jump to navigation

ANDA SEPENDAPAT DENGAN SAYA ? November 26, 2010

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , ,
trackback

Terinspirasi dari sebuah kalimat yang ditulis sahabat di facebook beberapa jam lalu yang kira-kira isinya begini :

“Sesungguhnya riya / pamer itu adalah syirik kecil”
Yes, saya sangat setuju dengan kalimat diatas.

Karena dengan era yang semakin modern sekarang ini, mempermudah orang dalam hal apa saja, komunikasi, perjalanan, aneka hiburan, dst deh.Mulai dari kendaraan, harta benda, accessories, hp, dsb deh pokoknya.

Dan terkadang fasilitas fbpun berubah menjadi salah satu ajang utk menaikan image seseorang mulai dari pamer foto, pamer bla,bla,bla, dst…. Yang mungkin tadinya bermaksud positif eit…malah jadi bumerang…. (hahahaha…., ma’af kalau ada yang tidak berkenan dgn kata-kata saya ini).

Pendek kata saya jadi teringat cerita yang penah saya baca bbrp waktu lalu, dan mau saya sharing ke para pembaca dan sahabat-sahabat semua.

Mudah-mudahan setelah membaca cerita ini akan membuka mata, pikiran kita untuk kearah yang lebih baik dan bersikap lebih positif. Amien.

Selamat membaca !!!

ANDA SEPENDAPAT DGN SAYA

ANDA SEPENDAPAT DGN SAYA

Belajar rendah hati dari seorang nelayan

Pada suatu sore yang cerah, seorang cendekiawan ingin menikmati pemandangan laut dengan menyewa sebuah perahu nelayan dari tepi pantai. Setelah harga sewa per jam disepakati, keduanya melaut tidak jauh dari bibir pantai.

Melihat nelayan terus bekerja keras mendayung perahu tanpa banyak bicara, sang cendekiawan bertanya: “Apa bapak pernah belajar ilmu fisika tentang energi angin dan matahari?”

“Tidak” jawab nelayan itu singkat.

Cendekiawan melanjutkan ” Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat peluang kehidupan Bapak”

Nelayan cuma mengangguk-angguk membisu.

“Apa bapak pernah belajar sejarah filsafat?” tanya cendikiawan.

“Belum pernah” jawab nelayan itu singkat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Cendekiawan melanjutkan ” Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat lagi peluang kehidupan Bapak”.

Si Nelayan kembali cuma mengangguk-angguk membisu.

“Apa bapak pernah belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa asing?” tanya cendikiawan.

“Tidak bisa” jawab nelayan itu singkat.

“Aduh, jika demikian bapak total telah kehilangan tigaperempat peluang kehidupan Bapak”

Tiba-tiba… ..
Angin kencang bertiup keras dari tengah laut. Perahu yang mereka tumpangi pun oleng hampir terguling. Dengan tenang Nelayan bertanya kepada cendekiawan.

” Apa bapak pernah belajar berenang?”
Dengan suara gemetar dan muka pucat ketakutan, orang itu menjawab “Tidak pernah”

Nelayanpun memberi komentar dengan percaya diri “Ah, jika demikian, bapak telah kehilangan semua peluang hidup bapak”…… ……… ……… ……… .

Nah, Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas antara lain :

• Jangan meninggikan diri lebih hebat dari orang lain
• Jangan sombong, sebab akan direndahkan Tuhan
• Kita semua memiliki keterbatasan dan memerlukan orang lain.
• Lebih baik kita menjadi pribadi-pribadi yang kaya ilmu tapi rendah hati atau istilah kerennya jadi orang yang low profile dan jadi orang yang kaya tapi dermawan

Sepertinya itulah yang lebih baik kita lakukan,
bukan begitu para pembaca & sahabat ?.

Ok, sekian tulisan saya semoga memberi manfa’at dan inspirasi.

Iklan

Komentar»

1. MENONE - November 26, 2010

waaaaaaahhhh ceritanya mantaaaaaaaaaaapppppppp…………..bnr juga byk to hikmahnya sobat……………..

2. Ikkyu_san - November 27, 2010

ya, memang sudah selayaknya memantau tindakan kita agar tidak menjadi pamer.

tapi aku ingin tanya apa maksud dengan pamer foto?
Ada beberapa foto yang memang pernah membuatku berpikir, “Aduh ini orang tajir bener, tiap hari makan di restoran mulu, sering-sering ke luar negeri. Kaya bener ya….”
Mungkin maksudnya dia bukan begitu tapi pada kenyataannya seperti begitu.

Saya termasuk orang yang suka upload foto di FB, karena hanya di situlah saya bisa berkomunikasi dengan saudara-saudara yang tersebar di segala penjuru dunia. Selain dari kenyataan spt yang saya pernah tulis di TE, bahwa foto2 di harddisc saya tidak bisa dibuka karena HD nya rusak. Dan beruntung saya masih punya backup di FB dan multiply. Tapi tentu saja yang bisa melihat foto2 itu cuma friend di friendlist saya.

Kalau dengan upload foto-foto keluarga dianggap pamer, hmmm lebih baik jangan ikut FB. Setiap foto, status pun bisa dianggap pamer. Misalnya, “Wah dia bisa tulis status begitu bagus, berarti dia cendekia…. ” Dan semua wadah ekspresi diri baik di FB, Twitter, Blog pun menjadi “ajang pamer”.

Sikap rendah diri memang harus.
tapi kalau sampai setiap kali menulis di blog atau FB harus memikirkan “apakah saya pamer…(apa standarnya sehingga itu bisa dikategorikan pamer?)”…. then tidak ada tulisan yang dihasilkan.Buku yang tercetak pun merupakan hasil “pamer” seseorang 😉

Saya menganut paham “hodo-hodoni” saja, jangan berlebihan kata orang Jepang.

Maaf terlalu panjang, semoga penyampaian saya bisa dimengerti.

Have a nice weekend Mbak Bintang

EM

edratna - Desember 6, 2010

Adanya FB, memang membuat seolah-olah pamer, padahal up load foto di FB memudahkan sharing bagi keluarga, teman dan orang-orang yang ada di foto tsb…dibanding dikirim via lewat email.
Mungkin yang penting tak berlebihan….dan sombong atau pamer sebetulnya lebih ke hati kita masing-masing. Kalau niatnya positif, mestinya bukan pamer, walau ada orang yang mempersepsikan berbeda…waduhh kalau yang ini mumet juga, karena setiap orang punya pandangan berbeda.
Dan saya termasuk suka melototi FB teman-teman, suka melihat gambar-gambarnya, apalagi jika yang memotret pinter, seperti EM, mas Nug dll.

3. elindasari - November 27, 2010

Hahaha maksudnya kurang lebih gini mbak Imel, terkadang ada yg rada kebablasan pajang fotonya, dan mmg ukuran kebablasan / berlebihan ini agak relatif ukurannya utk msg msg individu. Tapi menurut saya kalau kadarnya msh dlm batas kesopanan, niat baik misalnya sirahturrahmi dgn sahabat dan kel, komunikasi, tdk apa2. Malah ini kegunaan kita ikut fb kan, agar memudahkan komunikasi, dll.

Saya pernah lihat lihat album photo mbak Imelda lho, dan Alhamdulillah sahabat saya mbak Imel ini. kalau menurut pengamatan saya msk katagori yang sangat bagus dlm menggunakan sarana fb, jauh sekali dari sikap pamer dan hal hal buruk hehehe.

Ok mbak sekian dulu sharing kita, nanti kita ngobrol lagi, mau jemput sulung les dulu 😉 Titip peluk sayang buat Kai n Riku yang lucu dan pintar yah mbak, buat mbak Imel juga hehehe 😉

4. anang - November 27, 2010

renungan luar biasa, makasih telah berbagi..

5. advertiyha - November 27, 2010

Saya sangat sependapat dengan mbak Linda.. 🙂
ceritanya sangat inspiratif dengan latar yang sederhana, mudah diterima mbak.. 🙂

Riya’ itu penyakit yang paling kronis yang dimiliki oleh hati kita, baiknya dihindari… 🙂 🙂

6. nh18 - November 28, 2010

Lebih baik kita menjadi pribadi-pribadi yang kaya ilmu tapi rendah hati atau istilah kerennya jadi orang yang low profile dan jadi orang yang kaya tapi dermawan

Saya setuju sekali dengan kata-kata tersebut diatas …

Mengenai Riya’ … saya tidak tau definisi sejatinya
Namun menurut saya yang namanya Pamer … itu sepertinya tergantung dari niat kita …
Jika ingin memberi contoh … saya pikir sah-sah saja …

Namun jika ingin dipuja … ingin dikatakan sholeh … ingin dikatakan dermawan … ingin dikatakan sukses … saya rasa ini kurang baik…

Dan itu hanya hati nurani yang bisa menjawab …

Salam saya Mbak Linda

elindasari - Desember 8, 2010

Sip mantap om trainer 🙂 Semuanya tetap kembali ke niat kita masing-masing. Insya Allah selama niat kita baik maka akan baik pula hasilnya 🙂

Best regard,
Bintang

7. choirunnangim - Desember 1, 2010

ada kaitanya dengan keihklasan kan, ada yang saya tau niat keikhlasan itu berjalan hingga wktu yang ta terbatas. dalam arti kata bisa saja kita g ikhlas jika mesti sudah lama tapi kita cerita dengan niat RIYA’

8. choirunnangim - Desember 1, 2010

Subhanallah…tulisanya sangat indah dan memberi inspirasi buat saya ..semoga Allah mengganti dengan pahala yang sebanding.

9. tutinonka - Desember 7, 2010

Saya juga jadi bertanya-tanya, batasan riya’ itu seperti apa ya? Kalau kita berderma, lalu fotonya kita pasang besar-besar, sambil menonjolkan betapa murah hatinya kita, dengan mudah kita menyebutnya riya’.

Saya sendiri suka menulis yang berisi pengetahu n atau informasi, karwena saya ingin berbagi pengetahuan dengan pembaca. Mudah-mudahan ini tidak dianggap riya’ juga ya, pamer pengetahuan dan ‘sok tahu’ … 🙂

elindasari - Desember 8, 2010

Hahaha….kalau postingan mbak Tuti jauh banget dari sikap Riya’ mbak…..hehehe….malah itu membagi ilmu, wawasan ke orang lain….malah dapat pahala. Hem, kalau…batasan Riya’ …sendiri saya sendiri masih awam mbak. Saya hanya mempunyai pandangan bahwa selama niat kita baik, insya Allah akan berbuah baik, biarlah orang lain yang menilai hehehe…

BTW, gimana mbak rencana kopdar di Balinya bareng para blogger, tetap jadikah ?

Best regard,
Bintang

10. NOVIE - Januari 14, 2011

Yuppzzzz … setuju se x tuh mba … >>>
Kebanyakan orang merasakan lebih pintar dari orang lain … apalagi dia merasa lbh tinggi status & jabatannya … sehingga orang yg di bawahnya di anggap bodoh & tdk tau apa2 … Pdhl org yg spt itu akan jatuh dgn merasa kepintaran yg dia miliki … >>>

11. maspuri - Januari 17, 2011

assalam..salam kenal bu…
jangan lupa ber kunjung….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: