jump to navigation

Baju Baru Tami ? Desember 8, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
25 comments

Kini aku bertugas sebagai seorang dokter puskesmas di sebuah kecamatan yang lumayan terpencil di Pulau Sumatera. Suasana alam disini jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Daerah disini lumayan subur, sebahagian penduduknya adalah petani teh, kopi dan vanilla. Meski keadaan disini sederhana, tapi kami (aku dan isteriku, Tami) menyukai tempat ini. Disini penuh keramah tamahan, sikap hidup masyarakat yang bergotong royong, suasana kekeluargaannyapun masih kental. Satu sama lain saling mengenal. Makanya ketika aku ditempatkan selama 3 tahun disini kami menyambutnya dengan penuh suka cita.

***

Tapi untuk sejenak kutinggalkan suasana itu untuk berangkat ke Jakarta. Aku akan menghadiri sebuah perlehatan yang lumayan berarti bagi hidupku. Aku akan menerima penghargaan sebagai dokter teladan di Jakarta. Tapi sayangnya, undangan itu hanya berlaku untukku seorang. Aku tak bisa membawa serta Tami, isteriku tercinta. Dan karena keadaan keuangan yang belum menungkinkan, maka Tamipun tak berkeberatan kalau event ini harus kulewatan tanpa dirinya disisiku.

“Aku sudah bangga dan sangat bahagia mas, meski nggak bisa ikut menemanimu kali ini ke Jakarta !”, ucap isteriku mengantarku beberapa hari lalu di terminal bis Tebing Gerinting saat itu.

Baju Baru Tami ?

Baju Baru Tami ?

***

Rasa kangenku yang semula memuncak tiba-tiba menghilang bahkan punah seketika. Dikepalaku muncul rasa kesal dan jengkel. Betapa saya tidak kesal dan gemas, dalam letih sepulang dari perlehatan besar, aku mendapati rumah dalam kondisi kacau balau nggak karuan. Baju kotor masih menumpuk, cucian piring di baskom penuh, mau mandi, bak mandi airnya kosong. Buka serkapan meja, yang ada hanya sambal teri-teri lagi. Halaman rumah bertaburan daun yang berguguran ditiup angin, bahkan ada beberapa kotoran ayam yang belum dibersihkan dan dipel. Sa’at kuketuk pintu rumahku, ternyata Isterikupun tidak ada dirumah. Ah, terpaksa aku masuk rumah dengan kunci serep yang selalu kubawa-bawa.

“Ampun…ampun… Tami, Tami !” , teriakku dalam hati.

***

Tiga hari lau memang saya ke luar kota dalam rangka karena ada perlehatan besar dan sangat mengembirakan hatiku. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk membagi kebahagiaan itu dengan sang isteri tercinta. Akupun bergegas pulang hanya dengan harapan untuk segera menemukan sang isteri tercinta di rumahku. Namun apa yang terjadi ? . Bak mimpi di siang bolong. Kenyataan yang kudapati tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Huh sebel !…

Melihat keadaan seperti ini saya hanya bisa beristigfar sambil mengurut dada.

“Tami-tami, bagaimana saya nggak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini ?”, ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

***

Begitu Tami pulang dengan wajah yang merona karena suka cita, aku menyambutnya dengan wajah yang mulai hambar.

“Tami, isteri yang kudambakan bukan saja harus cantik wajahnya, pintar ngajar mengaji, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur urusan rumah tangga yang mungkin dulu kamu anggap pekerjaan remeh temeh. Tami semestinya mulai belajar masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah, nyapu, ngepel, bla-bla, bla….. ! “, begitulah kata-kataku meluncur bak lokomotif yang penuh bahan bakar dan mengpulkan asap berwarna hitam.

Tami yang semula merona pipinya, tiba-tiba langsung menghilang masuk ke kamar.

Dan belum sempat kata-kataku habis saya mendengar ledakan tangis isteriku yang cantik dari kamar, kedengarannya tangisannya kali begitu pilu.

“Huh huh…perempuan memang gampang sekali untuk menangis !,” batinku berkata dalam hati.

“Sudahlan Tami diam, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri yang baik, tabah, ikhlas, dengan segala kemampuanku ?. Kalau jadi Isteriku itu tidak bolah cengeng !” bujukku sambil memelankan kata-kataku yang semula memang deras mengalir bak air terjun Sugih Waras.

Tetapi setelah saya tahu dan melihat air mata Tami basah tak ubah air sungai Musi yang lagi pasang, aku berbalik memelankan marah dan omelanku.

“Gimana nggak nangis !, Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang saya belum sempat merapikannya mas. Saya beberapa hari ini sedang bantuin ibu camat yang akan ada hajatan, bukannya mas sendiri yang minta tempo hari. Terus sorenya saya harus bantu ngajar ngaji buat anak-anak di langgar, juga seperti yang mas minta. Lagian mas kan janjinya pulang baru lusa. Jadi saya pikir saya masih punya waktu tuk ngebersein semuanya sebelum mas pulang. Eee…kok mas malah bikin kaget pulang lebih awal, dan pulang bawaannya bikin orang bete….marah mulu… !” jawab istriku setengah sewot tapi dengan mimiknya yang tetap manja.

***

Mas, siang nanti antar saya ke rumah mak Ijah yach mau ngantar buku-buku buat anaknya yang mau masuk SMP ya…?” pinta isteriku. Karena paketnya baru saja sampai nih, isteriku coba membujukku untuk mengantarnya pergi.

“Aduh, Mi… saya masih capek dan ngantuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.

“Ya sudah, kalau mas masih capek dan mgantuk, saya pergi sendiri aja, ucap isteriku kalem sambil mengucapkan salam.

###

Entah kenapa sepeninggalan isteriku mengantarkan buku-buku ke rumah mak Ijah, mataku enggan terpejam. Mataku malah tertuju pada sehelai baju yang digantung dipojok kamar dekat lemari kami. Karena rasa penasaran yang begitu besar saya segera bangun dari tempat tidur.

Kuraih baju itu.

Kuamati sehelai baju yang sepertinya baru saja selesai di jahit oleh isteriku. Dan betapa aku terkejut sekali dibuatnya. Karena ternyata baju itu bukanlah baju baru. Aku tahu betul kalau baju itu adalah baju Tami sewaktu dia belum menikah denganku.

Tapi karena baju ini sudah sering dipakai untuk beberapa kali hajatan disini, maka baju itu terlihat sudah tidak menarik lagi.

Tapi bukan itu yang membuatku kaget atau lebih tepatnya bangga kepada isteriku. Berkat kekreatifannya baju yang semula biasa saja dan sudah sering dipakainya itu kini sudah berubah menjadi baju yang istimewa, jika dipakai di acara hajatan nanti, pikirku bertubi-tubi.

Kuperhatikan jahitannya, rapi dan sangat bagus. Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuknya pun dibuatnya jadi elegan, isteriku ternyata tidak saja cantik tapi juga punya daya kreatifitas yang layak diacungi jempol, aku membathin dalam hati sendiri.

Mataku tiba-tiba jadi nanar. Betapa aku merasa diriku selama ini sudah buta. Betapa aku selama ini selalu meremehkan isteriku. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Bahkan aku sejak menikah 2 tahun lalu, tak pernah membelikan segala kesukaannya sewaktu masih gadis dulu. Ah…

Semestinya aku bersyukur kepada Tuhan karena aku telah mendapatkan isteri yang sangat istimewa. Isteriku yang notabene mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi, karier yang lumayan bagus di kota besar, keluarga yang serba berkecukupan, tapi demi aku dia rela meninggalkan semuanya itu. Dia jadi pribadi yang lebih sederhana kini.

Demi menemani pengabdian seorang dokter muda di kecamatan yang lumayan terpencil ini. Dengan penghasilan yang boleh dibilang tidak bisa membuatnya leluasa berbelanja seperti dulu di kota kelahirannya. Aku ingat betul dulu Tami seorang wanita yang modis, senang dengan segala bentuk keindahan. Gaya hidupnya dulu metropolis banget.

“Demi pengabdianku kepadamu mas, aku rela meninggalkan semuanya itu, asalkan kita selalu bersama, mas selalu sayang sama Tami. Hem…itulah kata-kata yang pernah kuingat kala aku mengutarakan keinginanku untuk hidup bersamanya 2 tahun lalu “.

Kini, setelah aku mendapatkannya, aku malah sering mengabaikan kemurahan hati isteriku. Ah…aku benar-benar bodoh, mata hatiku mulai buta. Aku lagi-lagi membathin, mngutuki diriku dalam hati.

Tiba-tiba saja, aku menjadi malu, malu sekali atas kelakukannku yang sering kurang pantas sebagai suami, suami yang baik bagi isteriku. Aku suami yang kurang bersyukur atas karunia Allah, berupa isteri yang sangat baik untukku. Ampuni aku ya Robbi. Aku sungguh menyesal.

Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain !. Sedangkan isteriku tak pernah kuurusi. Aku tak pernah memperhatikannya. Aku hanya pandai mengomentari keburukannya, aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang kadang tak dapat dilakukannya.

Ah…lagi-lagi aku bergumam….mengutuk diriku….

###

Keesokan harinya aku sengaja pulang lebih awal dari Puskesmas, tempatku bertugas. Kebetulan hari ini pasien yang datang berobat hanya sedikit, maka kuputuskan untuk segera pulang saja begitu waktunya tiba.

Ketika tahu kepulanganku, senyum bahagia kembali mengembang dari bibir isteriku tercinta. Mas sudah pulang, sambut isteriku dengan suaranya yang tulus dan sangat aku kasihi.

Tangan kecilnya menyambut lenganku memasuki rumah kami yang lapang dan tampak rapi berseri. Semerbak wangi bunga melati yang kebetulan mekar di dekat jendela membuat aku semakin memuja wanita ini.

Ah…. Tami-tami, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku baru bisa bersyukur memperoleh isteri yang cantik, baik, pintar sepertimu. Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan bola matamu yang berbinar-binar karena perhatianku ? Betapa bodohnya aku 2 tahun belakangan ini.

Sungguh…aku suami yang teramat bodoh bila tak memperhatikan betapa kau teramat istimewa untukku !. Tami-tami…kali ini aku membathin karena sangat bahagia….

“Mas, aku coba buat pindang ikan paten kesukaanmu lho, tadi aku diajari masak oleh Mak Ijah, itu lho yang tempo hari kuberi buku buat anaknya yang mau masuk SMP itu lho….!” sergap isteriku yang tahu kalau aku lagi memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi…

Hahaha….kali ini kami tertawa…tawa yang sangat membahagiakan !!!

Semoga sepotong cerita diatas dapat memberi manfa’at dan inspirasi bagi semua.

Iklan

Puisi Kupersembahkan buat : Semua Sahabatku para Blogger Desember 5, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , , , , ,
11 comments

Karena Kau Juga Aku Ada

 

Aku tak percaya bisa sampai disini,

Karena ku hanya mencoba membuat goresan kecil,

Yang kadang sempat terselip dihati ini,

 

Terkadang aku hanya membaca cerita,

Terkadang aku hanya mencerna artikelmu,

Beberapa torehan dari sahabatku semua,

Yang terkadang membuat aku jatuh hati,

 Akan torehan & goresan karyamu semua…

 

Karena kau juga aku bisa begini,

Karena kau juga buat aku senang & bahagia,

 

Kutahu terkadang kulalai mengunjungimu,

Ma’afkan atas segala kehilafanku,

Maklumkan atas keterbatasan waktuku,

 

Tapi, agar kau tahu betapa berartinya dirimu,

Takkan kutukar dengan apapun,

 

Susah payah aku merangkai semua kata ini,

 

Karena kau juga aku bisa begini,

Karena kau juga buat aku senang & bahagia

 

Terima kasihku atas persahabatan ini,

Terima kasihku atas tali siraturrahmi ini,

 

Terima kasihku karena “Kita semua bisa sampai disini”,

Untukmu semua kuucapkan,

“Thank you, thank you, thank youuuuuuuu…”

 

 

Kupersembahkan buat :  Semua Sahabatku para Blogger

Puisi Buat Seorang Sahabat Juli 22, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , ,
285 comments

Sahabat,

Hari ini tanggal 1 Mei yang Bahagia bagimu,

Aku berharap dapat membawakan semua kemegahan bunga di bulan Mei untukmu,
Aku berharap dapat mengirimkan sebuah kejutan kebahagiaan untukmu,

Dengan berjuta corak warna

Dengan aneka keharuman bunga di bulan Mei,

Di bulan Mei yang indah ini,

 

Aku berharap,

Aku  dapat menulis sebuah puisi untukmu,

 

 Aku berharap,

Aku bisa melukismu, sebagai seorang Sahabat!

Namun aku tidak akan pernah mampu memberimu,
Karena aku tidak dapat mengekspresikan

perasaan ini,

Di dalam kehadiranmu,
Kau telah membawakan aku kegembiraan,

Kau membawakan aku rasa bahagia yang

tidak pernah berakhir,


Tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan perasaan yang terdalam ini,


Karena hanya akan mengalir di dalam hatiku,
Selamanya …  Selamanya …


Namun pada momen ini,
Aku dengan semua bunga di bulan Mei,
Aku dengan semua cahaya bintang,
Aku, ….diriku,
Pada hari yang indah pada tgl 1 Mei ini,

 

Mengucapkan,

Selamat Ulang Tahun, “Happy Nice Day for You !”

My Best Friend.

 

GORESAN TERCINTA BUAT IBU & AYAH Juni 5, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , , , ,
14 comments

Saat kutengadahkan mukaku ke atas menatap terik mentari,

Saat kutatap gemerlap bintang di kala gelap yang siap mengantarkan mimpi,
Tergores sepasang nama,

Nama yang selalu kuingat dalam benak diri,

 

Saat kupalingkan mukaku ke bawah menatap dinding & lantai,

Tetap tergores sepasang nama,

Nama yang selalu kukenang hingga akhir hayat diri,

 

Saat kulalui hari-hari berganti,

Tetap selalu tergores,

Tetap terukir dalam sanubari ini,
Tetap tertata, tersusun dengan indah,

Sepasang nama yang akan selalu kuteladani,

 

Sepasang nama,

Nama… yang selalu rela berkorban untukku,

Berkorban hingga akhir hayat mereka,

Yang selalu merelakan & mengiklaskan hidupnya,

 

Untuk diriku,

Untuk kebahagianku,

Untuk membimbingku,

Untuk menempah diriku,

Menjadi seorang MANUSIA,

(lebih…)