jump to navigation

Gaji Mama berapa sich, Auline ingin tahu… Oktober 30, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
19 comments

Pada masa sekarang ini, apalagi tinggal dikota Jakarta yang serba gemerlap ini, tak jarang mengharuskan pasangan suami isteri harus sibuk di luar rumah dalam rangka memenuhi kebutuhakn financial yang menjadi tuntutan memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebut saja seorang Tsamara. Sosok wanita muda, yang selalu energik, selalu tampil dandy sebagai wanita karier, terlihat sibuk dengan aktivitasnya. Yah, Tsamara adalah seorang karyawati sebuah perusaahan yang cukup terkenal di Jakarta, dengan karier yang lumayan tinggi untuk ukuran seorang wanita. Tsamara sudah dikaruniai dua orang putri. Putri pertamanya sudah berusia 11 tahun bernama Auline dan putri keduanya berusia empat tahun bernama Cilla.

Seperti biasa rutinitas Tsamara hampir dihabiskan dikantor. Berangkat kerja mulai jam 7.00 pagi dan pulang kerumah rata-rata jam 21.00. Tsamara memang tinggal di salah satu sudut kota Jakarta yang hinggar bingar.

Seperti biasa setelah seharian penuh bekerja di kantornya, dalam keremangan lampu halaman rumahnya yang indah, dia melihat Auline putri pertamanya di temani Mbak Sum pengasuhnya menyambut dirinya di teras rumah.

“Sayang, kok belum tidur ?” sapa Tsamara sambil mencium kening anaknya.

Biasanya Auline sudah tidur ketika Tsamara pulang dari kantor, karena harus bangun pagi juga karena jemputan sekolahnya juga pagi jam 6.30.
Sedangkan adiknya (putri kedua Tsamara bangun menjelang Tsamara berangkat ke kantor (sekitar jam 7.00 pagi) dan berangkat ke sekolah sekitar jam 8.00.

“Auline menunggu Mama pulang, Auline mau tanya, gaji Mama itu berapa sih Ma?” tanya Auline sambil terus membuntuti mamanya naik ke lantai atas.

Gaji Mama berapa sich, Auline ingin tahu nich...

Gaji Mama berapa sich, Auline ingin tahu nich...

“Ada apa sich kok nanya-nanya gaji Mama segala ?”, jawab Tsamara sekenanya atas pernyaan putrinya yang agak nyeleneh ini.

“Auline cuma…pingin tahu aja kok Mah ?, lanjut Auline yang merasakan kalau pertanyaanya tidak digubris sang Mama.

“Mama nggak mau jawab pertanyaan gituan !”, jawab Tsamara denan wajah mulai ditekuk, atas pertanyaan Auline yang mulai aneh.

“Baiklah kalau Mama nggak mau jawab, Auline akan tebak dan hitung sendiri ya !”, jawab Auline dengan gayanya yang sok tahu, ala anak kecil.

Sambil mengambil selembar kertas kecil dan pulpen, Auline berlari ke meja belajarnya di sudut kamarnya. Lalu Auline mulai menghitung.

Hem…Kerja Mama sehari Auline tebak digaji Rp 800.000,-, berarti selama sebulan dikali 20 hari. Terus berapa gaji Mama sebulan ?. Sehari Mama saya anggap kerja 10 jam.

“Kalau begitu, satu bulan Mama di gaji Rp 16.000.000,-, ya Ma ?”
“Dan satu jam Mama dibayar Rp. 100.000,-.” kata Auline setelah mencorat-coret dalam kertasnya sambil membuntuti Tsamara yang beranjak menuju Toilet.

“Ok, Auline, kamu memang putri mama yang pintar, sayang”. “Sekarang Auline cuci kaki lalu bobok”, perintah Tsamara setengah berteriak dari dalam toilet.

Tapi kenyataanya Auline masih saja berada di kamar Tsamara, putrinya ini malah duduk di tepi ranjang sambil terus memandangi mamanya yang berganti pakaian.

“Mah, boleh tidak Auline pinjam uang Mama Rp. 10.000,-?” tanya Auline dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.

“Sudahlah Auline, nggak usah macam-macam dech, untuk apa minta uang malam-malam begini”. “Kalau mau uang besok saja”. “Mama sekarang sudah capek”. “Sekarang Auline tidur supaya besok tidak terlambat ke sekolah!”, perintah Tsamara lagi kali ini dengan nada yang agak galak.

“Tapi Mah”, Auline coba membantah perkataan mamanya.

“Auline…., Mama bilang tidur, tidur !!!”, kali ini Tsamara mulai membentak putrinya, sehingga sangat mengejutkan Auline.

Akhirnya Auline beranjak menuju kamarnya.

Tsamara mulai jengkel atas pertanyaan dan kebandelan Auline akhir-akhir ini. Tsamara mulai tak bisa menahan emosinya lagi dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak ramah seperti hari-hari sebelumnya. Untungnya ada suaminya yang selalu menghibur dan menenangkan Tsamara atas kelakuan Auline ini.

Ketika emosi Tsamara mulai stabil dan selang beberapa waktu kemudian, Tsamara kembali menengok kamar anaknya ini. Dia ingin melihat putri kebanggaannya ini “Auline”

Tapi, ketika Tsamara menjumpai Auline di kamarnya, ternyata putrinya ini belum juga tidur. Tampaknya Auline sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang.
Tsamara jadi sedikit bingung dan mulai menyesali atas bentakannya tadi.

Dipegangnya kepala Auline pelan dan berkata, “Sayang, ma’afkan Mama ya nak !”. “Sebenarnya Mama sayang sekali pada Auline”.
“Auline adalah putri kebanggaan Mama”, kali ini tatapan Tsamra ke wajah mungil anaknya ini dengan penuh kasih.
Lalu, Tsamarapun sambil ikut berbaring di sampingnya dan mendekapnya.

“Ok, sekarang Auline kasih tahu Mama, untuk apa sih perlu uang malam-malam begini”. “Besok kan bisa, jangankan Rp. 10.000,-, lebih banyak dari itupun akan mama akan kasih”, bujuk Tsamara ke putriinya ini.

“Auline, nggak minta uang Mama kok”. “Auline cuma mau pinjam”. “Nanti akan Auline kembalikan, kalau Auline sudah menabung lagi dari uang jajan Auline”, bibir mungil putrinya mulai bicara.

“Ok, sayang, tapi untuk apa uang itu Auline?”, tanya Tsamara tetap dengan suara yang lembut.

“Sebenarnya Auline sudah menunggu Mama dari sore tadi”.
“Auline nggak mau tidur sebelum ketemu Mama”.
“Auline pengen ngajak Mama melukis bareng”.
“Satu jam saja”.
“ Tapi mbak Sum sering bilang kalau waktu Mama itu sangat berharga”.
“Jadi Auline ingin beli waktu Mama, agar Mama & Auline bisa melukis bareng lagi seperti dulu”, Auline kecil mencoba menjelaskan kepada Tsamara.

“Lalu,” tanya Tsamara penuh perhatian dan kelihatannya Tsamara masih belum mengerti sepenuhnya.

“Iyach, ma, tadi Auline hitung uang tabungan Auline, ternyata jumlahnya ada Rp 90.000,-“.
“Tapi karena tadi Auline hitung satu jam Mama di kantor dibayar Rp. 100.000,-, berarti masih kurang Rp. 10.000,- lagi”.
“Makanya Auline ingin pinjam pada Mama”.
“Auline ingin membeli waktu Mama satu jam saja, untuk menemani Auline melukis bareng”.
“Ma, Auline kangen banget sama Mama,” ujar Auline polos dengan masih menyisakan isakannya yang tertahan.

Tsamara terdiam, dan kehilangan kata-kata. Dadanya bergemuruh kencang, seakan ada yang mengetuk-ngetuk dibaliknya. Lalu, Putri kecil itunya itu dipeluknya erat-erat. Putri kecil, putri kebangaannya ini menyadarkan dirinya, bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kata belaka namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.

“Ma’afkan mama sayang, sungguh Mama hilaf”, kali ini Tsamara tak dapat membendung luapan jiwanya yang tadinya serasa bergemuruh kencang.

Semoga sepenggal cerita diatas memberi inspirasi dan manfa’at.

Iklan

YUK, BERSYUKUR ATAS REZEKI YANG KITA PEROLEH Februari 24, 2009

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , , , , ,
17 comments

bersyukur

Sekarang ini gejala krisis semakin terasa.
Korban-korban kekejaman ekonomi semakin berjatuhan.
Gelombang PHK mulai merajarela.
Tak sedikit teman dan kerabat yang jadi korbannya.
Hem, sepertinya kehidupan semakin susah untuk
sebahagian besar orang yang mengalaminya.

Sebenarnya dampak ini sudah berlangsung cukup lama,
tapi sekarang ini semakin terasa bagi kebanyakan
rakyat Indonesia yang memang masih banyak hidup di
bawah standard. Entah bagaimana cara mengatasinya.
Saya sendiri belum bisa berbuat banyak untuk mengatasi
hal ini.

Tapi, sebagai bahan renungan bagi teman-teman, saya
ingin mengajak sejenak untuk meluangkan waktu agar
dapat lebih mensyukuri atas Rejeki yang masih kita
peroleh sampai detik ini.

Mari kita jadikan GAJI atau INCOME yang kita terima
sebagai GAJI / INCOME yang Berkah, dengan cara antara lain :

Berhemat :
Hargailah setiap rupiah yang kita peroleh dengan
lebih cermat dalam mengeluarkannya.
Susun prioritas pengeluaran & selektif dalam berbelanja.
Ayo Hemat… agar Selamat
(dalam hadapi dampak krisis keuangan global)

Menabung :
Mulailah biasakan diri untuk menyisihkan sebagian yang
diperoleh untuk bekal kehidupan kita di masa depan –
karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi
di hari esok.
Save or Sorry (Menabung sekarang atau Menyesal di kemudian hari)

vMembantu sesama :
Senatiasa berbagi kebahagiaan pada mereka yang kurang
beruntung sebagai wujud rasa syukur kita pada karunia Tuhan.
Bantuan tidak harus selalu berupa uang,
bahkan hanya dengan menyumbang sampah daur ulang dari
sisa belanja rumah tangga, kita dapat membantu masyarakat tidak mampu.

Misalnya saja barang-barang yang masih bisa di-daur ulang
kita sumbangkan untuk berbuat kebajikan / kemanusiaan lewat depo-depo
penampungan barang-barang daur ulang yang sekarang mulai marak digalakkan.
More we Give, more we Get (in many ways)…

Terimakasih Tuhan, yang telah mengkaruniakan hidup dan rezeki kami !

Semoga bermafa’at dan memberi inspirasi.

Penghasilan Tidak Pernah Cukup Juli 8, 2008

Posted by elindasari in Tips.
Tags: , , , , , , , , , ,
5 comments

 

“Aduh..gaji gue cuma numpang lewat aja nih !”

“Aduh,  gue sudah miskin lagi nich, padahal gajian lagi asih lama !”

“Cash Bon dong buat ongkos pulang nich !”

“Duh…gaji kita kok aiknya dikit amat yach !”

“Busyet…gaji gue dah habis nich !”

Nah….kalimat-kalimat diatas  sepertinya tidak asing bukan ?

Kita mungkin secara tidak sadar pernah mengucapkannya atau paling tidak pernah terlintas di pikiran atau mendengar teman-teman kita.

Anda pernah mengucapkan kalimat ini. Anehnya kalimat ini seringkali terucap pada saat belum lama orang gajian. Orang sering mengeluh karena penghasilannya dirasa terlalu kecil sehingga tidak memiliki cukup uang untuk beli ini itu. Biasanya kalau sudah begitu orang menuding kenaikan harga-harga sebagai biang keladi gaji yang tak pernah cukup.

Mulai dari sembako sampai barang kebutuhan sehari-hari lainnya seperti susu, pasta gigi, sabun, mi instant, bahkan baju, sepatu, dan kosmetik, semuanya merambat naik. Belum lagi kenaikan tarif telpon, listrik, air, atau biaya transportasi, yang semakin membuat pengeluaran Anda membengkak.

Jangan lupa lho, biaya pendidikan anak-anak berikut buku-buku pelajaran sekolahnya juga rajin sekali naik tiap tahunnya.

Masalahnya, belum tentu kenaikan harga-harga ini selalu diimbangi dengan kenaikan penghasilan kita, bahkan tidak jarang yang terjadi adalah sebaliknya. Namun kenaikan harga-harga bukanlah satu-satunya penyebab gaji yang tidak pernah cukup. Sebab ada juga orang yang merasa penghasilannya tidak pernah cukup, tidak perduli sudah berapa kali kenaikan gaji yang diterimanya.

(lebih…)