jump to navigation

CERITA DARI SEORANG SAHABAT Desember 6, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , ,
13 comments

”Hai friend, gimana kabarmu ?, pasti kamu lagi sibuk banget yach ?”, begitulah kurang lebih sapaan seorang sahabatku dari seberang pulau seberang yang menyapaku siang ini ini lewat bbku.

“Friend…aku kirim email, cepetan dibaca !”. “Mudah-mudahan dapat hikmah dari yang gw email itu !”. Dah…selamat beraktivitas lagi yach…jangan lupa ambil hikmah postifnya friend !” “Kudu lho !”.

Begitulah sms singkat yang kudapat siang ini ditengah kesibukanku yang memang sekarang ini sangat padat. Karena pesanaran tentang isi emailnya sayapun buru-buru baca dan tenggelam dalam cerita dari sahabatku ini.

Yuk kita simak bareng yuk, mudah-mudahan para sahabat & pembaca juga mendapatkan hikmah positif juga dari email sahabatku ini.

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah kita lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tahu kapan kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.

Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita ???

cerita dari seorang sahabat

cerita dari seorang sahabat

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu
lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :

“Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar- benar mengherankan!

“Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kota kelahiranku.

Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan
sering melamun sendirian, banyak waktu luang, tapi pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh, ak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol, tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan.

Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan.
Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.

Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan.

Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Ucapkanlah :
“Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah ..”perintah temanku.

Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu.

Keadaan itu membuatku merinding.

Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat !.

Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Aku diam membisu.
Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini.

Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.

Tetapi, tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya …
Suara lagunya terdengar semakin melemah … lemah
dan lemah sekali.

Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.

Tak ada gerak …. keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.

Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening.

Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara.Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).

Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..

Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia.

“Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya
secara lahir batin.

Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati.

Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali
pada kebiasaanku semula. Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu.

Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu, sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah
terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian.

Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu.

Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dengan suara amat lemah.

“Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.

Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu.
Dalam batin aku bergumam sendirian “Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu …apalagi aku sudah punya pengalaman.” aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu.

Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang.

Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.

Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.

Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan. .Sampai di rumah sakit …..Kepada orang-orang di sana ,kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.

Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan.. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada
jenazah.

Semua ingin ikut menyolatinya.

Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya..

Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan.

Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata “memperbaiki diri dan mengajak orang lain ”

Saudaraku, siapa yang tahu kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT.

Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian.

Demikian, cerita dari seorang sahabatku, mudah-mudahan membawa manfa’at & inspirasi bagi kita semua.

Iklan

IBU, KASIHMU SEPANJANG JALAN Oktober 16, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
12 comments

Beberapa waktu yang lalu saya sempet membaca sebuah cerita yang beriksah tentang kasih Ibu terhadap anaknya. Dan semoga saja cerita yang akan saya bagi ini, bisa dijadikan ajang bagi kita semua untuk saling mengingatkan kembali arti pengorbanan orang tua, terutama ibu kita, sehingga kita lebih mencintai dan menyayangi lagi ibu / orangtua kita.
Apalagi kalau mereka sekarang masih ada di tengah-tengah kita. Semoga kita jadi anak yang pandai membahagiakan ibu / orangtua kita, semoga…

Kasih Ibu, Sepanjang Jalan

Kasih Ibu, Sepanjang Jalan

Dicerita tsb diceritakan lebih kurang sebagai berikut :

Konon pada jaman dahulu, di suatu tempat (ma’af nama tempatnya sengaja nggak saya sebutkan), ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya. (Hem menurut saya.sungguh kebiasaan yang aneh mungkin untuk ukuran pikiran orang yang normal, sungguh aneh ???)

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

“Bu, kita! sudah sampai”,kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.

Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”.

Setelah mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Tak kuasa akhirnya dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Yah, Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Sekedar isapan jempol….

Tapi di jaman sekarang, kalau kita mau jujur, kejadian mirip tersebut diatas, tak sedikit kita jumpai sangat persis cerita diatas. Mungkin hanya beberapa istilahnya saja yang diplesetan / diperhalus bahasanya. (Hem……)

Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya malas untuk merawat mereka, sibuk, ada bisnis, dan berbagai alasan lainnya. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang ada yang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja. ( Nggak percaya, coba sekali-kali bertandang ke tempat –tempat ini, kalau para pembaca nggak percaya…)

Buya & Ummi

Buya & Ummi

Yah, semoga saja cerita diatas bisa membuka mata hati kita semua, untuk bisa mencintai orang tua kita dan para manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disa’at mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang Maha Kuasa.

Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini. Sungguh pengorbanan yang tiada tara.

Terima kasih, semoga cerita diatas bisa memberi manfa’at dan inspirasi.

Kisah Masa Tua “Opa Chuan” September 12, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , ,
2 comments

 

Disuatu kesempatan acara sosial, saya dan beberapa teman saya mengadakan acara untuk mengunjungi salah satu rumah jompo di kota ini.  Kami pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha.

 

Ketika kami sampai di sana, segera kami melaksanakan beberapa acara yang telah kami persiapkan sebelumnya guna menghibur para penghuni rumah jompo ini.  Tak lupa kami juga membagikan beberapa bingkisan, merayakan ulangtahun beberapa opa & oma yang kebetulan berulang tahun.  Mengajak mereka bercanda, sekedar mimijat, dsb.  Kami lihat mereka sangat terharu dan bahagia atas kedatangan kami. Menurut beberapa oma & opa yang kami temui disana,  kehadiran kami bisa sejenak memberikan nuansa yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hem, sungguh pengalaman yang mengaharukan sekaligus membahagiakan.

 

Tapi, sa’at teman saya sedang berbicara dengan beberapa oma, tiba-tiba mata teman saya tertuju pada seorang Opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Memang sedari tadi saya perhatikan juga kalau opa ini, mencoba menyendiri saja.  Tak seperti opa dan oma yang lain, yang dengan riangnya ikut bercanda dengan teman-teman saya yang lain.

 

Lalu teman saya sebut saja “Adi” mencoba mendekati Opa itu.  Adi mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti Opa itu akhirnya mau mengobrol dengan Adi.  Tak lama kemudian  si Opa itupun menceritakan kisah hidupnya kepada Adi dan saya.

 

Opa itu ternyata bernama Chuan. Sejak masa muda, opa Chuan menghabiskan waktunya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarganya. Karena opa Chuan sangat mencintai anak-anaknya, maka beliau berusaha keras agar bisa memenuhi segala kebutuhan hidup keluarganya.

(lebih…)