jump to navigation

Oh , So “Wonderful Life”, if you have “Balancing Life” Juni 18, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
15 comments

Hari Minggu lalu (+/- seminggu yang lalu), saya sempat mengunjungi rumah seorang tante saya di bilangan Jakarta Selatan. Terus terang hal ini agak setengah terpaksa saya lakukan, karena ibu saya meminta saya terus untuk mengantarkan buah tangan ibu dari kampung, untuk tante saya tersebut. Yach jadi meski dengan perasaan setengah mengomel dalam hati tugas mengantarkan oleh-oleh ini saya lakoni juga.

Terus terang maksud hati saya bukan semata-mata menolak keinginan ibu saya, hanya saja saya merasa hari Minggu ini juga saya masih ada pekerjaan yang lebih penting yang harus saya selesaikan. Karena dari dua minggu yang lalu sempat tertunda karena ada tamu dan kerjaan itu akhirnya belum kelar.

Ekspresi mendengar nasehat Tante

Ekspresi mendengar nasehat Tante

Padahal, saya sudah mengorbankan hari Sabtu dan hari Minggu yang lalu (+/- 2 pekan lalu) untuk bersama anak-anak. Pada akhir pekan 2 minggu yang lalu, saya sudah meminta suami saya untuk mengajak anak-anak pergi dan bermain tanpa saya, meskipun disambut dengan cembetut oleh suami dan kedua putra saya.

“Hem, I’m sorry, my son, my honey, To day, Mommy must do some works, so you can play in garden with your nanny or you can round a way with your father, ok ?”, pinta saya kepada kedua buah hati saya yang ingin mengajak saya bermain di akhir pekan 2 minggu yang lalu. Sementara itu saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya hingga sore akhir pekan berakhir.

Ok, balik lagi ke session awal (hari Minggu lalu), setibanya saya dirumah tante saya itu (Minggu kemarin), saya disambut hangat oleh putri bungsu tanteku.

“Ei, tante Bintang, sudah lama nich nggak main kemari, sudah sombong nich tante…sampai-sampai pas acara nikahan bang Fahri nggak datang !”ujar keponakan saya (anak tanteku yang bungsu) ini membuka pembicaraan kami kala itu tatkala aku baru turun dari mobil. Ternyata keponakanku ini sedang asyik menggunting batang dan daun bunga yang mulai kering.

Aku hanya membalasnya dengan perasaan setangah malu,” Yach maklumlah nasib pegawai kayak gini, terkadang mesti bela-belain lemburin kerjaan meski nggak dibayar dan merelakan waktu weekend”. “Ini ada oleh-oleh dari kampong, 2 minggu lalu mama habis mudik”, lanjutku lagi sambil menyerahkan oleh2 titip Mama untuk keluarga tante ini.

“Aduh tante terima ksih banyak yach, sudah merepotin. Yuk, masuk tante !”, ajak keponakanku ini lagi. “Saya panggil mama dulu yacht tante”, lanjutnya lagi sambil berlalu meninggalku di ruang tamu yang tampak elegant.

Sebenarnya ada perasaan nggak enak juga, karena gara-gara lumayan sibuk waktu untuk saling berkunjung dan saling bertegur sapa meski lewat telp, kurasakan agak berkurang akhir-akhir ini. Padahal dulunya hampir tiap bulan saya dan keluarga berkunjung kemari. Karena tanteku ini yang paling akrab denganku sedari aku kecil. Saya jadi agak menyesal juga.

Sebenarnya secara tak sengaja, sedari kedatanganku tadi saya sempat terpukau sa’at melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah di rumah tanteku ini.

“Ei…ma’af jadi agak lama nunggunya !”, seru tanteku yang langsung memelukku. “Yuk, kita ke dapur, kebetulan tante lagi bantuin si mbaknya masak kue maksubah dibelakang, kamu pasti suka khan ?” seru tanteku dengan wajah yang semeringgah.

Sambil masuk ke dapur, saya tetap memperhatikan tatanan rumah tanteku yang memang tertata rapi dan dipenuhi berbagai koleksi benda-benda yang unik dan berbagai lukisan dengan ukuran yang juga bervariasi.
(lebih…)

Iklan

Cinta Yang Tak Lekang Dimakan Waktu Juli 4, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , ,
7 comments

“Cinta,., o…o…o…cinta….” Itulah penggalan syair yang hit di era 70-an yang pernah di dendangkan olah tante Titiek Puspa. Sungguh menakjubkan makna yang tersirat didalamnya.

Kalau mengulas topic yang satu ini bisa membuat kita jadi mabuk kepayang. Tapi ada juga gara-gara cinta bisa membuat orang jadi lupa segalanya. Kasihan deh. Ups…. Kali ini saya coba bercerita tentang cinta yang tulus, tentang kesetiaan yang tulus, yang tak lekang di makan waktu. Cinta yang sesungguhnya.

Menjelang hari Pernikahannya, Tania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki pujaanya. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang. Papa, Mama, kakak-kakaknya, tetangga, dan teman-teman Tania. Mereka ternyata sama herannya akan pilihan Tania ini.
(lebih…)