jump to navigation

Laskar Pelangi September 25, 2008

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , , ,
21 comments


Kali ini saya sengaja mempostingkan lirik lagu Laskar Pelangi. So, yang suka dengan novelnya “Andrea Hirata” pasti sekarang sedang bergegas akan nonton filmnya yang akan segera diputar di Bioskop-bioskop Jakarta mulai hari ini.

So, semoga lirik lagu & lagu ini dapat menghibur, memberikan kita inspirasi dan membangkitkan semangat kita semua seperti yang telah dilakukan “Laskar Pelangi” dan sang guru “Ibunda Muslimah”.

Lirik Lagu :

Laskar Pelangi OST. Laskar Pelangi – Nidji

Mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang Kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

oooooo…. ooooooo….

laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

o…

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang Kuasa
cinta kita di dunia

oooooo,

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang Kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…
selamanya….

Laskar pelangi
Tak kan terikat waktu
ooooo…

Terima kasih yang sangat Teristimewa buat :
Andrea Hirata“Laskar Pelangi” atas kobaran semangatnya untuk Anak-anak Indonesia.

Best Regard,
Bintang

Iklan

DO’A BIK MARYAM (SI PENJUAL TAPE) September 23, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
8 comments

 

Waktu saya duduk dibangku SMP orangtua saya pernah dinas di daerah Pramulih Sumatera Selatan.  Kota ini tidak terlalu besar, namun cukup ramai menurut saya, karena di kota yang berjarak tempuh +/- 1.30 jam dari kota Palembang ini merupakan salah satu tempat pengeboran dan pengilangan minyak dan gas bumi untuk Pertamina  Sumbagsel.

 

Di kota ini saya dan keluarga saya mengenal Bik Maryam yang profesinya sebagai pembuat sekaligus penjual tape.  Karena tape yang dibuat & dijualnya terkenal enak, jadi kami sekeluarga menjadi salah satu pelanggan tetapnya.   Beliau atau lebih sering saya panggil dengan sebutan Bik (panggilan untuk orang Sumatera untuk wanita tengah baya yang kita hormati dan sejenisnya meskipun tidak ada ikatan darah) “Maryam” adalah seorang janda dengan lima orang anak. 

 

Maklum almarhum suaminya sudah meninggal dunia ketika anaknya yang bungsu masih berusia +/- 3 tahun.  Sedangkan yang sulung sa’at itu sebaya kakak saya yang pertama (kira-kira SMP).  Tapi sayangnya karena keadaaan financial beliau yang sulit anak lelakinya yang pertama tidak melanjutkan pendidikannya dan memilih menjadi tukang angkut barang di pasar Prabumulih untuk membantu ibunda menghidupi ke empat orang adiknya.

  (lebih…)

Akhir Ramadhan September 22, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , ,
4 comments

Detik-detik akhir Ramadhan kali ini masih kugenggam,
Karena ku tak tahu apakah tahun depan,

Aku masih dapat mengengamnya kembali ?

Kerinduan & perasaan Ramadhan kali ini sangat nikmat,

Andai hari esok umurku tak sampai,
Untuk merasakan kembali nikmatnya sahur,

Nikmatnya berbuka bersama keluarga, sahabat dan kerabat,

Di kala bulan Ramadhan nan penuh berkah,

Ya Robbi, didalam kesunyian kurasakan,

Nikmatnya kala kubertafakkur di rumah-Mu untuk beribadah Khusyu’,
Nikmatnya menahan kesabaran di kala hati ini ingin marah & murka,
Nikmatnya bermunajah kepada-Mu, Ya Robbi sang Maha Pencipta,

Nikmatnya mengkhatamkan, kalam ilahi memuji kebesaran-Mu,
Nikmatya bisa menabung sebagai bekal hari esok yang akan menjemput,
Sa’at jiwa ini tak ada lagi di dunia fanah ini,

Ya Robbi, Sang Khaliq Pencipta Alam & Isinya,

Andai semua hamba-Mu tahu,

Tentang yang ada pada bulan Ramadhan,
Mungkin merekapun akan berharap,

Bisa menunaikan puasa satu tahun lamanya,

Mungkin seumur hidupnya di dunia,

Ya, robbi, Sang Maha Besar,

Hari ini insya Allah sampai berakhirnya Ramadhan,

Aku bertekad, dengan tekad yang sama seperti awal Ramadhan,
Untuk dapat Meraih Kemuliaan-Mu di bulan yang suci ini,
Semoga dapat ku raih kemenangan sejati,

Hanya untuk-Mu ya Robbi.

Amien ya Rob’bal alamien !

Tatapan Penuh Cinta September 19, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , ,
4 comments

Pernahkah para pembaca menatap orang-orang terdekat anda saat mereka sedang tidur ?
Nah, kalau jawaban para pembaca “belum”, yuk… cobalah sekali saja menatap mereka sa’at sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

(Hem, penasarankan ?)

Sekarang, coba perhatikanlah ayah anda sa’at beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu, kini semakin tua dan ringkih. Betapa rambut-rambut putihnya kini mulai menghiasi kepalanya.  Betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar. (lebih…)

Pak Taufik & Celana Barunya September 17, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , ,
4 comments

“Ketika hati ini sangat kecil, dunia juga akan berubah menjadi kecil, kecilnya hingga mencemooh keindahan sehelai daun.”

“Ketika hati ini sedang kacau, jalannya berubah menjadi banyak , sehingga kita tersesat di jalan-jalan itu…” 

Hem itulah penggalan kalimat berupa petuah, yang sempat menyadarkan saya, ketika hati saya agak berkecamuk karena hampir tidak bisa menahan emosi di suatu hari. Tapi, alhamdullillah saya ingat kisah ini, sehingga saya tidak jadi menumpahkan sejuta kekesalan saya, hehehe….

 

Nah, mau tahu ceritanya seperti apa, begini :

 

Ada seorang ayah sebut saja disini namanya Bapak Taufik, karena hendak menghadiri acara reuni teman-teman SD-nya, maka pada keesokan harinya beliau  secara sengaja dan khusus menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah toko pakaian.  Lalu Bapak Taufik ini membeli sepotong “celana panjang baru” dan harganya cukup mahal.

Sesampainya  di rumah kebetulan hari sudah hampir Isya’.  Maklum sebelumnya bapak Taufik sempat mampir dulu ke masjid untuk shalat berjamaah.  Lalu sesampainya dirumah beliau mencoba memakai celana panjang barunya itu sekali lagi.

 

Sayang, ternyata beliau menemukan kalau celana panjang yang baru saja dibelinya itu kepanjangan 10 cm.  Hem, beliau sempat menghela napas atas kecerobohan kecilnya.  Tapi beliau tidak hilang akal, beliau ada sejumlah jurus sakti agar celana panjang yang dibelinya itu dapat dipakai pada hari-H.  Hem lagi-lagi beliau coba berpikir sejenak.

 

Lalu, pak Taufik meminta tolong kepada ibunya untuk memperbaiki celana tsb, dengan memotongnya 10 cm dan merapikan kembali jahitannya . Tapi sayang, Ibunda pak Taufik mengatakan bahwa beliau sedang tidak enak badan, sehingga ingin istirahat lebih awal. Jadi malam ini sang Ibunda tidak bisa memperbaiki celana itu.

(lebih…)

Kisah Masa Tua “Opa Chuan” September 12, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , ,
2 comments

 

Disuatu kesempatan acara sosial, saya dan beberapa teman saya mengadakan acara untuk mengunjungi salah satu rumah jompo di kota ini.  Kami pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha.

 

Ketika kami sampai di sana, segera kami melaksanakan beberapa acara yang telah kami persiapkan sebelumnya guna menghibur para penghuni rumah jompo ini.  Tak lupa kami juga membagikan beberapa bingkisan, merayakan ulangtahun beberapa opa & oma yang kebetulan berulang tahun.  Mengajak mereka bercanda, sekedar mimijat, dsb.  Kami lihat mereka sangat terharu dan bahagia atas kedatangan kami. Menurut beberapa oma & opa yang kami temui disana,  kehadiran kami bisa sejenak memberikan nuansa yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hem, sungguh pengalaman yang mengaharukan sekaligus membahagiakan.

 

Tapi, sa’at teman saya sedang berbicara dengan beberapa oma, tiba-tiba mata teman saya tertuju pada seorang Opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Memang sedari tadi saya perhatikan juga kalau opa ini, mencoba menyendiri saja.  Tak seperti opa dan oma yang lain, yang dengan riangnya ikut bercanda dengan teman-teman saya yang lain.

 

Lalu teman saya sebut saja “Adi” mencoba mendekati Opa itu.  Adi mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti Opa itu akhirnya mau mengobrol dengan Adi.  Tak lama kemudian  si Opa itupun menceritakan kisah hidupnya kepada Adi dan saya.

 

Opa itu ternyata bernama Chuan. Sejak masa muda, opa Chuan menghabiskan waktunya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarganya. Karena opa Chuan sangat mencintai anak-anaknya, maka beliau berusaha keras agar bisa memenuhi segala kebutuhan hidup keluarganya.

(lebih…)

Kisah Yang Dialami Siu Lan & Lie Mei di Musim Dingin September 10, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , ,
5 comments

 

Kisah ini bercerita tentang bagaimana tragedy ini terjadi antara seorang ibu yang bernama Siu Lan an anak perempuannya Lie Mei di sebuah desa kecil di China.  Siu Lan adalah seorang janda miskin yang memiliki seorang putri kecil yang berumur 7 tahun, yang diberinya nama Lie Mei.

 

Kemiskinan hidup mereka, memaksa ibu dan anak ini untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup mereka berdua. Hidup mereka penuh kekurangan, sehingga membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.  Maklum dikarena keseharian mereka disibukkan dengan membuat kue dan menjajakannya sepanjang hari.  Apalagi tempat tinggal mereka hanya disebuah desa kecil , sehingga hasil keuntungan dagangan kue merekapun juga sangat minim.

Di suatu ketika, pada musim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Lalu, dia berpesan agar anaknya Lie Mei menunggu di rumah saja, karena dia akan membeli keranjang kue yang baru.

Tapi ketika Siu lan pulang dari membeli keranjang kue, sang ibu  menemukan pintu rumah tidak terkunci dan dia tidak melihat Lie Mei dirumah.  Lie Mei tidak berada di rumah seperti pesannya ketika pergi. Maka marahlah Siu Lan.  Siu Lan mengutuki putrinya yang tidak menuruti kata-katanya.  Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

 

(Hem, begitu banyak kekesalan yang membutakan pikiran dan perasaan Siu Lan terhadap anaknya sa’at itu)

Lalu, Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang sendirian, dan pergi keluar rumah untuk
menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi,  mereka harus dapat uang untuk makan.  Tapi kali ini Siu Lan pergi dan tetap menggerutu, pikirannya dengan perasaannya masih kesal atas perbuatan putrinya.

Entah apa yang telah merasuki pikiran sang ibu sehingga dia ingin tetap menghukum perbuatan putri kecilnya ini.  Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa masuk / pulang.  Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari kaget dan cepat-cepat memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa karena kedinginan di luar.

 

Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung menyesali perbuatannya yang sangat ceroboh. Tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Putri kecilnya yang malang ini telah pergi meninggalkannya.  Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah dengan harapan keajaiban akan muncul menghidupkan anaknya kembali.

Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh kecil yang telah beku itu.  Siu Lan tetap memanggil putri kecilnya,  dia meneriakkan nama Lie Mei berkali-kali agar putri kecilnya itu bangun.

 

Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Ternyata isi dari bungkusan kecil itu adalah sebungkus biskuit kecil yang dibungkus hanya dengan kertas usang.

 

Siu Lan sangat mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan, namun tetap masih bisa terbaca  olehnya,

 

“Hi..hi..hi.. . mami pasti lupa. Ini hari istimewa buat mami. Aku sengaja membelikan biskuit kecil sebagai kejutan buat mami sebentar.  Mami jangan marah karena Lie Mei tidak pamit dulu tadi, Biscuit ini untuk hadiah mi. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mami selamat ulang tahun. Lie Mei sangat sayang pada mami”.

(Oh, tuhan, ternyata putri kecilnya…)

 

Nah, inti ceritanya adalah…

Hendaknya kita senantiasa untuk  jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya. Cobalah untuk mengendalikan emosi dan marah kita, agar tidak sampai menimbulkan efek negatif.  Selalulah berpikiran positif karena sesuatu yang positif akan membuahkan hasil yang baik.  Insya Allah…

 

Semoga cerita tersebut memberi bermanfa’at dan inspirasi.

 

Disarikan dari  “True Story”, Xia Wen Pao, 2007

SIAPA YANG MEMBANTU MENYIAPKAN PARASUT ANDA ? September 9, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , ,
2 comments

 

Mungkin ada sebagian para pembaca yang sudah pernah mendengar / membaca cerita tentang “Charles Plumb”, beliau adalah seorang lulusan Akademi Angkatan Laut AS.  Beliau pernah menjadi penerbang jet di Vietnam.

 

Lalu apa hubungannya dengan saya ?

 

Nah, hubungannya kali ini, saya hanya ingin berbagi cerita, tentang bagaimana arti penting seseorang dalam hidup kita, seperti yang pernah dialami oleh “Charles Plumb”.  Semoga cerita ini bisa mengingatkan kita tentang arti penting seseorang / orang lain dalam hidup dan kehidupan kita.  Ok, mau tahu ceritanya ?

 

Charles Plumb, yang notabene seorang lulusan Akademi Angkatan Lalut AS yang sangat terkenal itu ternyata pernah jadi penerbang jet kebanggaan.  Peristiwa ini bermula terjadi setelah 75 misi pertempuran di Vietnam, pesawat yang dikendalikannya tertembak rudal darat di udara.

 

Charles Plumb sempat lompat keluar, turun dengan payung udara dan jatuh ke tangan musuh. Ia tertangkap dan sempat menghabiskan waktu tak kurang dari 6 tahun di sebuah penjara Vietnam.

 

Untungnya dia berhasil melewati masa cobaan penuh siksaan itu, dan kini beliau mengisi hari-harinya dengan memberi kuliah tentang pelajaran-pelajaran berdasarkan pengalaman- pengalamannya tersebut di beberapa sekolah dan universitas.
 
Pada suatu hari, ketika Charles Plumb dan istrinya sedang duduk di sebuah restoran pada suatu perjamuan, seorang pria yang duduk di meja lain menghampirinya dan berkata,

 

“Hei, bukankah anda  tuan Plumb, Charles Plumb !”, teriak orang tersebut dengan wajah yang sangat girang.

 

“Tuan yang menerbangkan penempur- penempur jet di Vietnam dari kapal induk Kitty Hawk-kan ?”, ucap pria itu dengan semangat.

 

Lalu, pria itu berkata lagi, “Bukankah pesawat tuan hancur !”, ujar pria itu lagi, kali ini dengan penuh rasa bangga dan takjub memandang Charles Plumb yang agak kaget dengan spontanitas pria ini.

 

 Lalu Charles Plumb menjawab dengan rasa ingin tahu yang sangat membludak,
“Bagaimana Anda mengetahuinya?”,  tanya Plum penasaran.

Kemudian laki-laki itu menjawab dengan sangat ramah, “Bukankah saya yang melipat dan menyiapkan parasut Anda saat kejadian tersebu t!”,  jawab pria tersebut dengan nada senang.

 

Kali ini nafas Plum seakan tersentak, dia kaget dan sekaligus penuh syukur.

Tapi, pria tersebut (yang menegurnya tadi) memberi  isyarat dengan tangannya dan berkata, “Apakah semuanya baik-baik saja ?.”

 

Dan Charles Plumbpun meyakinkannya sambil berkata, “Oh ya, pasti,  Beres dan hebat sekali. Seandainya parasut Anda tidak dapat terbuka, pastilah hari ini saya tidak ada di sini.”
 
Ketika malam tiba,  Charles Plumb tidak dapat tidur. Dia terus memikirkan orang yang dijumpainya di restoran tadi sore.

(lebih…)

MANFAAT MADU September 5, 2008

Posted by elindasari in Kesehatan.
Tags: , ,
8 comments

Eit, ternyata ketika saya lagi sibuk menghapus email-email yang saya anggap usang di computer saya, saya menemukan e-mail tentang kesehatan “Manfa’at Madu”, yang menurut saya sayang kalau dibuang / dihapus begitu saja.  Mudah-mudahan artikel ini ada manfa’atnya bagi pembaca sekalian, meskipun tidak komplit dan keampuhannya saya belum coba semuanya, hehehe….

1. Kerontokan Rambut

Orang yang mengalami kerontokan rambut atau kebotakan dapat memakai campuran minyak zaitun panas / hangat, 1 sendok makan madu dan 1 sendok teh bubuk kayu manis sebelum mandi. Oleskan di kepala dan diamkan selama kira2 15 menit setelah itu baru dibasuh. Penelitian itu juga membuktikan ramuan yang didiamkan dikepala selama 5 menit pun tetap efektif.

2. Infeksi Kandung Kemih

Campurkan 2 sendok makan bubuk kayu manis dan 1 sendok teh madu ke dalam segelas air suam2 kuku. Setelah itu diminum. Ramuan ini membunuh kuman2 dalam kandung kemih.

(lebih…)

MAMPUKAH ANDA MENCINTAI PASANGAN ANDA TANPA SYARAT ? September 5, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
6 comments

Di hari dan bulan yang suci ini, saya mau berbagi cerita tentang “keikhlasan” yang saya dapatkan dari pengalaman / kisah nyata seseorang.

 

Tentu saja kalau kita bicara tentang keikhlasan, semua itu akan  kembali kepada keikhlasan seseorang terhadap dirinya sendiri, ya nggak ?.

 

Seorang bapak yang sudah berusia tidak muda lagi ini, pernah mengutarakan kisahnya, tentang “Mampukan kita mencintai pasangan kita tanpa syarat”.

 

 

Menurut saya kisah beliau ini sangat menarik dan semoga dapat menjadi bahan renungan.  Nah para pembaca penasaran bagaimana kisah beliau,  mari disimak yach.

Ditinjau dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam.  Kita sebut saja nama beliau disini sebagai “Bapak Harun”.  Usia bapak Harun ini sekarang sudah menginjak +/- 60 tahun. Keseharian kegiatan beliau selain sebagai pencari nafkah juga harus diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Sekarang ini usia istrinya juga sudah tua, karena jarak usia mereka tidak jauh.  Mereka sudah menikah lebih dari 32 tahun.

Pasangan ini telah dikarunia 4 orang anak. Nah, disinilah awal cobaan menerpa kehidupan mereka yang terbilang sangat menyenangkan dan membahagiakan pada sa’at itu, karena mereka menerima “kekayaan” dari sisi jasmani, rohani dan financial.

Cerita ini dimulai setelah istrinya melahirkan anak mereka ke empat.  Tiba-tiba kaki isterinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, dan hal  itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuh isterinya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang, lidahn isterinyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Sungguh keadaan kesehatan yang memprihatinkan bagi isterinya.

(lebih…)