jump to navigation

MENITI HARAPAN DI LANGIT KEJUJURAN (Part 2) Oktober 18, 2012

Posted by elindasari in Lain-lain, Renungan.
trackback

“Yok kita kemas-kemas pulang, ambil fotonya sudah bereskan !” ajak suamiku yang sedari tadi mengamati aku dan Ikbal. Tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya ke arah kami bertiga yang sedang mengambil motor yang kami parkir tak jauh dari situ. “Ibu, Bapak, terima kasih banyak yah sepedanya, ma’af anak-anak saya sudah merepotkan !”.

“Saya Mpok Sumi, ibunya Fahri dan Alif”, ujar wanita paruh baya itu sambil memperkenalkan diri. “Ayo, ibu, bapak, mampir sebentar ke rumah saya”. “Rumah saya dekat sini !”, pinta wanita itu lagi kepada kami dengan sopan dan mimik yang sangat berharap, sehingga kami enggan untuk tidak mengabulkan permintaanya. Lalu setelah mengambil “Mio”ku dan “Shogun” suamiku, kami bergegas singgah ke rumah wanita yang kami kenal dengan nama Mpok Sumi ini.

Ternyata mpok Sumi ini adalah seorang penjual nasi uduk dan lontong sayur yang bermodalkan sebuah meja kecil ala kadarnya di teras depan rumahnya yang mungil. Dari jendela kulihat seorang bocah kecil lainnya, yang sedang tertidur pulas di dalam ayunan kain. “Ibu, bapak, kenalkan ini ibu saya “Mbok Ati” dan yang dalam ayunan itu anak saya yang paling kecil “Yusuf” !”, ujar mpok Sumi lagi. “Ini pak, bu silahkan diminum airnya !”. “Mau saya hidangkan nasi uduk ?”, tawar mpok Sumi kepada kami. “Sudah mpok Sumi tidak usah repot-repot, mpok !”, jawabku singkat.
Kulihat putra kecilku dan suamiku mengamati keadaan seputar rumah ini. Sebuah rumah yang sangat sederhana. Tapi meski demikian, saya merasakan kehangatan dan keramahan penghuninya. Fahri dan Alif pun sudah berada di teras depan rumahnya. Ternyata mereka bocah yang baik dan rajin.

Sehabis bermain mereka turun tangan membantu ibu dan nenek mereka. Kecil-kecil sudah bisa meringankan pekerjaan ibunya dengan membawa beberapa nampan gorengan ke meja depan rumah untuk dijual. Hem, ternyata boleh juga kerjasamanya. Mbok Ati membantu menyelesaikan menggoreng gorengan sebagai tambahan jajanan, sambil sesekali menggenyot ayunan kain untuk Yusuf. Sedangkan Alif dan Fahri kembali membawa piring dan gelas kotor ke belakang rumah berikut nampan yang sudah kosong. Mpok Sumi sendiri selesai masak lontong sayur, langsung kembali menjaga dagangannya dan melayani pembeli di teras depan rumahnya.

“Maaf ya pak, bu saya sambi kalau ada yang beli !”, ujar mpok Sumi meminta izin. “Silahkan, mpok !”, jawabku singkat. “Sekali lagi terima kasih yah pak, bu, Ikbal, anak-anak saya sudah merepotkan !”, ulang mpok Sumi lagi kali ini dengan nada yang sedikit terisak. “Iya mpok, sama-sama !”, ulangku lagi untuk menyakinkan kalau kami sekeluarga benar-benar merasa tidak direpotkan.

Sebersit kuamati ada kesedihan di raut muka wanita paruh baya ini. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Mpok Sumi, Mbok Ati, juga dengan Fahri dan Alif, kami jadi tahu kalau ayah dari mereka sudah tidak bisa menafkahi mereka sejak beberapa tahun silam, karena sudah menghadap Sang Pencipta. Ayah Fahri, Alif dan Yusuf sudah tiada sejak Yusuf masih dalam kandungan. (Yusuf sekarang berusia +/-2 tahun).

Mpok Sumi menceritakan kisah duka keluarga ini kepada kami sambil terisak. Suaminya bernama Harun adalah sosok suami yang tekun beribadah, jujur, penuh dedikasi, tanggung jawab, dan tidak pernah melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum. Hanya saja suaminya adalah pegawai kecil bagian gudang dari sebuah perusahaan pelayaran, meski bapak Harun sudah mengabdi selama hampir 20 tahun. Namun sayang, suatu ketika bapak Harun terbawa masalah material gudang. Hasil vonis pengadilan menvonis hukuman penjara selama 5 tahun, karena bapak Harun dituduh melakukan tindakan penggelapan material gudang tempatnya dulu bekerja. Tetapi karena suatu persekongkolan dan fitnah rekan kerja mereka yang lain, malah pak Harunlah yang dijadikan tertuduh.

Sebenarnya bukti-bukti pendukung tidak mengarah ke bapak Harun, tapi karena permainan pengadilan di negeri ini bisa diputar balikan, posisi pak Harun menjadi lemah. Dia harus menanggung tuduhan tersebut hingga dijebloskan ke penjara. Malang tak dapat ditolak, didalam penjara pak Harun menderita sakit TBC yang sangat parah, hanya berselang 9 bulan ajal menjemputnya di rumah tahanan. Tapi setelah 2 bulan pak Harun meninggal dunia, pihak pengadilan memberitahukan ke keluarga bahwa pak Harun dibebaskan dari vonis dengan alasan korban bersih / korban salah tangkap, bapak Harun dinyatakan tidak bersalah, dan mereka berjanji akan membersihan nama baik beliau. Masya ALLAH…

Tapi nasi sudah menjadi bubur, meski vonis pengadilan menyatakan demikian, kenyataannya masyarakat sekitar mereka telah terlanjur meremehkan mereka. Alharhum Pak Harun yang dulunya, sebelum dijebloskan ke penjara dikenal sebagai sosok yang dihormati karena memilki pribadi yang baik, sederhana, penuh integritas sudah terlanjur tercoreng. Sehingga akhirnya mpok Sumi, ibunya dan ketiga anaknya memutuskan mereka harus hijrah dari kota mereka dulu.

Mereka mulai menetap di daerah ini untuk memulai lembaran baru hidup mereka, meski tetap lewat kerabat mereka yang masih peduli dan prihatin atas penderitaan mereka dan mempercayai mereka.

Untuk menghidupi ketiga anak dan ibunya, mpok Sumi harus bangun dini hari untuk berbelanja, menyiapkan semua masakan untuk dagangannya, juga tetap harus menjaga ketika bocah tersebut. Maklum mpok Ati hanya bisa membantu sebatas pekerjaan-pekerjaan kecil saja, karena usianya sudah tua. Aku dapat merasakan getar-getar kerja keras Mpok Sumi buat menghidupi ketiga buah hatinya dan ibunya yang sudah tua. Meskipun dengan modal dan peralatan seadanya, wanita paruh baya ini menempuh kehidupan tanpa rasa kenal lelah. Sungguh aku terharu, sangat terharu dan prihatin atas perjuangan hidup mereka.

“Mpok Sumi, mbok Ati, Fahri, Alif !”. “Kami mohon pamit dulu yah !”, ujar kami bertiga untuk berpamitan. “Kapan-kapan kami singgah lagi untuk makan nasi uduk dan lontong sayur !”, ujar suamiku untuk menghibur agar mpok Sumi tidak lagi bersedih. “Kalau ada waktu main ke rumah Ikbal yah !”, ajak putra kecilku kepada Fahri, Alif dan Yusuf yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.

Dalam perjalanan pulang dari petualangan memotretku kali ini, lagi-lagi aku menemukan pelajaran yang aku nilai sungguh berharga untuk membuka mata hati. Aku sudah bertemu dua sosok wanita “Mpok Sumi dan Mbok Ati “, yang menurut pandanganku sangat tegar, dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini. Mereka tetap berjuang keras agar dapat menghidupi ketiga buah hatinya tanpa kenal lelah, bersama seorang ibunya yang sangat disayanginya. Meski mereka sempat dikucilkan atas perbuatan yang tidak pernah dilakukan almarhum suaminya.

Perjuangan hidup mereka memang keras bagai intan, tapi saya yakin semangat kegigihan mereka untuk mengukir harapan dan terus memperjuangkan hidup dijalan kebenaran tak terpatahkan seperti berlian.

Kejujuran memang awal dari sebuah keindahan, meski terkadang pahit dan menyakitkan. Namun, tidaklah mudah untuk menjadikan kejujuran sebagai pondasi hidup. Mampukah kita jujur pada hati kita sendiri, sebelum kita jujur pada orang lain. Karena kita tidak akan pernah bisa jujur kepada orang lain sebelum kita berani jujur kepada hati kita sendiri.
Percayalah pada akhirnya kejujuran itu akan menuntun kita pada kebajikan.

“Semoga Tuhan selalu membukakan jalan kemudahan bagi mereka !” Amien.

tamat

Komentar»

1. Eva - Oktober 18, 2012

Have a good day yah …

2. Eva - November 6, 2012

Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

3. EO Kids Party - November 12, 2012

nice article…thank u

4. pulau tidung - November 20, 2012

oke thx bu elisbanget infonya jadi kesimpulanya jujur itu indah ya bu

5. jtxtop - Januari 3, 2013

Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

6. Anita - Maret 4, 2013

semua itu lebih berarti kalau kita mengapresiasinya

7. kumpulan cerpen winterwing - Maret 22, 2013

sabar ya mpok sumi, alif, ikbal. dan juga untuk blogger dan seluruh masyarakat Indonesia. sekarang saya sedang berusaha mengubah pelan-pelan kondisi politik, hukum dan masyarakat melalui dakwah islam agar kita semua dapat merasakan keadilan di dunia ini. mohon dukungannya. amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: