jump to navigation

CERITA DARI SEORANG SAHABAT Desember 6, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , ,
trackback

”Hai friend, gimana kabarmu ?, pasti kamu lagi sibuk banget yach ?”, begitulah kurang lebih sapaan seorang sahabatku dari seberang pulau seberang yang menyapaku siang ini ini lewat bbku.

“Friend…aku kirim email, cepetan dibaca !”. “Mudah-mudahan dapat hikmah dari yang gw email itu !”. Dah…selamat beraktivitas lagi yach…jangan lupa ambil hikmah postifnya friend !” “Kudu lho !”.

Begitulah sms singkat yang kudapat siang ini ditengah kesibukanku yang memang sekarang ini sangat padat. Karena pesanaran tentang isi emailnya sayapun buru-buru baca dan tenggelam dalam cerita dari sahabatku ini.

Yuk kita simak bareng yuk, mudah-mudahan para sahabat & pembaca juga mendapatkan hikmah positif juga dari email sahabatku ini.

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah kita lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tahu kapan kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.

Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita ???

cerita dari seorang sahabat

cerita dari seorang sahabat

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu
lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :

“Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar- benar mengherankan!

“Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kota kelahiranku.

Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan
sering melamun sendirian, banyak waktu luang, tapi pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh, ak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol, tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan.

Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan.
Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.

Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan.

Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Ucapkanlah :
“Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah ..”perintah temanku.

Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu.

Keadaan itu membuatku merinding.

Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat !.

Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Aku diam membisu.
Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini.

Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.

Tetapi, tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya …
Suara lagunya terdengar semakin melemah … lemah
dan lemah sekali.

Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.

Tak ada gerak …. keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.

Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening.

Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara.Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).

Ia berkata “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..

Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia.

“Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya
secara lahir batin.

Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati.

Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali
pada kebiasaanku semula. Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu.

Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu, sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah
terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian.

Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu.

Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dengan suara amat lemah.

“Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.

Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu.
Dalam batin aku bergumam sendirian “Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu …apalagi aku sudah punya pengalaman.” aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu.

Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang.

Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.

Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.

Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan. .Sampai di rumah sakit …..Kepada orang-orang di sana ,kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.

Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan.. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada
jenazah.

Semua ingin ikut menyolatinya.

Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya..

Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan.

Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata “memperbaiki diri dan mengajak orang lain ”

Saudaraku, siapa yang tahu kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT.

Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian.

Demikian, cerita dari seorang sahabatku, mudah-mudahan membawa manfa’at & inspirasi bagi kita semua.

Komentar»

1. edratna - Desember 6, 2010

Ceritamu membuat merinding Linda..

Saya teringat cerita temanku.
Setiap tahun, di kantorku ada aturan bahwa pejabat setingkat senior manager harus melakukan General Medical Check up. Saat itu baru saja selesai cek kesehatan jantung di suatu rumah sakit, ada beberapa teman duduk di sofa sambil menunggu giliran berikutnya. Salah satu teman, yang saat itu usianya menjelang 50 tahun sambil kipas-kipas berkata…”Pran, gimana ya rasanya kita kalau pensiun?” Baru saja selesai bicara, dia tergeletak..semua panik memanggil dokter dan perawat, tapi teman ku memegang ibu jari kakinya dan menuntunnya untuk membaca….”Laa illa ha illallah….” teman yang pingsan sadar bibirnya bergetar mengikuti membaca…langsung pingsan lagi, terus koma tanpa sadar sampai ajal menjelang.

2. elindasari - Desember 6, 2010

Wah bun, cerita bunda Ratna juga buat saya merinding, betapa manusia itu harus terus mengingat hal ini, agar kita selalu berlaku baik selama kita hidup ya bun🙂 Krn Dia lah yg Maha mengatur segalanya🙂

Best regard,
Bintang

3. pututik - Desember 6, 2010

subhanallah, saya merinding membaca kisah ini, semoga sang pemuda yang dermawan itu mendapatkan kebaikan di sisi Alloh aza wa zala. hidup memang tidak ada yang tahu sampai kapan dan matipun tak ada yang tahu kapan kan tiba.

4. tutinonka - Desember 7, 2010

Manusia memang aneh. Kematian adalah hal yang pasti, tapi kita seringkali tidak memikirkannya, apalagi bersiap menghadapinya. Kita seringkali merasa masih muda, masih sehat, sehingga masih jauh dari kematian. Padahal kematian bisa datang setiap saat …

Semoga kita (saya terutama, mengingatkan diri sendiri yang sudah menginjak uzur ini … ) dapat menyiapkan diri untuk menerima panggilanNya …

5. kangazzet - Desember 10, 2010

Hmm… terima kasih banyak, Bunda, ceritanya sungguh bisa menginspirasi….

6. Watch Shameless - Februari 26, 2011

Cerita yang menarik banget,,,
terus berkarya

7. Ully' Nordiansyah - Maret 1, 2011

Alhamdulillah ! hari ini Q dapatkan lagi ilmu baru, dan mendapatkan kekuatan iman yg luar biasa besar dalam diriQ melalui cerita kejadian ini sampai-sampai hati dan ragaQ tersexum… sungguh manis dan nikmatnya iman ini….

Bunda, Trimakasih yah..🙂

8. giewahyudi - Maret 1, 2011

Iya, setiap yang hidup memang harus ingat yang satu ini, agar tahu kemana akan kembali…

9. Watch Rules Of Enagement - Maret 8, 2011

Ceritanya unik dan menarik banget..!

10. Watch Archer Fx - Maret 14, 2011

Ceritanya membuat ane masuk kedalam kejadiannya, mantab gan..!

11. guspianti - Maret 26, 2011

aku mau follow blog ini tapi caranya gimana ya…???
aku baru punya blog di wordpress…
ayamcungkring.wordpress.com
kisah ini mengharukan…
saya suka tulisannya mbak…
mengingatkan saya kepada seorang sahabat terbaik sedunia, yang kini juga sudah tiada…
sejak itu saya jadi berfikir bahwa kematian itu dekat..

12. guspianti - Maret 26, 2011

aku mau follow blog ini tapi caranya gimana ya…???
aku baru punya blog di wordpress…
ayamcungkring.wordpress.com
kisah ini luar biasa…
saya suka tulisannya mbak…
mengingatkan saya pada seorang sahabat terbaik sedunia, yang kini juga sudah tiada…
sejak itu saya jadi berfikir bahwa kematian itu dekat..

13. Capt.Yosh - Mei 11, 2011

Allahu Akbar…
Sebuah kisah yang benar-benar membuat saya menangis saat membacanya.Begitu menyentuh kalbu dan menggetarkan jiwa
Terima Kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: