jump to navigation

MUSEUM TEKSTIL JAKARTA & KURSUS BATIK Oktober 13, 2009

Posted by elindasari in Belajar.
Tags: , , , , , , , ,
47 comments

Pada hari Minggu kemarin, tepatan tanggal 11 Oktober 2009, saya beserta teman-teman melepaskan kepenatan sejenak dari aktivitas kantor, dengan berkunjung ke Museum Tektil Jakarta.

Museum Tekstil Jakarta

Museum Tekstil Jakarta

Kunjungan kami kali ini tak lain adalah untuk lebih mengenal dan tahu lebih banyak tentang Tektil yang ada di Indonesia terutama tentang BATIK. Busana Adikarya Tradisional Indonesia Kita.

Tentu sahabat blogger dan para pembaca sudah tahu khan, kalau pada tgl 2 Oktober 2009 yang lalu oleh UNESCO telah ditetapkan bahwa BATIK adalah “Warisan Budaya Asli Indonesia”.

Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 10.30 pagi dan kunjungan berakhir sekitar pukul 16.00.

Biasa sebelum berangkat foto bersama, dan cizzz….inilah hasilnya….Foto para peserta yang siap berangkat ke museum tekstil sekaligus untuk mengikuti pelatihan / kursus batik. Hem…pasti mneyenangkan .

Sebelum berangkat ke Museum Tekstil 11 Okt 2009

Sebelum berangkat ke Museum Tekstil 11 Okt 2009

Sekitar pukul 11.00 kami sudah tiba di Museum Tekstil.

Museum ini terletak di daerah Tanah Abang. Tepatnya di Jl. Aipda K.S. Tubun, No. 4 Kel.Petamburan, Kec. Tanah Abang Jakarta Barat (Jakarta 11420).

Bangunan Museum ini dulunya disebut “Indische Woonhuis / Asrama Pegawai Departemen Sosial”. Sekarang dikenal dengan nama “Museum Tekstil”. Pemilik bangunan ini adalah “Pemerintah Provinsi DKI Jakarta”

Nah, sebelum saya bercerita tentang aktivitas kami di museum ini ada baiknya para sahabat blogger / pembaca juga mengetahui sejarah ringkas tentang Museum ini.

Bukankah ada istilah, tak kenal maka tak sayang, so ringkasan ini juga kudu dibaca yach, hahaha….

Bangunan tua ini, dibangun pada tahun 1850-an (abad ke 19). Pada mulanya adalah rumah pribadi seorang warga Negara Perancis, kemudian dibeli oleh Konsul Turki bernama Abdul Azis Almussawi Al Katiri, yang menetap di Indonesia.

Pada tahun 1942 dijual kepada DR. Karel Christian Cruq.
Pada masa perjuangan kemerdekaan R.I. gedung ini dipergunakan sebagai Markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR).

Tahun 1947 didiami oleh Lie Siou Pin, lalu pada tahun 1952 dibeli oleh Departemen Sosial R.I.

Pada tanggal 25 Oktober 1975 diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta yang kemudian pada tanggal 28 Juni 1976 diresmikan penggunaannya sebagai Museum Tekstil oleh Ibu Tien Soeharto.

Bangunan ini dilindungi oleh SK Mendikbud RI Nomor 0128/M/1988. Bangunan masih asli , dalam keadaan baik dan terawat.

Arsitektur : Bergaya Art and Craft.
Golongan : B

Data-data tersebut saya copy dari : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Hanya sebagai info bahwa pada sa’at kami berkunjung kemarin bangunan ini sedang direnovasi. Jadi kami belum bisa ambil foto untuk barang-barang yang tersimpan didalam museum ini. Tapi jangan khawatir, suatu sa’at saya akan kembali berkunjung untuk mengambilkan foto benda-benda yang tersimpan disana.

Nah, kesempatan berkunjungpun kami mulai dengan ke bangunan yang terletak agak ke belakang dari bangunan utama. Di bangunan ini ternyata adalah worshop untuk Kursus Batik.

Batiknya berkelompok lho

Batiknya berkelompok lho

Asyik mem Batik

Asyik mem Batik

Mulai dari proses menggambar atau lebih tepatnya menjiplak, lalu batik pakai canting dan proses mewarnai kain yang sudah dibatik.

Salah satu karya teman sebelum proses pewarnaan

Salah satu karya teman sebelum proses pewarnaan

Setelah selesai diwarnai hasil karya kita tersebut dijemur. Hahaha, jemurnya di bawah pohon, oi….

Hasil karya pembatik amatir yang siap di jemur

Hasil karya pembatik amatir yang siap di jemur

Sambil menunggu hasil batik kami kering, kami mendengarkan pengarahan tentang “Sejarah & Teori Batik” dari Bapak Hamim dari Museum Tekstil.

Wow ternyata ceritanya asyik banget. Sambil duduk lesehan di bawah pohon randu yang umurnya udah ratusan tahun yang sangat rindang dan ditemani angin sore yang bertiup sepoi-sepoi, denger ceritanya tambah asyik.

Ternyata batik itu sudah sangat akrab di bumi Nusantara ini sejak dulu kala. Sudah ada di bumi Nusantara kita sejak jaman para penjajah belum ada di nusantara, batik itu sudah ada. Hasil batik yang sangat indah ini juga menjadi daya tarik bangsa lain. Sampai-sampai para penjajahpun banyak yang jatuh cinta dengan batik hasil karya anak negeri.

Mejeng ber4 pakai batik

Mejeng ber4 pakai batik

Pak Hamim dari Museum ini menceritakan sangat lengkap. Mulai dari cerita motif batik yang beraneka macam, cara membatik, para pembatik zaman dulu, persiapan apa yang mereka lakukan sampai cerita tirakad sebelum mereka mulai membatik, nembang, bahan campuran lilin utk membatik dan corak / motif apa saja yang dikenakan oleh raja-raja zaman dulu sampai cerita tentang batik pada masa sekarang. Pokoke lengkap dan asyik banget…Terima ksh yach Pak Hamim sudah membeagi ceritanya dengan kami semua. Karena kita semakin sadar bahwa Indonesia itu sangat kaya akan budaya dan semamkin menyadarkan kita betapa penting untuk turut menjaga dan mewarisi budaya itu agar tetap lestari sampai cucu, cicit kita nanti. Semoga tetap lestari sepanjang masa yach pak.

Tapi, saya nggak akan kulas sampai detail disini yach kulasan cerita dari Paka Hamim ini, saya anjurkan para sahabat blogger / pembaca yang tertarik, silahkan berkunjung saja ke museum ini, nanti pasti dicerita yang saya kulas sepintas tadi, hehehe.

Nah, biar nggak bosen saya tampilkan foto-foto saya dan teman-teman ketika belajar batik.

(Hasilnya tentu saja masih jauh dari para pembatik yang sudah professional, hahaha…ini adalah hasil karya kaum awam dan pemula, hehehe).

Foto bareng hasil kreasi

Foto bareng hasil kreasi

Hem, ternyata batik itu harus sabar, tekun dan telaten lho. Dan tentu saja ternyata susah (tentu saja wong baru pertama ini pegang canting, wakakak). Dan tahukan saudara-saudara ternyata yang bikin kita meski hati-hati, kalau salah nggak bisa di ralat / didelete/ di tip ex seperti kita buat gambar atau nulis di kertas atau di komputer. Hem, wajar aza kalau harga batik tulis itu mahal yach ?. Belum lagi prose pewarnaannya sampai bbrp kali dan bila menggunakan pewarna alam. Wow benar benar karya yang luar biasa.

Batik

Batik

Pokoknya salut buat para pembatik Indonesia (terutama batik Tulis). Kita selaku bangsa Indonesia turut bangga, Karena hasil karya mereka sudah sangat popular di seluruh dunia.

Ok, para sahabat blogger dan pembaca sekian dulu cerita saya. Semoga bermafa’at dan memberi inspirasi.

Iklan

PERJALANAN NAPAK TILAS SEJARAH (PART 7) MUSEUM WAYANG Agustus 28, 2008

Posted by elindasari in Belajar.
Tags: , , , , , ,
2 comments

MUSEUM WAYANG

 

Setelah saya dan rombongan puas berkeliling di Taman Fatahillah, kami melangkahkan kaki menuju Museum Wayang.

 

 

Musem Wayang ini persisnya terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat.  Dari jauh sudah kelihatan kalau gedung ini tampak unik dan sangat menarik. 

(Pokoknya semakin tua semakin unik hehehe…)

 

Karcis masuk ke Museum ini sangat terjangkau.  Cukup hanya dengan membayar Rp. 2.000,- utk Dewasa, Rp. 1.000,- untuk mahasiswa, sedangkan anak-anak dan pelajar hanya Rp. 600,- saja.  Malah kalau dengan rombongan minimal 20 orang bisa mendapatkan tiket masuk dengan harga yang lebih murah lagi.  Waktu buka museum ini hari Selasa s/d Minggu.  Hari Senin dan hari Besar museum Tutup.

(Benar-benar terjangkaukan dan super ekonomis utk tiket masuknya yach…)

 

Menurut info dari guide tour Napak Tilas Sejarah Indonesia yang mendampingi saya beserta rombongan :

 

Gedung ini juga telah mengalami beberapa kali perubahan / perombakan.

 

Gedung ini pertama kali dibangun pada tahun 1640 yang diberi nama ”De Oude Hollandsche Kerk” artinya Gereja Lama Belanda, dan tentu saja difungsikan sebagai Gereja.

 

Pada tahun 1732 gedung ini diperbaiki dan diganti namanya menjadi ”De Nieuwe Hollandsche Kerk” artinya Gereja Baru Belanda.

 

Gedung ini pernah hancur akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1808.

 

Nah, kemudian dibekas reruntuhan ini dibangun kembali gedung yang akhirnya dipergunakan sebagai Museum Wayang.  Walaupun bangunan ini pernah dipugar, beberapa bagian gereja lama dan baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini.

 

Museum Wayang ini diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1975 oleh mantan Gubernur DKI Jakarta yaitu Bapak H.Ali Sadikin.

(Terus terang saya salut / bangga buat beliau “Bapak H. Ali Sadikin”, karena ternyata pada masa kepemimpinan beliau banyak sekali tempat / museum bersejarah yang diresmikan)

 

Pada tanggal 16 September 2003 museum ini mendapat perluasan bangunan atas hibah dari Bapak H. Probosutejo.

 

Museum Wayang memamerkan dan memilki berbagai jenis koleksi dan bentuk wayang dan boneka seluruh Indonesia.  Seperti wayang kulit, wayang golek, patung wayang, topeng wayang, wayang beber,  wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, dan lain-lain.

 

Wayang-wayang dan boneka tsb ada yang terbuat dari kayu, kulit dan lain sebagainya. 

 

Ada juga wayang dan boneka dari luar negeri misalnya dari Tiongkok, Vietnam / Kamboja, Thailand, Suriname, China, Perancis, Inggris, Polandia, India, Colombia, dll.

 

Ketika melihat berbagai koleksi, anak saya sangat tertarik pada koleksi boneka si Unyil, Cuplis, Pak Ogah, Melani, Usrok, Penjahat, Nenek Sihir, Pak Raden, Kinoi dkk.  Komentarnya boneka-boneka itu lucu sekali.

 

(Hem saya jadi teringat waktu saya masih kecil, Film “Si Unyil” adalah tontonan yang selalu ditunggu hehehe)

 

Ada juga boneka Pinokio yang berhidung panjang, hehehe.

 

Hingga kini Museum Wayang mengoleksi lebih dari 5.400 buah koleksi.

  (lebih…)