeran putraku yang tertua setengah berteriak memanggilku sambil menghampiriku, “Mama, ini ada paket untuk mama !”.
“Hem, dari siapa Pangeran”, tanyaku karena tanganku masih sibuk mengaduk-ngaduk kuah rendang yang mulai menyusut, dan aromanya yang mulai tercium harum dan sedap, hahaha….nah kalau yang ini muji sendiri qiqiqi…
“Dari Tutinonka, Jogjakarta, ma…ini teman mama yach ?”, tanya Pangeran bak seorang detektif.
“Hah, dari mbak Tuti ?”, sini coba mama lihat, terima kasih yach Pangeran !”,ujarku lagi dengan wajah yang berbinar sambil mengusap rambutnya yang mulai basah karena keringat.
Setelah beberapa sa’at kemuadian, saya dan Pangeran segera bergegas membuka paket special itu.
(lagi…)
Bukan Salah Saya, Salah Siapa, Yach ? Mei 14, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: angkot, hujan, meeting, polisi, presentasi, salah, salah siapa, Salahkan, sopir angkot, terlambat
11 comments

Hem...salah siapa yach ?
Yap…pagi ini hujan turun lagi, padahal saya sudah kesiangan 10 menit dari biasanya. Duch.. gara-gara jam / wekerku mati (tiba-tiba baterainya habis)…eit tadi pagi nggak sempet berdering. Untung si mbak, sempet menggetuk kamar saya. Kalau enggak bisa-bisa kebablasan tidur dech, maklum kalau hujan dari pagi, tidur rasanya pulas banget, wahahaha. Bisa lebih gawat nich, saya bisa kesiangan tiba ke kantor, gumamku dalam hati.
Tapi yang membuatku uring-uringan pagi ini, tiba-tiba aki mobilku soak, alias nggak bisa nyala. Hem…sebenarnya sudah beberapa hari ini saya merasakan ada sesuatu yang nggak beres dengan mobilku, tapi berhubung saya nggak sempet dan nggak menyempatkan untuk bawa nich mobil ke bengkel, jadinya begini nich. Hahaha, saya mulai menertawakan keteledoranku sendiri. Untungnya Pangeran, putra tertuaku untuk seminggu ini sekolahnya libur, karena anak-anak kelas IV sedang ujian, sehingga saya tak perlu mengantarnya ke sekolah. So…masih aman dech.
Akhirnya pagi ini saya memutuskan untuk berangkat ke kantor naik kendaraan umum saja. Hup, sengaja saya nggak naik taksi, karena dalam sebulan ini sudah beberapa kali pulang pergi naik taksi, sepertinya saya sudah lebih boros dari biasanya. Saya coba untuk lebih ngirit.
Nah, dimulailah petualanganku ke kantor kali ini dengan naik kendraan umum. Berhubung hujan hanya tinggal rintik-rintik saya cukup membawa payung dan bergegas berjalan kaki sebentar untuk naik ojek ke depan kompleks. Lalu ke pangkalan angkot terdekat. Dan untungnya penumpang mulai berdatangan, sehingga angkot mulai berjalan.
Tetapi setelah berjalan sekitar 20 menit, tiba-tiba angkot menepi dan berhenti.
Saya yang sengaja sedari tadi asyik dengan novelku, mulai bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Oooo, ternyata sopir angkot harus menemui seorang polisi lalu lintas.
(lagi…)
ENJOY YOUR DAYS…every days in your life ! Mei 13, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Enjoy, Everyday, Jum'at, Kamis, Life, Minggu, Rabu, Sabtu, Selasa, Semangat, Senin, Weeks
5 comments

ENJOY YOUR DAYS, every days in your life !
Hari ini hari Rabu lagi. Tapi sayang, pagi ini ketika saya melontarkan sapaan & senyum khas saya kepada seorang sahabat hari ini,
“Hai…Cilla…Nice days for you !”, dia tidak membalasnya senyuman seperti biasanya. Sahabatku ini sepertinya lagi malas dan tidak bersemangat hari ini. Dan tak beberapa lama kemudian Cilla mengatakan kalau dia ingin hari ini cepat-cepat berlalu, dan segera tiba hari Sabtu & Minggu, malah kalau bisa semua hari hanya hari Sabtu & Minggu alias hari libur oiiii….
(Wah-wah..gawat…kalau semua orang nggak suka hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis & Jum’at….gimana nasib kerjaan…bakal nggak ada yang kelar / beres nich, dan untungnya virus nggak semangat ini nggak menular ke saya…hahaha).
Kita semua sudah tahu & hafal banget kalau, kita semua, punya tujuh hari dalam seminggu.
Tapi kalau saya coba sedikit usil untuk bertanya kepada anda semua, para pembaca, “Berapa hari yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya ?”.
Lalu, “Apa arti hari-hari tersebut untuk anda ?”
Saya yakin, pasti jawabnya beragam…. dan…. saya juga yakin nggak sedikit yang nggak bisa jawab pertanyaan saya yang sepele itu khan ?.
Nah, dari pada kita ngoro-ngidul, saya hanya ingin berbagi kepada para pembaca semua gimana cara menyemangati diri kita, agar kita tetap semangat melalui hari-hari yang mungkin menurut sebahagian orang agak mem-be-te-kan itu.
Yuk kita coba simak yach, siapa tahu setelah membaca tips & trik berikut ini anda jadi bersemangat, ok ?
Senin adalah singkatan dari “Semangat Nan Indah”
Sebagian orang mengharap-harap tibanya hari Senin karena hari itu mereka mendapat uang. Yang telah libur, kembali berjualan sehingga uang masuk lancar lagi. Yang bekerja harian, berarti upah harian akan diterima kembali.
Tetapi, sebahagian orang tidak suka dengan hari Senin. Yang malas bekerja merasakan beban berat karena Senin berarti mulai bekerja kembali.
Yang tadinya bisa santai di rumah, kini harus kembali masuk kantor. Anak sekolah kembali bersekolah, tidak bisa main-main Play Station lagi. Para ibu harus bangun pagi lagi untuk memasak makan pagi anak-anak yang akan berangkat sekolah.
Ada yang menunggu-nunggu hari Sabtu lagi yang rasanya masih sangat lamaaaa…..
Apapun sikap yang kita pilih, tidak akan merubah hari Senin. Senin tetap datang. Senin tetap harus kita lalui entah kita senang atau tidak.
Sikap mana yang akan kita pilih ?
Memulai hari Senin dengan “Menggerutu” atau memulai hari Senin dengan “Semangat Nan Indah ?” .
(lagi…)
NICE… April 30, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Bandel, Emosi, Kesal, Kesuksesan, Life, Loss Control, Renungan, Sukses
8 comments

Renungan Tentang Kesuksesan
Pagi ini ketika saya membuka email dari seorang sahabat, ada perasaan yang membuat saya agak menyesal atas kejadian semalam. Terus terang beberapa hari belakangan ini saya sangat sibuk, pergi dari rumah pagi & pulang / sampai rumah sudah malam. Maklum demi memenuhi target saya harus mengorbankan waktu lebih extra dari biasanya, sehingga waktu untuk anak & keluarga jadi tambah kurang dech..
Ingat kejadian semalam, ketika sampai rumah seperti biasa saya langsung inspeksi kedua anak saya. Pangeran (yang sudah duduk di kelas empat SD), sebagai anak tertua langsung saya tanyakan PR dll, eit ternyata dia belum menyelesaikannya, malah masih asyik bermain dengan adiknya Rajib (yang masih berusia 2,5 tahun). Saya lihat kondisi kamar Pangeran masih sangat berantakan, berbagai macam mainan berhamburan, hanya tempat tidur yang masih terlihat rapi. Hem suatu pemandangan yang menyebalkan pikirku sa’at itu, karena biasanya pada jam 21.05 seperti ini Rajib & Pangeran sudah rapi dengan piyamanya, sudah gosok gigi, dll. Terlebih Pangeran semestinya sudah menyelesaikan PRnya, sehingga biasanya saya tinggal check hasil PRnya, seperti yang sudah saya ingatkan via telephone seperti beberapa hari belakangan ini.
Tiba-tiba, belum sempat saya mandi dll saya sudah mendengar tangisan Rajib yang cukup keras, sepertinya Rajib kesal karena sang kakak tidak mau mengalah karena koleksinya dipinjam & dimainkan adiknya. (Sepertinya mereka tidak mau share / berbagi, hem)
Selesai saya mandi saya lihat pangeran masih belum consent untuk mengerjakan PRnya, malah adiknya diganggu dengan memaksa mengambil koleksi mainan yang sedang dimainkan sang Adik Rajib & akhirnya membuat Rajib kembali menangis lagi dan dengan gayanya yang khas memuntahkan semua susu yang sebelumnya sempat diminum di tempat tidur yang sudah dirapikan. (Oooo…kepalaku rasanya pusing sekali melihat kelakuan mereka).
