jump to navigation

Sepasang Bocah Itu… Desember 12, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , ,
32 comments

Dua hari lagi pengeran kecilku akan merayakan ulang tahunnya yang ke

delapan.  Saya sudah menjanjikan padanya sebuah pesta kecil dirumahku. 

Tapi meskipun hanya keluarga dan kerabat terdekat yang saya undang,

saya ingin pesta ulang tahun putraku kali ini dapat memberi sesuatu yang

istimewa untuknya. 

Saya sudah merancang kira-kira session acara yang akan kami mainkan

bersama, menu apa yang akan kami santap dan beberapa hadiah kecil

lainnya yang menurutku bisa menambah kebahagiannya.

Untuk mengurangi kerepotanku sengaja untuk beberapa jenis makanan

saya pesan dari restaurant, termasuk kue-kue kecil kesukaan pangeranku

dan suamiku.  Amboi saya sudah membayangkan pesta itu pasti asyik

punya, hehehe….

Lalu, hari yang dinantikanpun tiba.  Taman dan pernak-pernik termasuk

makanan dan kue-kue sudah datang dan ditata rapi oleh pengasuh dan

pembantu rumahku. Beberapa alat bantu permainanpun sudah selesai

disiapakan oleh 3 orang yang akan segera berubah jadi badut untuk

menghibur anak-anak.  Saya juga mulai berdandan beberapa sa’at

sebelum tamu kecil dan tamuku datang.

Kebetulan sore ini tampak cerah, sehingga pesta ulang tahun pengeranku

yang dilangsungkan ditaman belakang rumah berjalan lancar.  Setelah

acara tiup lilin dan pemotongan kue, anak-anak bermain dan

dipandu oleh beberapa orang badut.  

Suasana begitu meriah, tawa canda anak-anak dan sorak-sorai tepuk

tangan dan nyanyian ikut meramaikan susana. Apalagi ditambah suara

tawa anak – anak dan kegembiraan mereka dengan meloncat dan berlari

sa’at melakukan sejumlah permainan untuk memperebutkan sejumlah hadiah. 

Aku bisa merasakan kebahagian di wajah mereka.  Wajah-wajah mereka

begitu ceria, senyum mereka tak henti-henti menghiasi bibir-bibir mereka

yang mungil. Begitu juga pangeran kecilku, beberapa sa’at setelah bermain

bersama teman-temannya yang sengaja kuundang  pada pesta surprisenya

kali ini, membisikkan ditelingaku ”Thanks yach Mom, I love you so much !”,

aku makin bahagia. Suamikupun tak mau kalah ikut memberi kiss kepadaku

di pipi kiri yang semakin membuat aku bahagia diantara kedua lelaki ini,

hehehe..

Tapi, di tengah kegembiraan itu, tanpa sengaja aku menoleh ke halaman

luar lewat lubang-lubang pagar samping rumahku.  Mataku bertumpuh pada

sepasang bocah yang mengintip acara ini.  Tadinya aku tak terlalu

menghiraukan kehadiran mereka.  Tapi ketika terdengar tawa mereka

yang mengikuti serangkaian acara pesta putraku membuat aku penasaran

atas tingkah pola mereka diluar.  Aku segera keluar sebentar meninggalkan

pesta yang sedang berlangsung.  Kulihat sepasang bocah itu berpakaian lusuh

beralasan sendal jepit seadanya. Badan kedua bocah ini cenderung hitam

legam mungkin sering terbakar sinar mentari, begitulah analisaku seketika

atas mereka. 

Melihat kedatanganku secara tiba-tiba, mereka sangat kaget dan menghentikan

seketika aktivitas mereka yang asyik tadi, yakni tengahmengintip

kelangsungan acara pesta ulang tahun pangeran kecilku dari celah-celah

lubang pagar samping rumahku.

Sungguh aku sempat terhenyak melihatnya, aku coba pandangi kembali

wajah mereka yang mungil, senyum mereka yang polos, kemudian pandangan

mereka berubah pucat dan takut akan kehadiran diriku.

Lalu aku menghampiri sepasang bocah itu, sambil sedikit membungkuk aku

menyapanya. “Ayo kemari adik kecil “.  Sepasang bocah itu kelihatannya

makin takut , mungkin mereka merasa bersalah atas tindakan mereka tadi. 

Malah salah satu dari bocah itu sempat membalikkan badannya, mungkin

mengambil ancang-ancang untuk bergegas pergi.

Aku memegang pundak keduanya dan mereka tampak semakin ketakutan.

Salah satu bocah itu sempat berkata,”Ma’af tante kami nggak ngintip lagi

dech, ma’af yach, kami segera pergi dech”, ucap bocah itu seakan amat

bersalah.

(lebih…)

Iklan

SKETSA “MENTARI EMAS” Desember 12, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , , ,
11 comments

sketsa-emas

 

Kusketsa mentari emas yang congkak,

Kokoh berdiri menikam laut,

Meski akan tenggelam di ufuk cakrawala,

Berteman senja nan mulai turun memekat,

Angin seakan mati, lautpun sekonyong terpukau,

Henyak terdiam, hening menyelimuti alam,

Bumi terdiam, sunyi sepi mencekam,

Seakan menunggu keputusan sakral,

Menunggu torehan alam,

Haus tuk melukis sketsa wajah bijaksana,

 

Mentari emas,

Aku tak habis mengerti,

Mengapa jerit hati mereka seakan tak bersuara,

Ratap jiwa mereka sekan lenyap di telan dahaga,

Dirundung gemuruh gundah gulana tak terperih,

 

Ratap hatiku coba mengetuk dirimu,

Jelmaan manusia mentari emas,

Mungkin lewat segumal nyanyian,

Aku dapat menyusup kalbumu,

 

Ku susun huruf, kurangkai kata,

Sekedar menguak jendela hatimu,

Jendela hati kita semua yang mungkin bisa terbuka,

 

Tuk sekedar mendengar keluh mereka,

Jeritan kecil, manusia-manusia kecil nan renta,

Berwajah kusut masai kala terpanggang getir,

Tinggal di kaki langit, disela pilar rumput yang semakin menghimpit,

Digerus zaman yang mulai tak banyak tuan,

Dikurung berjuta mata yang menatap hilang dan hampa,

 

Tuhan,

Kuserahkan jiwa raga mereka lewat titah-Mu,

Tuk merubah hitam putih potret kelam tanah ini,

Tuk mengobati pertiwi dan selaksa jiwa manusia,

Yang mulai kerdil menikam tak berhati,

Mulai congkak bersinar bak Mentari Emas nan panas,

 

Tuhan,

Dengar do’a kami,

Arahkan mata hati mereka,

Yang bermain di  perlehatan negeri ini,

Agar mereka tak selalu tutup mata,

Yang tak mampu mendengar jerit hati perih mereka,

Yang terkalahkan karena keadaan & kondisi,

Yang terabai oleh waktu yang tergerus zaman,

Yang selalu memerah luka, tersiksa kefakiran,

 Karena jejak dibakar sketsa “Mentari Emas”

The Girls of Riyadh Desember 11, 2008

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , , , , , , ,
12 comments

the-girls-of-riyadh

 

Hem, akhirnya setelah beberapa hari, saya dapat menyelesaikan juga

bacaan yang satu ini.  Sebenarnya berawal hanya penasaran dengan cover /

sampul mukanya yang di stempel beberapa kata yang menghebohkan

“ dilarang beredar di Arab Saudi”, sehingga saya malah tergelitik untuk

melahap buku ini. (Ah, malah karena embel-embel ini justru membuat

saya jadi penasaran apa isinya…begitulah gumam saya ketika melirik

buku ini dan dalam sekejap saja sudah larut besama buku ini).

 

Kisah yang ditulis oleh “Rajaa Al  Sanea” yang lahir dan besar di Riyadh,

Saudi Arabia yang kini berusia 25 tahun, dan merupakan salah satu lulusan

dari King Saud University. Dia telah menyandang gelar dokter gigi.

Di buku yang dia tulis ini, dia mengisahkan tentang email empat orang

gadis Saudi Arabia yang menghebohkan. Saking hebohnya buku ini

dilarang beredar di tanah kelahirannya.

 

Isi buku ini dianggap frontal disana.  Tapi malah laris di pasar gelap.

Di dalam buku ini mengupas mengenai liku-liku riwayat para sahabatnya. 

Yach, boleh dibilang buku ini mungkin buku pertama yang menampilkan

secara utuh dunia sebenarnya untuk gadis-gadis Saudi Arabia masa kini.

  (lebih…)

M E N G E L U H Desember 10, 2008

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , , , ,
10 comments

dont-worry-be-happy

     

 

Aha…pagi-pagi ketika saya baru saja tiba di kantor rekan

sekerjaku udah mulai berita paginya….yup liputan 8 pagi dimulai….

(hehehe…curhat sekaligus mengeluhkan masalah pekerjaannya). 

Dia mulai merepet & ngomel-ngomel tentang pekerjaannya kemarin,

yang belum selesai dan gara-gara pekerjaan yang direvisi terus-terusan

itu rekanku menderita penyakit Be Te, Bad Mood etc….

 

Wajahnya ditekuk, mulutnya sekonyong-konyong maju beberapa

senti kedepan, keningnya berkerut dan rambutnya seakan berdiri semua,

karena kepalanya mulai pening.  Bahkan yang lebih parah saya mulai

berhalusianasi kalau di kepala rekanku ini mulai tumbuh tanduk

di  kedua sisinya, bahkan yang lebih parah di sekelilingnya mulai muncul

asap laksana locomotif jaman bahelak (lokomotif berbahan bakar

batubara), hehehe…(Ma’af…)

 

Itulah gambaran rekanku yang sedang kesal karena ulah atasannya yang

seenak udelnya merevisi pekerjaan yang seharusnya udah final

dari beberapa hari sebelumnya.

 

Nah, lalu apa kaitan semua ini dengan saya ?. Apa dosa saya, hehehe

(lebih…)

AKU & DIRIMU Desember 9, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , ,
4 comments

Jauh sudah jalan berliku yang telah kita tempuh,

Demi hidup kita, cintaku & cintamu, cinta kita,

 

Tapi, terkadang, masih saja diriku,

Dilumuri seluruh resah di dalam hatiku,

 

Kadang kubenci diriku sendiri,  

Aku tak bisa menerima dirimu seutuhnya,

Tapi harus kukatakan jujur padamu,

Jika aku selalu merindukan dirimu,

 

Dalam angganku,

Tetap ada bayang wajahmu,

Terlukis, terpatri di dinding hatiku yang merona,

 

Sungguh,

Hanya Kau dalam hatiku,

Hanya Engkau dalam jiwaku,

 

Jujur kukatakan,

Meski harus kuakui,

Kau bukanlah yang pertama,

Yang pernah hadir di kalbuku,

 

Tapi  kini,

Dengarlah dengan segenap jiwa & ragamu,

 

Yang aku mau,

Hanya Aku & Dirimu,

Bisa berdua,

Aku & Dirimu

Selamanya Aku & Dirimu !

SOK Vs PENGERTIAN & EMPATI Desember 5, 2008

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , , , , , ,
6 comments

empati1

“S O K”  Vs PENGERTIAN & EMPATI

Dalam satu session training untuk mengembangkan “Emotion Quality”,

salah satu trainer melontarkan sebuah cerita dan meminta

beberapa orang peserta training untuk kembali melontarkan

 jawaban dan ekspresi mereka.

Kebetulan kami yang peserta wanita duduk bersebelahan secara

selang seling dengan peserta training pria, dalam beberapa

kelompok-kelompok kecil yang sudah dibagi sesuai topic

bahasan training pagi ini.

Nah, para pembaca ada yang penasaran tentang cerita / kasus

yang akan bersari pati tentang “PENGERTIAN & EMPATI” yang

bertentangan dengan “S O K” , kali ini, yuk disimak kulasannya berikut ini.

Trainer tersebut menceritakan sebuah cerita / kasus, kami

diminta untuk menyimak cerita tersebut dengan seksama dan

setelah itu sang trainer mengajukan jawaban & ekspresi dari

kami secara bergantian / bergiliran.

Trainer :
“Suatu pagi Anda sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan

suami / isteri Anda, tiba-tiba telepon berdering, anak Anda

menangis, dan roti bakar jadi hangus. Lalu suami / isteri

Anda berkomentar, “Kapan kamu akan belajar memanggang

roti tanpa ,menghanguskannya ?“ .

Nah, sekarang saya coba untuk minta jawaban ,

“ Kira-kira, bagaimana reaksi Anda ?”
(“Mohon diutarakan secara spontan & jujur”,

ujar trainer lagi sebelum meminta kami para peserta

untuk menjawab).

Peserta training A : “Mungkin saya akan langsung melemparkan

roti hangus itu ke mukanya !”

Trainer : “Ok, terima kasih, bagaimana bila ini terjadi

pada anda ?”, trainer mencoba peserta training B

Peserta training B : “Saya akan katakan padanya,

Makanya Bangun lebih pagi, dan kamu bakar sendiri rotinya !” .

Trainer : “Ok, terima kasih peserta training B, coba saya minta

jawaban & ekspresi dari peserta training satu lagi.

Nah, bagaimana bila ini terjadi pada anda ?”, trainer mencoba

peserta training C

Peserta training C : “Saya rasa saya akan menangis”

Trainer : “Ok, terima kasih, semuanya, ternyata jawaban &

ekspresinya beragam yach !”

Lalu, sang trainer melanjutkan lagi, “Sekarang bagaimana

perasaan Anda terhadap suami /isteri Anda ?”

Eit, tanpa dikomando semua peserta training menjawab ,

“Saya Marah, saya benci, saya merasa dianiaya, sebel,

kesel, kecewa, dll”.
(Wah-wah, ternyata semua kosa kata nggak enak diucapkan

disini, dan nyaris sama isinya).

Trainer : “Ok-ok, terima kasih, semuanya telah menungkapkan

perasaan & eksperesinya disini !”

Kemudian sang trainer melanjutkan lagi, “Mudahkah bagi Anda

semua untuk menyiapkan roti bakar lagi pagi itu?”

Semua Peserta Training : “Tentu saja tidak”

Trainer : “Jika suami / isteri Anda pergi bekerja, akan mudahkah

bagi Anda untuk membereskan rumah dan belanja kebutuhan

sehari-hari dengan lapang dada ?”, atau bagi yang sama-sama

bekerja atau punya kesibukkan lain di luar rumah, “Apakah anda

akan senang untuk membantu menyelesaikan aktivitas rutin anda

sepanjang hari itu setelah kejadian pagi tadi menimpa anda ?”.

(lebih…)

Puisi Kupersembahkan buat : Semua Sahabatku para Blogger Desember 5, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , , , , ,
11 comments

Karena Kau Juga Aku Ada

 

Aku tak percaya bisa sampai disini,

Karena ku hanya mencoba membuat goresan kecil,

Yang kadang sempat terselip dihati ini,

 

Terkadang aku hanya membaca cerita,

Terkadang aku hanya mencerna artikelmu,

Beberapa torehan dari sahabatku semua,

Yang terkadang membuat aku jatuh hati,

 Akan torehan & goresan karyamu semua…

 

Karena kau juga aku bisa begini,

Karena kau juga buat aku senang & bahagia,

 

Kutahu terkadang kulalai mengunjungimu,

Ma’afkan atas segala kehilafanku,

Maklumkan atas keterbatasan waktuku,

 

Tapi, agar kau tahu betapa berartinya dirimu,

Takkan kutukar dengan apapun,

 

Susah payah aku merangkai semua kata ini,

 

Karena kau juga aku bisa begini,

Karena kau juga buat aku senang & bahagia

 

Terima kasihku atas persahabatan ini,

Terima kasihku atas tali siraturrahmi ini,

 

Terima kasihku karena “Kita semua bisa sampai disini”,

Untukmu semua kuucapkan,

“Thank you, thank you, thank youuuuuuuu…”

 

 

Kupersembahkan buat :  Semua Sahabatku para Blogger