jump to navigation

MENITI HARAPAN DI LANGIT KEJUJURAN (Part 2) Oktober 18, 2012

Posted by elindasari in Lain-lain, Renungan.
7 comments

“Yok kita kemas-kemas pulang, ambil fotonya sudah bereskan !” ajak suamiku yang sedari tadi mengamati aku dan Ikbal. Tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya ke arah kami bertiga yang sedang mengambil motor yang kami parkir tak jauh dari situ. “Ibu, Bapak, terima kasih banyak yah sepedanya, ma’af anak-anak saya sudah merepotkan !”.

“Saya Mpok Sumi, ibunya Fahri dan Alif”, ujar wanita paruh baya itu sambil memperkenalkan diri. “Ayo, ibu, bapak, mampir sebentar ke rumah saya”. “Rumah saya dekat sini !”, pinta wanita itu lagi kepada kami dengan sopan dan mimik yang sangat berharap, sehingga kami enggan untuk tidak mengabulkan permintaanya. Lalu setelah mengambil “Mio”ku dan “Shogun” suamiku, kami bergegas singgah ke rumah wanita yang kami kenal dengan nama Mpok Sumi ini.

Ternyata mpok Sumi ini adalah seorang penjual nasi uduk dan lontong sayur yang bermodalkan sebuah meja kecil ala kadarnya di teras depan rumahnya yang mungil. Dari jendela kulihat seorang bocah kecil lainnya, yang sedang tertidur pulas di dalam ayunan kain. “Ibu, bapak, kenalkan ini ibu saya “Mbok Ati” dan yang dalam ayunan itu anak saya yang paling kecil “Yusuf” !”, ujar mpok Sumi lagi. “Ini pak, bu silahkan diminum airnya !”. “Mau saya hidangkan nasi uduk ?”, tawar mpok Sumi kepada kami. “Sudah mpok Sumi tidak usah repot-repot, mpok !”, jawabku singkat.
Kulihat putra kecilku dan suamiku mengamati keadaan seputar rumah ini. Sebuah rumah yang sangat sederhana. Tapi meski demikian, saya merasakan kehangatan dan keramahan penghuninya. Fahri dan Alif pun sudah berada di teras depan rumahnya. Ternyata mereka bocah yang baik dan rajin.

Sehabis bermain mereka turun tangan membantu ibu dan nenek mereka. Kecil-kecil sudah bisa meringankan pekerjaan ibunya dengan membawa beberapa nampan gorengan ke meja depan rumah untuk dijual. Hem, ternyata boleh juga kerjasamanya. Mbok Ati membantu menyelesaikan menggoreng gorengan sebagai tambahan jajanan, sambil sesekali menggenyot ayunan kain untuk Yusuf. Sedangkan Alif dan Fahri kembali membawa piring dan gelas kotor ke belakang rumah berikut nampan yang sudah kosong. Mpok Sumi sendiri selesai masak lontong sayur, langsung kembali menjaga dagangannya dan melayani pembeli di teras depan rumahnya.

“Maaf ya pak, bu saya sambi kalau ada yang beli !”, ujar mpok Sumi meminta izin. “Silahkan, mpok !”, jawabku singkat. “Sekali lagi terima kasih yah pak, bu, Ikbal, anak-anak saya sudah merepotkan !”, ulang mpok Sumi lagi kali ini dengan nada yang sedikit terisak. “Iya mpok, sama-sama !”, ulangku lagi untuk menyakinkan kalau kami sekeluarga benar-benar merasa tidak direpotkan.

Sebersit kuamati ada kesedihan di raut muka wanita paruh baya ini. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Mpok Sumi, Mbok Ati, juga dengan Fahri dan Alif, kami jadi tahu kalau ayah dari mereka sudah tidak bisa menafkahi mereka sejak beberapa tahun silam, karena sudah menghadap Sang Pencipta. Ayah Fahri, Alif dan Yusuf sudah tiada sejak Yusuf masih dalam kandungan. (Yusuf sekarang berusia +/-2 tahun).

Mpok Sumi menceritakan kisah duka keluarga ini kepada kami sambil terisak. Suaminya bernama Harun adalah sosok suami yang tekun beribadah, jujur, penuh dedikasi, tanggung jawab, dan tidak pernah melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum. Hanya saja suaminya adalah pegawai kecil bagian gudang dari sebuah perusahaan pelayaran, meski bapak Harun sudah mengabdi selama hampir 20 tahun. Namun sayang, suatu ketika bapak Harun terbawa masalah material gudang. Hasil vonis pengadilan menvonis hukuman penjara selama 5 tahun, karena bapak Harun dituduh melakukan tindakan penggelapan material gudang tempatnya dulu bekerja. Tetapi karena suatu persekongkolan dan fitnah rekan kerja mereka yang lain, malah pak Harunlah yang dijadikan tertuduh.

Sebenarnya bukti-bukti pendukung tidak mengarah ke bapak Harun, tapi karena permainan pengadilan di negeri ini bisa diputar balikan, posisi pak Harun menjadi lemah. Dia harus menanggung tuduhan tersebut hingga dijebloskan ke penjara. Malang tak dapat ditolak, didalam penjara pak Harun menderita sakit TBC yang sangat parah, hanya berselang 9 bulan ajal menjemputnya di rumah tahanan. Tapi setelah 2 bulan pak Harun meninggal dunia, pihak pengadilan memberitahukan ke keluarga bahwa pak Harun dibebaskan dari vonis dengan alasan korban bersih / korban salah tangkap, bapak Harun dinyatakan tidak bersalah, dan mereka berjanji akan membersihan nama baik beliau. Masya ALLAH…

Tapi nasi sudah menjadi bubur, meski vonis pengadilan menyatakan demikian, kenyataannya masyarakat sekitar mereka telah terlanjur meremehkan mereka. Alharhum Pak Harun yang dulunya, sebelum dijebloskan ke penjara dikenal sebagai sosok yang dihormati karena memilki pribadi yang baik, sederhana, penuh integritas sudah terlanjur tercoreng. Sehingga akhirnya mpok Sumi, ibunya dan ketiga anaknya memutuskan mereka harus hijrah dari kota mereka dulu.

Mereka mulai menetap di daerah ini untuk memulai lembaran baru hidup mereka, meski tetap lewat kerabat mereka yang masih peduli dan prihatin atas penderitaan mereka dan mempercayai mereka.

Untuk menghidupi ketiga anak dan ibunya, mpok Sumi harus bangun dini hari untuk berbelanja, menyiapkan semua masakan untuk dagangannya, juga tetap harus menjaga ketika bocah tersebut. Maklum mpok Ati hanya bisa membantu sebatas pekerjaan-pekerjaan kecil saja, karena usianya sudah tua. Aku dapat merasakan getar-getar kerja keras Mpok Sumi buat menghidupi ketiga buah hatinya dan ibunya yang sudah tua. Meskipun dengan modal dan peralatan seadanya, wanita paruh baya ini menempuh kehidupan tanpa rasa kenal lelah. Sungguh aku terharu, sangat terharu dan prihatin atas perjuangan hidup mereka.

“Mpok Sumi, mbok Ati, Fahri, Alif !”. “Kami mohon pamit dulu yah !”, ujar kami bertiga untuk berpamitan. “Kapan-kapan kami singgah lagi untuk makan nasi uduk dan lontong sayur !”, ujar suamiku untuk menghibur agar mpok Sumi tidak lagi bersedih. “Kalau ada waktu main ke rumah Ikbal yah !”, ajak putra kecilku kepada Fahri, Alif dan Yusuf yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.

Dalam perjalanan pulang dari petualangan memotretku kali ini, lagi-lagi aku menemukan pelajaran yang aku nilai sungguh berharga untuk membuka mata hati. Aku sudah bertemu dua sosok wanita “Mpok Sumi dan Mbok Ati “, yang menurut pandanganku sangat tegar, dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini. Mereka tetap berjuang keras agar dapat menghidupi ketiga buah hatinya tanpa kenal lelah, bersama seorang ibunya yang sangat disayanginya. Meski mereka sempat dikucilkan atas perbuatan yang tidak pernah dilakukan almarhum suaminya.

Perjuangan hidup mereka memang keras bagai intan, tapi saya yakin semangat kegigihan mereka untuk mengukir harapan dan terus memperjuangkan hidup dijalan kebenaran tak terpatahkan seperti berlian.

Kejujuran memang awal dari sebuah keindahan, meski terkadang pahit dan menyakitkan. Namun, tidaklah mudah untuk menjadikan kejujuran sebagai pondasi hidup. Mampukah kita jujur pada hati kita sendiri, sebelum kita jujur pada orang lain. Karena kita tidak akan pernah bisa jujur kepada orang lain sebelum kita berani jujur kepada hati kita sendiri.
Percayalah pada akhirnya kejujuran itu akan menuntun kita pada kebajikan.

“Semoga Tuhan selalu membukakan jalan kemudahan bagi mereka !” Amien.

tamat

MENITI HARAPAN DI LANGIT KEJUJURAN (Part 1) Oktober 18, 2012

Posted by elindasari in Lain-lain, Renungan.
add a comment

Untuk melepas kepenatan yang mendera akhir-akhir ini, sengaja pagi ini aku mengajak putra kecilku “Ikbal” yang berusia 5 tahun, berkeliling di area seputar kawasan tempat tinggalku. Meski tempat tinggalku dikawasan perumahan yang terbilang cukup bagus, tapi dilingkungan sekitarnya masih banyak rumah penduduk asli yang masih sederhana dengan area persawahan yang masih lumayan luas. Aku pikir tak ada salahnya kali ini aku mengajaknya serta, mumpung beberapa hari ini sekolahnya libur, jadi Ikbal kecil tidak berangkat ke sekolah. Sedangkan suamiku pagi ini, sepertinya lagi serius menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah berpamitan dengan suamiku, aku dan Ikbal langsung meluncur dengan motor “Mio”ku. Sambil resfreshing, tentu saja aku tetap menyalurkan hobi baruku. Berbekal sebuah camera untuk mengabadikan foto-foto unik yang ada di seputar perumahan dan satu tas punggung ukuran sedang berisikan makanan kecil dan minuman ringan buat kami nikmati. Begitulah aku, selalu saja ada ideku bila aku sedang enggan melukis atau bosan terhadap kesibukan rutinitas kantor yang aku geluti.
Motor mioku kuarahkan menyusuri jalan-jalan dikawasan pinggir kali tak jauh dari tempat tinggal kami. Sengaja aku mengendarai motor“Mio”ku secara perlahan, sambil beberapa kali berhenti sejenak ditempat-tempat yang menurutku bagus untuk dibidik panoramanya karena masih terlihat alami.

Tak berselang lama, tiba-tiba aku tertarik pada sekelompok bocah-bocah kecil yang sedang asyik bermain kereta dorong. Lalu kuputuskan untuk berhenti dan memarkir “Mio”ku tak jauh dari situ. Kusuruh putra kecilku berdiri di beberapa sisi yang kuanggap bagus, dan dalam sekejap tanganku dengan lincah memainkan kamera dan mengambil berbagai objek photo yang ada.

Putra kecilku yang jago bergaya langsung memamerkan beberapa aksinya yang lucu. Lapang rumput yang masih basah karena embun, sekelompok bocah-bocah kecil yang sedang asyik bermain, dan anak ayam tak luput dari bidikanku. Pokoknya bagus, begitulah gumanku seketika aku merasa puas dengan hasil review jepretanku dari camera.
Tapi tiba-tiba keasyikan memotretku terusik oleh isak tangis seorang bocah bertubuh agak bonsor di sudut pohon Akasia. Kudengar isaknya sepertinya tak kunjung berhenti sedari tadi. Karena penasaran aku coba meghampiri bocah itu. “Ada apa dik, mengapa menangis, habis berantem dengan mereka yah ?” tanyaku penasaran dan merasa kasihan melihatnya. Tapi bocah bertubuh bongsor itu hanya menggeleng. Hanya menggeleng, dan tetap menggeleng, meski aku sudah 3 kali menyapanya dengan pertanyaan yang sama. Bibir bocah itu tetap saja membisu.

Tapi aku coba amati, isak tangis bocah ini jadi agak mereda setelah aku bertanya terakhir tadi. Hanya sesekali masih kudengar isaknya. Meski begitu, air matanya tetap saja mengalir, membasahi pipinya yang lumayan bulat. Melihat bocah bongsor tersebut masih sedih, Ikbal, putraku tak kalah sibuk ikut penasaran dan mencoba ikut membujuknya.
“Iyah, sudah jangan nangis yah, aku ada coklat dan permen untuk kamu, tapi kalau saya kasih kamu jangan nangis lagi yah !”, ujar putra kecilku dengan gaya bahasa anak-anaknya yang khas dan terdengar sopan.
Ternyata benar, tak lama berselang setelah bujukan manis Ikbal, bocah berbadan bongsor itu menghentikan isak tangisnya dan mulai menikmati permen dan coklat pemberian putraku. Hahaha, aku mulai tertawa dalam hati dan mengacungkan jempol atas kebaikan tindakan malaikat kecilku yang mujarab. Lalu bocah itu berlari kecil ke sisi lain, sambil tetap melihat teman-teman mereka yang lain yang sedang asyik bermain.

Sengaja kuamati mereka dari agak jauh. Kubiarkan kaki putraku ikut berlarian menyusul bocah berbadan agak bongsor tadi menuju sebuah pohon lain yang lebih rindang, agar dia bisa bersosialisasi dengan mereka. Kulihat bocah-bocah lain yang tengah beristirahat karena kelelahan bermain kereta dorong dan sepeda kecil yang sudah tua. Hati kecilku bergumam “Ah, biarlah putraku kenal dengan anak-anak kampung daerah sini, merasakan kebebasan sebagai bocah kampung yang apa adanya dan dengan mainan seadanya !” lagi-lagi aku bergumam dalam hati.

“Mama, mama, semua permen, coklat dan kuenya aku bagikan untuk teman-teman yah ?”, teriak putra kecilku menghampiri aku yang masih asyik memotret. “Ya, Ikbal makan dan bagi dengan teman-teman semua yah sayang !”, jawabku sebagai tanda setuju.

Kulihat tangan kecil Ikbal dengan lincah membagikan permen, coklat dan kue yang tadi kami bawa, buat teman-teman barunya. Aku tertegung sejenak, hem, lumayan juga disini. Masih lumayan hijau, masih alami. Pohon-pohonnya masih lumayan banyak. Tapi sayang sepertinya penduduk disini kehidupannya kontras sekali dengan keadaan perumahan yang telah berdiri mengepungnya.

Disini masih berdiri bangunan-bangunan sederhana. Kebanyakan bangunan mereka masih berdindingkan setengah bata. Atapnyapun hanya genting dan seng yang sudah dimakan usia. Gaya bangunan tempo dulu. Hanya satu dua saja menurutku cukup lumayan. Masih tampak sangat sederhana.
“Ma, ini Fahri ma !, tiba-tiba putraku menghampiriku dan membuat aku agak terperanjat dari keasyikanku memotret dan sesekali tertegung. “O, namanya Fahri ?”, sapaku kepada bocah yang bertubuh bongsor yang sempat menangis tadi. Ternyata putraku sudah berkenalan dan telah sempat bermain kejar-kejaran dengan Fahri. “Iya, tante, aku Fahri dan dia Alif !”, ujarnya mengenalkan seorang bocah lagi, yang akhirnya kutahu kalau dia (Alif) adalah adiknya Fahri.

“Nah, sekarang kalian berdiri disitu, nanti tante foto !”, pintaku pada Ikbal, Fahri dan Alif. “Satu, dua, tiga, yes !”, ucapku tanda ekspresi mereka sudah bagus. “Rumahmu dimana Fahri”, tanyaku ingin tahu pada bocah ini.

“Disana, yang jualan nasi uduk !”, jawab bocah ini sambil menujukkan sebuah tempat yang berada tak jauh dari situ. “Yang itu yah !”, tanyaku lagi setengah menyakinkan perkiraanku agar tak salah. “Iya, yang dekat pohon rambutan itu !”, ujar bocah ini yang kelihatan mulai riang.
“Tadi kenapa kamu menangis ?”, tanyaku masih penasaran pada bocah ini. “Hemmm…aku nggak dibolehin naik kereta dorong sama temen-temen”. “Fahri dan Alif mau pinjem sepedanya Ipan juga nggak boleh !”, ucap bocah ini polos sambil memainkan ujung baju kaosnya yang mulai kotor karena tanah.
Lalu kupangku putra kecilku yang sudah mulai lelah berlarian di lapang rumput. Sambil mengusap keringatnya aku berkata, “Sayang, sepedamu yang ada stiker Batmannya dirumah masih suka nggak ?”.

“Em, emang kenapa ma ?”, bibir putra kecilku balik bertanya. “Gini, Ikbal kan sudah punya lagi, sepeda United yang baru dari papa dan mama bulan lalu, nah kalau Ikbal sudah tidak pakai lagi sepeda yang ada stiker Batmannya, gimana kalau sepeda itu kita hadiahkan saja ke temanmu !”, aku mencoba memaparkan maksudku dengan hati-hati.

Ternyata diluar dugaanku, putra kecilku langsung setuju. Bahkan dia langsung memberikan ide kalau sepeda miliknya yang berstiker batman, yang kebenaran sudah tidak pernah dipakainya bermain, ke teman pilihannya. “Ma, kalau sepeda Batmanku aku berikan buat Fahri dan Alif, mama boleh nggak ?”, putra kecilku malah balik meminta persetujuanku saat itu juga. “Benar, Ikbal mau kasihkan sepeda Batmannya buat Fahri dan Alif, sayang?”, tanyaku lagi karena aku ingin meyakinkan lagi bahwa itu murni keinginan dari malaikat kecilku.

“Iya, nggak apa-apa Ma, Ikbal sudah punya sepeda United yang baru, sepedaku yang lama aku kasih buat Fahri dan Alif saja, karena mereka pengen banget punya sepeda !”, jawab putraku dengan mimiknya yang polos.
“Ok, kalau begitu mama mau telpon papa supaya papa menyusul kita disini sekalian bawa sepeda stiker Batman untuk Fahri dan Alif, setuju ?”, tanyaku lagi. Lalu tanpa buang waktu, akupun menelpon suamiku untuk menyusul kami disana dan sekalian minta dibawakan sepeda berstiker Batman kepunyaan Ikbal. Akupun tak lupa menceritakan secara singkat maksud dan tujuan putra kecil kami. Ternyata suamikupun setuju dan tertarik untuk datang menyusul.

Tak lama berselang, suamiku datang membawa sepeda stiker Batman yang kami minta. “Nah, ini pesanannya datang !”, ledek suamiku setengah bercanda kepada aku dan putra kecil kami. “Nanti kalau pulang di rumah Mama dan Ikbal pijat papa yah, abis papa pegel nih bawa sepeda pakai motor !”, ledek suamiku yang datang pakai motor “Shogun”nya.
“Beres bos !”, Ikbal kembali ngededek papanya. “Ayo panggil Fahri dan Alif !”, mintaku pada Ikbal. “Fahri, Alif kemari !”, teriak Ikbal sambil berlari kecil kearah mereka yang sedang menggambar di tanah yang rumputnya gundul dengan potongan ranting pohon. Tak lama kedua bocah itu bersama putraku datang ke arahku.

“Fahri, Alif, ini sepeda buat kalian berdua dari Ikbal !”. “Kalian mau menerimanyakan ?”, ucapku pada mereka. “Mau banget tante !”. “Terima kasih tante, Ikbal !” ujar mereka lagi dengan mimik muka yang merah merona karena senang. “Ayo bawa sepedanya, dan ajak teman yang lain untuk bermain bersama yah !”, pesanku pada kedua bocah itu.

(Ah…benar-benar pengalaman yang indah dan membahagiakan karena putra kecilku sudah mau berbagi dan peduli terhadap teman barunya).

bersambung ….

SAODAH (DO’A GADIS KECIL bagian 1) Agustus 5, 2011

Posted by elindasari in Lain-lain, Renungan.
Tags: , , , , ,
4 comments
Saodah do'a gadis kecil

Saodah do'a gadis kecil

Tak terasa Ramadhan sudah menginjak dihari yang ke 25 di tahun 2009 lalu. Hatiku sangat gembira, karena selain sebentar lagi Lebaran, kali ini aku akan dapat merayakannya bersama keluargaku beserta kedua orangtuaku di kota orang tuaku tinggal .

Sengaja malam itu setelah berbuka puasa, kami sekeluarga pergi sholat tarawih di suatu musholla yang terletak agak diujung gang di sebuah perkampungan. Menurut cerita ayahku, dulu ayah dan ibuku sering sholat disini, sebelum akhirnya di komplek perumahan mereka berdiri sebuah masjid yang lumayan megah.

Kondisi musholanya sederhana, bangunannya separuh batu dan papan difinishing dengan cat warna hijau dan putih. Meski musholla ini sedikit kecil, kondisinya bersih dan rapi, jamaah yang sholat disini, Alhamdullilah banyak, sungguh pemandangan yang menggembirakan hati saya.

Ketika memasuki mushola, saya dan ibuku bergegas meletakkan mencari tempat untuk meletakkan peralatan sholat dan membentangkan sejadah. Tapi sayang saya tidak kebagian shaft bersamaan ibuku.

Musholla ini tetap ramai dikunjungi jamaah meski sudah dipenghujung Ramadhan. Akhirnya saya dapat menempati shaft agak belakang dan bersebelahan dengan seorang nenek bersama cucunya yang berumur sekitar 6 tahun. Sambil tersenyum dan sedikit mengeser sejadahnya sang nenek mempersilahkan saya membentangkan sejadah saya. Sang nenek langsung mengenali saya sebagai pendatang baru.

“Jarang sholat tarawih disini nak ?” sapa sang nenek ramah.
“Iyah, nek…saya baru datang dari Jakarta, saya lagi pulang kampung dan akan berlebaran di rumah orangtua saya !”, jawabku tak kalah ramah.
“O..anak orang Jakarta rupanya, pantas nenek tak pernah lihat”, ujar si nenek lagi.

Ternyata obrolan ringan saya dan sang nenek sangat diperhatikan gadis mungil yang sedari tadi tampak mengamatiku. Gadis kecil ini sepertinya mengamatiku dari ujung kaki hingga kepala. Aku hanya tersenyum, dan jujur sedikit ge-er juga rasanya, dipandangi seperti ini.

“Ini cucu nenek ?”, tanya saya.

“Iyah, ini Saodah, cucuku yang paling kecil. Cucuku ada tiga, yang dua lelaki, sudah agak besar, mereka juga sholat didepan. Mak mereka kerja di Malaysia jadi TKI, bapak mereka sudah tidak ada. Aku yang urus mereka disini”, ujar si nenek sambil memasangkan kain panjang yang dipeniti membentuk mukenah di badan dan muka Saodah.

Saodah tampaknya menurut saja sambil sesekali menyeka rambutnya agar sang nenek mudah memasangkan peniti.

“Dah…selesai, langsung duduk yang rapi yah, agar tak gampang lepas mukenanya !” ujar sang nenek menasehati Saodah.

Sang cucu tampaknya langsung menurut. Tapi dari bola matanya yang lugu aku dapat merasakan sedari tadi kalau dia memperhatikan pakaian dan mukena serta sejadah yang kupakai. Seakan ada keinginan terpendam di hatinya.

######

Selesai sholat tarawih kuperhatikan Saodah kecil masih tampak khusu’ berdoa, matanya dipejamkan, dan tangan kecilnya tampak beberapa kali mengusap mukanya. Kudengar suara Saodah kecil berkali-kali mengucapkan kata-kata yang sama. Lalu dia mengakhirinya dengan kata Amien, dan matanya dibukanya perlahan.

Wow…gadis kecil ini khusu’sekali berdo’a !. Aku salut. Meski usianya masih belia, tampaknya sedari sholat tarawih tadi, dia melakukannya dengan khusu’. Benar-benar gadis mungil yang saleha, pujiku dalam hati.

Sambil membenahi sejadahku, kucoba bertanya pada gadis kecil ini, “Saodah, tadi berdo’a apa saja ?”, rasa ingin tahuku tak dapat kutahan.

Saodah menjawab dengan mimik sedikit malu “Tadi aku berdo’a sama ALLAH, supaya Emak nanti sa’at pulang bawa banyak duit buat nenek, kakak dan Saodah. Saodah kepengen nanti kalau emak pulang bisa beliin Saodah mukena bagus kayak tante. Biar kalau Saodah mau sholat nenek nggak usah pasang peniti-peniti lagi !”.

Subhanallah….hatiku langsung terjerebap rasanya mendengar pengakuan gadis kecil ini yang begitu polos. Aku tersenyum, mendengar pengakuannya.
Terima kasih yach Robbi..lewat sentuhan kalimat dari mulut mungilnya…betapa Engkau telah meningatkanku, bahwa dalam keadaan terbatas apapun, kita harus selalu ingat pada MU, menghadap pada MU, meski dengan kain seadanya.

Yah Robbi, ampunkan hamba Mu yang terkadang lalai, menghadap MU dan terkadang tidak disiplin meski begitu banyak nikmat yang telah KAU beri padaku.

Bersambung di bagian 2

Sepenuh HATI pasti sampai ke HATI Juli 29, 2011

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: ,
3 comments
do everything with your heart

do everything with your heart

Sa’at makan siang kemarin saya sempat berbincang dengan seorang sahabat yang juga anggota GNC (Gading Nite Carnival) tentang property-property carnival dan concept-concept carnival. Kebetulan bbrp hari yg lalu sahabatku ini menyempatkan diri utk menyaksikan event tahunan JFC (Jember Fashion Carnaval) dan menceritakan padaku pengalamannya kali ini. Saya tahun ini tidak bisa ikut ke Jember, hem…jadi cukup penasaran akan ceritanya.

Secara tak sengaja saya bertanya, “bagaimana caranya menciptakan sebuah concept carnival, sehingga bisa begitu banyak disukai banyak orang (dalam & luar negeri) ?”.

Sahabat saya pun menjawab, “Oooo, itu pasti butuh inspirasi, dan sesuatu itu harus lahir dari Hati, karena pastinya sampai ke Hati !”. Hati banyak orang maksudnya.

Wowwwww, Terkadang kita terlalu melebih-lebihkan sesuatu agar bisa diresapi orang, atau agar bisa disukai orang.

Dunia yang berhubungan dengan seni memang tidak terbatas, dan sangat mengutamakan perasaan didalamnya.

Jika kita hanya bersandar pada logika dan skill semata, itu bagus, tapi sebenarnya itu tetap kurang, bahkan masih kurang.
Akan lebih mantap jika “EVERYTHING” itu kita lakukan atau ciptakan dari hati kita.

Meskipun terkadang tampak sederhana tetapi itu akan membuahkan hasil yang lebih maksimal. Mungkin sesuatu yang sederhana tetapi itu yang TERBAIK dan dilakukan dengan TULUS itu akan lebih OPTIMAL hasilnya.
So…pendek cerita, tidak cuma di dunia yang berhubungan dengan seni, dalam kehidupan sehari-haripun saya rasa kita perlu melakukan sesuatu yang tulus dari dalam hati kita.

Kita perlu “memberi spirit dalam diri kita sendiri” bahwa yang kita lakukan dari hati kita, dengan sepenuh hati kita dan kita perlu “melakukan”nya dalam setiap activitas kerja kita, karena kita mencintai apa yang kita lakukan, terutama dalam melakukan pekerjaan .

Insya ALLAH apabila kita dengan melakukannya dengan sepenuh hati kita, dengan cinta, maka kita akan menuai hasil yang OPTIMAL, yakinlah ! God with Us, Always !!!

Semoga memberi inspirasi !

Baju Baru Tami ? Desember 8, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
25 comments

Kini aku bertugas sebagai seorang dokter puskesmas di sebuah kecamatan yang lumayan terpencil di Pulau Sumatera. Suasana alam disini jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Daerah disini lumayan subur, sebahagian penduduknya adalah petani teh, kopi dan vanilla. Meski keadaan disini sederhana, tapi kami (aku dan isteriku, Tami) menyukai tempat ini. Disini penuh keramah tamahan, sikap hidup masyarakat yang bergotong royong, suasana kekeluargaannyapun masih kental. Satu sama lain saling mengenal. Makanya ketika aku ditempatkan selama 3 tahun disini kami menyambutnya dengan penuh suka cita.

***

Tapi untuk sejenak kutinggalkan suasana itu untuk berangkat ke Jakarta. Aku akan menghadiri sebuah perlehatan yang lumayan berarti bagi hidupku. Aku akan menerima penghargaan sebagai dokter teladan di Jakarta. Tapi sayangnya, undangan itu hanya berlaku untukku seorang. Aku tak bisa membawa serta Tami, isteriku tercinta. Dan karena keadaan keuangan yang belum menungkinkan, maka Tamipun tak berkeberatan kalau event ini harus kulewatan tanpa dirinya disisiku.

“Aku sudah bangga dan sangat bahagia mas, meski nggak bisa ikut menemanimu kali ini ke Jakarta !”, ucap isteriku mengantarku beberapa hari lalu di terminal bis Tebing Gerinting saat itu.

Baju Baru Tami ?

Baju Baru Tami ?

***

Rasa kangenku yang semula memuncak tiba-tiba menghilang bahkan punah seketika. Dikepalaku muncul rasa kesal dan jengkel. Betapa saya tidak kesal dan gemas, dalam letih sepulang dari perlehatan besar, aku mendapati rumah dalam kondisi kacau balau nggak karuan. Baju kotor masih menumpuk, cucian piring di baskom penuh, mau mandi, bak mandi airnya kosong. Buka serkapan meja, yang ada hanya sambal teri-teri lagi. Halaman rumah bertaburan daun yang berguguran ditiup angin, bahkan ada beberapa kotoran ayam yang belum dibersihkan dan dipel. Sa’at kuketuk pintu rumahku, ternyata Isterikupun tidak ada dirumah. Ah, terpaksa aku masuk rumah dengan kunci serep yang selalu kubawa-bawa.

“Ampun…ampun… Tami, Tami !” , teriakku dalam hati.

***

Tiga hari lau memang saya ke luar kota dalam rangka karena ada perlehatan besar dan sangat mengembirakan hatiku. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk membagi kebahagiaan itu dengan sang isteri tercinta. Akupun bergegas pulang hanya dengan harapan untuk segera menemukan sang isteri tercinta di rumahku. Namun apa yang terjadi ? . Bak mimpi di siang bolong. Kenyataan yang kudapati tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Huh sebel !…

Melihat keadaan seperti ini saya hanya bisa beristigfar sambil mengurut dada.

“Tami-tami, bagaimana saya nggak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini ?”, ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

***

Begitu Tami pulang dengan wajah yang merona karena suka cita, aku menyambutnya dengan wajah yang mulai hambar.

“Tami, isteri yang kudambakan bukan saja harus cantik wajahnya, pintar ngajar mengaji, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur urusan rumah tangga yang mungkin dulu kamu anggap pekerjaan remeh temeh. Tami semestinya mulai belajar masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah, nyapu, ngepel, bla-bla, bla….. ! “, begitulah kata-kataku meluncur bak lokomotif yang penuh bahan bakar dan mengpulkan asap berwarna hitam.

Tami yang semula merona pipinya, tiba-tiba langsung menghilang masuk ke kamar.

Dan belum sempat kata-kataku habis saya mendengar ledakan tangis isteriku yang cantik dari kamar, kedengarannya tangisannya kali begitu pilu.

“Huh huh…perempuan memang gampang sekali untuk menangis !,” batinku berkata dalam hati.

“Sudahlan Tami diam, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri yang baik, tabah, ikhlas, dengan segala kemampuanku ?. Kalau jadi Isteriku itu tidak bolah cengeng !” bujukku sambil memelankan kata-kataku yang semula memang deras mengalir bak air terjun Sugih Waras.

Tetapi setelah saya tahu dan melihat air mata Tami basah tak ubah air sungai Musi yang lagi pasang, aku berbalik memelankan marah dan omelanku.

“Gimana nggak nangis !, Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang saya belum sempat merapikannya mas. Saya beberapa hari ini sedang bantuin ibu camat yang akan ada hajatan, bukannya mas sendiri yang minta tempo hari. Terus sorenya saya harus bantu ngajar ngaji buat anak-anak di langgar, juga seperti yang mas minta. Lagian mas kan janjinya pulang baru lusa. Jadi saya pikir saya masih punya waktu tuk ngebersein semuanya sebelum mas pulang. Eee…kok mas malah bikin kaget pulang lebih awal, dan pulang bawaannya bikin orang bete….marah mulu… !” jawab istriku setengah sewot tapi dengan mimiknya yang tetap manja.

***

Mas, siang nanti antar saya ke rumah mak Ijah yach mau ngantar buku-buku buat anaknya yang mau masuk SMP ya…?” pinta isteriku. Karena paketnya baru saja sampai nih, isteriku coba membujukku untuk mengantarnya pergi.

“Aduh, Mi… saya masih capek dan ngantuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.

“Ya sudah, kalau mas masih capek dan mgantuk, saya pergi sendiri aja, ucap isteriku kalem sambil mengucapkan salam.

###

Entah kenapa sepeninggalan isteriku mengantarkan buku-buku ke rumah mak Ijah, mataku enggan terpejam. Mataku malah tertuju pada sehelai baju yang digantung dipojok kamar dekat lemari kami. Karena rasa penasaran yang begitu besar saya segera bangun dari tempat tidur.

Kuraih baju itu.

Kuamati sehelai baju yang sepertinya baru saja selesai di jahit oleh isteriku. Dan betapa aku terkejut sekali dibuatnya. Karena ternyata baju itu bukanlah baju baru. Aku tahu betul kalau baju itu adalah baju Tami sewaktu dia belum menikah denganku.

Tapi karena baju ini sudah sering dipakai untuk beberapa kali hajatan disini, maka baju itu terlihat sudah tidak menarik lagi.

Tapi bukan itu yang membuatku kaget atau lebih tepatnya bangga kepada isteriku. Berkat kekreatifannya baju yang semula biasa saja dan sudah sering dipakainya itu kini sudah berubah menjadi baju yang istimewa, jika dipakai di acara hajatan nanti, pikirku bertubi-tubi.

Kuperhatikan jahitannya, rapi dan sangat bagus. Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuknya pun dibuatnya jadi elegan, isteriku ternyata tidak saja cantik tapi juga punya daya kreatifitas yang layak diacungi jempol, aku membathin dalam hati sendiri.

Mataku tiba-tiba jadi nanar. Betapa aku merasa diriku selama ini sudah buta. Betapa aku selama ini selalu meremehkan isteriku. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Bahkan aku sejak menikah 2 tahun lalu, tak pernah membelikan segala kesukaannya sewaktu masih gadis dulu. Ah…

Semestinya aku bersyukur kepada Tuhan karena aku telah mendapatkan isteri yang sangat istimewa. Isteriku yang notabene mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi, karier yang lumayan bagus di kota besar, keluarga yang serba berkecukupan, tapi demi aku dia rela meninggalkan semuanya itu. Dia jadi pribadi yang lebih sederhana kini.

Demi menemani pengabdian seorang dokter muda di kecamatan yang lumayan terpencil ini. Dengan penghasilan yang boleh dibilang tidak bisa membuatnya leluasa berbelanja seperti dulu di kota kelahirannya. Aku ingat betul dulu Tami seorang wanita yang modis, senang dengan segala bentuk keindahan. Gaya hidupnya dulu metropolis banget.

“Demi pengabdianku kepadamu mas, aku rela meninggalkan semuanya itu, asalkan kita selalu bersama, mas selalu sayang sama Tami. Hem…itulah kata-kata yang pernah kuingat kala aku mengutarakan keinginanku untuk hidup bersamanya 2 tahun lalu “.

Kini, setelah aku mendapatkannya, aku malah sering mengabaikan kemurahan hati isteriku. Ah…aku benar-benar bodoh, mata hatiku mulai buta. Aku lagi-lagi membathin, mngutuki diriku dalam hati.

Tiba-tiba saja, aku menjadi malu, malu sekali atas kelakukannku yang sering kurang pantas sebagai suami, suami yang baik bagi isteriku. Aku suami yang kurang bersyukur atas karunia Allah, berupa isteri yang sangat baik untukku. Ampuni aku ya Robbi. Aku sungguh menyesal.

Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain !. Sedangkan isteriku tak pernah kuurusi. Aku tak pernah memperhatikannya. Aku hanya pandai mengomentari keburukannya, aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang kadang tak dapat dilakukannya.

Ah…lagi-lagi aku bergumam….mengutuk diriku….

###

Keesokan harinya aku sengaja pulang lebih awal dari Puskesmas, tempatku bertugas. Kebetulan hari ini pasien yang datang berobat hanya sedikit, maka kuputuskan untuk segera pulang saja begitu waktunya tiba.

Ketika tahu kepulanganku, senyum bahagia kembali mengembang dari bibir isteriku tercinta. Mas sudah pulang, sambut isteriku dengan suaranya yang tulus dan sangat aku kasihi.

Tangan kecilnya menyambut lenganku memasuki rumah kami yang lapang dan tampak rapi berseri. Semerbak wangi bunga melati yang kebetulan mekar di dekat jendela membuat aku semakin memuja wanita ini.

Ah…. Tami-tami, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku baru bisa bersyukur memperoleh isteri yang cantik, baik, pintar sepertimu. Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan bola matamu yang berbinar-binar karena perhatianku ? Betapa bodohnya aku 2 tahun belakangan ini.

Sungguh…aku suami yang teramat bodoh bila tak memperhatikan betapa kau teramat istimewa untukku !. Tami-tami…kali ini aku membathin karena sangat bahagia….

“Mas, aku coba buat pindang ikan paten kesukaanmu lho, tadi aku diajari masak oleh Mak Ijah, itu lho yang tempo hari kuberi buku buat anaknya yang mau masuk SMP itu lho….!” sergap isteriku yang tahu kalau aku lagi memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi…

Hahaha….kali ini kami tertawa…tawa yang sangat membahagiakan !!!

Semoga sepotong cerita diatas dapat memberi manfa’at dan inspirasi bagi semua.

CERITA DARI SEORANG SAHABAT Desember 6, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , ,
13 comments

”Hai friend, gimana kabarmu ?, pasti kamu lagi sibuk banget yach ?”, begitulah kurang lebih sapaan seorang sahabatku dari seberang pulau seberang yang menyapaku siang ini ini lewat bbku.

“Friend…aku kirim email, cepetan dibaca !”. “Mudah-mudahan dapat hikmah dari yang gw email itu !”. Dah…selamat beraktivitas lagi yach…jangan lupa ambil hikmah postifnya friend !” “Kudu lho !”.

Begitulah sms singkat yang kudapat siang ini ditengah kesibukanku yang memang sekarang ini sangat padat. Karena pesanaran tentang isi emailnya sayapun buru-buru baca dan tenggelam dalam cerita dari sahabatku ini.

Yuk kita simak bareng yuk, mudah-mudahan para sahabat & pembaca juga mendapatkan hikmah positif juga dari email sahabatku ini.

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah kita lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tahu kapan kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.

Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita ???

cerita dari seorang sahabat

cerita dari seorang sahabat

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu
lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :

“Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar- benar mengherankan!

“Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kota kelahiranku.

Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan
sering melamun sendirian, banyak waktu luang, tapi pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh, ak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol, tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan.

Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan.
Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.

Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan.

Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Ucapkanlah :
“Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah ..”perintah temanku.

Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu.

Keadaan itu membuatku merinding.

Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat !.

Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Aku diam membisu.
Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini.

Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.

Tetapi, tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya …
Suara lagunya terdengar semakin melemah … lemah
dan lemah sekali.

Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.

Tak ada gerak …. keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.

Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening.

Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara.Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).

Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..

Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia.

“Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya
secara lahir batin.

Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati.

Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali
pada kebiasaanku semula. Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu.

Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu, sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah
terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian.

Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu.

Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dengan suara amat lemah.

“Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.

Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu.
Dalam batin aku bergumam sendirian “Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu …apalagi aku sudah punya pengalaman.” aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu.

Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang.

Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.

Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.

Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan. .Sampai di rumah sakit …..Kepada orang-orang di sana ,kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.

Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan.. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada
jenazah.

Semua ingin ikut menyolatinya.

Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya..

Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan.

Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata “memperbaiki diri dan mengajak orang lain ”

Saudaraku, siapa yang tahu kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT.

Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian.

Demikian, cerita dari seorang sahabatku, mudah-mudahan membawa manfa’at & inspirasi bagi kita semua.

ANDA SEPENDAPAT DENGAN SAYA ? November 26, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , ,
14 comments

Terinspirasi dari sebuah kalimat yang ditulis sahabat di facebook beberapa jam lalu yang kira-kira isinya begini :

“Sesungguhnya riya / pamer itu adalah syirik kecil”
Yes, saya sangat setuju dengan kalimat diatas.

Karena dengan era yang semakin modern sekarang ini, mempermudah orang dalam hal apa saja, komunikasi, perjalanan, aneka hiburan, dst deh.Mulai dari kendaraan, harta benda, accessories, hp, dsb deh pokoknya.

Dan terkadang fasilitas fbpun berubah menjadi salah satu ajang utk menaikan image seseorang mulai dari pamer foto, pamer bla,bla,bla, dst…. Yang mungkin tadinya bermaksud positif eit…malah jadi bumerang…. (hahahaha…., ma’af kalau ada yang tidak berkenan dgn kata-kata saya ini).

Pendek kata saya jadi teringat cerita yang penah saya baca bbrp waktu lalu, dan mau saya sharing ke para pembaca dan sahabat-sahabat semua.

Mudah-mudahan setelah membaca cerita ini akan membuka mata, pikiran kita untuk kearah yang lebih baik dan bersikap lebih positif. Amien.

Selamat membaca !!!

ANDA SEPENDAPAT DGN SAYA

ANDA SEPENDAPAT DGN SAYA

Belajar rendah hati dari seorang nelayan

Pada suatu sore yang cerah, seorang cendekiawan ingin menikmati pemandangan laut dengan menyewa sebuah perahu nelayan dari tepi pantai. Setelah harga sewa per jam disepakati, keduanya melaut tidak jauh dari bibir pantai.

Melihat nelayan terus bekerja keras mendayung perahu tanpa banyak bicara, sang cendekiawan bertanya: “Apa bapak pernah belajar ilmu fisika tentang energi angin dan matahari?”

“Tidak” jawab nelayan itu singkat.

Cendekiawan melanjutkan ” Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat peluang kehidupan Bapak”

Nelayan cuma mengangguk-angguk membisu.

“Apa bapak pernah belajar sejarah filsafat?” tanya cendikiawan.

“Belum pernah” jawab nelayan itu singkat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Cendekiawan melanjutkan ” Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat lagi peluang kehidupan Bapak”.

Si Nelayan kembali cuma mengangguk-angguk membisu.

“Apa bapak pernah belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa asing?” tanya cendikiawan.

“Tidak bisa” jawab nelayan itu singkat.

“Aduh, jika demikian bapak total telah kehilangan tigaperempat peluang kehidupan Bapak”

Tiba-tiba… ..
Angin kencang bertiup keras dari tengah laut. Perahu yang mereka tumpangi pun oleng hampir terguling. Dengan tenang Nelayan bertanya kepada cendekiawan.

” Apa bapak pernah belajar berenang?”
Dengan suara gemetar dan muka pucat ketakutan, orang itu menjawab “Tidak pernah”

Nelayanpun memberi komentar dengan percaya diri “Ah, jika demikian, bapak telah kehilangan semua peluang hidup bapak”…… ……… ……… ……… .

Nah, Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas antara lain :

• Jangan meninggikan diri lebih hebat dari orang lain
• Jangan sombong, sebab akan direndahkan Tuhan
• Kita semua memiliki keterbatasan dan memerlukan orang lain.
• Lebih baik kita menjadi pribadi-pribadi yang kaya ilmu tapi rendah hati atau istilah kerennya jadi orang yang low profile dan jadi orang yang kaya tapi dermawan

Sepertinya itulah yang lebih baik kita lakukan,
bukan begitu para pembaca & sahabat ?.

Ok, sekian tulisan saya semoga memberi manfa’at dan inspirasi.

Yuk, Hargai Keahlian Orang Lain !!! September 24, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , ,
14 comments

Yuk... hargai keahlian orang lain !

Yuk... hargai keahlian orang lain !

Berhubung liburan lebaran sudah habis, kini sa’atnya kita memulai kembali aktivitas keseharaian kita lagi…Yes back to basic. Work…Work…Work.

Nah biar aktivitas kita kembali fresh saya akan berbagi sebuah kisah perenungan yang muidah-mudahan bisa diambil hikmah positifnya. So…yang penasaran mari dibaca kisah dibawa ini, yuk !!!

Ada cerita tentang sebuah perusahaan keluarga yang mengalami masalah. Brankas mereka terbakar dan rusak sangat parah dan tidak bisa dibuka.

Masalah ini sangat besar, karena semua dokumen penting serta berharga, benda seperti emas, permata dan seluruh uang simpanan mereka ada di dalam brangkas itu. Totalnya bernilai triliunan rupiah.

Mereka memanggil agen brangkas yang ada di Jakarta, dan sudah seminggu agen ini bekerja dan sudah menelan biaya puluhan juta, tapi sayang karena kerusakan yang sangat parah, brangkas tidak bisa dibuka.

Agen brangkas Jakarta mengusulkan untuk memanggil langsung ahli pembuka brangkas dari kantor pusat mereka di Eropa. Usul ini disetujui. Mereka memanggil ahli brangkas dari Eropa, dll sudah seminggu ahli-ahli ini bekerja dan sudah menelan biaya ratusan juta, tapi karena kerusakan yang sangat parah, brangkas tetap tidak bisa dibuka.

Karena kebutuhan akan isi brankas makin mendesak. Mereka memanggil perusahaan alat-alat berat untuk membongkar paksa saja brankas itu. Alat-alat berat pun berdatangan, sudah seminggu bekerja dan sudah menelan biaya yang lebih besar lagi, tapi karena kerusakan yang sangat parah, brangkas tetap saja tidak bisa dibuka.

Karena kebutuhan akan isi brankas semakin kristis. Mereka memanggil team ahli peledak untuk meledakan saja brankas itu. Team ahli peledak lengkap dengan berbagai jenis peledak pun datang. Sudah seminggu bekerja, tiap jam penuh ledakan, sudah membakar sebagian kantor dan menelan biaya yang sangat amat besar, tapi karena kerusakan yang sangat parah, brangkas ternyata lagi-lagi tetap saja tidak bisa dibuka.

Perusahaan keluarga ini pun putus asa, namun ada seorang konglomerat mereferensikan seseorang kepada keluarga ini, “Pakai dia saja, saya dulu pakai dia dan beres masalahnya”.

Karena kebutuhan akan isi brankas semakin kritis. Merekapun memanggil orang yang direferensikan itu.

Ternyata: “Seorang tua dan seorang anak muda sederhana dan mereka datang dengan mengendarai sepeda motor”.

Lalu terjadilah diskusi antara mereka :
Mereka bertanya kepada Sang Bapak, “Pak berapa biaya membuka brankas ini?”
Sang Bapak menjawab, “Tidak perlu dibayar kalau brankas ini tidak bisa kami buka. Tapi jika bisa terbuka, maka fee nya Rp 20 juta.”

Orang-orang diperusahaan ini berdiskusi di internal mereka, “Murah sekali ya, jauh lebih murah dibanding sebelumnya. Tapi apa mereka bisa? Kita coba sajalah dulu, toh kalau tidak terbuka kita tidak perlu bayar”

Lalu, mereka pun mempersilakan Orang Tua dan Anak Muda ini bekerja. Kedua orang ini membuka tas mereka, mengeluarkan semua perlangkapan mereka dan melakukan beberapa keahlian mereka. Eh ternyata dalam waktu yang tak lama, mereka meneliti brankas itu, di tempelkan telinga mereka di brankas, diputar-putar pembuka brankas dan YES BRANKAS TERBUKA ! Brankas terbuka dalam waktu kurang dari 15 menit saja !

Perusahaan pun gembira dan kaget, lalu mereka melakukan diskusi internal, “Wah sebentar sekali ya, gampang sekali ternyata, wah 20 juta kemahalan tuch, iya orangnya juga sederhana cuma pakai motor, ditawar aja setengahnya !”

Merekapun sepakat untuk menawar, dan terjadilah dialog lagi :

“Wah Pak, cepat sekali, gampang sekali ya… 5 juta saja ya Pak khan gampang sekali !” Sang Bapak menjawab dengan sopan, ” Tidak bisa tetap 20 juta sesuai perjanjian.”

“Khan gampang Pak, 10 juta saja ya..” Mereka terus menerus menawar dengan mengatakan bahwa pekerjaan itu gampang dan biaya 20 jt terlalu tinggi.
Tapi Sang Bapak tetap tidak berubah prinsip.

Karena sudah 1 jam perusahaan mengulur waktu dan terus menawar dengan mengatakan bahwa pekerjaan itu gampang dan biaya 20 jt terlalu tinggi, maka habislah kesabaran Sang Bapak Tua dan Anak Muda itu. (Hem, ternayata mereka tidak memenuhi janji kesepakatan yang sudah DEAL sebelumnya)

Sang Bapak Tua dan Anak Muda lalu berjalan kearah pintu brankas dan terdengar bunyi yang keras BAM !
Pintu brankas mereka banting dan TERKUNCI lagi. Sambil tersenyum merekapun berjalan keluar dan pergi dengan motor meninggalkan orang-orang di perusahaan itu yang melongo kaget.

Nah lho……

Sebagai bahan perenungan:
Terkadang kejadian seperti ini terjadi dalam bisnis kita, keseharian kita dan orang-orang disekitar kita.
Seringkali kita kurang menghargai bahkan tidak mampu menghargai keahlian orang yang benar-benar ahli / professional, yang kerap kali justru menjadi solusi bagi permasalahan strategis yang kita hadapi kita.

Semoga artikel mungil ini bisa bermanfa’at dan memberi inspirasi yang bermanfa’at.

MAKNA ULANG TAHUN BAGIKU April 16, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: ,
9 comments
ulang tahun yang diberkahi

ulang tahun yang diberkahi

Tanggal 10 Mei, aku dilahirkan. Ah, sebentar lagi, tinggal menghitung hari aku akan ulang tahun lagi.

Aku jadi teringat ulang tahunku tahun lalu. Dari jam 12 malam, aku sudah mendapatkan sms ucapan selamat dari suamiku yang sa’at itu kebetulan sedang ada di luar kota.

Begitu Azan Subuh kulihat sejenak HPku, lumayan banyak sms ucapan selamat yang aku terima. Juga ketika pagi aku juga mendapatkan beberapa telpon dari teman-teman yang mengucapkan selamat dan deretan kata-kata bla…bla…bla……. Apalagi sejak menggabungkan diri di FB. Hem sepertinya ucapan itu tak putus-putus pada hari itu. Lengkaplah sudah. Orangtua, saudara, para sahabat, teman-teman, kerabat, rekan kantor, , mereka semua membuatku bahagia.

Sangat bahagia rasanya, punya orang-orang yang mengingat tanggal bersejarah bagi diri kita. So nice, so happy…complete !!!

Apa sih arti ulang tahun bagi seseorang ?.

Sebenarnya kalau mau jujur aku tidak tahu persis. Setiap orang punya hak untuk memaknainya secara berbeda.

Bagiku,
Pertama, ultah berarti hari bahagia, plus sibuk terima ucapan. Silaturahmi yang mungkin sudah tidak terjadi beberapa bulan, akan terajut kembali. Saling memberi kabar mengikuti ucapan.

Kedua, Ulang tahun juga berarti kesempatan berkumpul bersama keluarga. Aku yang biasa loncat sana , loncat sini, mengikuti arus pekerjaan yang beritme padat, menjadi pulang ke sarang lebih cepat dari biasanya. Karena aku pengen berkumpul bersama keluarga. Karena pada hari itu suamiku surprise pulang lebih cepat dari jadwal semestinya…haiyah….lebay, hahaha…

Ketiga, Waktu untuk bermain-main bersama anak-anak. Menemani aktivitas mereka, juga menerima kado kreasi si sulung yang dicobanya untuk dibuatnya sendiri untuk sang Mama.

Pangeran, putra sulungku memberiku gambar dalam komputer (bentuk paint), yang entah kenapa tiba-tiba terdelete olehnya. Mau ditambah-tambahin lagi katanya, ei, malah hilang. But, it’s ok, It’s fine. Karena meskipun akhirnya filenya lenyap, tapi aku sudah pernah mengintipnya sekilas. Gambar seorang wanita yang cantik, dgn atribut lengkap ada sebuah mobil mewah, gedung-gedung tinggi, dan sejumlah kata-kata yang tak sempat terbaca semuanya olehku sa’at itu. Tapi intinya ucapan ulang tahun. “Thank a lot yah Pangeran !”.

Rajib si bungsu, yang berusia 2,5 tahun sa’at itu, tidak memberiku hadiah apapun. Tapi yang jelas dia yang paling heboh kala itu. Dia memberiku kecupan yang sangat special karena semua wajahku diciumi dengan special kissnya dengan suara “muuuuah” nya yang heboh. Dan kata-katanya yang khas masih sepotong-sepotong “Happy Bithday, Mom, I love you (dibantu sang Kakak “Pangeran”)….Hahahaha…ada-ada saja. Sungguh membuatku jadi sangat sentimetil krn begitu bahagia oleh kedua jagoan ku ini.

Makna lain ulang tahun adalah menjadi semakin marvelous, setidaknya bagi diri sendiri. Beberapa teman sebelumnya mengatakan marvelous, yang kemudian membuatku terdiam. Beberapa saat, memikirkan apa makna being marvelous buatku.

Maka bagiku, being marvelous berarti memiliki kekuatan batin untuk berbuat baik terhadap sesama, lebih mengerti daripada dimengerti, berbagi semangat dan antusiasme untuk menjadikan dunia lebih baik, dan akhirnya selalu merasa terberkahi dan bersyukur atas apapun yang terjadi pada diri kita. Yah bagiku hari esok harus lebih baik dan semakin baik dari sebelumnya.

Terberkahi ! Yach Ulang Tahun yang Terberkahi & Diberkahi oleh ALLAH !

Aku menyukai kata ini, selaras dengan apa yang kurasakan akan anugerah dan berkah yang kudapat selama ini. Seringkali aku merasa mendapat miracles, keajaiban-keajaiban kecil yang tiba-tiba datang begitu saja.

Kemudian, membuatku semakin merasa betapa baiknya Tuhan kepadaku. Memberi banyak hal, terus memberi, sementara terkadang aku lupa dan lalai menjalankan kewajibanku padaNya..

Seorang sahabat baik saya dari Batam mengirim sms. Isinya mengingatkanku untuk semakin banyak mengingat NYA mengingat dosa-dosa & kehilafan kita sejalan dengan semakin berkurangnya persedian umur kita.

Aku membalasnya: Sejalan dengan bertambahnya usia, aku ingin semakin banyak bersyukur kepada Tuhan !. Aku tersenyum karena merasa begitu bersyukur terhadap apa yang telah kuperoleh selama ini, berpuluh tahun sudah. Yach biarkan aku selalu tetap merasa terberkahi dan diberkahi olah NYA.

Semoga seiringnya umurku semua langkahku selalu terberkahi dan diberkahi oleh NYA. Amien.

Semoga sepengal ceritaku ini memberikan manfaat dan inspirasi.

Siang Aimee & Potret Penjaja Bunga Februari 24, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , ,
11 comments
Aimee & Gadis Kecil Penjaja Bunga

Aimee & Gadis Kecil Penjaja Bunga

Aimee adalah seorang eksekutif muda di perusahaan yang sedang berkembang pesat. Bagi seorang Aimee waktu begitu berharga. Sampai-sampai untuk waktu istirahat saja, dirinya masih disibukkan dengan beberapa hal.

Pada hari itu sengaja sambil beristirahat siang, sambil menunggu jadwal ketemu seorang clientnya, dia duduk di sebuah kafe terbuka. Tentu saja seorang Aimee tidak akan duduk diam begitu saja. Sambil berinstirahat, jari-jarinya sibuk mengetik di laptopnya sambil sesekali memencet-mencet tombol blackberrynya. Hem, Aimee memang nggak bisa berhenti total, meski menurutnya sekarang dia sedang istirahat siang.

Sa’at itulah, tiba-tiba seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.

”Tante beli bunga dong tante !”, ujar gadis kecil itu dengan lembut ambil menyodorkan beberapa tangkai bunga.

”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar Aimee yang dengan tetap sibuk dengan laptopnya.

”Satu saja Tante, kan bunganya bisa dibawa pulang, masih segar lho tante, cantik lagi kayak tante,” rayu si gadis kecil itu lagi.

Mendengar rayuan gadis kecil itu, muka Aimee jadi memerah, tapi bukan karena pujian yang membuat hatinya senang. Aimee merasa ketenangan & konsentarasinya terganggu oleh gadis kecil penjaja bunga itu.

Dengan setengah kesal dan nada yang mulai meninggi Aimee berkata, ”Adik kecil tidak melihat Tante sedang sibuk ?”

“Kapan-kapan ya kalo Tante butuh, Tante akan beli bunga dari kamu !”.

Mendengar ucapan Aimee yang mulai ketus, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu.

Tak beberapa lama berlalu, setelah Aimee menyelesaikan istirahat siangnya, ia segera beranjak dari kafe itu.

Sa’at dirinya berjalan keluar, Aimee berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya.

”Sudah selesai kerja Tante, sekarang beli bunga ini dong Tante, murah kok satu tangkai hanya dua ribu saja”.

Bercampur antara jengkel dan kasihan Aimee segera mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.

”Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Tante lagi tidak mau bunganya, anggap saja ini tip untuk kamu,” ujar Aimee sambil menyodorkan uangnya kepada si gadis kecil.

Dan dalam sekejap uang tersebut sudah berpindah tangan. Uang dua ribu itu diambil gadis kecil itu. Tetapi bukan untuk disimpannya. Gadis kecil penjaja bunga itu berlari kecil kearah seorang pengemis tua yang sedang berdiri kepanasan di dekat halte tak jauh dari kafe. Gadis kecil itu memberikan uang yang diberikan Aimee barusan kepada pengemis tua itu.

Tentu saja melihat reaksi gadis kecil penjaja bunga itu membuat Aimee, jadi sedikit berang. Aimee mulai keheranan dan sedikit tersinggung dan mulai memanggil gadis kecil itu lagi kepadanya.

“Hei, dik…kemari !”
”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil buat kamu sendiri, malah kamu berikan kepada pengemis itu ?”

Tapi diluar dugaan Aimee, gadis kecil penjaja bunga itu menjawab dengan mimiknya yang tetap lugu dan polos.

”Maaf Tante, saya sudah berjanji dengan mak saya, bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta.

Mak saya berpesan walaupun tidak punya uang saya tidak bolah menjadi pengemis.”

Kali ini Aimee jadi tertegun.
Betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga pada siang hari ini dari seorang gadis kecil penjaja bunga yang jelas-jelas sudah diremehkannya dari tadi.

Aimee tersentak dan dalam hati dia bergumam, bahwa “Bekerja adalah sebuah kehormatan”.
Meski terkadang hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan.

Akhirnya tanpa pikir dua kali Aimee mengeluarkan dompetnya dan membeli 10 tangkai bunga dari gadis kecil itu. Tapi kali ini bukan karena kasihan. Aimee ingin menghargai semangat kerja dan keyakinan gadis kecil yang memberinya pelajaran berharga untuk dirinya hari itu.

Dan tentu saja, kali ini Aimee tersenyum lebar, menyadari kekeliruannya akan sikapnya beberapa waktu tadi.

Kini langkah kaki Aimee berjingkrak dengan semangat, yes “kerja bagiku adalah kehormatan”…bukan lagi sebagai beban….kali ini Aimee melangkah sambil bernyanyi kecil dengan sepuluh tangkai bunga di tangan kanannya.

Yap, begitulah, terkadang tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima.

Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita.
Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri.

Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangan.

Semoga sekelumit cerita diatas bisa bermanfa’at dan memberi inspirasi.