jump to navigation

CITA-CITA Desember 23, 2009

Posted by elindasari in Artikel.
22 comments

Mungkin sebahagian orang berpikir, kalau cita-cita ini hanya milik anak-anak, sudah bukan lagi milik kita sekarang (maksudnya yang sudah jadi orang tua, atau stw…setengah tua, dll)

Sebenarnya itu nggak sepenuhnya benar, meski usia kita mungkin sudah tidak muda lagi, kita masih harus tetap mempunyai cita-cita. Tapi mungkin cita-citanya sedikit berbeda dan mungkin lebih fokus, krn setidaknya kita mulai merasakan asam garamnya dalam kehidupan ini.

Cita-cita

Cita-cita

Pengertian Cita-Cita sendiri menurut saya sbb (terjemahan bebas, sebebas-bebasnya menurut saya….hahaha…) :

Arti cita-cita adalah:
Suatu impian atau harapan seseorang akan masa depannya. Bagi sebagian orang cita-cita itu adalah tujuan hidup, namun bagi sebahagian yang lain cita-cita itu hanyalah khayalan belaka.

Bagi orang yang menganggapnya sebagai tujuan hidupnya maka cita-cita adalah sebuah impian yang dapat membakar semangat untuk terus melangkah maju dengan langkah yang jelas, usaha yang gigih dan mantap dalam kehidupan ini sehingga menjadikannya sebuah “Akselerator Pengembangan Diri”.

“Manusia yang berhenti bercita-cita merupakan Tragedy terbesar dalam hidup manusia, karena tanpa cita-cita orang akan mati”.

Manusia tanpa cita-cita bagaikan seseorang yang sedang tersesat, yang berjalan tanpa tujuan yang jelas sehingga ia bahkan dapat lebih jauh tersesat lagi karena tak tahu arah yang dituju.

Cita-cita dapat saya diibaratkan sebuah Rancangan Bangunan Kehidupan Seseorang.
Bangunan yang tersusun dari: Batu bata keterampilan, Semen ilmu dan Pasir potensi diri.

Bagaimanakah jadinya nanti, jika seseorang yang memiliki beribu-ribu batu bata, berpuluh-puluh karung semen dan berkubik-kubik pasir serta berbagai macam bahan-bahan bangunan yang pendukung lainnya untuk membuat rumah. Tapi dirinya tidak mempunyai rancangan maupun bayangan seperti apakah bentuk rumah itu nantinya.

Dapat saya pastikan, orang itu akan mendapatkan rumah dengan bentuk yang aneh / tidak menarik, gampang roboh atau bahkan kita tidak akan pernah bisa membuat sebuah rumahpun.

Bagi saya Cita-cita bukan hanya terkait dengan sebuah Profesi, namun lebih dari itu Cita-cita adalah “Sebuah Tujuan Hidup”

Kebayakan orang yang mengganggap Cita-cita itu ibarat mimpi atau impian itu sama dengan khayalan atau angan-angan.
Tetapi menurut saya itu tak sama !.
Cita-cita atau impian itu lebih ke arah sesuatu yang dapat digapai, sedangkan khayalan atau lamunan itu lebih ke arah keinginan yang tidak dapat direalisasikan.
Cita-cita yang baik tentu saja adalah cita-cita yang dapat dicapai melalui: “Kerja keras / Usaha yang gigih, Kreativitas yang tinggi, Inovasi tiada henti, Motivasi yang penuh energi, Dukungan orang lain, dan sebagainya”.
Beda 180 derajat dengan Khayalan yang merupakan hasil melamun yang cenderung tidak logis bahkan bersifat mubazir karena banyak waktu yang terbuang untuk yang tidak berguna.
(lebih…)

Iklan

DEMI SEBUAH BONEKA “BARBIE”… Desember 4, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
17 comments
Demi sebuah boneka Barbie

Demi sebuah boneka Barbie

Anak kecil berantem, ah itu mah biasa !. Kakak dengan adik nggak ada yang mau ngalah, itu tambah biasa !. Tapi kalau kakak (juga masih kecil / bocah) mau berkorban dan sayang sekali dengan adiknya, nah ini menurut saya baru luar biasa. Sang kakak patut diacungi jempol. Setuju nggak para pembaca ?.

Ceritanya bermula disini. Hari Minggu, tgl 29 Nopember 2009m lalu, tepatnya hari Raya Idul Adha hari ketiga. Kebetulan saya jadi salah satu panitia seksi acara, “FAIDAH atau FESTIVAL IDUL ADHA”. Tepatnya saya sebagai kakak panitia seksi acara yang bertugas memandu Game dan Kuiz berhadiah. Acaranya sendiri tujuan utamanya adalah “Mengumpulkan anak-anak yatim piatu, berbagi kebahagiaan dengan mereka dalam merayakan Idul Adha / Hari Raya Kurban” bagi umat Islam.

Acara ini dihadiri lebih kurang 200 anak Yatim Piatu yang memang tersebar di sekitar kawasan wilayah yang dikembangkan oleh perusahaan tempatku bekerja. Selain itu turut pula dihadiri oleh keluarga panitia dan tamu-tamu lain yang juga turut kita undang. Total yang hadir mungkin mencapai 400 orang lebih. Alhamdullillah yang hadir ramai, mengingat acara ini kita adakan bertepatan pula dengan long week end.

Acara-acara pada Festival Idul Adha ini bergulir dengan meriah dan disambut antusias oleh anak-anak. Acaranya sendiri dimulai dengan pawai berkeliling sambil mengarak hewan kurban (sapi & kambing) yang diiringi marawis, baca puisi oleh anak, pembacaan dongeng oleh Kak Awang (sang pendongeng yang sudah kondang), ceramah oleh juara pildachil, do’a, dan tentu saja sejumlah games dan kuiz berhadiah.

Wajah-wajah anak-anak ini tampak sangat ceria. Mereka semua saya perhatikan sangat menikmati acara-acara tersebut.

Saya sendiri sangat menikmati peran saya sebagai pemandu game dan kuiz berhadiah.
Karena semua anak yang hadir tampak antusias ketika saya mulai melemparkan kuiz-kuiz berhadiah menarik. Pokoknya seru sekali, dan tentu saya membuat kami semua panitia sangat bahagia melihat kegembiraan mereka ini.

Tapi, tiba-tiba di selah-selah jeda acara berlangsung, tepatnya ketika saya duduk disamping panggung untuk menunggu acara selanjutnya, seorang bocah laki-laki (umurnya 8 tahun, namanya FADIL) menghampiri saya.

Kebetulan semua peserta yang hadir kami beri name tag yang juga disertai usia mereka. Sehingga satu persatu dari mereka dapat kami kenali.

“Kak, kak Bintang, boleh nggak saya tukar hadiah saya ini”, ujar Fadil kepada saya sambil menunjukkan sebuah hadiah Lilin satu set lengkap yang dikemas dalam botol seperti minuman yang unik. Hadiah ini adalah hasil yang dia peroleh dari menjawab kuiz yang saya lemparkan beberapa sa’at yang lalu.

Dalam acara ini, setiap pergantian session acara saya akan mengisinya dengan berbagai kuiz dan game. Anak-anak yang hadir dapat menjawabnya langsung ketika ditunjuk. Jika jawabannya benar maka langsung mendapatkan hadiah yang menarik yang bervariasi dari kakak-kakak panitia.

Hadiahnya terdiri dari: Boneka Barbie berpakain muslim (tiruan), Tempat air Minum Sedang, 1 Set peralatan mewarnai (Pentel), Pensil Warna, Satu set Lilin Mainan dalam tempat yang unik, Pena ajaib yang berwarna 10 macam, Celengan berbentuk Sapi, Gantungan Kunci, dan masih banyak lagi.

Pokoknya hadiah yang kami sediakan memang bikin mereka gemes, senang, dan ingin memilikinya. Dan tentu saja tidak semua anak yang akan mendapatkan hadiah tambahan ini. Jumlahnya +/- ½ dari peserta yang hadir. Jadi hanya yang bisa jawab kuiz dan memenangkan games yang akan memperolehnya. Tentu saja ini hanya bersifat hadiah tambahan.

Kami kakak-kakak panitia sudah menyiapkan bingkisan Tas sekolah yang lengkap dengan berbagai property pendukungnya yang akan mereka bawa pulang oleh setiap anak nantinya.

“Emangnya kenapa Fadil, hadiahnya kok mau ditukar ?”, tanyaku sambil memandang wajah bocah lelaki yang polos itu.

“Iya, kak…sebetulnya saya senang sekali dengan hadiah ini, tapi karena adik saya nangis minta boneka Barbie seperti temannya yang dapat hadiah Barbie, jadi saya mau tukarkan saja hadiah yang saya dapat ini dengan boneka Barbie buat adik saya”, lanjut Fadil mencoba menjelaskan maksudnya menukar hadiah tersebut.

“O, begitu…ok, sekarang Fadil ajak adik Fadil kemari, ke tempat Kak Bintang yach !”, jawabku sambil tersenyum.

Dan dalam sekejap Fadil segera berlalu dari hadapanku.

Sebenarnya bukannya saya bermaksud pelit untuk tidak langsung mengabulkan permintaan Fadil. Hanya saya mengantisipasi agar anak-anak yang lain tidak ikut-ikutan minta hadiah kepadaku, mengingat jumlah hadiah tambahan ini terbatas.

Selain itu saya juga harus mengajarkan mereka sportif / adil, bahwa hanya anak-anak yang dapat memenangkan game dan menjawab kuiz dgn benar yang mendapatkan hadiah tambahan ini. Hahaha…

Tak beberapa lama Fadil datang bersama seorang bocah perempuan mungil yang bernama Ayu, usianya 5 tahun. Ini dapat saya ketahui dari Name Tag yang tercantum di jibabnya.

Wajah bocah perempuan mungil ini tampak manis dengan balutan jibab putih yang sengaja kami pakaikan untuk semua peserta putri yang hadir. Sedangkan untuk anak laki-laki dipakaikan kupluk putih agar kelihatan seragam.

“Kenapa menangis adik manis”, sapaku ramah kepada Ayu.

“Ayu, mau boneka Barbie kak”, jawab Ayu masih terisak dan tetap digandeng sang Kakak Fadil.

“O, begitu, tapi kalau mau boneka Barbie, harus bisa jawab pertanyaan kakak dulu”.
“Bisakan ?”,
jawabku sambil tersenyum dan mencoba membujuknya untuk tidak bersedih.

Tapi Ayu nggak bisa”, jawab Ayu kecil dengan mimik yang lucu.

“Ok, kalau begitu, bacain kakak satu do’a, Ayu bisa nggak”, saya tetap berusaha membujuknya sebelum kuberikan hadiah keinginannya.

“Ayu juga belum bisa kak”, jawab Ayu lagi dengan mimic yang tetap lucu dan lugu.

“Tapi kalau baca Bismillah, Ayu bisakan sayang”, jawabku lagi kepada bocah perempuan ini.

“Bisa”, jawab Ayu kali ini dengan mata yang mulai berbinar.

Sekarang Ayu baca, yach…yuk mulai”, saya segera memberi aba-aba.

“Bis..mil..lah.hir..roh..man..nir..rohim…”, bibir mungil Ayu mengeluarkan suaranya yang masih khas bocah perempuan kecil dengan lancar.

“Alhamdullillah, Ayu sudah baca Bismillah dengan benar, sekarang Ayu boleh pilih salah satu boneka Barbie ini”, ujarku sambil menunjukkan 2 boneka barnie (tiruan) yang dapat dimilikinya.

Ternyata Ayu memilih boneka Barbie (tiruan) yang berjibab dengan rambut panjang berwarna kuning.

“Terima kasih yach kak !”, lanjut bocah perempuan kecil ini, yang sudah tersenyum lebar sambil memeluk boneka barbienya. Lalu Ayu dan Fadil (sang Kakak) mencium tanganku.

“Yach, sama-sama sayang, tapi Fadildan Ayu kembalinya lewat samping saja yach !”, ujarku lagi kepada keduanya sambil tersenyum.

Sa’at mereka berjalan kembali ke tempat mereka semula, kuperhatikan gerak-gerik Fadil yang sempat bergoget senang sambil menggandeng sang adik.
Tampaknya sang Kakak tak kalah senang dan tampaknya sangat gembira karena akhirnya hadiah Lililn satu set yang dia peroleh tidak jadi di barter dengan boneka Barbie yang semula ingin ditukarannya untuk adiknya.

Melihat dan menyaksikan kejadian kecil yang lucu dan unik ini, terus terang sempat menggelitik hati saya. Dalam hati saya bergumam:

Betapa bangganya orangtua mereka (almarhum) jika mereka dapat menyaksikan kebesaran hati seorang kakak (Fadil) terhadap adiknya (Ayu). Meski usia Fadil masih terbilang bocah (masih 8 tahun), tapi dia sudah mengerti arti mengalah, arti berkasih sayang dan mau berkorban untuk sang adik yang disayanginya. Meski untuk hal ini masih dalam kapasitas pengorbanan seorang bocah.

“Subhannallah !”, begitulah bibirku berujar atas kejadian ini.

Ok, sekian dulu ceritaku. Semoga sepenggal cerita saya ini dapat kita bagikan kepada anak-anak kita sebagai salah satu pelajaran yang dapat diteladani.

Semoga bermanfa’at dan memberi inspirasi.