Pelantun Jalanan Juli 18, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: pengamen, Jalanan, ibukota, pelantun, pulang
1 comment so far
Pelantun Jalanan
Kabut dingin masih melukis wajah ibukota,
Semilir hawa pagi masih membungkam mata,
Kicau anak-anak kecil masih sepi karena masih lelap,
Air pagi masih sedingin es,
Tapi,
Kau sudah mulai berjalan,
Siap menyelusuri trotoar tuk ikut hilir mudik angkutan,
Yang kian beranjak sibuk lalu lalang,
Tangan cekatan memangul gitar usang,
Tak lama berselalang,
Sa’at kau ada di tengah penumpang,
Kau mulai buka salam,
Satu dua tembang kau lantunkan,
Suara parau keluar karena tak berbekal sarapan,
Petik gitar menggema ikuti sesak penumpang,
Setelah tembang kedua berkumandang,
Kau hentikan petikan dan alunan,
Memohon perhatian dan uluran,
Pelantun jalanan pamit,
Tapi bukan untuk pulang,
Untuk estafet ke ruang di seberang,
Demi mengais seutas rejeki,
Yang mungkin diberi,
Dari pribadi yang masih punya hati
Kupersembahkan untuk : Romli (pengamen jalanan)
ARTI MERDEKA BAGI SEORANG PAK HOLIL Juli 16, 2008
Posted by elindasari in Artikel.Tags: Bangkit, Indonesia, Pejuang kemerdekaan, Veteran
4 comments
Pagi ini sengaja kulangkahkan kakiku menuju sebuah istana kecil di sudut keramaian kota Metropolitan. Aku menuju istana mungil milik salah seorang veteran pejuang kemerdekaan kita. Sebut saja namanya pak Holil.
Lelaki rentah ini hidup bersama isterinya tercinta dan ketiga anaknya. Kebetulan anaknya yang perempuan telah menikah dan mengkaruniakan kepada mereka 2 orang cucu. Istana hidup anak & cucunya terletak bersebelahan yang hanya dibelah dgn dinding triplek alakadarnya sebagai pembatas. Kehidupan keluarga anak perempuannya secara finasial tidaklah terbilang sukses. Mungkin bolehaku berpendapat tak lebih meprihatinkan dengan kehidupan kedua orangtuanya.
Untungnya beliau masih mempunyai 2 orang anak laki-laki yang sudah dewasa dan belum menikah, yang bisa sedikit menopang kehidupan hari tua mereka. Yah, meskipun pengasilan ke dua anaknya ini, boleh dikatakan juga tak gemilang, karena profesi mereka hanya sebagai buruh kasar dan tukang ojek. Tapi mereka adalah anak-anak yang tahu diri & berbakti kepada kedua orangtuanya.
Meskipun kehidupan mereka di kota Metropolitan ini penuh dengan keprihatinan, tak ada kata-kata menyesal dari seorang Pak Holil juga keluarga, atas apa yang telah/ pernah lakukan untuk negeri ini.
Beliau begitu sempurna sebagai Pejuang Sejati menurut kacamata dan pandangan saya.
Istana mungil mereka ini hanya berukuran tak lebih dari 18 m2 dengan petak triplek yang penuh tembelan disana-sini. Nuansa cat yang sudah pudar. Lantai istana inipun hanya berhiaskan keramik combing-cambing, yang tak tentu ukuran dan corak warnanya. Tertempel di lantai dengan konsep design interior kontemporer ala kadarnya.
SECERCAH KENANGAN DESA PRAHARA Juli 14, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: Desa, Indonesia, Merah Putih, Pejuang, Pertiwi
2 comments
Disini,
Di tanah desa prahara,
Pekik nyaring pejuang pernah berkumandang,
Teriak lantang, bergema tegar mengelegar,
Nyala api berkobar di setiap daratan,
Menerkam, memakan setiap korban,
Gubuk reot istana kami,
Lumbung padi jantung nadi kami,
Nyawa kakak, adik saudara kami,
Nyawa emak, bapak & handal taulan kami,
Kami hanya rakyat jelata,
Yang haus kemerdekaan dari penjajah,
Rela mati, perjuangkan pertiwi,
Demi tegaknya bendera negeri,
Diatas tanah tumpah darah kami,
Desa Prahara kami,
Tanah kelahiran kami,
Merdeka atau mati,
Untukmu Pertiwiku,
Kan kutancapkan didada,
Sampai nyawa ini tiada,
Merah putihku, Merah putihmu,
Indonesia, Indonesiaku, Indonesiamu,
Dibingkiskan untuk : Pejuang Kemerdekaan
PEREMPUAN KERETA ANGIN Juli 10, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: perempuan, perkasa, nafkah, belahan jiwa, rejeki
1 comment so far
PEREMPUAN
KERETA ANGIN
Ku hanya tahu,
Kau perempuan baya,
Rajin lewat di jalan kampungku,
Menggowes kereta angin,
Sa’at mentari masih enggan bangun,
Yang kutahu,
Sa’at kau gowes kereta anginmu,
Kau rajin menatap ke muka,
Penuh harap, penuh semangat
Bermandikan tetes peluh & keringat,
Aku tahu,
Kau perempuan baya “Perkasa”,
Berjuang mencari nafkah,
Atas nama cinta - kasih,
Buat menghidupi belahan jiwa,
Yang selalu menanti sejumput Rejeki,
Putaran jeruji kerete angin perempuan baya Perkasa !
Kupersembahkan untuk :
Mbah Parinem, pengojek kereta angin
RESEP PINTAR BAGI PEMEGANG KARTU KREDIT Juli 9, 2008
Posted by elindasari in Tips.Tags: Bebas Bunga, Bunga, Godaan, Gratis, Iuran Tahunan, Kompetitive, Nol Persen, Pembayaran Minimum, Period, personal finance, Terlambat membayar tagihan, Travel & Entertainment
2 comments
Disini saya sekedar sharing tentang Tips & tricks bagi pemegang kartu kredit agar tidak terlilit hutang yang mematikan, jadi saya ingin mengajak para pemegang kartu kredit melakukan resep-resep pintar dalam menggunakan kartu kreditnya.
(more…)
Penghasilan Tidak Pernah Cukup Juli 8, 2008
Posted by elindasari in Tips.Tags: dana cadangan, diluar kemampuan finansial, Gaji, gajian, inflasi, inventasi, jurus ampuh, penghasilan, rajin naik, sudah habis, tidak cukup
4 comments
“Aduh..gaji gue cuma numpang lewat aja nih !”
“Aduh, gue sudah miskin lagi nich, padahal gajian lagi asih lama !”
“Cash Bon dong buat ongkos pulang nich !”
“Duh…gaji kita kok aiknya dikit amat yach !”
“Busyet…gaji gue dah habis nich !”
Nah….kalimat-kalimat diatas sepertinya tidak asing bukan ?
Kita mungkin secara tidak sadar pernah mengucapkannya atau paling tidak pernah terlintas di pikiran atau mendengar teman-teman kita.
Anda pernah mengucapkan kalimat ini. Anehnya kalimat ini seringkali terucap pada saat belum lama orang gajian. Orang sering mengeluh karena penghasilannya dirasa terlalu kecil sehingga tidak memiliki cukup uang untuk beli ini itu. Biasanya kalau sudah begitu orang menuding kenaikan harga-harga sebagai biang keladi gaji yang tak pernah cukup.
Mulai dari sembako sampai barang kebutuhan sehari-hari lainnya seperti susu, pasta gigi, sabun, mi instant, bahkan baju, sepatu, dan kosmetik, semuanya merambat naik. Belum lagi kenaikan tarif telpon, listrik, air, atau biaya transportasi, yang semakin membuat pengeluaran Anda membengkak.
Jangan lupa lho, biaya pendidikan anak-anak berikut buku-buku pelajaran sekolahnya juga rajin sekali naik tiap tahunnya.
Masalahnya, belum tentu kenaikan harga-harga ini selalu diimbangi dengan kenaikan penghasilan kita, bahkan tidak jarang yang terjadi adalah sebaliknya. Namun kenaikan harga-harga bukanlah satu-satunya penyebab gaji yang tidak pernah cukup. Sebab ada juga orang yang merasa penghasilannya tidak pernah cukup, tidak perduli sudah berapa kali kenaikan gaji yang diterimanya.
Cinta Yang Tak Lekang Dimakan Waktu Juli 4, 2008
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Inspirasi, Anak-anak, Cinta yang sesungguhnya, kekuatan, luar biasa, menakjubkan, mukjizat, Do'a
5 comments
“Cinta,., o…o…o…cinta….” Itulah penggalan syair yang hit di era 70-an yang pernah di dendangkan olah tante Titiek Puspa. Sungguh menakjubkan makna yang tersirat didalamnya.
Kalau mengulas topic yang satu ini bisa membuat kita jadi mabuk kepayang. Tapi ada juga gara-gara cinta bisa membuat orang jadi lupa segalanya. Kasihan deh. Ups…. Kali ini saya coba bercerita tentang cinta yang tulus, tentang kesetiaan yang tulus, yang tak lekang di makan waktu. Cinta yang sesungguhnya.
Menjelang hari Pernikahannya, Tania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki pujaanya. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang. Papa, Mama, kakak-kakaknya, tetangga, dan teman-teman Tania. Mereka ternyata sama herannya akan pilihan Tania ini.
(more…)
Kisah Kakek Tua & Perkakas Kayunya Juli 4, 2008
Posted by elindasari in Renungan.Tags: anak, Keluarga, menantu, orangtua, Peniru, Perkakas Kayu, rabun
1 comment so far
Disuatu keluarga, tinggallah seorang kakek yang harus tinggal dan menetap bersama dengan keluarga anaknya. Maklum isteri kakek ini sudah lebih dulu menghadap yang Maha Kuasa.
Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun (cusu kakek tsb).
Karena berusia sudah senja, tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya sudah buram, dan cara berjalannya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua (kakek) yang sudah pikun ini sering mengacaukan segalanya. Yah…suasana sering dibuat kacau.
(more…)
CARA & CIRI BERPIKIR POSITIF Juli 2, 2008
Posted by elindasari in Tips.Tags: alasan, bahasa positif, bahasa tubuh, berpikir positif, bersyukur, Cara, ciri, citra diri, gosip, hidupnya, ide, pikiran negatif, saran, tantangan
5 comments
Semua orang yang berusaha untuk meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya, pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri kita supaya pikiran positiflah yang ‘beredar’ di kepala kita, tak banyak orang yang tahu.
Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu cara & ciri-ciri orang yang berpikir positif. Kalau kita sudah tahu, maka kita mulai mencoba meniru jalan pikiran tersebut.
Yuk kita bahas bersama :
(more…)
Apakah ANDA Menarik? Juni 30, 2008
Posted by elindasari in Tips.Tags: bertanggung jawab, flexible, Gaya bicara positif, menarik, murah hati, nama orang lain, orang penting, pendengar yang baik, perubahan, pribadi, ramah, sikap, Sukses
2 comments
Wow, ketika muncul pertanyaan tersebut pada diri kita, pasti kita akan bertanya-tanya, maksud lho ?. Lalu kita akan berpikir lebih dalam makna yang tersirat didalam kata-kata kunci tsb. “Menarik…ya…Menarik ???. Ya, dalam keseharian kita, tentu sangatlah menyenangkan bila kita, atau diri anda menjadi sosok yang menarik bukan ?. Lantas yang seperti apa detailnya. Nah kita kulas sedikit disini.
Kadang kita menemukan seseorang yang kita kenal, yang begitu menyenangkan, hingga membuat kita merasa nyaman dan merindukan kehadiran orang itu. Bisa dibilang orang semacam ini memiliki daya tarik bagi orang lain. Daya tarik merupakan kualitas istimewa yang ada pada sesorang dan membuat keterpesonaan pada orang lain.





