jump to navigation

Buya & Ummi Mei 19, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
6 comments

Usia buya & ummi saya boleh dibilang sudah menjelang senja. Buyaku kini telah berusia 69 tahun, sedangkan ummiku telah berusia 62 tahun. Meski demikian mereka berdua Alhamdullillah masih terlihat segar. Meski 2 tahun yang lalu ummiku sempet terserang sakit kanker, dan sejak itu harus rajin control dan check up setiap 6 bulan sekali ke Jakarta. Begitu juga dengan buyaku tahun lalu sempet terserang stroke ringan, sehingga untuk sa’at ini jika berjalan harus menggunakan tongkat.

Namun yang membuat kami, anak-anak buya dan ummi kagum pada mereka, adalah kesuka-citaan mereka menikmati hidup mereka di usia senja. Buya dan Ummiku tergolong orang tua yang masih masih aktif di tempat-tempat pengajian, masih aktif mengontrol kebun di kampong kami, masih aktif dibeberapa arisan keluarga, dan yang paling bikin kami semua rada deg-degan dengan kegiatan mereka adalah, mereka berdua masih suka bepergian meski sekedar plesiran..

Yach, kegiatan bepergiaan / plesiran ini bisa bersifat sekedar datang ke pesta pernikahan keluarga, kerabat, maupun berkunjung ke rumah kami, anak-anak mereka, yang tinggalnya kebetulan tidak satu kota. Kebetulan kami, anak-anak buya & ummi semuanya ada tujuh orang. Kami semua tinggal menyebar di beberapa kota di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan bahkan negara. Sedangkan buya dan ummiku tinggal di kota kelahiran mereka di Sumatera Selatan.

Hem sungguh mengkhawatirkan menurut kami (anak-anak buya & ummi) mengingat usia mereka sudah tidak muda lagi, denagn sering kalinya mereka melakukan kegiatan tersebut tanpa didampingan kami (anak-anak mereka).

Saya masih ingat, diusia 67 tahun, buyaku masih mampu mengendarai kendaraan / mobil, meski hanya untuk ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer, demi mengantar ummiku belanja keperluan sehari-hari. Kami sebagai anak-anaknya, terus terang agak khawatir dengan kebiasaan buyaku yang kami nilai rada-rada “nekat” ini.

Tetapi sejak buyaku terserang stroke tahun lalu, akhirnya buyaku menghentikan sendiri kebiasaannya untuk mengendarai mobil sendiri itu. Yach, itulah sekelumit kebiasaan buyaku.
Sedangkan kebiasaan ummiku adalah beliau masih lincah dan heboh bila untuk urusan bersih-bersih / beres-beres rumah, ngurusi tanaman di depan dan samping rumah, merangkai bunga, masak-memasak bahkan untuk urusan belanja dan tentu saja disamping mengurus suami, buya kami.

(Ma’af buya, ummi, bukan ananda bermaksud membeberkan keburukan buya & ummi yach…)

Terkadang saya sebagai anaknya rada-rada khawatir sendiri bila mendengar laporan kalau beliau lagi sibuk dan kemudian kecapekan dengan kegiatannya yang lumayan padat, lalu jatuh sakit. Duch buya, ummi, nanti kalau jatuh sakit, dsb gimana …

Tapi itulah sosok buya dan ummiku, meski terkadang kami semua merasa sangat khawatir akan kegiatan yang mereka jalani, khawatir karena kecapekan dan jatuh sakit, sehingga seringkali larangan-larangan kami dianggap sebagai penghalang keduanya untuk lebih enjoy atas aktivitas mereka di hari tuanya.

Sebagai salah satu anak buya & ummi yang kebetulan menurut saya tinggalnya tidak terlalu jauh dari kota kelahiran mereka, saya merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguk buya dan ummiku. Setiap kali itulah saya ingin mengajaknya keduanya untuk tinggal bersama kami di Jakarta.

“Nggak usah, lain kali saja !” jawab buya dan ummiku. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami sa’at mengajak mereka untuk ikut pindah ke Jakarta.

Memang, kadang-kadang secara berkala buya dan ummiku mengalah dengan berkunjung ke Jakarta dan mau menginap bersama kami anak-anaknya. Namun setelah 2 minggu kemudian mereka minta pulang. Ada-ada saja alasannya. Kangen kamponglah, disini suasananya warga di kota Jakarta nggak seperti dikampung, jauh dari masjidlah, kegiatan mereka di masjid tertundalah, kebun nggak ditenggoklah, tanaman nanti pada rusaklah, rumah nanti nggak ada yang nguruslah, ada saudara & kerabat yang kan menikahkan anaklah, dll. Sedemikian banyak hal yang membuat mereka cinta dan enggan meninggalkan kampong dan rumah mereka berlama-lama. Haiyah….

Suatu hari sekitar Februari lalu, buya dan ummiku mau ikut saya ke Jakarta. Saya dan suami sangat senang, karena dengan begitu mereka akan bisa bermain dan bersenda-gurau dengan anak-anak dirumah sepeninggal saya bekerja di kantor. Tetapi, mungkin suasana dirumahku berbeda dengan suasana di kampong kota kelahiran buya & ummiku, sehingga mereka merasa kurang kerasan selama di Jakarta. Dan seperti biasanya meraka mulai minta pulang. Biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. Saya sangat memahami keinginan mereka untuk tetap bisa punya kesibukan sendiri di hari tua mereka. Tapi terus terang seringkali perasaan was-was, khawatir terhadap mereka itu lebih besar saya rasakan bila mereka tinggal berlainan kota dengan saya. Hem…

“Saya sedang sibuk, buya, ummi, tak boleh ambil cuti. Terus, papanya anak-anak juga masih sibuk training , dll. Tunggulah sampai akhir bulan, tinggallah sepuluh hari lagi. Akhir bulan ini saya akan antar buya dan ummi pulang ke kampong,” balas saya sekenahnya, meskipun sebenarnya kalau saya mau jujur, saya nggak rela mereka pulang ke kampong. Anak saya yang tertua pun ikut membujuk opa dan oma mereka agar nggak minta pulang.

“Biarlah buya dan ummi pulang sendiri jika kalian sibuk. Tolong belikan saja tiket pesawat atau bis untuk buya dan ummi untuk besok lusa,” kata buyaku mewakili keinginan mereka berdua yang membuat saya bertambah kesal. Memang buya dan ummiku sudah beberapa hari ini ingin pulang. Tapi saya masih coba menahan dan membujuk mereka.

“Nggak usah saja pulang besok lusa, buya , ummi,” bujuk saya saat makan malam.

Tapi kali ini ekspresi wajah keduanya hanya diam dan tak lama setelah makan malam keduanya lalu masuk ke kamar. Tidak bercengkrama bersama cucu-cucu seperti biasanya.

Esok paginya sa’at saya hendak berangkat ke kantor, buya dan ummiku kembali lagi minta saya untuk membelikannya tiket pesawat atau bis untuk besok. Terus terang kali ini saya sudah mulai kesal karena mereka tidak mau menuruti keinginan saya.

“Buya dan ummi ini benar-benar nggak mau mengerti ya. Please, saya sedang sibuk, sibuk banget, jadi tolonglah ngertiin sedikit, kalau memang buya dan ummi nggak mau menurut kata-kataku, anak buya & ummi, ok, saya nggak peduli dech, buya & ummi mau ngapa-ngapain lagi, terserah !!!”, ujarku dengan kata-kata yang lost control karena mulai marah atas rengekan mereka.

Dan tanpa salam tangan seperti biasanya, saya ngelonyor pergi ke kantor. Saya pergi ke kantor dengan mengendarai mobil dan membawa sejuta perasaaan kesal. Saya marah karena buya dan umiku sudah tidak mau lagi menuruti kata-kataku. Saya marah atas sikap buya & ummiku yang kuanggap tidak mau mengerti kesibukkan kami, anak-anak mereka disini. Saya kesal, kesal sekali…

Setibanya dikantor, perasaanku masih kacau balau. Konsentrasiku mulai terpecah antara tugas-tugas yang sedang menumpuk dan keinginan buya dan ummiku. Saya mencoba segera menyalakan computer dimeja kerjaku.

Tapi tiba-tiba, tak sengaja tanganku menyentuh gelas minuman di mejaku. Gelas itu terguling, airnya segera membasahi berkas-berkas dan beberapa peralatan yang ada dimejaku, termasuk frame foto keluargaku. Secara reflex tanganku coba menyelamatkan berkas-berkas tsb, termasuk frame foto keluargaku. Untunglah berkas-berkas tsb tidak terlalu masalah. Tapi sayang air yang masuk frame foto terlalu banyak, sehingga saya harus segara membuka frame tsb agar foto didalamnya tetap utuh dan bisa diselamatkan.

Namun ketika saya membuka foto tsb, saya menemukan tulisan tangan yang pernah ditulis buya & ummiku sekitar +/- 15 tahun yang lalu di balik foto tersebut,

“Kasih Sayang dan do’a dari Buya & Ummi akan selalu bersama anak-anak buya & ummi tercinta, dimanapun kalian berada sampai akhir hayat kami”

Peluk Cium selalu dari buya & Ummi,

Selesai membaca tulisan tersebut, tiba-tiba jantungku berdebar kencang, kenanganku melayang ke masa lalu, ketika kami sekeluarga masih kumpul dulu di kampong, bagaimana kasih sayang buya & ummiku dulu, teringat bagaimana bijaknya buya & ummi dulu, ingat kenakalan kami dulu, ingat berbagai kenangnan manis kami sekeluarga dulu, dll.

Saya jadi terdiam membisu, jiwa ini serasa terbang. Betapa saya sudah melukai perasaan buya & ummiku pagi tadi. Saya sudah melampau batas atas sikapku kepada kedua orangtuaku. Saya sudah egois, ingin memaksakan kehendakku terhadap mereka. Bukankah kebahagian menurut mereka, belum tentu sama menurut versi diriku, anak-anak buya & ummi. Ah, aku mulai menyadari kekeliruanku. Aku sudah egois ingin memaksakan keinginan diriku. Sikapku tidaklah adil buat mereka. O, Tuhan ampunkan hambamu ini. Buya, Ummi ma’afkan anakmu ini.

###

Segera kutelpon Buya & Ummi

Segera kutelpon Buya & Ummi

Tak ingin kubuang waktu, segera kuraih telpon untuk menelpon keduanya dirumah. Saya ingin segera meminta ma’af dan ampun kepada keduanya atas sikapku tadi pagi. Saya benar-benar menyesal telah melukai perasaan keduanya dengan kata-kataku yang tidak pantas. Saya malu dan sangat menyesal akan sikapku.
(lebih…)

Iklan

Pelantun Jalanan Juli 18, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , ,
4 comments

Pelantun Jalanan

 

Kabut dingin masih melukis wajah ibukota,

Semilir hawa pagi masih membungkam mata,

Kicau anak-anak kecil masih sepi karena masih lelap,

Air pagi masih sedingin es,

 

Tapi,

Kau sudah mulai berjalan,

Siap menyelusuri trotoar tuk ikut hilir mudik angkutan,

Yang kian beranjak sibuk lalu lalang,

Tangan cekatan memangul gitar usang,

 

Tak lama berselalang,

Sa’at kau ada di tengah penumpang,

Kau mulai buka salam,

Satu dua tembang kau lantunkan,

Suara parau keluar karena tak berbekal sarapan,

Petik gitar menggema ikuti sesak penumpang,

 

Setelah tembang kedua berkumandang,

Kau hentikan petikan dan alunan,

Memohon perhatian dan uluran,

 

Pelantun jalanan pamit,

Tapi bukan untuk pulang,

Untuk estafet ke ruang di seberang,

Demi mengais seutas rejeki,

Yang mungkin diberi,

Dari pribadi yang masih punya hati

 

 Kupersembahkan untuk :  Romli (pengamen jalanan)