DEMI SEBUAH BONEKA “BARBIE”… Desember 4, 2009
Posted by elindasari in Renungan.5 comments
Anak kecil berantem, ah itu mah biasa !. Kakak dengan adik nggak ada yang mau ngalah, itu tambah biasa !. Tapi kalau kakak (juga masih kecil / bocah) mau berkorban dan sayang sekali dengan adiknya, nah ini menurut saya baru luar biasa. Sang kakak patut diacungi jempol. Setuju nggak para pembaca ?.
Ceritanya bermula disini. Hari Minggu, tgl 29 Nopember 2009m lalu, tepatnya hari Raya Idul Adha hari ketiga. Kebetulan saya jadi salah satu panitia seksi acara, “FAIDAH atau FESTIVAL IDUL ADHA”. Tepatnya saya sebagai kakak panitia seksi acara yang bertugas memandu Game dan Kuiz berhadiah. Acaranya sendiri tujuan utamanya adalah “Mengumpulkan anak-anak yatim piatu, berbagi kebahagiaan dengan mereka dalam merayakan Idul Adha / Hari Raya Kurban” bagi umat Islam.
Acara ini dihadiri lebih kurang 200 anak Yatim Piatu yang memang tersebar di sekitar kawasan wilayah yang dikembangkan oleh perusahaan tempatku bekerja. Selain itu turut pula dihadiri oleh keluarga panitia dan tamu-tamu lain yang juga turut kita undang. Total yang hadir mungkin mencapai 400 orang lebih. Alhamdullillah yang hadir ramai, mengingat acara ini kita adakan bertepatan pula dengan long week end.
Acara-acara pada Festival Idul Adha ini bergulir dengan meriah dan disambut antusias oleh anak-anak. Acaranya sendiri dimulai dengan pawai berkeliling sambil mengarak hewan kurban (sapi & kambing) yang diiringi marawis, baca puisi oleh anak, pembacaan dongeng oleh Kak Awang (sang pendongeng yang sudah kondang), ceramah oleh juara pildachil, do’a, dan tentu saja sejumlah games dan kuiz berhadiah.
Wajah-wajah anak-anak ini tampak sangat ceria. Mereka semua saya perhatikan sangat menikmati acara-acara tersebut.
Saya sendiri sangat menikmati peran saya sebagai pemandu game dan kuiz berhadiah.
Karena semua anak yang hadir tampak antusias ketika saya mulai melemparkan kuiz-kuiz berhadiah menarik. Pokoknya seru sekali, dan tentu saya membuat kami semua panitia sangat bahagia melihat kegembiraan mereka ini.

Tapi, tiba-tiba di selah-selah jeda acara berlangsung, tepatnya ketika saya duduk disamping panggung untuk menunggu acara selanjutnya, seorang bocah laki-laki (umurnya 8 tahun, namanya FADIL) menghampiri saya.
Kebetulan semua peserta yang hadir kami beri name tag yang juga disertai usia mereka. Sehingga satu persatu dari mereka dapat kami kenali.
“Kak, kak Bintang, boleh nggak saya tukar hadiah saya ini”, ujar Fadil kepada saya sambil menunjukkan sebuah hadiah Lilin satu set lengkap yang dikemas dalam botol seperti minuman yang unik. Hadiah ini adalah hasil yang dia peroleh dari menjawab kuiz yang saya lemparkan beberapa sa’at yang lalu.
Dalam acara ini, setiap pergantian session acara saya akan mengisinya dengan berbagai kuiz dan game. Anak-anak yang hadir dapat menjawabnya langsung ketika ditunjuk. Jika jawabannya benar maka langsung mendapatkan hadiah yang menarik yang bervariasi dari kakak-kakak panitia.
Hadiahnya terdiri dari: Boneka Barbie berpakain muslim (tiruan), Tempat air Minum Sedang, 1 Set peralatan mewarnai (Pentel), Pensil Warna, Satu set Lilin Mainan dalam tempat yang unik, Pena ajaib yang berwarna 10 macam, Celengan berbentuk Sapi, Gantungan Kunci, dan masih banyak lagi.
Pokoknya hadiah yang kami sediakan memang bikin mereka gemes, senang, dan ingin memilikinya. Dan tentu saja tidak semua anak yang akan mendapatkan hadiah tambahan ini. Jumlahnya +/- ½ dari peserta yang hadir. Jadi hanya yang bisa jawab kuiz dan memenangkan games yang akan memperolehnya. Tentu saja ini hanya bersifat hadiah tambahan.
Kami kakak-kakak panitia sudah menyiapkan bingkisan Tas sekolah yang lengkap dengan berbagai property pendukungnya yang akan mereka bawa pulang oleh setiap anak nantinya.
“Emangnya kenapa Fadil, hadiahnya kok mau ditukar ?”, tanyaku sambil memandang wajah bocah lelaki yang polos itu.
“Iya, kak…sebetulnya saya senang sekali dengan hadiah ini, tapi karena adik saya nangis minta boneka Barbie seperti temannya yang dapat hadiah Barbie, jadi saya mau tukarkan saja hadiah yang saya dapat ini dengan boneka Barbie buat adik saya”, lanjut Fadil mencoba menjelaskan maksudnya menukar hadiah tersebut.
“O, begitu…ok, sekarang Fadil ajak adik Fadil kemari, ke tempat Kak Bintang yach !”, jawabku sambil tersenyum.
Dan dalam sekejap Fadil segera berlalu dari hadapanku.
Sebenarnya bukannya saya bermaksud pelit untuk tidak langsung mengabulkan permintaan Fadil. Hanya saya mengantisipasi agar anak-anak yang lain tidak ikut-ikutan minta hadiah kepadaku, mengingat jumlah hadiah tambahan ini terbatas.
Selain itu saya juga harus mengajarkan mereka sportif / adil, bahwa hanya anak-anak yang dapat memenangkan game dan menjawab kuiz dgn benar yang mendapatkan hadiah tambahan ini. Hahaha…
Tak beberapa lama Fadil datang bersama seorang bocah perempuan mungil yang bernama Ayu, usianya 5 tahun. Ini dapat saya ketahui dari Name Tag yang tercantum di jibabnya.
Wajah bocah perempuan mungil ini tampak manis dengan balutan jibab putih yang sengaja kami pakaikan untuk semua peserta putri yang hadir. Sedangkan untuk anak laki-laki dipakaikan kupluk putih agar kelihatan seragam.
“Kenapa menangis adik manis”, sapaku ramah kepada Ayu.
“Ayu, mau boneka Barbie kak”, jawab Ayu masih terisak dan tetap digandeng sang Kakak Fadil.
“O, begitu, tapi kalau mau boneka Barbie, harus bisa jawab pertanyaan kakak dulu”.
“Bisakan ?”, jawabku sambil tersenyum dan mencoba membujuknya untuk tidak bersedih.
“Tapi Ayu nggak bisa”, jawab Ayu kecil dengan mimik yang lucu.
“Ok, kalau begitu, bacain kakak satu do’a, Ayu bisa nggak”, saya tetap berusaha membujuknya sebelum kuberikan hadiah keinginannya.
“Ayu juga belum bisa kak”, jawab Ayu lagi dengan mimic yang tetap lucu dan lugu.
“Tapi kalau baca Bismillah, Ayu bisakan sayang”, jawabku lagi kepada bocah perempuan ini.
“Bisa”, jawab Ayu kali ini dengan mata yang mulai berbinar.
“Sekarang Ayu baca, yach…yuk mulai”, saya segera memberi aba-aba.
“Bis..mil..lah.hir..roh..man..nir..rohim…”, bibir mungil Ayu mengeluarkan suaranya yang masih khas bocah perempuan kecil dengan lancar.
“Alhamdullillah, Ayu sudah baca Bismillah dengan benar, sekarang Ayu boleh pilih salah satu boneka Barbie ini”, ujarku sambil menunjukkan 2 boneka barnie (tiruan) yang dapat dimilikinya.
Ternyata Ayu memilih boneka Barbie (tiruan) yang berjibab dengan rambut panjang berwarna kuning.
“Terima kasih yach kak !”, lanjut bocah perempuan kecil ini, yang sudah tersenyum lebar sambil memeluk boneka barbienya. Lalu Ayu dan Fadil (sang Kakak) mencium tanganku.
“Yach, sama-sama sayang, tapi Fadildan Ayu kembalinya lewat samping saja yach !”, ujarku lagi kepada keduanya sambil tersenyum.
Sa’at mereka berjalan kembali ke tempat mereka semula, kuperhatikan gerak-gerik Fadil yang sempat bergoget senang sambil menggandeng sang adik.
Tampaknya sang Kakak tak kalah senang dan tampaknya sangat gembira karena akhirnya hadiah Lililn satu set yang dia peroleh tidak jadi di barter dengan boneka Barbie yang semula ingin ditukarannya untuk adiknya.
Melihat dan menyaksikan kejadian kecil yang lucu dan unik ini, terus terang sempat menggelitik hati saya. Dalam hati saya bergumam:
Betapa bangganya orangtua mereka (almarhum) jika mereka dapat menyaksikan kebesaran hati seorang kakak (Fadil) terhadap adiknya (Ayu). Meski usia Fadil masih terbilang bocah (masih 8 tahun), tapi dia sudah mengerti arti mengalah, arti berkasih sayang dan mau berkorban untuk sang adik yang disayanginya. Meski untuk hal ini masih dalam kapasitas pengorbanan seorang bocah.
“Subhannallah !”, begitulah bibirku berujar atas kejadian ini.
Ok, sekian dulu ceritaku. Semoga sepenggal cerita saya ini dapat kita bagikan kepada anak-anak kita sebagai salah satu pelajaran yang dapat diteladani.
Semoga bermanfa’at dan memberi inspirasi.
NOT EVERYBODY HAVE CHOICE !!! November 19, 2009
Posted by elindasari in Renungan.15 comments
Pagi ini kota Bekasi dan Jakarta kembali dilanda hujan deras mulai menjelang Subuh sampai pagi. Perasaan malas mulai makin mengelayuti. Rasanya ingin tetap tertidur pulas di pembaringan dan tetap kembali memeluk guling yang sangat menghangatkan.
Tapi suara azan Subuh sentak memaksaku untuk segera bangkit dan menghalau semua perasaan malas tadi. Meski masih setengah malas kuturunkan kaki menyecah lantai dan segera mandi, lalu sholat Subuh dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Sambil menikmati sarapan pagi, kepalaku mulai dihantuin bayangan suasana macet yang semakin parah yang paling sering melanda jalanan menuju ke kantor, apalagi dalam kondisi sehabis hujan seperti ini. Biasanya jalanan ikut banjir menjadi makanan rutin untuk kota Jakarta & Bekasi.
Sehingga pagi ini aku dan suami memutuskan berangkat ke kantor dengan naik motor saja. Karena semalam perjalanan pulang yang kami tempuh sangat macet. Untuk menempuh perjalanan pulang ke rumah yang berjarak tak lebih dari 15 km, harus ditempuh tak kurang dari 2 jam. Jawabannya macet…macet…macet lagi. Bete banget, hahaha !!!
Jadi, hari ini perjalanan ke kantor dengan naik motor & lengkap dengan acessoriesnya seperti helm, jaket tebal penutup mulut. Pokoknya komplit dech. Separuh perjalanan saya harus turun dari motor suami, sebab arah kekantor saya dan suami berbeda. Saya harus melanjutkan perjalanan ke kantor dengan angkutan umum, karena hari masih pagi dan pastinya lebih irit, hehehe.
Karena suasana masih pagi saya segera dapat angkot. Kebetulan kondisi penumpang dalam angkot tidak sesak. Sambil menikmati perjalanan saya menyempatkan mengupdate facebook saya. Yach lumayan untuk membunuh rasa bosan diperjalanan.
Tak lama berselang saya tiba di terminal Pulo Gadung. Saya segera berpindah ke angkutan umum lainnya. Kali ini saya harus naik Angkutan kota “PPD”.
Disinilah cerita ini dimulai. Karena kondisi penumpang masih sepi, saya dapat memilih tempat duduk dengan leluasa. Saya sengaja mengambil tempat agak mojok dan di dekat pintu. Tujuannya agar mudah ketika turun.

Sambil menunggu calon penumpang yang lain, mata saya tertuju pada dua orang anak beranjak remaja. Usia mereka sekitar 13 tahun dan 15 tahun. Mereka dapat saya kenali jelas dari celana, tas punggung dan sepatu yang mereka kenakan.
Saya mulai perhatikan gerak-gerik mereka. Ternyata sambil menunggu bis yang datang hilir mudik, mereka menyambil menjajakan sesuatu kepada hampir semua orang yang lewat. Anak yang paling besar menjajakan tisu, permen hexos, tolak angin, dan beberapa macam pulpen, yang diletakkan dalam plastik agak besar tembus pandang. Sedangkan anak yang agak kecil hanya membantu melayani uang dari pembeli dan sisa kembaliannya.
Dalam sekejap konstrasi saya jadi tertuju kepada aktivitas mereka. Ada rasa kagum atas semangat mereka dalam mengais sedikit rejeki dari orang-orang yang lalu lalang. Apaladi disuasana musim penghujan seperti ini. Mereka harus lebih ekstra menjaga barang-barang dagangan mereka dengan plastik ekstra.
Dan yang membuat saya jadi tambah kagum sepertinya mereka tak terlalu memperdulikan rintik hujan gerimis kecil yang tetap turun membasahi wajah mereka.
Saya sangat yakin keuntungan yang mereka peroleh tidaklah besar. Tapi mungkin sangat berarti bagi mereka. Ah, mereka hebat, kecil-kecil sudah gigih melawan keterbatasan financial mereka. Semoga saja mereka akan selalu gigih dan tetap dijalan yang benar, gumamku dalam hati.
“Bu, tisu bu, pulpen buat anaknya bu !”, tiba-tiba suara itu membuyarkan pikiranku yang sempat melalang buana.
“O, yach… berapa harganya ?”, lanjutku karena tiba-tiba saja saya menyadari bahwa mereka berdua (anak yang tadi sempat kuperhatikan) sudah berada dalam bis yang saya tumpangi dan persis tepat didepanku dan sedang menjajakan dagangan mereka.
“Tisunya seribuan, kalau pulpennya satu kotak isinya 12 bh Rp. 5000,-“, jawab mereka sigap.
Hem, satu kotak isi 12 pulpen hanya Rp. 5.000 saja. Murah sekali pikirku dalam hati. Apa mereka dapat untung dari dagangan mereka ini. Saya serasa tak percaya dengan harga yang mereka tawarkan ini.
“Pulpennya nyala semuakan”, tanyaku meyakinkan kalau aku tidak dibohongi.
“Coba ditest saja bu satu-satu disini”, ujar anak remaja yang agak kecil mencoba jadi penjual yang baik sambil menyodorkan secarik karton bekas untuk tempat tester.
Saya segera mencoba pulpen-pulpen tersebut. Ternyata hasilnya ok semua. Lumayan buat oleh-oleh si kecil di rumah, pikirku dalam hati.
“Baiklah saya beli dua kotak dan tisu 2 buah”, ujarku kepada mereka sambil menyodorkan selembar uang Rp. 20.000,-.
“Sisa kembaliannya buat kalian saja, kalian masih sekolah kan ?”, tanyaku pada mereka berdua.
Terus terang saya sempat kagum atas usaha mereka ini. Usia mereka masih belia, tapi mereka sangat sadar akan keterbatasan financial mereka. Mereka tetap mau berusaha. Saya patut memberikan sedikit imbalan untuk usaha mereka ini. Meski nilainya tidak seberapa.
“Masih bu, hanya kami berdua masuknya siang jadi kalau pagi kami berdua jualan dulu”, jelas mereka kepadaku.
“Terima kasih banyak yach bu, lumayan uangnya bisa untuk nambahi tabungan, juga buat bayar uang sekolah adik saya bu !”, lanjut mereka lagi sambil tersenyum lebar kepadaku.
Tak terasa penumpang bis hampir penuh. Mereka berpamitan untuk segera melanjutkan aktivitas jualan mereka ke bis yang lain.
“Hati-hati bu !”, ujar mereka kepadaku.
“Yach, kalian juga harus tetap sekolah yach !”, lanjutku sambil tersenyum yang dibalas lambaian tangan oleh keduanya.
Hem, terus terang mungkin ini hanya secuil cerita pagi yang biasa buat segelintir orang.
Bahkan mungkin ada juga yang beranggapan kalau hal seperti ini nggak penting sama sekali. Tapi bagi saya kejadian biasa seperti ini justru sangat mempunyai nilai. Betapapun kecilnya saya bisa menarik benang merahnya.
NOT EVERYBODY HAVE CHOICE !!!
Ya, Tidak semua orang mempunyai pilihan. Pilihan untuk bertahan hidup, pilihan untuk sekolah, pilihan untuk menikmati masa kecil, pilihan untuk menikmati masa remaja, bahkan pilihan untuk masa depan.
Tapi sebaik-baiknya adalah orang yang selalu menjalani kehidupan dengan penuh suka cita, penuh semangat, tak mudah putus asa. Karena selama kita mau berusaha, kemudahan itu pasti akan datang. Pasti…
Jadi ingat lagunya D’Masiv – Jangan Menyerah, yang syairnya begini:
Tak ada manusia, Yang terlahir sempurna, Jangan kau sesali, Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah, Dapatkan cobaan yang berat, Seakan hidup ini, Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugerah, Tetap jalani hidup ini, Melakukan yang terbaik
Tak ada manusia, Yang terlahir sempurna, Jangan kau sesali, Segala yang telah terjadi
Tuhan pasti kan menunjukkan, Kebesaran dan kuasanya, Bagi hambanya yang sabar, Dan tak kenal Putus asa
Ok, sekian dulu ceritanya, semoga cerita pagi saya ini bisa memberi manfa’at dan inspirasi.
Gaji Mama berapa sich, Auline ingin tahu… Oktober 30, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Auline, Beli, Cilla, Gaji, Kantor, kasih sayang, Kepedulian, Kesibukan, Mama, Melukis, Satu Jam, Sehari, Tsamara
15 comments
Pada masa sekarang ini, apalagi tinggal dikota Jakarta yang serba gemerlap ini, tak jarang mengharuskan pasangan suami isteri harus sibuk di luar rumah dalam rangka memenuhi kebutuhakn financial yang menjadi tuntutan memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebut saja seorang Tsamara. Sosok wanita muda, yang selalu energik, selalu tampil dandy sebagai wanita karier, terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Yah, Tsamara adalah seorang karyawati sebuah perusaahan yang cukup terkenal di Jakarta, dengan karier yang lumayan tinggi untuk ukuran seorang wanita. Tsamara sudah dikaruniai dua orang putri. Putri pertamanya sudah berusia 11 tahun bernama Auline dan putri keduanya berusia empat tahun bernama Cilla.
Seperti biasa rutinitas Tsamara hampir dihabiskan dikantor. Berangkat kerja mulai jam 7.00 pagi dan pulang kerumah rata-rata jam 21.00. Tsamara memang tinggal di salah satu sudut kota Jakarta yang hinggar bingar.
Seperti biasa setelah seharian penuh bekerja di kantornya, dalam keremangan lampu halaman rumahnya yang indah, dia melihat Auline putri pertamanya di temani Mbak Sum pengasuhnya menyambut dirinya di teras rumah.
“Sayang, kok belum tidur ?” sapa Tsamara sambil mencium kening anaknya.
Biasanya Auline sudah tidur ketika Tsamara pulang dari kantor, karena harus bangun pagi juga karena jemputan sekolahnya juga pagi jam 6.30.
Sedangkan adiknya (putri kedua Tsamara bangun menjelang Tsamara berangkat ke kantor (sekitar jam 7.00 pagi) dan berangkat ke sekolah sekitar jam 8.00.
“Auline menunggu Mama pulang, Auline mau tanya, gaji Mama itu berapa sih Ma?” tanya Auline sambil terus membuntuti mamanya naik ke lantai atas.

Gaji Mama berapa sich, Auline ingin tahu nich...
“Ada apa sich kok nanya-nanya gaji Mama segala ?”, jawab Tsamara sekenanya atas pernyaan putrinya yang agak nyeleneh ini.
“Auline cuma…pingin tahu aja kok Mah ?, lanjut Auline yang merasakan kalau pertanyaanya tidak digubris sang Mama.
“Mama nggak mau jawab pertanyaan gituan !”, jawab Tsamara denan wajah mulai ditekuk, atas pertanyaan Auline yang mulai aneh.
“Baiklah kalau Mama nggak mau jawab, Auline akan tebak dan hitung sendiri ya !”, jawab Auline dengan gayanya yang sok tahu, ala anak kecil.
Sambil mengambil selembar kertas kecil dan pulpen, Auline berlari ke meja belajarnya di sudut kamarnya. Lalu Auline mulai menghitung.
Hem…Kerja Mama sehari Auline tebak digaji Rp 800.000,-, berarti selama sebulan dikali 20 hari. Terus berapa gaji Mama sebulan ?. Sehari Mama saya anggap kerja 10 jam.
“Kalau begitu, satu bulan Mama di gaji Rp 16.000.000,-, ya Ma ?”
“Dan satu jam Mama dibayar Rp. 100.000,-.” kata Auline setelah mencorat-coret dalam kertasnya sambil membuntuti Tsamara yang beranjak menuju Toilet.
“Ok, Auline, kamu memang putri mama yang pintar, sayang”. “Sekarang Auline cuci kaki lalu bobok”, perintah Tsamara setengah berteriak dari dalam toilet.
Tapi kenyataanya Auline masih saja berada di kamar Tsamara, putrinya ini malah duduk di tepi ranjang sambil terus memandangi mamanya yang berganti pakaian.
“Mah, boleh tidak Auline pinjam uang Mama Rp. 10.000,-?” tanya Auline dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.
“Sudahlah Auline, nggak usah macam-macam dech, untuk apa minta uang malam-malam begini”. “Kalau mau uang besok saja”. “Mama sekarang sudah capek”. “Sekarang Auline tidur supaya besok tidak terlambat ke sekolah!”, perintah Tsamara lagi kali ini dengan nada yang agak galak.
“Tapi Mah”, Auline coba membantah perkataan mamanya.
“Auline…., Mama bilang tidur, tidur !!!”, kali ini Tsamara mulai membentak putrinya, sehingga sangat mengejutkan Auline.
Akhirnya Auline beranjak menuju kamarnya.
Tsamara mulai jengkel atas pertanyaan dan kebandelan Auline akhir-akhir ini. Tsamara mulai tak bisa menahan emosinya lagi dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak ramah seperti hari-hari sebelumnya. Untungnya ada suaminya yang selalu menghibur dan menenangkan Tsamara atas kelakuan Auline ini.
Ketika emosi Tsamara mulai stabil dan selang beberapa waktu kemudian, Tsamara kembali menengok kamar anaknya ini. Dia ingin melihat putri kebanggaannya ini “Auline”
Tapi, ketika Tsamara menjumpai Auline di kamarnya, ternyata putrinya ini belum juga tidur. Tampaknya Auline sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang.
Tsamara jadi sedikit bingung dan mulai menyesali atas bentakannya tadi.
Dipegangnya kepala Auline pelan dan berkata, “Sayang, ma’afkan Mama ya nak !”. “Sebenarnya Mama sayang sekali pada Auline”.
“Auline adalah putri kebanggaan Mama”, kali ini tatapan Tsamra ke wajah mungil anaknya ini dengan penuh kasih.
Lalu, Tsamarapun sambil ikut berbaring di sampingnya dan mendekapnya.
“Ok, sekarang Auline kasih tahu Mama, untuk apa sih perlu uang malam-malam begini”. “Besok kan bisa, jangankan Rp. 10.000,-, lebih banyak dari itupun akan mama akan kasih”, bujuk Tsamara ke putriinya ini.
“Auline, nggak minta uang Mama kok”. “Auline cuma mau pinjam”. “Nanti akan Auline kembalikan, kalau Auline sudah menabung lagi dari uang jajan Auline”, bibir mungil putrinya mulai bicara.
“Ok, sayang, tapi untuk apa uang itu Auline?”, tanya Tsamara tetap dengan suara yang lembut.
“Sebenarnya Auline sudah menunggu Mama dari sore tadi”.
“Auline nggak mau tidur sebelum ketemu Mama”.
“Auline pengen ngajak Mama melukis bareng”.
“Satu jam saja”.
“ Tapi mbak Sum sering bilang kalau waktu Mama itu sangat berharga”.
“Jadi Auline ingin beli waktu Mama, agar Mama & Auline bisa melukis bareng lagi seperti dulu”, Auline kecil mencoba menjelaskan kepada Tsamara.
“Lalu,” tanya Tsamara penuh perhatian dan kelihatannya Tsamara masih belum mengerti sepenuhnya.
“Iyach, ma, tadi Auline hitung uang tabungan Auline, ternyata jumlahnya ada Rp 90.000,-“.
“Tapi karena tadi Auline hitung satu jam Mama di kantor dibayar Rp. 100.000,-, berarti masih kurang Rp. 10.000,- lagi”.
“Makanya Auline ingin pinjam pada Mama”.
“Auline ingin membeli waktu Mama satu jam saja, untuk menemani Auline melukis bareng”.
“Ma, Auline kangen banget sama Mama,” ujar Auline polos dengan masih menyisakan isakannya yang tertahan.
Tsamara terdiam, dan kehilangan kata-kata. Dadanya bergemuruh kencang, seakan ada yang mengetuk-ngetuk dibaliknya. Lalu, Putri kecil itunya itu dipeluknya erat-erat. Putri kecil, putri kebangaannya ini menyadarkan dirinya, bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kata belaka namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.
“Ma’afkan mama sayang, sungguh Mama hilaf”, kali ini Tsamara tak dapat membendung luapan jiwanya yang tadinya serasa bergemuruh kencang.
Semoga sepenggal cerita diatas memberi inspirasi dan manfa’at.
Selamat Jalan Pak Holil, Selamat Jalan Pahlawanku … Oktober 28, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: 10 Nopember, Gugur Bunga, Hari Pahlawan, Indonesia Raya, Ismail Marzuki, Kemanusiaan, Kemerdekaan, Keprihatinan, Napak Tilas, Pahlawan, Pejuang Tanah Air, Perjuangan, Prihatin, Sejarah, Tanpa Pamrih, Veteran
4 comments

selamat jalan pak Holil...
Seminggu yang lalu, sengaja kulepaskan segala kepanatan dan rutinitas yang hampir 6 bulan melekat erat di hari-hari saya. Saya ingin merefresh diri dan jiwa. Saya ingin meluangkan waktu sejenak bersama putra sulungku untuk mengunjungi seseorang yang sempet saya kenal kira-kira dua tahun yang lalu, lewat acara kemanusiaan.
Karena bulan November nanti bangsa Indonesia akan memperingati hari PAHLAWAN pada tanggal 10 November nanti. Saya langsung teringat dan berinisiatif untuk mengajak putra sulungku mengujungi salah seorang veteran pejuang tanah air yang sempet saya kenal tsb. Sebut saja namanya Pak Holil. Untungnya langsung disambut antusias oleh putraku.
Memang sudah selama 2 tahun berturut-turut setiap meyambut hari Kemerdekaan dan hari Pahlawan, putra sulungku saya ajak untuk mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan detik-detik mengenang kembali perjuangan bangsa ini.
Mulai dari acara napak tilas sejarah perjuangan bangsa, sampai mengunjugi museum dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Dan ternyata respon dan hasil yang saya dapatkan sangat memuaskan. Putra saya sangat antusias dan keingintahuannya tentang hal-hal yang berhubungan tentang sejarah perjuangan bangsa, dll sangatlah besar. Setidaknya menurut kaca mata saya untuk ukuran seorang bocah yang masih berusia 10 tahun.
Sekitar jam delapan pagi, saya dan putra sulung saya sudah meluncur dari rumah. Sengaja berangkat agak pagi, agar saya sempet berbelanja terlebih dahulu beberapa macam keperluan sehari-hari, untuk saya bawakan sebagai buah tangan dalam rangka mengunjugi seseorang tsb, yang diam-diam dalam hati saya kagumi ini.
“Pangeran” putra sulungku sempat membantuku dengan memilihkan beberapa macam buah utk dirangkai dalam keranjang buah oleh petugas hypermarket. Akhirnya setelah lebih kurang menghabiskan waktu 1 jam, kami langsung meluncur ke tempat yang semula akan kami tuju, yaitu rumah Pak Holil.
Pukul setengah sebelas, kami sudah sampai di sebuah jalan sempit menuju kediaman Pak Holil. Maklum untuk menuju rumah pak Holil masih harus ditempuh dengan berjalan kaki tak kurang dari 100 meter lagi. Saya sengaja memarkirkan mobil di sudut sebuah warung dan sempat permisi untuk menitipkan kendaraan disana.
Untungnya si ibu, empunya warung tidak berkeberatan. Bahkan setelah tahu bahwa saya akan mengunjungi Pak Holil, ibu si empunya warung dan anaknya yang sudah agak besar (kira-kira 16 tahunan) ikut membantu saya dan Pangeran membawakan oleh-oleh buat Pak Holil.
Hem, baik juga yach nich ibu dan anaknya masih mau bantu saya, padahal sebenarnya dia sedang buka / jaga warung.
“Bu, warungnya nggak apa-apa ditinggal ?”, tanya saya karena khawatir ada yang nyolong kalau ikutan ngantar kita ke dalam lorong.
“Ah, enggaklah bu, kalaupun ada yach ngambil dulu, yach nggak kenapa-napa juga, nanti juga bayar !”, jawab si ibu warung dengan santai.
“Lho, kalau nggak ada yang jaga warung, nanti ada yang nyolong gimana”, kali ini Pangeran nggak kalah khawatir.
“Insya Allah nggak ada nak”, sambung ibu warung ini lagi dengan mimik yang sangat yakin kepada Pangeran.
“Yach, kalau gitu, ayo kita jalan, terima kasih banyak lho bu, dik karena sudah mau bantuin kita”, lanjutku sambil segera menuju ke lorong yang menuju rumah pak Holil..
Jalan masuk ke rumah pak Holil ini terbilang sempit, hanya berupa lorong yang bisa dilalui motor atau pejalan kaki. Orang Jakarta sering mengistilahkannya dengan Lorong “Senggol”. Karena kalau kita berjalan berpapasan dengan orang lain, bisa saling bersengolan satu sama lain karena kondisi lorong yang sempit. Kondisi rumah pak Holil pun tak kalah memprihatinkan. Anak-anak & menantu beliaupun perekonomiannya ma’af sangat terbatas.
Saya juga pernah menceritakan hal ini di postingan blog saya sebelumnya, berjudul “Arti Merdeka Bagimu”. Silahkan dibaca jika ada yang penasaran.
(Ma’af penggambaran saya diatas hanyalah sebuah bentuk keprihatinan saya dari apa yang saya lihat. Tidak bermaksud melecehkan atau meremehkan keadaan mereka. Tidak sama sekali. Mohon ma’af yach pak Holil & keluarga jika kata-kata saya ini sekiranya kurang berkenan. Tapi justru penggambaran saya ini hanyalah sebuah bentuk keprihatinan saya yang mendalam, agar dapat lebih membuka mata saya lagi. Saya merasa sangat bersyukur bahwa saya tidak berada dalam kondisi seperti mereka. Alhamdullillah.)
Tapi dibalik keprihatinan yang dialami pak Holil dan keluarga, mereka tidak pernah mengeluhkan nasib mereka ini. Apalagi menuntut lebih kepada pemerintah, atas jasa perjuangannya. Karena menurut pak Holil, perjuangan yang telah dia lakukan semata-mata demi terbebasnya bumi pertiwi dari kaum penjajah. Demi berdirinya bangsa ini. Perjuangan yang dia lakukan bersama para pejuang tanah air lainnya tidak untuk pamrih.” Jangankan harta benda, jiwa & ragapun rela mereka berikan demi perjuangan”, kata yang pernah di ucapkan pak Holil yang masih kuingat hingga kini.
“Sungguh luar biasa, Kau dan para pejuang lainnya memang pejuang sejati. Patut menyandang gelar “Putra Terbaik Bangsa”
Tak beberapa lama kami tiba dimuka rumah pak Holil. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan tips alakadarnya kepada ibu warung dan anak ibu warung ini, yang sudah membantu saya dan pangeran, saya mulai mengetuk pintu rumah pak Holil.
Tapi sepertinya suasana rumah sepi. Padahal saya sudah mengucapkan salam sampai dua kali.
Tak lama kemudian, pintu rumah pak Holil terbuka. Sepertinya dibuka dari rumah sebelah. Maklum rumah pak Holil ini memang bersebelahan dengan rumah anaknya.
“Assalamualaikum mbak, pak Holilnya ada ?”, tanya saya kepada wanita muda yang berada di muka pintu rumah pak Holil ini.
“Walaikumsalam, ibu ini e…ibu Bintang khan, yang tempo hari dulu pernah kesini ?”, sambut wanita muda ini lagi.
Wanita muda ini sudah saya kenal sebelumnya. Namanya mbak Sumiati, sering dipanggil mbak Sum. Dia adalah putri ketiga pak Holil. Tinggal di sebelah rumah pak Holil. Sudah berkeluarga dan punya 2 anak. Anaknya yang tertua berumur sekitar 8 tahun dan yang kecil berumur sekitar 4 tahun.
“Betul, mbak Sum…saya ibu Bintang, mbak !”, lanjut saya coba menyakinkan kembali ingatan mbak Sum ini kepada saya.
“Sedangkan ini putra saya, Pangeran”, saya coba mengenalkan putra saya kepadanya juga.
“Mbak kok sepi, pak Holil mana ?”.
“Dan ini sedikit buah tangan dari saya & keluarga buat keluarga pak Holil disini !”, lanjut saya lagi mulai membuka obrolan dengannya, sambil menunjukkan sedikit buah tangan yang sebagian yang masih terletak di sudut pintu.
Saya lihat wajah mbak Sum, sempat tersenyum kepada saya & Pangeran.
Tapi tiba-tiba, mata wanita muda ini berkaca-kaca, dan derai tangis pun pecah. Sambil terisak-isak wanita muda ini berbicara dengan nada terbata-bata.
“Bapak sudah meninggal mbak, sebulan yang lalu”.
“Bapak dimakamkan di pemakaman umum dekat terminal”.
“Innalillahi wainailaihirojiun !”, bibir saya pun langsung berujar spontan.
Tak kuasa air mata sayapun menetes di pipi. Terkenang budi baik dan jasa beliau sebagai pejuang kemerdekaan tanah air yang tidak pernah menuntut banyak.
Sungguh sayapun turut merasakan kehilangan seorang pak Holil, seorang yang penuh kesederhanaan dengan berbagai keterbatasannya, namun dibalik itu tetap terpatri jiwa yang besar, pengabdian dan pengorbanannya semata demi kebebasan bangsa. Sungguh sosok yang sangat luar biasa, dan sosok yang langka menurut sudut pandang saya.
Mbak Sum juga sempat menceritakan pada saya dan Pangeran bahwa pada detik-detik hayatnya, pak Holil ingin diperdengarkan lagu “Indonesia Raya”. Dan beliau menghebuskan napas terakhirnya tepat setelah selesai mendengarkan lagu kebanggaan beliau ini.
Yach, itulah permintaan khusus beliau di detik-detik akhir usianya. Meski untuk hal inipun anak-anak pak Holil harus bersusah payah pinjam tape dan kaset dari para tetangga yang kebetulan punya.
Masya Allah…saya tak kuasa mendengar cerita haru ini, tentang permintaan terakhir beliau ini lewat mulut mbak Sum. Sungguh saya terharu mendengarnya, serasa ada yang bergemuruh di dalam dada ini. Sangat dalam, sehingga mulut saya tak bisa berkata apa-apa.
Pak Holil memang putra pejuang terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Beliau salah satu veteran pejuang tanah air. Didetik-detik akhir napasnyapun beliau masih menunjukkan betapa besarnya kecintaannya pada bumi pertiwi ini. Meski hanya dengan mendengarkan lagu “Indonesia Raya”. Sungguh pengalaman ini memberikan pelajaran tersendiri bagi saya.
Dan saya yakin masih banyak pak Holil-pak Holil yang lain di luar sana. Semoga nasib mereka lebih baik dibanding nasib pak Holil yang pernah saya kenal ini.
Selamat jalan Pak Holil, selamat jalan putra terbaik bangsa, do’aku, do’a kami semua, menyertaimu, selamat jalan…
Gugur Bunga
Pengarang / Pencipta Lagu : Ismail Marzuki
Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati
Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti
Jiwa, semangat perjuangan pak Holil dan para pejuang (veteran) kemerdekaan tanah air lainnya, semoga tetap melekat dan tetap membakar semangat kita sebagai generasi penerus perjuangan mereka dalam mengisi kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dengan tanpa pamrih.
Sekian, semoga cerita tersebut memberikan manfa’at dan inspirasi bagi kita semua.
Kupersembahkan tulisan ini buat :
Alm. Pak”Holil“bukan nama sebenarnya
(salah satu Veteran Pejuang Kemerdekaan) Indonesia
IBU, KASIHMU SEPANJANG JALAN Oktober 16, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: anak, Hutan, Ibu, Kasih Ibu, kasih sayang, Lupa, Malas, Mengahdap yang Kuasa, orangtua, panti jompo, Pengorbanan, sibuk, Sukses
11 comments
Beberapa waktu yang lalu saya sempet membaca sebuah cerita yang beriksah tentang kasih Ibu terhadap anaknya. Dan semoga saja cerita yang akan saya bagi ini, bisa dijadikan ajang bagi kita semua untuk saling mengingatkan kembali arti pengorbanan orang tua, terutama ibu kita, sehingga kita lebih mencintai dan menyayangi lagi ibu / orangtua kita.
Apalagi kalau mereka sekarang masih ada di tengah-tengah kita. Semoga kita jadi anak yang pandai membahagiakan ibu / orangtua kita, semoga…

Kasih Ibu, Sepanjang Jalan
Dicerita tsb diceritakan lebih kurang sebagai berikut :
Konon pada jaman dahulu, di suatu tempat (ma’af nama tempatnya sengaja nggak saya sebutkan), ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya. (Hem menurut saya.sungguh kebiasaan yang aneh mungkin untuk ukuran pikiran orang yang normal, sungguh aneh ???)
Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
“Bu, kita! sudah sampai”,kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”.
Setelah mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Tak kuasa akhirnya dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
Yah, Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Sekedar isapan jempol….
Tapi di jaman sekarang, kalau kita mau jujur, kejadian mirip tersebut diatas, tak sedikit kita jumpai sangat persis cerita diatas. Mungkin hanya beberapa istilahnya saja yang diplesetan / diperhalus bahasanya. (Hem……)
Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya malas untuk merawat mereka, sibuk, ada bisnis, dan berbagai alasan lainnya. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang ada yang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja. ( Nggak percaya, coba sekali-kali bertandang ke tempat –tempat ini, kalau para pembaca nggak percaya…)

Buya & Ummi
Yah, semoga saja cerita diatas bisa membuka mata hati kita semua, untuk bisa mencintai orang tua kita dan para manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disa’at mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang Maha Kuasa.
Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini. Sungguh pengorbanan yang tiada tara.
Terima kasih, semoga cerita diatas bisa memberi manfa’at dan inspirasi.
MUSEUM TEKSTIL JAKARTA & KURSUS BATIK Oktober 13, 2009
Posted by elindasari in Belajar.Tags: Alamiah, Batik, Canting, Kursus Batik, Museum, Museum Tekstil, Pewarna, Tanah Abang, UNESCO
8 comments
Pada hari Minggu kemarin, tepatan tanggal 11 Oktober 2009, saya beserta teman-teman melepaskan kepenatan sejenak dari aktivitas kantor, dengan berkunjung ke Museum Tektil Jakarta.

Museum Tekstil Jakarta
Kunjungan kami kali ini tak lain adalah untuk lebih mengenal dan tahu lebih banyak tentang Tektil yang ada di Indonesia terutama tentang BATIK. Busana Adikarya Tradisional Indonesia Kita.
Tentu sahabat blogger dan para pembaca sudah tahu khan, kalau pada tgl 2 Oktober 2009 yang lalu oleh UNESCO telah ditetapkan bahwa BATIK adalah “Warisan Budaya Asli Indonesia”.
Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 10.30 pagi dan kunjungan berakhir sekitar pukul 16.00.
Biasa sebelum berangkat foto bersama, dan cizzz….inilah hasilnya….Foto para peserta yang siap berangkat ke museum tekstil sekaligus untuk mengikuti pelatihan / kursus batik. Hem…pasti mneyenangkan .

Sebelum berangkat ke Museum Tekstil 11 Okt 2009
Sekitar pukul 11.00 kami sudah tiba di Museum Tekstil.
Museum ini terletak di daerah Tanah Abang. Tepatnya di Jl. Aipda K.S. Tubun, No. 4 Kel.Petamburan, Kec. Tanah Abang Jakarta Barat (Jakarta 11420).
Bangunan Museum ini dulunya disebut “Indische Woonhuis / Asrama Pegawai Departemen Sosial”. Sekarang dikenal dengan nama “Museum Tekstil”. Pemilik bangunan ini adalah “Pemerintah Provinsi DKI Jakarta”
Nah, sebelum saya bercerita tentang aktivitas kami di museum ini ada baiknya para sahabat blogger / pembaca juga mengetahui sejarah ringkas tentang Museum ini.
Bukankah ada istilah, tak kenal maka tak sayang, so ringkasan ini juga kudu dibaca yach, hahaha….
Bangunan tua ini, dibangun pada tahun 1850-an (abad ke 19). Pada mulanya adalah rumah pribadi seorang warga Negara Perancis, kemudian dibeli oleh Konsul Turki bernama Abdul Azis Almussawi Al Katiri, yang menetap di Indonesia.
Pada tahun 1942 dijual kepada DR. Karel Christian Cruq.
Pada masa perjuangan kemerdekaan R.I. gedung ini dipergunakan sebagai Markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR).
Tahun 1947 didiami oleh Lie Siou Pin, lalu pada tahun 1952 dibeli oleh Departemen Sosial R.I.
Pada tanggal 25 Oktober 1975 diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta yang kemudian pada tanggal 28 Juni 1976 diresmikan penggunaannya sebagai Museum Tekstil oleh Ibu Tien Soeharto.
Bangunan ini dilindungi oleh SK Mendikbud RI Nomor 0128/M/1988. Bangunan masih asli , dalam keadaan baik dan terawat.
Arsitektur : Bergaya Art and Craft.
Golongan : B
Data-data tersebut saya copy dari : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
Hanya sebagai info bahwa pada sa’at kami berkunjung kemarin bangunan ini sedang direnovasi. Jadi kami belum bisa ambil foto untuk barang-barang yang tersimpan didalam museum ini. Tapi jangan khawatir, suatu sa’at saya akan kembali berkunjung untuk mengambilkan foto benda-benda yang tersimpan disana.
Nah, kesempatan berkunjungpun kami mulai dengan ke bangunan yang terletak agak ke belakang dari bangunan utama. Di bangunan ini ternyata adalah worshop untuk Kursus Batik.

Batiknya berkelompok lho

Asyik mem Batik
Mulai dari proses menggambar atau lebih tepatnya menjiplak, lalu batik pakai canting dan proses mewarnai kain yang sudah dibatik.

Salah satu karya teman sebelum proses pewarnaan
Setelah selesai diwarnai hasil karya kita tersebut dijemur. Hahaha, jemurnya di bawah pohon, oi….

Hasil karya pembatik amatir yang siap di jemur
Sambil menunggu hasil batik kami kering, kami mendengarkan pengarahan tentang “Sejarah & Teori Batik” dari Bapak Hamim dari Museum Tekstil.
Wow ternyata ceritanya asyik banget. Sambil duduk lesehan di bawah pohon randu yang umurnya udah ratusan tahun yang sangat rindang dan ditemani angin sore yang bertiup sepoi-sepoi, denger ceritanya tambah asyik.
Ternyata batik itu sudah sangat akrab di bumi Nusantara ini sejak dulu kala. Sudah ada di bumi Nusantara kita sejak jaman para penjajah belum ada di nusantara, batik itu sudah ada. Hasil batik yang sangat indah ini juga menjadi daya tarik bangsa lain. Sampai-sampai para penjajahpun banyak yang jatuh cinta dengan batik hasil karya anak negeri.

Mejeng ber4 pakai batik
Pak Hamim dari Museum ini menceritakan sangat lengkap. Mulai dari cerita motif batik yang beraneka macam, cara membatik, para pembatik zaman dulu, persiapan apa yang mereka lakukan sampai cerita tirakad sebelum mereka mulai membatik, nembang, bahan campuran lilin utk membatik dan corak / motif apa saja yang dikenakan oleh raja-raja zaman dulu sampai cerita tentang batik pada masa sekarang. Pokoke lengkap dan asyik banget…Terima ksh yach Pak Hamim sudah membeagi ceritanya dengan kami semua. Karena kita semakin sadar bahwa Indonesia itu sangat kaya akan budaya dan semamkin menyadarkan kita betapa penting untuk turut menjaga dan mewarisi budaya itu agar tetap lestari sampai cucu, cicit kita nanti. Semoga tetap lestari sepanjang masa yach pak.
Tapi, saya nggak akan kulas sampai detail disini yach kulasan cerita dari Paka Hamim ini, saya anjurkan para sahabat blogger / pembaca yang tertarik, silahkan berkunjung saja ke museum ini, nanti pasti dicerita yang saya kulas sepintas tadi, hehehe.
Nah, biar nggak bosen saya tampilkan foto-foto saya dan teman-teman ketika belajar batik.
(Hasilnya tentu saja masih jauh dari para pembatik yang sudah professional, hahaha…ini adalah hasil karya kaum awam dan pemula, hehehe).

Foto bareng hasil kreasi
Hem, ternyata batik itu harus sabar, tekun dan telaten lho. Dan tentu saja ternyata susah (tentu saja wong baru pertama ini pegang canting, wakakak). Dan tahukan saudara-saudara ternyata yang bikin kita meski hati-hati, kalau salah nggak bisa di ralat / didelete/ di tip ex seperti kita buat gambar atau nulis di kertas atau di komputer. Hem, wajar aza kalau harga batik tulis itu mahal yach ?. Belum lagi prose pewarnaannya sampai bbrp kali dan bila menggunakan pewarna alam. Wow benar benar karya yang luar biasa.

Batik
Pokoknya salut buat para pembatik Indonesia (terutama batik Tulis). Kita selaku bangsa Indonesia turut bangga, Karena hasil karya mereka sudah sangat popular di seluruh dunia.
Ok, para sahabat blogger dan pembaca sekian dulu cerita saya. Semoga bermafa’at dan memberi inspirasi.
BERI DUKUNGAN BILA SI KECIL INGIN BERPUASA September 1, 2009
Posted by elindasari in Tips.Tags: Aktifitas, Berpuasa, Dukungan, hadiah, Lama Puasa, Ramadhan, Reward, Sahur, Si kecil
19 comments

Beri dukungan bila si kecil ingin berpuasa
Melihat sekelilingnya menjalankan ibadah puasa, ternyata si kecil yang sekarang berusia empat tahun, tidak ingin jadi penonton saja. Meskipun belum wajib baginya, iapun ingin ikut berpuasa.
Nah, jika demikian halnya, maka kita selaku orangtua jangan ragu untuk memberikan dukungan atas niatnya tersebut.
Tapi gimana caranya yach ?. Jangan khawatir. Mungkin sekelumit kiat berikut bila anda diterapkan juga untuk si kecil anda dirumah.
Pertama, katanya padanya bahwa puasa bulan Ramadhan itu merupakan kewajiban dalam agama. Hal ini untuk mempersiapkan kondisi psikologi anak sehingga ia akan belajar menilai bahwa puasa itu sebuah ibadah.
Kedua, sebagai latihan, cobalah untu menawarkan kepadanya alternative berapa lama ia akan berpuasa. Misalnya: ½ jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam dalam sehari. Usahakan bila ia memang kuat menjalankannya ditingkatkan setiap harinya. Tergantung kondisi si kecil dan kesanggupannya.
Ketiga, karena si keil berpuasa, maka pastikan bahwa gizi si kecil tetap terpenhhi agar tumbuh kembangnya tidak terganggu. Perhatikan menu sa’at sahur dan berbukanya. Meski untuk waktu berbuka bagi si kecil tergantung kesanggupan si anak. Begitu pula jam tidurnya, mengingat dia juga ikut bangun untuk makan sahur.
Keempat, hindarkan melakukan kegiatan yang menguras tenaganya. Untuk stimulasi, mungkin kegiatan diarahkan pada membaca buku atau mendengarkan dongeng, bisa juga dipilihkan yang berhubungan dengan agama untuk si kecil dgn bahsa yang mudah mereka cerna. Bisa juga diajak untuk bermain puzzle, scrable, menyusun suatu bangunan dari balok atau sejenisnya agar si kecil tidak bosan.
Kelima, cobalah untuk mencipkan suasana yang tidak melemahkan puasanya. Misalnya, pastikan makanan dan minuman dirumah berada ditempat tertutup / laci tertutup / tidak terlihat.
Terakhir, jika lebaran tiba sering kali inilah sa’at yang dinanti si kecil. Selaku orangtua tidak dilarang bagi kita untuk memberi mereka reward berupa hadiah atau uang atas puasa yang sudah mereka jalankan. Justru tindakan ini bisa memacu motivasinya. Hanya saja tetap katakan pada si kecil bahwa Hadiah Utama tetap berasal dari Allah.
Ok, sekian kulasannya, semoga memberi manfa’at dan inspirasi.
RAHASIA KENIKMATAN KOPI LUWAK Agustus 31, 2009
Posted by elindasari in Artikel.Tags: Civet, Enak, Kopi Luwak, Kotoran, Luwak, Musang, Nikmat, Rahasia, Terenak, Terkenal, Termahal
12 comments

Tempat nongkrong yang menyediakan Kopi Luwak yang terkenal
Bagi pecinta kopi, tentu mendengar kata “Kopi Luwak”, bukanlah hal yang asing. Yap…kopi ini sangat terkenal akan kenikmatannya. Ada yang udah nyoba ?. Dan saking nikmatnya tentu saja kopi ini dijual dengan harga yang sangat tinggi.
Sebagai gambaran di Jakarta, di salah satu tempat nongkrong yang cukup terkenal, kopi luwak ini dijual seharga Rp 200.000 per cangkir. Hem, nggak kebayang dech kalau yang sangat doyan minum kopi, bisa dibayangkan kalau sampai bisa menghabiskan 10 gelas seakli nongkrong, berarti dia harus mengeluarkan uang sebayak Rp. 2 juta, itu baru utk biaya minum kopi, edan !
Tapi, setelah baca artikel dibawah ini, apakah masih ada yang berani mencoba ??? Yuk, kita singkap rahasia apa dibalik kenikmati kopi luwak ini lewat artikel ini.
Kopi luwak merupakan biji kopi matang pohon yang dimakan oleh binatang luwak (Viverridae) dan dikeluarkan bersamaan dengan kotoran binatang tersebut.
Jadi, di dalam pencernaan luwak, biji kopi tetap utuh tidak tercerna karena keras, tetapi mengalami proses pencampuran dan fermentasi dengan makanan luwak lainnya.
Sebagai pemakan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan bunga-bungaan, luwak merupakan binatang yang pandai memilih makanan yang baik untuknya. Maka, proses fermentasi di dalam pencernaan luwak itulah yang membuat rasa kopi ini berbeda. Aromanya lebih harum serta ada rasa pahit dan getir asam yang lebih khas dan spesial.
Daripada sulit membayangkan, ok kita simak saja prosesnya melalui gambar-gambar ini ya.
Pertama, para petani mulai memetik buah kopi yang sudah matang di pohon, yang berwarna merah. O ya gambar-gambar ini diambil di perkebunan kopi Bondowoso, Jawa Timur.

Biji kopi sudah matang dipetik
Kedua, setelah buah kopi terkumpul, dipilah lagi yang bagus-bagus saja, soalnya hanya buah kopi matang (warna merah) yang akan disantap musang sebagai makanannya.

Biji Kopi dipilih lagi, yang sudah matang saja akan yang dipilih

Luwak hanya menyantap biji kopi yang matang
Ketiga, luwak atau bagaimana Anda menyebutnya? Civet ? Musang ? A small squirrel-like arboreal mammal, dipersilakan memakan buah kopi terbaik yang sudah dipilih oleh para petani tadi. O, ya tubuh luwak hanya akan mencerna daging buahnya saja, sementara bijinya nanti akan tetap utuh saat dikeluarkan kembali dalam bentuk feces, hiks.

Luwak sedang menikmati biji kopi yang terbaik
Dan keempat …. inilah bentuk feces luwak yang terkenal itu, seperti sudah disebut di atas, bijinya tetap utuh kan? Secara fisik, biji kopi luwak dan kopi lain bisa dibedakan dari warna dan aromanya. Biji kopi luwak berwarna kekuningan dan wangi, sedangkan biji kopi biasa berwarna hijau dan kurang harum.

Kotoran luwak ini, Biji kopi masih utuh

Kotoran luwak
Kelima, selanjutnya biji kopi yang tercampur dalam feces, dipisahkan, dikumpulkan, dibersihkan, kemudian dijemur, dan …. jadilah biji kopi luwak yang terkenal mahal itu.
Bisa dipastikan, ini adalah biji kopi terbaik, sebab hanya buah kopi matang yang dipilih musang sebagai makanannya.
Kopi Blue Mountain – Jamaika atau kopi Arabica Supremo – Kolombia ? Halah, lewats !

Biji Kopi Luwak yang terkenal itu, yang sudah dibersihkan
Kopi luwak sangat mantap rasanya bila diminum tanpa gula, karena rasa getir dan aroma kopi pun sangat terasa, begitu nikmatnya sampai jika kita minum minuman lain setelahnya, entah itu air putih, teh, coklat, atau minuman lainnya, bahkan sudah dipakai ciuman satu jam pun, rasa nikmat kopi luwak masih terasa manis di mulut. Lho?
Nah, nggak percaya silahkan dicoba kalau begitu. Tapi ngomong-ngomong masih ada yang berani nyoba nggak yach ? Hahaha….
Ok, sekian semoga bermanfa’at & memberi inspirasi.
Buka Kaca Mobil Anda Sebelum Berkendaraan !!! Agustus 27, 2009
Posted by elindasari in Kesehatan.Tags: Benzene, Buka Kaca Mobil, Kesehatan, Penting, Sepele
9 comments

mobil
Beberapa waktu yang lalu saya sempet membaca suatu artikel yang dikirim seorang sahabat via email tentang pentingnya membuka kaca mobil sebelum kita kendarai.
Tak bisa dipungkiri, jaman sekarang semua maunya serba cepat. Nah, karena maunya serba cepat itulah terkadang kita seringkali melupakan hal-hal yang mungkin biasanya kita anggap sepele tersebut.
Mau tahu apa “Faedahnya”, jika hal sepele ini kita lakukan dan dijadikan kebiasaan kita sebelum melaju di jalanan, yuk kita baca ulasannya.
Jika Anda seorang yg mengendarai mobil silakan buka jendela setelah Anda masuk mobil dan jangan terburu-buru menyalakan AC. Hal ini dilakukan agar udara yg ada di dalam mobil bisa segera keluar dan tergantikan dengan udara yg lebih segar. Ternyata udara yg ada di dalam mobil (saat diparkir) mengandung Benzene/Bensol. Darimanakah Benzene ini berasal?
Menurut penelitian yang dilakukan oleh UC, dashboard mobil, sofa, air freshener akan memancarkan Benzene, hal ini bisa disebabkan oleh suhu ruangan yg meninggi. (Hati2 bila mencium bau plastik terbakar di dalam mobil anda, segera cek asal bau tersebut).. Kalau tidak salah saya pernah membaca thread tentang bahaya action figure yg kebakar di dalam mobil.. Artikel ini berhubungan dengan thread tersebut (maaf sampai sekarang saya belum bisa menemukan thread tersebut).
Tingkat Benzene yang dapat diterima dalam ruangan adalah 50 mg per sq ft. Sebuah mobil yg parkir di ruangan dengan jendela tertutup akan berisi 400-800 mg dari Benzene. Jika parkir di luar rumah di bawah sinar matahari pada suhu di atas 60 derajat F, tingkat Benzene berjalan sampai 2000-4000 mg, 40 kali dengan tingkat yang dapat diterima .. Orang-orang di dalam mobil pasti akan menyedot kelebihan jumlah toksin.
Bahaya Benzene
Efek singkat menghirup high level benzene dapat mengakibatkan kematian, sedangkan menghirup low level benzene dapat menyebabkan kantuk, pusing, mempercepat denyut jantung, sakit kepala, tremors, kebingungan, dan ketidaksadaran.
Long term efeknya bisa menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang dan dapat menyebabkan penurunan sel darah merah, yang mengarah ke anemia. Ia juga dapat menyebabkan perdarahan yang berlebihan dan menurunkan system kekebalan, meningkatkan kesempatan infeksi, menyebabkan leukemia dan lainnya yang terkait dengan kanker darah dan pra-kanker dari darah.
Benzene adalah toksin yang menyerang hati, ginjal, paru-paru, jantung dan otak dan dapat menyebabkan kerusakan kromosonal. Saat ini sedang diadakan penelitian tentang pengaruh benzene terhadap tingkat kesuburan pria dan wanita.
Benzene adalah racun yg berbahaya karena tubuh kita kesulitan untuk
mengeluarkan jenis racun ini.
Karena itu sangat disarankan agar Anda membuka jendela dan pintu untuk memberikan waktu pada udara yg ada di dalam agar keluar sebelum Anda masuk.
Nah, sekarang anda nggak malas lagi melakukannya bukan ?. Selamat berkendaraan, Tetap hati-hati melaju dijalan !!!
Semoga Bermanfaat !!!
BERKREASI DENGAN KALENG BEKAS Agustus 12, 2009
Posted by elindasari in Belajar.Tags: berkreasi, Bermanfa'at, Celengan, Go green, Kaleng Bekas, Kreasi, Melukis, Seni, Tempat Tisu
16 comments
Setelah sekian lama saya nggak sempat mempostingkan tulisan diblog saya, kali ini saya ingin kembali mengajak para pembaca, para sahabat blogger yang mungkin juga senang berkreasi dengan barang-barang yang biasanya sering teronggok / kita buang begitu saja di tempat sampah menjadi sesuatu yang masih berguna. Pikir-pikir refeshing sambil menyalurkan kegemaran melukis. Ada yang ingin mencoba juga ?
Caranya sangat mudah, hanya dengan sedikit kejelian dan kreasi maka saya siap mengajak para pembaca mengubah barang-barang yang tidak terpakai tersebut jadi barang yang lebih bermanfa’at. Ada yang masih penasaran yuk kita kupas.
KREASI KALENG BEKAS MENJADI TEMPAT UANG (CELENGAN) & TEMPAT TISU

celengan

tempat tisu
Bahan yang diperlukan :
1. Kaleng bekas susu ukuran 400 ml qty : 1 bh
2. Cat pilox (warna boleh apa saja, yang cerah) utk cat dasar qty : 1 klg
3. Spidol snowman paint (warna hitam, warna gelap) utk melukis / menggbr qty : 1 buah
4. Koran bekas (untuk alas mengecat) qty : 1 lbr
Catatan:
Cat pilox untuk 1 kaleng 400 ml bisa dipakai untuk +/- 10 kaleng.
Spidol snowman paint bisa dipakai untuk +/- 10 kaleng.
Alat-alat yang dipakai :
1. Cutter qty : 1 bh
Estimasi biaya :
1. Kaleng bekas susu ukuran 900 ml qty : 1 bh x Rp. 0,-
2. Cat pilox 400 ml (warna cerah) qty : 1 klg x Rp. 18.000
(bisa utk bebarapa buah hasil kreasi +/- 20 buah)
3. Spidol snowman paint (warna hitam /gelap) qty : 1 bh x Rp. 15.000
(bisa utk bebarapa buah hasil kreasi +/- 20 buah)
4. Koran bekas qty : 1 lbr x Rp. 0,- = Rp. 0,-
TOTAL Rp. 33.000,-
(bisa utk bebarapa buah hasil kreasi +/- 20 buah hasil kreasi, lumayan hemat bukan ?)
Cara membuat :
1. Kaleng bekas dibersihkan terlebih dahulu (bisa dicuci dan dijemur hingga kering)
2. Kaleng yang sudah bersih lalu di cat menggunakan cat pilox. Sebelum menyemprotkan cat pilox, kaleng cat pilox dikocok beberapa kali agar cairan cat di dalam kaleng rata. Semprotkan cat secukupnya saja, (tidak perlu tebal) tapi rata ke semua permukaan kaleng.
3. Lalu kaleng yang sudah dicat tadi jemur di bawah sinar matahari hingga kering beralaskan koran.
4. Setelah kering kaleng tadi siap di lukis /digambar dengan menggunakan spidol snowman paint. Caranya kocok terlebih dahulu spidol sebelum digunakan untuk menggambar. Lalu buatlah gambar yang menarik sesuai tema yang anda inginkan.
5. Setelah selesai dilukis / digambar, lalu tutup kaleng dilubangi dengan “LURUS” sepanjang +/- 4 cm , lebar 0,5 cm dgn menggunakan cutter untuk lubang masuk uang kertas / logam (Utk celengan),
6. Setelah selesai dilukis / digambar, lalu tutup kaleng dilubangi dengan diameter +/- 4 cm dgn menggunakan cutter untuk lubang tisu (Utk Celengan)
7. Pasang tutup yang sudah dilubangi tadi sebagai penutup kaleng.
8. Selesai.
Yuk, kita lihat foto-foto mulai dari bahan, proses pengecatan, prose melukis kaleng dan hasil akhirnya !
- celengan
- Kaleng Bekas
- setelah di cat dijemur
- pasang tutup
- dilukis
- mulai dilukis
- sudah selesai dilukis
- hasil kreasi
- tempat tisu
- celengan
- tempat tisu
Nah, sekarang bisa dilihat hasil kreasi utk tempat tisu dan celengan, cukup menarik bukan ?.
Ok, semoga bermafa’at & memberi inspirasi. Jika ada yang masih kurang jelas, bisa meninggalkan jejak di komentar, selamat mencoba & berkreasi !