Hem, mana sang suster lagi nggak fit, so nggak bisa jagain anak-anak dgn optimal seperi biasanya, sedangkan mbak yang satunya lagi pulang kampung. Saya merasa duniaku mulai menyebalkan dan sangat menjengkelkan, sehingga saya sempat mengeluarkan kata-kata keras kepada Pangeran & Rajib atas kebandelan mereka, yang saya rasa agak berlebihan dan sangat menyebalkan karena kondisi saya sendiri semalam sudah sangat capek.
(Terus terang selama ini saya nggak pernah bersikap lumayan keras kepada mereka, apalagi semalam saya sempat membentak keduanya, dan saya sempat membuang beberapa koleksi kesayangan Pangeran ke kotak sampah, meski setelah mereka sudah tidur dan kondisi emosi saya sudah turun, koleksi kesayangan Pangeran saya ambil lagi, qiqiqi).
Sungguh saya merasa kejadian semalam sudah membuat emosi saya loss control karena kondisi badan & pikiran cukup capek, terus sebel melihatnya keduanya mulai bandel dari biasanya, hahaha…Saya bisa jadi galak gini yach ???
Tapi di pagi ini sekali lagi saya menyesali sikap saya semalam & berjanji dalam hati, LAIN KALI, meski kondisi diri kita sangat lelah / capek, namun tetap harus bisa control emosi. Tidak perlu memaksakan target pekerjaan, dll kalau memang saya belum bisa mencapainya. Melakukan semua pekerjaan / rutinitas dengan penuh keihlasan, tanpa beban dan tetap bersyukur, itu Lebih penting malah Terpenting menurut saya inti dari semuanya ini.
Nah, mungkin para pembaca penasaran apa isi email dari sahabat saya itukan sehingga saya mencoba meralat sedikit definisi sesungguhnya menurut kacamata saya tentang KESUKSESAN.
Ok silahkan dibaca, diresapi, direnungkan, semoga anda para pembaca sekalian dapat memetik manfa’atnya.
Sebuah Renungan tentang KESUKSESAN
Sahabat,
Sukses itu sederhana,
Sukses itu tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya,
Sukses itu tidak serumit /serahasia seperti kata kiyosaki / tung desem
waringin / the secret,
Sukses itu tidak perlu dikejar, tapi SUKSES itu adalah Kamu !
Karena sesungguhnya kesuksesan terbesar ada pada dirimu sendiri
Sahabatku,
Bagaimana Kamu tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi 1
ovum, itu adalah suksesmu yang pertama !
Bagaimana Kamu bisa lahir dengan anggota tubuh sempurna tanpa cacat,
itulah kesuksesanmu yang kedua !
Ketika Kamu ke sekolah bahkan bisa menikmati studi S1, di saat tiap menit
ada 10 siswa drop out karena tidak mampu bayar SPP, itulah suksesmu yang
ketiga !
Ketika Kamu bisa bekerja di perusahaan bonafit, di saat lebih dari 50
juta orang menjadi pengangguran, itulah kesuksesanmu yang keempat !
Ketika Kamu masih bisa makan tiga kali sehari, di sa’at ada lebih dari 3 juta orang
mati kelaparan setiap bulannya itulah kesuksesanmu yang kelima !
Sukses terjadi padamu setiap hari, Namun Kamu tidak pernah menyadarinya !
Sahabat,
Jika saya boleh bercerita padamu sedikit pengalamanku,
Saya sangat tersentuh ketika menonton film Click ! yg dibintangi Adam
Sandler, “Family comes first”, begitu kata-kata terakhir kepada anaknya
sebelum dia meninggal, karena saking sibuknya Adam Sandler ini mengejar
kesuksesan, dia sampai tidak sempat meluangkan waktu untuk anak
& istrinya, bahkan tidak sempat menghadiri hari pemakaman ayahnya
sendiri, bahkan keluarganya pun akhirnya berantakan. Istrinya yang cantik menceraikannya, anaknya jadi nggak kenal siapa ayahnya.
