jump to navigation

RAHASIA PANGERAN (bag 5) Februari 3, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
8 comments

sepeda-buat-guruku 

(Bagian 5)

 

Keesokkan harinya , sekitar jam 3 sore,  aku, suami dan pangeran sudah

tiba di depan rumah ibu Ita.  Tapi keadaan rumah tampak sepi dan

lenggang saja. 

 

”Assalamualaikum”, ujarku, pangeran dan suami hampir berbarengan. 

Sekali lagi  kami mengulanginya, ”Assalamualaikum”

 

Tapi lagi-lagi kami tidak mendapatkan jawaban dari dalam rumah. 

Lalu aku berinisiatif untuk bertanya kepada seorang tetangga yang berada

selang dua rumah dari rumah bu Ita.  Kebetulan ibu ini sedang duduk-

duduk di terasnya.

”Ma’af bu… mau tanya, apa ibu tahu ibu Ita ada di rumah nggak ?”, tanya

saya kepada ibu ini.

 

”O, ibu Ita sudah sekitar 4 bulan ini pindah dari sini bu”, jawab wanita

ini pendek.

 

”O,  begitu, ibu tahu nggak keluarga ibu Ita pindah kemana ?”, tanya

saya lagi kepada ibu ini.

 

”Hem…”, wanita ini tampak ragu menjawab pertanyaan saya.

 

“Ma’af bu…saya Bintang, kebetulan anak saya Pengeran adalah muridnya

bu Ita, saya ingin mengantar sesuatu buat ibu Ita.  Apa ibu bisa kasih tahu

alamatnya bu Ita ?”, kali ini saya mencoba menyakinkan kepada mantan

tetangga bu Ita ini maksud kedatangan saya.

 

“O, begitu…Yach, sebentar dulu yach neng, saya coba tanyakan dulu ke

anak saya, rasa-rasanya pernah nyimpen alamatnya bu Ita, pas tempo

hari pindahan”, ujar wanita ini lagi bergegas meninggalkan kami sejenak.

 

Tak lama kemudian wanita ini kembali dan menyodorkan secarik

kertas, ”Ini neng alamatnya”. 

 

”Wah, terima kasih banyak yach bu, kalau begitu kami pamit dulu, mau

langsung kesana”, ujar saya mengakhiri percakapan dengan wanita ini.

 

****

 

Ternyata agak susah juga mendapatkan alamat ini.  Tak kurang dari

setengah jam perjalanan kami tempuh.  Jalan menuju alamat ini agak

sempit dan banyak lubang.  Kami sempat bertanya beberapa kali dalam

perjalanan kepada beberapa orang yang kami jumpai.  Berbeda sekali

dengan rumah bu Ita sebelumnya. 

 

Dalam perjalanan kesini, Pangeran mengutarakan kalau bu Ita memang

pernah cerita akan pindah ke kontrakan yang baru, karena kontrakannya

sekarang akan dipakai oleh yang punya rumah.  Oooo…

 

Akhirnya pencaharian kami berakhir disebuah rumah yang mungil tanpa

pagar di sudut gang.  Rumah ini kelihatannya cukup rimbun.  Pot-pot bunga

dari kaleng bekas tampak menghiasi pekarangan rumah dengan anggun. 

Bunga kuping kancil dan sirih gading nampak merambat di dinding samping

rumah.  Meski rumahnya mungil dan sederhana, namun tetap tampak asri,

gumamku dalam hati.

 

Tiba-tiba keluar sesosok bayangan dari sampingku yang membuat aku

hampir terperanjat.

 

”Cari siapa yach ?”, ujar seorang laki-laki yang keluar dari samping rumah.

”Assalamualaikum pak”, ujarku agak terbata menyambut kehadiran laki-laki

ini yang juga langsung dijawab salam olehnya.

 

”Pak, apa betul ini rumah ibu Ita”, tanya saya lagi.

 

”O, betul, ini siapa yach ?”, laki-laki ini balik bertanya kepadaku.

 

”Saya Bintang, ini Pangeran putra saya,…muridnya bu Ita”, lanjut saya

lagi mencoba menjelaskan.

 

”Ayo, masuk bu Bintang, ayo Pangeran”, ujar laki-laki ini ramah.

 

”Sebentar yach saya suruh anak saya untuk penggil bu Ita dulu ke masjid,

tadi lepas Zuhur kebetulan ada pengajian”.  Biasanya sich…lepas Ashar

udah pulang kok”, ujar laki-laki ini lagi sambil meminta anaknya ”Ali” untuk segera menyusul ibunya ke masjid tak jauh dari rumah.

 

Tak lama kemudian kami melihat ibu Ita dan anakknya di ujung gang. 

Aku, pangeran dan suamiku bergegas menurunkan sepeda mini buat bu Ita. 

Aku sengaja mengajak suami bu Ita untuk membuat sebuah surprise kecil

buat isterinya.  Kebetulan suaminya bu Ita setuju. (Hehehe…dasar iseng….)

 

Nah, tepat ketika bu Ita dan Ali tiba di depan rumah dan mengucapkan

salam, ”Assalamualaikum”, kami serentak menjawab ”Waalaikumsalam”,

dan muncul secara bersamaan. 

 

Kontan saja bu Ita agak kaget atas kehadiran kami di rumahnya. 

Lalu kami meminta ibu Ita untuk menutup mata dan mengarahkannya ke

samping rumah. Untungnya bu Ita langsung menurut saja, atas permintaan

kami yang spontan dan tiba-tiba ini.  Bu Ita menutup matanya dengan

kedua belah tangannya.

 

”Nggak boleh ngintip yach bu !”, ujar suami bu Ita nggak mau kalah untuk

beri kejutan kepada isterinya.

 

”Teretet…sekarang bu Ita boleh buka matanya”, ujar Pangeran setengah

berteriak.

 

Dalam sekejap bu Ita melepaskan kedua belah tangan yang tadi menutup

mukanya.

Melihat hadiah sebuah sepeda mini buat dirinya bu Ita tak dapat menahan

titik air matanya.  Mata ini seketika jadi berkaca-kaca. 

 

Bibir bu Ita langsung berujar ”Terima kasih yach bu, Pak, Pangeran”.

 ”Ibu jadi malu”, ujar bu Ita lagi dengan wajah yang mulai merona. 

 

”Bu Ita ini sekedar hadiah dari kami di hari Ultah Ibu”.  ”Terima kasih atas

bimbingan ibu Ita selama ini buat pangeran”.  ”Semoga ibu Ita dan keluarga

berkenan menerima hadiah sederhana ini yach bu”, ujarku mewakili

Pangeran dan suami sambil memeluk bu Ita, yang masih menangis haru

sekaligus bahagia menerima semua ini. 

 

****

 

Setelah menikmati hidangan teh hangat dan bakwan sayur yang sengaja

dibuat bu Ita akan kehadiran kami, kami mohon pamit.  Aku, pangeran

dan suami diantar bu Ita sekeluarga sampai di ujung gang tempat suamiku

memarkir mobil.

 

”Sekali lagi terima kasih yach pak, bu, pangeran”, ujar bu Ita dan suami

mengantar kepulangan kami.

 

Kami semua selambaikan tangan perpisahan sore ini dengan berjuta

perasaan di dada kami.  Perasaanku kali ini sangat berbahagia, karena

ternyata dibalik Rahasia Pangeran kali ini, menyimpan peristiwa yang

sangat berarti bagi seorang bu Ita.  Guru yang selama ini telah membimbing

putraku jadi gemar melukis seperti diriku.  Sekali lagi terima kasih bu Ita

dariku dan pangeran kecilku.  Semoga ibu Ita dan keluarga selalu berbahagia.

 

 

Cerita ini kupersembahkan buat :

“Ibu Ita Ayuningtyas dan keluarga”

 

Semoga cerita tersebut bermanfa’at & memberi inspirasi.

 

Iklan

RAHASIA PANGERAN (Bag 4) Februari 2, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , ,
4 comments

sepeda-mini

(Bagian 4)

 

”Ma, Pa aku sudah gunting gambar sepeda hadiah untuk bu Ita”, ujar

pangeran sambil menyodorkan 3 buah gambar sepeda mini kepada aku

dan suamiku secara bergantian. 

 

”Menurut mama dan papa yang bagus yang mana?”, tanya Pangeran lagi.

 

”Pangeran, sepeda-sepeda ini harganya mahal lho”, bujukku dengan maksud

supaya anakku ini mengganti permintaannya.

 

”Mama, please”.   ”Pangeran sudah ada uangnya enam ratus tiga puluh

lima ribu”, jawab Pangeran dengan muka penuh pengharapan atas

permintaannya, sambil meletakkan sejumlah uang diatas meja.

 

Terus terang aku dan suami agak terbenggong melihat gelagat putraku kali ini.  

Akhirnya setelah aku dan suami menyelidiki dari mana uang tsb berasal kami

ketahui bahwa asal muasal uang tersebut.

 

Uang-uang itu dari celengan Pooh-nya, yang selama ini dikumpulkan Pangeran

setiap hari dari uang saku pemberian aku dan suami. Jadi kalau aku estimasi

tak kurang dari 3 bulan, uang tersebut di kumpulkannya. 

 

Maklum terkadang aku agak sedikit sewot ketika Pangeran menagih untuk

minta uang sebesar Rp. 5000,- hampir setiap sehari, tanpa alasan yang

kutahu, hehehe…

Berbeda dengan suami yang selalu rajin memberi tanpa ambil pusing, hihihi…

 

Kini aku dan suami jadi tahu apa yang ada dipikiran Pangeran, yang selama

ini menjadi ”Rahasia Pangeran”.  Pangeran kecilku ini ingin memberikan

sebuah hadiah yang istimewa buat guru kesayangannya bu Ita, dari

tabungannya sendiri. 

Aku  dan suami sangat maklum akan hal ini. Karena kegemaran Pangeran

menggambar dan melukis dari TK dulu, membuat bu Ita jadi lebih akrab

dengan putraku dan keluargaku. 

 

Aku dan suamikupun akhirnya setuju, bahwa tak ada salahnya

membahagiakan orang yang disayangi Pangeran, selagi kami mampu

dan diberi kesempatan untuk dapat memberi sesuatu buat orang lain.

Mengapa tidak, itulah kira-kira jawabnya.  Karena aku sangat yakin

bahwa Tuhan memberikan kami kemudahan rejeki, kebahagian bukan

hanya untuk kami nikmati sendiri.  Toh, ada andil dari orang-orang seperti

bu Ita dkk, sekali lagi aku gumam sendiri dalam hati.  Tapi kali ini sambil

bergegas mengajak Pangeran dan suami ke toko sepeda.

 

****

 

Singkat cerita, di toko sepeda akhirnya Pangeran menjatuhkan pilihannya

kepada sebuah sepeda mini berwarna biru bercampur corak putih. 

Didepannya terpasang sebuah keranjang berwarna perak.  Dibelakang

sepeda itu ada boncengan yang dilengkapi jok busa lembut dibungkus

warna biru tua.  Tampak manis dan anggun untuk ukuran sebuah sepeda mini. 

Aku sengaja minta si empunya toko untuk sekalian melengkapinya

dengan kliningan (bell)  kecil di stang kirinya.  Juga sepasang injakkan

kaki bagi yang diboceng. 

Sekarang sepedanya  sudah siap dibawa pulang.  Kulihat mata Pangeran

berbinar-binar, wajahnya tampak berseri. 

 

(Ah, mungkin anakku ini sedang bercengrama dengan malaikat-

malaikat kecil hasil halusinya…)

 

(Dan tak lama kutatap wajah ini,  hati kecilkupun sontak berkata : 

Alhamdullillah Tuhan, Engkau memberikan kepada kami anak yang

mempunyai kepekaan yang dalam terhadap orang lain. Amien, amien

ya robbal alamien, sekali lagi aku bergumam dalam hati kecilku). 

 

Berlanjut….

RAHASIA PANGERAN (bag 3) Januari 30, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , ,
5 comments

(Bagian 3)

 

Pagi itu sengaja aku berangkat agak siang ke kantor karena akan berencana

akan langsung ke bank dulu, sehingga aku dapat terlebih dahulu mengantar

Pangeran ke sekolah. 

 

Tiba-tiba kira-kira 200 meter lagi sampai disekolah pangeran berujar,

”Ma…ma…stop ma….itu ada bu Ita, diajak sekalian yach”. 

 

Aku langsung mengurangi laju mobilku dan mulai menghentikan mobilku tak

jauh dari tempat yang ditunjuk Pangeran. Lalu aku bergegas membuka jendela

mobil. Ternyata benar, tampak bu Ita dan putranya sedang berjalan kaki

menuju ke sekolah.  Kulihat wajah bu Ita dan anaknya penuh keringat. 

Kebetulan hari ini matahari bersinar terang sejak terbit tadi, sehingga terik

pagi sudah mulai terasa sejak tadi.  Apalagi kalau jalan kaki pasti lebih lagi

dech, alam pikirku mulai mengevalusi. 

 

”Ayo, bu Ita ikut sekalian” ajakku kepada bu Ita dan dua seorang

putranya ini.

Lalu tak lama berselang terjadilah percakapan ringan antara aku dan

bu Ita.

 

(O, iya aku ceritakan sedikit…Bu Ita ini adalah ibu guru Pangeran

ketika masih duduk di kelas 1 SD.   Kebetulan beliau juga merangkap

sebagai guru melukis untuk extra kurikuler di sekolah pangeran. 

Jadi meskipun sekarang Pangeran sudah duduk di kelas 4 SD untuk

kegiatan ini pangeran masih dibimbing oleh bu Ita.  Sedangkan suami

bu Ita yang saya tahu juga seorang Bapak guru di SMP, yang letaknya

berselang 1 kilometer dari SD tempat ibu Ita mengajar).

 

”Bu Ita kok nggak diantar suami bu”, tanyaku membuka percakapan dengan

bu Ita yang kutahu biasanya diantar naik motor oleh suaminya terlebih dahulu

ke sekolah SD, sebelum suaminya juga berangkat ke sekolah SMP dimana

suaminya mengajar.

 

”Sudah enggak bu, motor suami saya 4 bulan yang lalu  hilang di pasar”.

 

”O..begitu bu…terus pencurinya ketemu nggak ?”, tanya saya lagi.

 

”Sudah susah bu nyarinya, saya dan suami sudah mengiklaskannya!”, jawab

bu Ita dengan mimik yang terlihat masih sedikit sedih.

 

”Yach, sudahlah bu Ita, Insya Allah Tuhan akan kasih rejeki yang lebih dari

sekedar motor, yach bu”, hibur saya kepada bu Ita.

 

”Amien, terima kasih yach mama Pangeran, semoga do’anya didengar oleh

yang di Atas”, kali ini bu Ita berujar dengan wajah yang berseri-seri.

 

Tak lama kemudian kami sudah tiba di sekolah.  Sambil mengucapkan terima

kasih dan salam bu Ita dan anaknya meninggalkan aku.  Tak ketinggalan juga

Pangeran mencium tanganku sebagai salamnya.

”Hati-hati dan belajar yang baik yach Pangeran”, pesanku singkat buat

putraku ini.

 

****

 

Tak terasa sudah lebih dari dua bulan setelah kejadian ini berselang, aku

melihat beberapa brosur produk beberapa supermarket berada di laci meja

belajar Pangeran.  Aku perhatikan beberapa dari iklan ini sempat hilang

karena digunting.

(Hem…dasar anak-anak ada aja kerjaannya, gumamku dalam hati,

atas keisengan Pangeran yang mengumpulkan beberapa gambar yang

terlihat berseliweran dan acak-acakan di dalam laci meja belajarnya) .

 

Tiba-tiba ketika aku dan suami baru asyik duduk santai sambil membaca

beberapa majalah kesukaanku di teras belakang pangeran menghampiriku.

 

”Mama, besokkan guruku ada yang ulang tahun, aku mau kasih hadiah buatnya,

boleh yach Ma ?”, tanya Pangeran kepadaku dengan mimik penuh pengharapan.

 

”Yach boleh aza, memang siapa yang ulang tahun”, jawabku santai kepada

Pangeran.

 

”Besok itu yang ulang tahun bu Ita, Ma”, jawab pangeran bersemangat. 

 

”Yach sekarang Pangeran mau minta ditemeni cari kado apa”, tanyaku lagi

kepadanya.

 

”Ma, Pa, antarin Pangeran nyari hadiahnya yach”, kali ini Pangeran mulai

bergegas berlalu dari pandangan aku dan suami.

 

”Ei…Pangeran…tunggu…”,sahutku tetapi tidak dihiraukan oleh Pangeran.

 

Aku dan suami hanya saling pandang.  Otakku mulai berputar dan mencoba

menerka kekonyolan apa lagi yang akan dibuat Pangeranku kali ini. Ah…moga

aza nggak yang buat aku pusing, harapku mulai sedikit cemas.

 

Berlanjut….

 

****

RAHASIA PANGERAN (Bag 2) Januari 29, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , ,
add a comment

(Bagian 2)

 

Dalam waktu sekejap aku sudah berada di atas.  Aku bergegas masuk ke

kamar Pangeran.  Kudapati Pangeran sehabis makan siang tadi, sedang

tertidur pulas sambil mendekap guling bermotip mobil balap kesukaannya. 

Seperti maling yang takut ketahuan keberadaanya, aku mulai memeriksa

semua laci di lemari dan meja belajarnya. 

 

Tapi aku tidak menemukan kedua celengan yang aku cari.  Aku semakin

penasaran.  Aku mulai membuka keranjang tempat mainan biasanya diletakkan. 

Lagi-lagi aku tak menemukannya.  Aku mulai kehilangan akal. 

Aku memutuskan untuk keluar dari kamarnya. 

 

Lalu aku mulai putus asa dan mulai menanyakan kedua celengan ini kepada

pembantu rumahku.  ”An-an (maksudnya Ani, sebutan untuk pembantuku),

kamu lihat celengan Pooh dan Beruang Teddy yang biasa di atas meja

Pangeran nggak  ?”.

”Wah udah agak lama saya nggak liat bu”.  ”Bukankah biasanya diletakkan

di dekat meja belajar”, jawab pembantuku tak kalah bingung ketika aku

menanyakan hal ini.

”Hem, yach sudah, ndak apa-apa”, ujarku mengakhiri percakapan dengan Ani.

 

Mungkin suster pengasuh Rajiv (putraku yang kedua), mencoba menangkap

kebingunganku, dan mulai bertanya kepadaku:

 

”Ibu, cari apa bu ?”, tanya suster pengasuh Rajiv. 

”Suster lihat celengan Pooh dan Teddy Bear yang biasa ada di meja belajar

Pangeran nggak”, tanyaku kepada pengasuh anakku yang kedua ini.

 

”Kalau nggak salah dipindahin Pangeran di lemari buku atas bu”, jawab

susterku ini lagi.

”O, yach sudah kalau begitu”, sahutku sambil segera kembali bergegas naik

keatas ingin membuktikan keberadaan kedua celengan itu. 

 

Tak lama kemuadian aku mendapati kedua celengan yang kucari ini. 

Celengan Teddy Bear teronggok di dalam lemari di rak paling bawah

berdampinan dengan Globe yang akhir-akhir ini sering dikeluarkan Pangeran. 

 

Sedangkan celengan Pooh-nya diletakkan persis diatas piano dan sedang

menindih buku kesukaan Pangeran yang bertajuk ”Kisah 25 rosul”. 

 

Tapi, lagi-lagi karena aku masih penasaran, sengaja aku mencoba mengintip

isi kedua celengan tersebut.  Kuamati isinya memakai senter agar terang. 

Tampaknya isi kedua celengan ini baik-baik saja, nggak berkurang, bahkan

sepertinya isi celengan Pooh hampir penuh sesak oleh uang. 

 

”Alhamdullillah”, ujarku, karena terus terang tadinya aku sempat deg-degan

dan berpikiran yang agak jauh tentang Pangeranku ini.  Hem…aku mengela

napas plogku.

 

Lalu aku sekali lagi menyempatkan masuk ke dalam kamar putraku ini.  Dia

masih tertidur pulas rupanya.  Mungkin dia kecapekan abis ku ajak pergi tadi. 

Kuperhatikan raut mukanya yang tenang.  Wajahnya yang lucu dan

mengemaskan.  Rambutnya yang tebal tampak semakin hitam saja. 

Kuperhatikan jari-jarinya yang dulu mungil, kini mulai pandai memainkan

tuts-tuts piano meski masih untuk lagu-lagu yang sederhana.  Postur tubuhnya

tampak semakin tinggi. 

 

Pangeranku yang dulu mungil, sekarang sudah mulai besar. Sudah menginjak

9 tahun.  Aku sempat menyesali sikapku yang terkadang mulai kurang sabar

atas tingkah polanya, mungkin sejak keberadaan Rajiv (putra keduaku).

”Mama tidak bermaksud memarahimu,  Ma’afin mama sayang”, kini aku

berujar lirih sambil tetap memandangi anakku yang tertua ini.

 

****

 

Suatu sore aku mendapati Pangeran sedang sibuk untuk mengelap 2 sepeda

Papanya dan 2 buah sepeda kesayangannya di teras belakang.

 

”Wah rajin sekali anak mama”.  ”Nah, gitu dong sekali-sekali, kalau habis

main sepeda, sepedanya dibersihin, di lap, biar tetap tampak bagus dan

kinclong”.  ”Itu namanya menghargai barang dan tanda anak yang bersyukur”,

ujarku bak kertea api, karena aku mulai menggoda Pangeran yang sedang

asyik dengan aktivitasnya. 

 

”Harus dong”, timpal suamiku yang tiba-tiba muncul dari dalam menghampiri

aku dan Pangeran. 

 

”Iya, iya, Pangeran tahu”.  ”Ini sepeda harganya mahal, apalagi yang satu ini

lebih mahal dari yang ini, khan Pa”, ujar Pangeran terkagum-kagum atas

2 buah sepeda yang resmi jadi milikinya ini.

 

Kulihat suamiku tersenyum menanggapi perkataan Pangeran ini.  Kulihat

suamiku mengusap beberapa kali rambut hitam Pangeran yang memang

semakin menggoda.  ”Ayo papa bantu ngelap sepedanya”, ujar suamiku lagi

tanpa siap bergotong royong dengan anaknya.

 

Berlanjut….

 

****

RAHASIA PANGERAN (Bag 1) Januari 28, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , ,
2 comments

rahasia-pangeran

(Bagian 1)

 

Matahari baru saja terbit, ketika Pangeran mencariku yang kebetulan sudah

tidak berada di lantai atas rumah kami.  ”Mama, mama dimana ?”, teriak

Pangeran dengan suaranya yang khas agak bete ketika bangun tidur. 

 “Di belakang”, jawabku yang memang sejak sehabis sholat Subuh tadi

langsung menikmati berbagai macam tanaman di teras belakang rumah.

 

Dalam sekejap Pangeran bergegas menyusulku. 

 “Ma, Papa mana”, tanya Pangeran lagi.  

“Sudah jalan-jalan naik sepeda”, kilahku singkat. 

“Hem…Mama nggak banguni Pangeran sich, Pangerankan mau

sepedaan juga tadinya”, ucap Pangeran dengan muka yang mulai cemberut. 

“Tadi Mama sudah banguni Pangeran, tapi Pangeran sendiri yang bilang

nggak mau ikut kan ?”, jawabku mencoba mengingatkan dia yang sedari

habis sholat Subuh langsung tidur lagi.  Sebenarnya aku mulai agak kesal

dengan sikap Pangeran akhir-akhir ini.  Pangaren kecilku ini agak ngampang

ngambek ketika keinginannya tidak dituruti.

(Hem dasar anak-anak, mudah sekali cembetut)

 

“Sudah sekarang buruan mandi, mbak Ani (pembantu rumah kami)

sudah nyiapin roti bakar isi keju kesukaanmu”, bujukku kepada putraku

yang paling besar dan telah memasuki usia 9 tahun dan sudah duduk

di kelas 4 SD ini.

 

*****

 

Tak lama berselang kami sekeluarga sudah menikmati sarapan pagi. 

Tapi lagi-lagi aku masih melihat wajah Pangeran yang masih ditekuk. 

Aku pura-pura tidak tahu saja.  Aku khawatir kalau aku terlalu

memperhatikannya, anak ini semakin manja, begitulah gumamku dalam hati. 

 

(Maklum semenjak kehadiran adiknya Rajiv (anakku yang kedua),

Pangeran sering bertingkah agak berlebihan menurutku.  Tadinya aku

mengira perubahan sikapnya ini karena kehadiran adiknya. Jadi aku masih

memaklumi saja atas perubahan sikapnya ini).

 

Tapi akhirnya kesabaranku lepas juga, pada siang ini ketika kami berada

di toko Sepeda & perlengkapan baby, sa’at aku dan suami lagi konsent

memilih untuk membelikan sepeda dorong untuk Rajiv. Tiba-tiba :

 

”Ma, Pa aku juga ingin beli sepeda yach !”, ujar Pengeran mengutarakan

keinginannya. Sontak saja aku mulai marah pada putra tertuaku ini. 

”Pangeran, dengar nggak ada sepeda lagi buat Pangeran”.  ”Mama

dan Papa kesini mau beli sepeda dorong buat adik Rajiv”.  ”Bukan

buat beli sepeda Pangeran”.  ”Ayo sekarang Pangeran duduk manis

disana, jangan nakal”, ucapku mulai sewot bernada sedikit kesal,

sambil menyuruh Pangeran untuk duduk di kursi yang ada dipojok toko ini.

 

(Terus terang aku agak sebel dengan tingkah pola Pangeran untuk

ikutan minta dibeliin sepeda lagi.  Karena baru 1 setengah bulan yang

lalu, Pangeran menerima lagi sebuah sepeda dari papanya).

 

Akhirnya aku dan suami dapat membeli sepeda dorong yang kami inginkan

buat Rajiv. 

 

Tapi lagi-lagi aku dan suami mendapati wajah Pangeran yang cemberut

ketika kami hendak pulang.  Sengaja aku menawarkan untuk membeli

pizza dan mampir ke restaurant kesukaan Pangeran dalam perjalanan pulang. 

Aneh, pangeran kecilku kali ini menolak. 

 

Pangeran hanya berujar pendek ”Nggak usah ma, pageran mau makan

di rumah saja”.  ”Bener nich ?”, tanya suamiku lagi ingin menyakinkan pilihan

anaknya ini. 

”Iya, pangeran mau makan di rumah aja Pa, Ma !”, kali ini mimiknya serius

akan pilihannya. 

Suamiku hanya tersenyum melihat wajah putra tercintanya ini.  Aku dan suamiku

hanya saling pandang akan sikap Pangeran yang agak lain dari biasanya ini.

Dalam hati sebenarnya aku mulai menyesal sudah mulai setengah marah

kepadanya, dan tawarku tadi semata-mata ingin menebus kekesalanku di

toko tadi terhadap pangeran kecilku ini. Ah, tapi lagi-lagi sikap putraku yang

tertua ini membuat aku mulai pusing kepala, dan jadi salah tingkah sendiri

sebagai mama.

 

****

Sesampainya dirumah sudah hampir jam dua siang.  Aku dan suami bergegas

untuk makan siang.  Tapi, Pangeran belum nampak di ruang makan. 

”Pangeran, buruan makan dulu, nanti sakit lho”,  bujukkku kepadanya. 

”Iya sebentar !”, jawab Pangeran pendek.

 

Ketika kami mulai bersantap, Pangeran berujar:

”Pa, nanti kasih Pangeran uang sepuluh ribu yach, karena Papa belum

kasih Pangeran uang 2 hari, ujar Pangeran penuh pengharapan sambil

mengambil udang goreng tepung kesukaannya. 

”Iya, nanti habis makan”, jawab suamiku singkat.

 

”Mama juga, mama belum kasih Pangeran uang 3 hari, jadi Mama kasih

Pangeran Lima belas ribu”, tagih Pangeran kepadaku laksana tukang kredit

yang belum mendapat setoran customernya.

 

”Udah-udah makan dulu, nanti keselek lho”, ujarku berkilah karena aku

memang mulai pusing setiap hari diminta uang sebesar lima ribu rupiah oleh

Pangeran yang katanya akan dimasukkan kedalam celengan Pooh-nya di kamar.

 

(Aneh kenapa Pangeran sangat getol menagih sejumlah uang, yang

katanya untuk ditabung yach ?, aku mulai curiga akan sikapnya yang

mulai disiplin untuk hal yang satu ini.  Ada apa yach, bukankah

Pangeran kecilku ini sudah punya satu celengan beruang Teddy

di atas meja belajarnya). 

 

(Hem…lagian bukankah untuk mengisi satu celengan itu saja dia

sebelumnya agak malas, malah aku yang sering mengingatkannya

untuk rajin menabungkan uang sakunya.  Tapi mengapa sekarang

dia sangat telaten dengan celengan Pooh-nya yang satu lagi). 

 

(Untuk apa uang itu….  Ah, aku harus periksa jangan-jangan…

Aduh… pikiranku sekonyong-konyong mulai memikirkan hal-hal

yang buruk sedang menimpa putraku ini.  Oh, no…no…..no…..aku

harus cepat-cepat naik dan periksa kamar dan celengannya, pikiranku

mulai sesak karena dijejali pikiran yang aneh-aneh…)

 

Berlanjut….

 

****

Sepasang Bocah Itu… Desember 12, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , ,
32 comments

Dua hari lagi pengeran kecilku akan merayakan ulang tahunnya yang ke

delapan.  Saya sudah menjanjikan padanya sebuah pesta kecil dirumahku. 

Tapi meskipun hanya keluarga dan kerabat terdekat yang saya undang,

saya ingin pesta ulang tahun putraku kali ini dapat memberi sesuatu yang

istimewa untuknya. 

Saya sudah merancang kira-kira session acara yang akan kami mainkan

bersama, menu apa yang akan kami santap dan beberapa hadiah kecil

lainnya yang menurutku bisa menambah kebahagiannya.

Untuk mengurangi kerepotanku sengaja untuk beberapa jenis makanan

saya pesan dari restaurant, termasuk kue-kue kecil kesukaan pangeranku

dan suamiku.  Amboi saya sudah membayangkan pesta itu pasti asyik

punya, hehehe….

Lalu, hari yang dinantikanpun tiba.  Taman dan pernak-pernik termasuk

makanan dan kue-kue sudah datang dan ditata rapi oleh pengasuh dan

pembantu rumahku. Beberapa alat bantu permainanpun sudah selesai

disiapakan oleh 3 orang yang akan segera berubah jadi badut untuk

menghibur anak-anak.  Saya juga mulai berdandan beberapa sa’at

sebelum tamu kecil dan tamuku datang.

Kebetulan sore ini tampak cerah, sehingga pesta ulang tahun pengeranku

yang dilangsungkan ditaman belakang rumah berjalan lancar.  Setelah

acara tiup lilin dan pemotongan kue, anak-anak bermain dan

dipandu oleh beberapa orang badut.  

Suasana begitu meriah, tawa canda anak-anak dan sorak-sorai tepuk

tangan dan nyanyian ikut meramaikan susana. Apalagi ditambah suara

tawa anak – anak dan kegembiraan mereka dengan meloncat dan berlari

sa’at melakukan sejumlah permainan untuk memperebutkan sejumlah hadiah. 

Aku bisa merasakan kebahagian di wajah mereka.  Wajah-wajah mereka

begitu ceria, senyum mereka tak henti-henti menghiasi bibir-bibir mereka

yang mungil. Begitu juga pangeran kecilku, beberapa sa’at setelah bermain

bersama teman-temannya yang sengaja kuundang  pada pesta surprisenya

kali ini, membisikkan ditelingaku ”Thanks yach Mom, I love you so much !”,

aku makin bahagia. Suamikupun tak mau kalah ikut memberi kiss kepadaku

di pipi kiri yang semakin membuat aku bahagia diantara kedua lelaki ini,

hehehe..

Tapi, di tengah kegembiraan itu, tanpa sengaja aku menoleh ke halaman

luar lewat lubang-lubang pagar samping rumahku.  Mataku bertumpuh pada

sepasang bocah yang mengintip acara ini.  Tadinya aku tak terlalu

menghiraukan kehadiran mereka.  Tapi ketika terdengar tawa mereka

yang mengikuti serangkaian acara pesta putraku membuat aku penasaran

atas tingkah pola mereka diluar.  Aku segera keluar sebentar meninggalkan

pesta yang sedang berlangsung.  Kulihat sepasang bocah itu berpakaian lusuh

beralasan sendal jepit seadanya. Badan kedua bocah ini cenderung hitam

legam mungkin sering terbakar sinar mentari, begitulah analisaku seketika

atas mereka. 

Melihat kedatanganku secara tiba-tiba, mereka sangat kaget dan menghentikan

seketika aktivitas mereka yang asyik tadi, yakni tengahmengintip

kelangsungan acara pesta ulang tahun pangeran kecilku dari celah-celah

lubang pagar samping rumahku.

Sungguh aku sempat terhenyak melihatnya, aku coba pandangi kembali

wajah mereka yang mungil, senyum mereka yang polos, kemudian pandangan

mereka berubah pucat dan takut akan kehadiran diriku.

Lalu aku menghampiri sepasang bocah itu, sambil sedikit membungkuk aku

menyapanya. “Ayo kemari adik kecil “.  Sepasang bocah itu kelihatannya

makin takut , mungkin mereka merasa bersalah atas tindakan mereka tadi. 

Malah salah satu dari bocah itu sempat membalikkan badannya, mungkin

mengambil ancang-ancang untuk bergegas pergi.

Aku memegang pundak keduanya dan mereka tampak semakin ketakutan.

Salah satu bocah itu sempat berkata,”Ma’af tante kami nggak ngintip lagi

dech, ma’af yach, kami segera pergi dech”, ucap bocah itu seakan amat

bersalah.

(lebih…)