jump to navigation

SKETSA “MENTARI EMAS” Desember 12, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , , ,
11 comments

sketsa-emas

 

Kusketsa mentari emas yang congkak,

Kokoh berdiri menikam laut,

Meski akan tenggelam di ufuk cakrawala,

Berteman senja nan mulai turun memekat,

Angin seakan mati, lautpun sekonyong terpukau,

Henyak terdiam, hening menyelimuti alam,

Bumi terdiam, sunyi sepi mencekam,

Seakan menunggu keputusan sakral,

Menunggu torehan alam,

Haus tuk melukis sketsa wajah bijaksana,

 

Mentari emas,

Aku tak habis mengerti,

Mengapa jerit hati mereka seakan tak bersuara,

Ratap jiwa mereka sekan lenyap di telan dahaga,

Dirundung gemuruh gundah gulana tak terperih,

 

Ratap hatiku coba mengetuk dirimu,

Jelmaan manusia mentari emas,

Mungkin lewat segumal nyanyian,

Aku dapat menyusup kalbumu,

 

Ku susun huruf, kurangkai kata,

Sekedar menguak jendela hatimu,

Jendela hati kita semua yang mungkin bisa terbuka,

 

Tuk sekedar mendengar keluh mereka,

Jeritan kecil, manusia-manusia kecil nan renta,

Berwajah kusut masai kala terpanggang getir,

Tinggal di kaki langit, disela pilar rumput yang semakin menghimpit,

Digerus zaman yang mulai tak banyak tuan,

Dikurung berjuta mata yang menatap hilang dan hampa,

 

Tuhan,

Kuserahkan jiwa raga mereka lewat titah-Mu,

Tuk merubah hitam putih potret kelam tanah ini,

Tuk mengobati pertiwi dan selaksa jiwa manusia,

Yang mulai kerdil menikam tak berhati,

Mulai congkak bersinar bak Mentari Emas nan panas,

 

Tuhan,

Dengar do’a kami,

Arahkan mata hati mereka,

Yang bermain di  perlehatan negeri ini,

Agar mereka tak selalu tutup mata,

Yang tak mampu mendengar jerit hati perih mereka,

Yang terkalahkan karena keadaan & kondisi,

Yang terabai oleh waktu yang tergerus zaman,

Yang selalu memerah luka, tersiksa kefakiran,

 Karena jejak dibakar sketsa “Mentari Emas”

Iklan

Memberi di Tengah Kesulitan Juni 5, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
5 comments

“Ah, lagi-lagi kebijakkan pemerintah membuat rakyat semakin terhimpit. Semakin buat rakyat makin miskin, makin susah untuk hidup layak !”, gumamku pagi ini ketika aku membaca headline koran yang biasa diletakkan pembantuku di meja makan, untuk menenami aku sarapan.

Mulai berita demo, sampai berita rintihan rakyat kecil yang semakin tertindih beban berat akibat kenaikan BBM baru-baru ini. Wow bikin pusing kepala !

“Ah, daripada pusing, lebih baik aku ke pasar tradisional dekat rumahku !”. Ya..hitung-hitung aku bisa dapat belanjaan lebih murah & lumayan untuk berhemat di tengah krisis yang mulai mendera dimana-mana.

(lebih…)

GORESAN TERCINTA BUAT IBU & AYAH Juni 5, 2008

Posted by elindasari in puisi.
Tags: , , , , , ,
14 comments

Saat kutengadahkan mukaku ke atas menatap terik mentari,

Saat kutatap gemerlap bintang di kala gelap yang siap mengantarkan mimpi,
Tergores sepasang nama,

Nama yang selalu kuingat dalam benak diri,

 

Saat kupalingkan mukaku ke bawah menatap dinding & lantai,

Tetap tergores sepasang nama,

Nama yang selalu kukenang hingga akhir hayat diri,

 

Saat kulalui hari-hari berganti,

Tetap selalu tergores,

Tetap terukir dalam sanubari ini,
Tetap tertata, tersusun dengan indah,

Sepasang nama yang akan selalu kuteladani,

 

Sepasang nama,

Nama… yang selalu rela berkorban untukku,

Berkorban hingga akhir hayat mereka,

Yang selalu merelakan & mengiklaskan hidupnya,

 

Untuk diriku,

Untuk kebahagianku,

Untuk membimbingku,

Untuk menempah diriku,

Menjadi seorang MANUSIA,

(lebih…)