Menurut saya,
Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris supaya bukunya bisa
terus-terusan jadi best seller dengan membuat sukses menjadi hal yg rumit
dan sukar didapatkan.
Sukses tidak melulu soal harta, rumah mewah,mobil sport, jam Rolex, pensiun
muda, menjadi pengusaha, punya kolam renang, punya pesawat / helicopter pribadi, punya istri cantik seperti Donald Trump,bahkan resort mewah di Karibia.
Tapi ketahuilah sahabat,
Buat saya pribadi, yang Alhamdullillah pada sa’at ini sudah bisa hidup dengan sangat berkecukupan,
Saya rasa sukses memiliki arti yang berbeda,
Sukses adalah mencintai & bangga terhadap diri kita sendiri,
Dapat mengerjakan apa yang kita sukai kapan saja dan di mana saja.
Ketahuilah saabat, bahwa
Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Allah,
Sukses yang sejati adalah menikmati & bersyukur atas setiap detik kehidupan kita,
pada saat kita gembira, kita gembira sepenuhnya,
sedangkan pada sa’at kita sedih, kita sedih sepenuhnya, setelah itu kita
sudah harus bersiap lagi menghadapi episode baru lagi.
Sukses sejati adalah hidup benar di jalan Allah, hidup baik, tidak menipu,
saleh / soleha & selalu rendah hati,
Sukses itu tidak lagi menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan,
Tidak lagi menginginkan kesembuhan ketimbang sakit,
Sukses sejati adalah bisa menerima sepenuhnya kelebihan,keadaan, dan
kekurangan kita apa adanya dengan penuh syukur.
Saya berani berbicara seperti ini, karena hidup yang saya alami ini
seperti roda pedati, ketika masih mahasiswa hidup begitu nelangsa cuma
mampu makan warteg 1 kali sehari dengan nasi setengah + sayur gratis+ tempe
goreng.
Tapi ternyata dulu nikmat makan di warteg kok sama saja bila dibandingkan ketika saya makan di restoran mewah di Amerika dan beberapa negera belahan dunia,
Saya pernah tidur di kolong langit, beralaskan tanah & terpal, hujan
kehujanan, & panas kepanasan.
Tapi ternyata lelapnya saya tidur dulu kok bisa sama saja bila dibandingkan ketika saya tidur di hotel bintang 5 di Jepang, Paris, dll.
Saya dulu, pulang-pergi ke sekolah jalan kaki atau bersepeda sejauh 40 km,
pakai baju lusuh, tas kotor & alat tulis seadanya, datang ke sekolah
selalu menjadi bahan tertawaan teman-teman yang lebih kaya,
Tapi kok sama saja enaknya ketika saya dijemput oom saya naik mercy keluaran terbarun, sama-sama nyampe juga ternyata, jeung…
Saya pernah diundang boss saya ke rumah barunya, untuk menikmati ruang
auditoriumnya, ada speaker untuk karaoke, ada untuk mendengarkan
musik, ada untuk home theater, dia bilang speaker Thiel-nya untuk
mendengarkan musik saja seharga 400 juta, saya disuruh ngedengerin waktu
beliau putar musik jazz, memang enak sekali, suara dentingan gelas &
petikan bass bisa terdengar jelas, tapi kok setengah jam di situ, saya toh
bosan juga,jeung.
Sama saja nikmatnya mendengarkan musik di computer sendiri, yang speakernya cuma Simbadda 100 ribuan.
Sahabat, Pernahkah dirimu menyadari ?
Kamu sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang. Uang hanyalah alat
tukar, Kamu sebenarnya membeli rumah dari waktu kamu.
Ya, Kamu mungkin harus kerja siang malam untuk bayar KPR selama 15 tahun
atau beli mobil /motor kredit selama 3 tahun.
Tapi itu semua sebenarnya kamu dapatkan dari membarter waktu kamu,
Kamu menjual waktu kamu dari pagi hingga malam kepada penawar tertinggi untuk mendapatkan uang supaya bisa beli makanan, pulsa
telepon dll yang kamu inginkan.
Aset terbesar Kamu bukanlah rumah /mobil Kamu, tapi diri Kamu sendiri,
Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat dari
orang “bodoh”
Semakin berharga diri Kamu, semakin mahal orang mau membeli waktu Kamu.
Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bicara ngalor ngidul di
seminar bisa dibayar 200 juta atau harga 2 jam seminar Pak Tung bisa
mencapai 100 juta !!! (Sorry nich Mas Kiyosaki & Mas Tung, bukan meledek, ini hanya perumpamaan saja yach, nggak bermaksud menjelekkan atau bermaksud buruk lainnya, sekali lagi ini hanya intermezzo yach)
Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods & Michael Jordan
sebesar 200 juta dollar, hanya untuk memakai produk Nike.
Suatu produk bermerk menjadi mahal/berharga bukan karena merk-nya,
tapi karena produk tsb dipakai oleh siapa.
Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan diperebutkan,
bisa terjual 80 juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk sama,
bila kita jual harganya justru malah turun.
Hidup ini terkadang lucu, kita seperti mengejar fatamorgana, bila dilihat dari
jauh, mungkin kita melihat air /emas di kejauhan,
Namun ketika kita kejar dengan segenap tenaga kita & akhirnya kita sampai, yang kita lihat yah cumin pantulan sinar matahari /corn flakes saja
oh…ternyata. ..
Sahabat,
Aneh juga bila setelah kamu membaca tulisan di atas,
Namun Anda masih mengejar fatamorgana tsb ketimbang menghabiskan waktu kamu yg sangat berharga untuk sungkem sama orangtua yang begitu mencintai Kamu,
memeluk hangat istri Kamu, untuk mengatakan “I love you” kepada orang-orang yang
kamu cintai: orang tua, istri / suami, anak-anak , sahabat-sahabat kamu.
Lakukanlah ini selagi Kamu masih punya waktu, selagi Kamu masih sempat.
Karena,
Kamu tidak pernah tahu kapan Kamu akan meninggal,
Bisa saja besok pagi, mungkin nanti malam,
Because, LIFE is so SHORT !!! ENJOY your LIFE !!!!
Semoga tulisan diatas bermanfa’at & memberi inspirasi.
Secercah Kenangan Untuk Sassie Kirana April 24, 2009
Posted by elindasari in puisi.Tags: Belasungkawa, Berita Duka, Puisi Kehilangan Sahabat, Puisi Kenangan Tentang Seorang Sahabat, Puisi Kepergian Sahabat
9 comments
Puisi ini special saya bingkiskan sebagai ucapan belasungkawa untuk keluarga, para sahabat yang ditinggalkan, atas meninggalnya sahabat, adik kami tersayang “SASSIE KIRANA” yang meninggal pada hari Minggu, tanggal 19 April 2009 lalu.

Sumber http://tulisannugroho.wordpress.com
Secercah Kenangan Untuk Sassie Kirana
Tertenggung aku membaca berita kepergiaanmu,
Sontak bergetar luluh perih hati ini melepasmu,
Bulir air mata jatuh tak tertahan,
Termanggu dalam hening jiwa,
Sie,
Terkenang kehangatan untaian kata yang pernah kau tulis,
Teringat senyum yang pernah kau hadirkan untukku & untuk kami semua,
Terpesona ceritamu yang sering menyejukkan jiwa meski lewat maya,
Terkagum tentang nilai ketegaran, semangat & persahabatan yang pernah kau torehkan,
Kini,
Aku & para sahabat terpanah, termanggu diam mengintari cakrawala,
Meski hanya berteman bintang yang tertutup awan,
Dibawah cahaya rembulan yang kesepian,
Sie,
Meski kini kau telah tiada,
Namun namamu tetap terpatri di relung hati kami,
Sebagai seorang “Sahabat terkasih, Sahabat tercinta, Sahabat tersayang”
Kami kirimkan untuk orang-orang yang menyangimu,
Untaian kata belangsukawa ini,
Karena aku, kami semua turut berduka,
Selamat terbang Merpati Putih,
Terbanglah menembus cakrawala Surga,
Lepaskan semua lelah & deritamu,
Tersenyumlah kembali pada SANG PENCIPTA
Jangan hiraukan,
Kami yang menangis akan kepergianmu,
Kami yang terdiam tak bisa berkata,
Pergilah sahabat, adik yang pernah kami sayangi,
Kami akan tetap mengenangmu,
Selamat jalan Sie,
Semoga Tuhan menempatkan kau di sisi TERBAIK,
Ya, Robbi ampunkan semua dosanya,
Bukanlah pintu SURGA baginya.
Amien, ya Robbalalamien.

Senyum Terakhir Sassie Kirana