jump to navigation

Selamat Jalan Pak Holil, Selamat Jalan Pahlawanku … Oktober 28, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
4 comments
selamat jalan pak Holil...

selamat jalan pak Holil...

Seminggu yang lalu, sengaja kulepaskan segala kepanatan dan rutinitas yang hampir 6 bulan melekat erat di hari-hari saya. Saya ingin merefresh diri dan jiwa. Saya ingin meluangkan waktu sejenak bersama putra sulungku untuk mengunjungi seseorang yang sempet saya kenal kira-kira dua tahun yang lalu, lewat acara kemanusiaan.

Karena bulan November nanti bangsa Indonesia akan memperingati hari PAHLAWAN pada tanggal 10 November nanti. Saya langsung teringat dan berinisiatif untuk mengajak putra sulungku mengujungi salah seorang veteran pejuang tanah air yang sempet saya kenal tsb. Sebut saja namanya Pak Holil. Untungnya langsung disambut antusias oleh putraku.

Memang sudah selama 2 tahun berturut-turut setiap meyambut hari Kemerdekaan dan hari Pahlawan, putra sulungku saya ajak untuk mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan detik-detik mengenang kembali perjuangan bangsa ini.

Mulai dari acara napak tilas sejarah perjuangan bangsa, sampai mengunjugi museum dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Dan ternyata respon dan hasil yang saya dapatkan sangat memuaskan. Putra saya sangat antusias dan keingintahuannya tentang hal-hal yang berhubungan tentang sejarah perjuangan bangsa, dll sangatlah besar. Setidaknya menurut kaca mata saya untuk ukuran seorang bocah yang masih berusia 10 tahun.

Sekitar jam delapan pagi, saya dan putra sulung saya sudah meluncur dari rumah. Sengaja berangkat agak pagi, agar saya sempet berbelanja terlebih dahulu beberapa macam keperluan sehari-hari, untuk saya bawakan sebagai buah tangan dalam rangka mengunjugi seseorang tsb, yang diam-diam dalam hati saya kagumi ini.

“Pangeran” putra sulungku sempat membantuku dengan memilihkan beberapa macam buah utk dirangkai dalam keranjang buah oleh petugas hypermarket. Akhirnya setelah lebih kurang menghabiskan waktu 1 jam, kami langsung meluncur ke tempat yang semula akan kami tuju, yaitu rumah Pak Holil.

Pukul setengah sebelas, kami sudah sampai di sebuah jalan sempit menuju kediaman Pak Holil. Maklum untuk menuju rumah pak Holil masih harus ditempuh dengan berjalan kaki tak kurang dari 100 meter lagi. Saya sengaja memarkirkan mobil di sudut sebuah warung dan sempat permisi untuk menitipkan kendaraan disana.

Untungnya si ibu, empunya warung tidak berkeberatan. Bahkan setelah tahu bahwa saya akan mengunjungi Pak Holil, ibu si empunya warung dan anaknya yang sudah agak besar (kira-kira 16 tahunan) ikut membantu saya dan Pangeran membawakan oleh-oleh buat Pak Holil.

Hem, baik juga yach nich ibu dan anaknya masih mau bantu saya, padahal sebenarnya dia sedang buka / jaga warung.

“Bu, warungnya nggak apa-apa ditinggal ?”, tanya saya karena khawatir ada yang nyolong kalau ikutan ngantar kita ke dalam lorong.

“Ah, enggaklah bu, kalaupun ada yach ngambil dulu, yach nggak kenapa-napa juga, nanti juga bayar !”, jawab si ibu warung dengan santai.

“Lho, kalau nggak ada yang jaga warung, nanti ada yang nyolong gimana”, kali ini Pangeran nggak kalah khawatir.

“Insya Allah nggak ada nak”, sambung ibu warung ini lagi dengan mimik yang sangat yakin kepada Pangeran.

“Yach, kalau gitu, ayo kita jalan, terima kasih banyak lho bu, dik karena sudah mau bantuin kita”, lanjutku sambil segera menuju ke lorong yang menuju rumah pak Holil..

Jalan masuk ke rumah pak Holil ini terbilang sempit, hanya berupa lorong yang bisa dilalui motor atau pejalan kaki. Orang Jakarta sering mengistilahkannya dengan Lorong “Senggol”. Karena kalau kita berjalan berpapasan dengan orang lain, bisa saling bersengolan satu sama lain karena kondisi lorong yang sempit. Kondisi rumah pak Holil pun tak kalah memprihatinkan. Anak-anak & menantu beliaupun perekonomiannya ma’af sangat terbatas.

Saya juga pernah menceritakan hal ini di postingan blog saya sebelumnya, berjudul “Arti Merdeka Bagimu”. Silahkan dibaca jika ada yang penasaran.

(Ma’af penggambaran saya diatas hanyalah sebuah bentuk keprihatinan saya dari apa yang saya lihat. Tidak bermaksud melecehkan atau meremehkan keadaan mereka. Tidak sama sekali. Mohon ma’af yach pak Holil & keluarga jika kata-kata saya ini sekiranya kurang berkenan. Tapi justru penggambaran saya ini hanyalah sebuah bentuk keprihatinan saya yang mendalam, agar dapat lebih membuka mata saya lagi. Saya merasa sangat bersyukur bahwa saya tidak berada dalam kondisi seperti mereka. Alhamdullillah.)

Tapi dibalik keprihatinan yang dialami pak Holil dan keluarga, mereka tidak pernah mengeluhkan nasib mereka ini. Apalagi menuntut lebih kepada pemerintah, atas jasa perjuangannya. Karena menurut pak Holil, perjuangan yang telah dia lakukan semata-mata demi terbebasnya bumi pertiwi dari kaum penjajah. Demi berdirinya bangsa ini. Perjuangan yang dia lakukan bersama para pejuang tanah air lainnya tidak untuk pamrih.” Jangankan harta benda, jiwa & ragapun rela mereka berikan demi perjuangan”, kata yang pernah di ucapkan pak Holil yang masih kuingat hingga kini.

“Sungguh luar biasa, Kau dan para pejuang lainnya memang pejuang sejati. Patut menyandang gelar “Putra Terbaik Bangsa”

Tak beberapa lama kami tiba dimuka rumah pak Holil. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan tips alakadarnya kepada ibu warung dan anak ibu warung ini, yang sudah membantu saya dan pangeran, saya mulai mengetuk pintu rumah pak Holil.

Tapi sepertinya suasana rumah sepi. Padahal saya sudah mengucapkan salam sampai dua kali.

Tak lama kemudian, pintu rumah pak Holil terbuka. Sepertinya dibuka dari rumah sebelah. Maklum rumah pak Holil ini memang bersebelahan dengan rumah anaknya.

“Assalamualaikum mbak, pak Holilnya ada ?”, tanya saya kepada wanita muda yang berada di muka pintu rumah pak Holil ini.

“Walaikumsalam, ibu ini e…ibu Bintang khan, yang tempo hari dulu pernah kesini ?”, sambut wanita muda ini lagi.

Wanita muda ini sudah saya kenal sebelumnya. Namanya mbak Sumiati, sering dipanggil mbak Sum. Dia adalah putri ketiga pak Holil. Tinggal di sebelah rumah pak Holil. Sudah berkeluarga dan punya 2 anak. Anaknya yang tertua berumur sekitar 8 tahun dan yang kecil berumur sekitar 4 tahun.

“Betul, mbak Sum…saya ibu Bintang, mbak !”, lanjut saya coba menyakinkan kembali ingatan mbak Sum ini kepada saya.

“Sedangkan ini putra saya, Pangeran”, saya coba mengenalkan putra saya kepadanya juga.

“Mbak kok sepi, pak Holil mana ?”.
“Dan ini sedikit buah tangan dari saya & keluarga buat keluarga pak Holil disini !”, lanjut saya lagi mulai membuka obrolan dengannya, sambil menunjukkan sedikit buah tangan yang sebagian yang masih terletak di sudut pintu.

Saya lihat wajah mbak Sum, sempat tersenyum kepada saya & Pangeran.

Tapi tiba-tiba, mata wanita muda ini berkaca-kaca, dan derai tangis pun pecah. Sambil terisak-isak wanita muda ini berbicara dengan nada terbata-bata.

“Bapak sudah meninggal mbak, sebulan yang lalu”.
“Bapak dimakamkan di pemakaman umum dekat terminal”.

“Innalillahi wainailaihirojiun !”, bibir saya pun langsung berujar spontan.

Tak kuasa air mata sayapun menetes di pipi. Terkenang budi baik dan jasa beliau sebagai pejuang kemerdekaan tanah air yang tidak pernah menuntut banyak.

Sungguh sayapun turut merasakan kehilangan seorang pak Holil, seorang yang penuh kesederhanaan dengan berbagai keterbatasannya, namun dibalik itu tetap terpatri jiwa yang besar, pengabdian dan pengorbanannya semata demi kebebasan bangsa. Sungguh sosok yang sangat luar biasa, dan sosok yang langka menurut sudut pandang saya.

Mbak Sum juga sempat menceritakan pada saya dan Pangeran bahwa pada detik-detik hayatnya, pak Holil ingin diperdengarkan lagu “Indonesia Raya”. Dan beliau menghebuskan napas terakhirnya tepat setelah selesai mendengarkan lagu kebanggaan beliau ini.

Yach, itulah permintaan khusus beliau di detik-detik akhir usianya. Meski untuk hal inipun anak-anak pak Holil harus bersusah payah pinjam tape dan kaset dari para tetangga yang kebetulan punya.

Masya Allah…saya tak kuasa mendengar cerita haru ini, tentang permintaan terakhir beliau ini lewat mulut mbak Sum. Sungguh saya terharu mendengarnya, serasa ada yang bergemuruh di dalam dada ini. Sangat dalam, sehingga mulut saya tak bisa berkata apa-apa.

Pak Holil memang putra pejuang terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Beliau salah satu veteran pejuang tanah air. Didetik-detik akhir napasnyapun beliau masih menunjukkan betapa besarnya kecintaannya pada bumi pertiwi ini. Meski hanya dengan mendengarkan lagu “Indonesia Raya”. Sungguh pengalaman ini memberikan pelajaran tersendiri bagi saya.

Dan saya yakin masih banyak pak Holil-pak Holil yang lain di luar sana. Semoga nasib mereka lebih baik dibanding nasib pak Holil yang pernah saya kenal ini.

Selamat jalan Pak Holil, selamat jalan putra terbaik bangsa, do’aku, do’a kami semua, menyertaimu, selamat jalan…

Gugur Bunga
Pengarang / Pencipta Lagu : Ismail Marzuki

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti

Jiwa, semangat perjuangan pak Holil dan para pejuang (veteran) kemerdekaan tanah air lainnya, semoga tetap melekat dan tetap membakar semangat kita sebagai generasi penerus perjuangan mereka dalam mengisi kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dengan tanpa pamrih.
Sekian, semoga cerita tersebut memberikan manfa’at dan inspirasi bagi kita semua.

Kupersembahkan tulisan ini buat :
Alm. Pak”Holil“bukan nama sebenarnya
(salah satu Veteran Pejuang Kemerdekaan) Indonesia

Iklan

ARTI MERDEKA BAGI SEORANG PAK HOLIL Juli 16, 2008

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , , ,
10 comments

Pagi ini sengaja kulangkahkan kakiku menuju sebuah istana kecil di sudut keramaian kota Metropolitan.  Aku menuju istana mungil milik salah seorang veteran pejuang kemerdekaan kita.  Sebut saja namanya pak Holil. 

 

Lelaki rentah ini hidup bersama isterinya tercinta dan ketiga anaknya.  Kebetulan anaknya yang perempuan telah menikah dan mengkaruniakan kepada mereka 2 orang cucu.  Istana hidup anak & cucunya terletak bersebelahan yang hanya dibelah dgn dinding triplek alakadarnya sebagai pembatas.  Kehidupan keluarga anak perempuannya secara finasial tidaklah terbilang sukses.  Mungkin bolehaku berpendapat tak lebih meprihatinkan dengan kehidupan kedua orangtuanya.

 

Untungnya beliau masih mempunyai 2 orang anak laki-laki yang sudah dewasa dan belum menikah, yang bisa sedikit menopang kehidupan hari tua mereka.  Yah, meskipun pengasilan ke dua anaknya ini, boleh dikatakan juga tak gemilang, karena profesi mereka hanya sebagai buruh kasar dan tukang ojek.  Tapi mereka adalah anak-anak yang tahu diri & berbakti kepada kedua orangtuanya. 

 

Meskipun kehidupan mereka di kota Metropolitan ini penuh dengan keprihatinan, tak ada kata-kata menyesal dari seorang Pak Holil juga keluarga, atas apa yang telah/ pernah lakukan untuk negeri ini. 

 

Beliau begitu sempurna sebagai Pejuang Sejati menurut kacamata dan pandangan saya.

 

Istana mungil mereka ini hanya berukuran tak lebih dari 18 m2 dengan petak triplek yang penuh tembelan disana-sini.  Nuansa cat yang sudah pudar.  Lantai istana inipun hanya berhiaskan keramik combing-cambing, yang tak tentu ukuran dan corak warnanya.  Tertempel di lantai dengan konsep design interior kontemporer ala kadarnya. 

(lebih…)