jump to navigation

Siang Aimee & Potret Penjaja Bunga Februari 24, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , ,
trackback
Aimee & Gadis Kecil Penjaja Bunga

Aimee & Gadis Kecil Penjaja Bunga

Aimee adalah seorang eksekutif muda di perusahaan yang sedang berkembang pesat. Bagi seorang Aimee waktu begitu berharga. Sampai-sampai untuk waktu istirahat saja, dirinya masih disibukkan dengan beberapa hal.

Pada hari itu sengaja sambil beristirahat siang, sambil menunggu jadwal ketemu seorang clientnya, dia duduk di sebuah kafe terbuka. Tentu saja seorang Aimee tidak akan duduk diam begitu saja. Sambil berinstirahat, jari-jarinya sibuk mengetik di laptopnya sambil sesekali memencet-mencet tombol blackberrynya. Hem, Aimee memang nggak bisa berhenti total, meski menurutnya sekarang dia sedang istirahat siang.

Sa’at itulah, tiba-tiba seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.

”Tante beli bunga dong tante !”, ujar gadis kecil itu dengan lembut ambil menyodorkan beberapa tangkai bunga.

”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar Aimee yang dengan tetap sibuk dengan laptopnya.

”Satu saja Tante, kan bunganya bisa dibawa pulang, masih segar lho tante, cantik lagi kayak tante,” rayu si gadis kecil itu lagi.

Mendengar rayuan gadis kecil itu, muka Aimee jadi memerah, tapi bukan karena pujian yang membuat hatinya senang. Aimee merasa ketenangan & konsentarasinya terganggu oleh gadis kecil penjaja bunga itu.

Dengan setengah kesal dan nada yang mulai meninggi Aimee berkata, ”Adik kecil tidak melihat Tante sedang sibuk ?”

“Kapan-kapan ya kalo Tante butuh, Tante akan beli bunga dari kamu !”.

Mendengar ucapan Aimee yang mulai ketus, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu.

Tak beberapa lama berlalu, setelah Aimee menyelesaikan istirahat siangnya, ia segera beranjak dari kafe itu.

Sa’at dirinya berjalan keluar, Aimee berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya.

”Sudah selesai kerja Tante, sekarang beli bunga ini dong Tante, murah kok satu tangkai hanya dua ribu saja”.

Bercampur antara jengkel dan kasihan Aimee segera mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.

”Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Tante lagi tidak mau bunganya, anggap saja ini tip untuk kamu,” ujar Aimee sambil menyodorkan uangnya kepada si gadis kecil.

Dan dalam sekejap uang tersebut sudah berpindah tangan. Uang dua ribu itu diambil gadis kecil itu. Tetapi bukan untuk disimpannya. Gadis kecil penjaja bunga itu berlari kecil kearah seorang pengemis tua yang sedang berdiri kepanasan di dekat halte tak jauh dari kafe. Gadis kecil itu memberikan uang yang diberikan Aimee barusan kepada pengemis tua itu.

Tentu saja melihat reaksi gadis kecil penjaja bunga itu membuat Aimee, jadi sedikit berang. Aimee mulai keheranan dan sedikit tersinggung dan mulai memanggil gadis kecil itu lagi kepadanya.

“Hei, dik…kemari !”
”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil buat kamu sendiri, malah kamu berikan kepada pengemis itu ?”

Tapi diluar dugaan Aimee, gadis kecil penjaja bunga itu menjawab dengan mimiknya yang tetap lugu dan polos.

”Maaf Tante, saya sudah berjanji dengan mak saya, bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta.

Mak saya berpesan walaupun tidak punya uang saya tidak bolah menjadi pengemis.”

Kali ini Aimee jadi tertegun.
Betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga pada siang hari ini dari seorang gadis kecil penjaja bunga yang jelas-jelas sudah diremehkannya dari tadi.

Aimee tersentak dan dalam hati dia bergumam, bahwa “Bekerja adalah sebuah kehormatan”.
Meski terkadang hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan.

Akhirnya tanpa pikir dua kali Aimee mengeluarkan dompetnya dan membeli 10 tangkai bunga dari gadis kecil itu. Tapi kali ini bukan karena kasihan. Aimee ingin menghargai semangat kerja dan keyakinan gadis kecil yang memberinya pelajaran berharga untuk dirinya hari itu.

Dan tentu saja, kali ini Aimee tersenyum lebar, menyadari kekeliruannya akan sikapnya beberapa waktu tadi.

Kini langkah kaki Aimee berjingkrak dengan semangat, yes “kerja bagiku adalah kehormatan”…bukan lagi sebagai beban….kali ini Aimee melangkah sambil bernyanyi kecil dengan sepuluh tangkai bunga di tangan kanannya.

Yap, begitulah, terkadang tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima.

Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita.
Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri.

Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangan.

Semoga sekelumit cerita diatas bisa bermanfa’at dan memberi inspirasi.

Komentar»

1. Nug - Februari 24, 2010

I like the message Bintang.. Veru=y inspirative..

Thx for sharing..🙂

2. Nug - Februari 24, 2010

I like the message Bintang.. Very inspirative..

Thx for sharing..

3. Nug - Februari 24, 2010

Duh.. kok double sent yah..? Sekalian HETRIX dan ngacak2 aja deh.. Hahaha😀

4. edratna - Februari 26, 2010

Jika saja..semua orang berpikir seperti gadis kecil itu..tak mau menerima uang tanpa bekerja..pasti di Indonesia ini semakin banyak orang yang produktif.

5. hilda widyastuti - Maret 2, 2010

setuju mbak

6. tutinonka - Maret 2, 2010

Di sebuah perempatan Jl. Gejayan, Yogya, dulu selalu mangkal seorang nenek-nenek pengemis yang sudah sangat tua. Setiap lampu merah menyala, dia selalu mendekatik jendela mobil saya dan minta uang. Karena melihat ketuaannya, saya pun selalu memberi ia uang, karena saya pikir dia memang sudah tidak mampu bekerja. Nah, sudah sejak beberapa lama ini, nenek itu tidak lagi mengemis, tapi jual koran. Saya salut melihat perubahan ini. Entah apa yang membuatnya berubah dari ‘mengemis’ menjadi ‘bekerja’. Sudah pasti saya selalu membeli korannya, meskipun tidak pernah sempat saya baca. Meskipun uang yang saya keluarkan lebih banyak (harga koran Rp. 4.000,- sementara biasanya saya ngasih dia Rp. 1.000), saya senang nenek ini tidak lagi mengemis …

Salam hangat, Mbak Linda 🙂 🙂

@Wow cerita mbak Tuti itu menarik juga yach mbak.
Yap, begitulah mbak, terkadang ada perasaan bosan melanda rutinitas saya sehari-hari, ceileh….. Tapi begitu lihat perjuangan mereka-mereka yang belum / tidak seberuntung saya, semangat yang mulai kendor itu serasa terpompa dgn power yang luar biasa, apalagi bila melihat kejadian-kejadian kecil yang terkadang sangat menyentuh.

Tapi nggak sedikit juga mbak apalagi di Jkt, mengemis dijadikan mata pencaharian dan di organisir. Nah kalau yang begini, asli saya jadi bete, apalagi tahu kalau ternyata mereka sebenarnya masih bisa usaha dgn cara lain, hehehe….

Tapi nggak sedikit juga kalau yang diorganisir itu anak-anak dibawah umur mbak, dan kalau kebetulan setoran mereka kurang (pernah lihat nggak sengaja dari angkot), kepala anak-anak pengemis itu begitu turun dari angkot / bis yang kebetulan mrk dapetnya sedikit, kepala anak-anak itu digedot-jedoti ama premannya (tampangnya sich serem dan sangar kayak setan).
Aduh….kasihan juga sama anak-anak itu, tapi nggak bisa bantu mrk, krn sptnya aparat juga nggak tanggap.

Ok, mbak kapan2 kita ngobrol lagi, see you 🙂 🙂 🙂

Best regard,
Bintang

7. nh18 - Maret 19, 2010

Saya setuju dengan Mas Nug …
Cerita ini sangat inspiratif

Kadang saya suka gumun (heran) melihat orang-orang …
baik laki maupun perempuan yang bekerja seperti robot …
tidak ada sense of humannya babar blas …
belum lagi uplek BB yang tak menghiraukan lingkungan kiri kanan

Salam saya Mbak Linda

8. Cerita Cerita Ku - April 15, 2010

Cerita yang dapat menggugah…

9. bunga malaysia - April 28, 2010

menghantar bunga kepada yang tersayang di malaysia..

10. guys Jog - Agustus 26, 2010

Wow…Sangat inspirative… saya suka cerita bgn….

11. GADIS ITU BERNAMA DONA | cerita-cerita fiksi - Februari 5, 2014

[…] gambar diambil dari sini […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: