jump to navigation

IBU, KASIHMU SEPANJANG JALAN Oktober 16, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
12 comments

Beberapa waktu yang lalu saya sempet membaca sebuah cerita yang beriksah tentang kasih Ibu terhadap anaknya. Dan semoga saja cerita yang akan saya bagi ini, bisa dijadikan ajang bagi kita semua untuk saling mengingatkan kembali arti pengorbanan orang tua, terutama ibu kita, sehingga kita lebih mencintai dan menyayangi lagi ibu / orangtua kita.
Apalagi kalau mereka sekarang masih ada di tengah-tengah kita. Semoga kita jadi anak yang pandai membahagiakan ibu / orangtua kita, semoga…

Kasih Ibu, Sepanjang Jalan

Kasih Ibu, Sepanjang Jalan

Dicerita tsb diceritakan lebih kurang sebagai berikut :

Konon pada jaman dahulu, di suatu tempat (ma’af nama tempatnya sengaja nggak saya sebutkan), ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya. (Hem menurut saya.sungguh kebiasaan yang aneh mungkin untuk ukuran pikiran orang yang normal, sungguh aneh ???)

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

“Bu, kita! sudah sampai”,kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.

Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”.

Setelah mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Tak kuasa akhirnya dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Yah, Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Sekedar isapan jempol….

Tapi di jaman sekarang, kalau kita mau jujur, kejadian mirip tersebut diatas, tak sedikit kita jumpai sangat persis cerita diatas. Mungkin hanya beberapa istilahnya saja yang diplesetan / diperhalus bahasanya. (Hem……)

Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya malas untuk merawat mereka, sibuk, ada bisnis, dan berbagai alasan lainnya. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang ada yang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja. ( Nggak percaya, coba sekali-kali bertandang ke tempat –tempat ini, kalau para pembaca nggak percaya…)

Buya & Ummi

Buya & Ummi

Yah, semoga saja cerita diatas bisa membuka mata hati kita semua, untuk bisa mencintai orang tua kita dan para manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disa’at mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang Maha Kuasa.

Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini. Sungguh pengorbanan yang tiada tara.

Terima kasih, semoga cerita diatas bisa memberi manfa’at dan inspirasi.

Iklan

Kisah Kakek Tua & Perkakas Kayunya Juli 4, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , ,
2 comments

Disuatu keluarga, tinggallah seorang kakek yang harus tinggal dan menetap bersama dengan keluarga anaknya. Maklum isteri kakek ini sudah lebih dulu menghadap yang Maha Kuasa.

Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun (cusu kakek tsb).

Karena berusia sudah senja, tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya sudah buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua (kakek) yang sudah pikun ini sering mengacaukan segalanya. Yah…suasana sering dibuat kacau.
(lebih…)