jump to navigation

NOT EVERYBODY HAVE CHOICE !!! November 19, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
trackback

Pagi ini kota Bekasi dan Jakarta kembali dilanda hujan deras mulai menjelang Subuh sampai pagi. Perasaan malas mulai makin mengelayuti. Rasanya ingin tetap tertidur pulas di pembaringan dan tetap kembali memeluk guling yang sangat menghangatkan.

Tapi suara azan Subuh sentak memaksaku untuk segera bangkit dan menghalau semua perasaan malas tadi. Meski masih setengah malas kuturunkan kaki menyecah lantai dan segera mandi, lalu sholat Subuh dan bersiap untuk berangkat ke kantor.

Sambil menikmati sarapan pagi, kepalaku mulai dihantuin bayangan suasana macet yang semakin parah yang paling sering melanda jalanan menuju ke kantor, apalagi dalam kondisi sehabis hujan seperti ini. Biasanya jalanan ikut banjir menjadi makanan rutin untuk kota Jakarta & Bekasi.

Sehingga pagi ini aku dan suami memutuskan berangkat ke kantor dengan naik motor saja. Karena semalam perjalanan pulang yang kami tempuh sangat macet. Untuk menempuh perjalanan pulang ke rumah yang berjarak tak lebih dari 15 km, harus ditempuh tak kurang dari 2 jam. Jawabannya macet…macet…macet lagi. Bete banget, hahaha !!!

Jadi, hari ini perjalanan ke kantor dengan naik motor & lengkap dengan acessoriesnya seperti helm, jaket tebal penutup mulut. Pokoknya komplit dech. Separuh perjalanan saya harus turun dari motor suami, sebab arah kekantor saya dan suami berbeda. Saya harus melanjutkan perjalanan ke kantor dengan angkutan umum, karena hari masih pagi dan pastinya lebih irit, hehehe.

Karena suasana masih pagi saya segera dapat angkot. Kebetulan kondisi penumpang dalam angkot tidak sesak. Sambil menikmati perjalanan saya menyempatkan mengupdate facebook saya. Yach lumayan untuk membunuh rasa bosan diperjalanan.

Tak lama berselang saya tiba di terminal Pulo Gadung. Saya segera berpindah ke angkutan umum lainnya. Kali ini saya harus naik Angkutan kota “PPD”.

Disinilah cerita ini dimulai. Karena kondisi penumpang masih sepi, saya dapat memilih tempat duduk dengan leluasa. Saya sengaja mengambil tempat agak mojok dan di dekat pintu. Tujuannya agar mudah ketika turun.

null

Sambil menunggu calon penumpang yang lain, mata saya tertuju pada dua orang anak beranjak remaja. Usia mereka sekitar 13 tahun dan 15 tahun. Mereka dapat saya kenali jelas dari celana, tas punggung dan sepatu yang mereka kenakan.

Saya mulai perhatikan gerak-gerik mereka. Ternyata sambil menunggu bis yang datang hilir mudik, mereka menyambil menjajakan sesuatu kepada hampir semua orang yang lewat. Anak yang paling besar menjajakan tisu, permen hexos, tolak angin, dan beberapa macam pulpen, yang diletakkan dalam plastik agak besar tembus pandang. Sedangkan anak yang agak kecil hanya membantu melayani uang dari pembeli dan sisa kembaliannya.

Dalam sekejap konstrasi saya jadi tertuju kepada aktivitas mereka. Ada rasa kagum atas semangat mereka dalam mengais sedikit rejeki dari orang-orang yang lalu lalang. Apaladi disuasana musim penghujan seperti ini. Mereka harus lebih ekstra menjaga barang-barang dagangan mereka dengan plastik ekstra.

Dan yang membuat saya jadi tambah kagum sepertinya mereka tak terlalu memperdulikan rintik hujan gerimis kecil yang tetap turun membasahi wajah mereka.

Saya sangat yakin keuntungan yang mereka peroleh tidaklah besar. Tapi mungkin sangat berarti bagi mereka. Ah, mereka hebat, kecil-kecil sudah gigih melawan keterbatasan financial mereka. Semoga saja mereka akan selalu gigih dan tetap dijalan yang benar, gumamku dalam hati.

“Bu, tisu bu, pulpen buat anaknya bu !”, tiba-tiba suara itu membuyarkan pikiranku yang sempat melalang buana.

“O, yach… berapa harganya ?”, lanjutku karena tiba-tiba saja saya menyadari bahwa mereka berdua (anak yang tadi sempat kuperhatikan) sudah berada dalam bis yang saya tumpangi dan persis tepat didepanku dan sedang menjajakan dagangan mereka.

“Tisunya seribuan, kalau pulpennya satu kotak isinya 12 bh Rp. 5000,-“, jawab mereka sigap.

Hem, satu kotak isi 12 pulpen hanya Rp. 5.000 saja. Murah sekali pikirku dalam hati. Apa mereka dapat untung dari dagangan mereka ini. Saya serasa tak percaya dengan harga yang mereka tawarkan ini.

“Pulpennya nyala semuakan”, tanyaku meyakinkan kalau aku tidak dibohongi.

“Coba ditest saja bu satu-satu disini”, ujar anak remaja yang agak kecil mencoba jadi penjual yang baik sambil menyodorkan secarik karton bekas untuk tempat tester.

Saya segera mencoba pulpen-pulpen tersebut. Ternyata hasilnya ok semua. Lumayan buat oleh-oleh si kecil di rumah, pikirku dalam hati.

“Baiklah saya beli dua kotak dan tisu 2 buah”, ujarku kepada mereka sambil menyodorkan selembar uang Rp. 20.000,-.

“Sisa kembaliannya buat kalian saja, kalian masih sekolah kan ?”, tanyaku pada mereka berdua.

Terus terang saya sempat kagum atas usaha mereka ini. Usia mereka masih belia, tapi mereka sangat sadar akan keterbatasan financial mereka. Mereka tetap mau berusaha. Saya patut memberikan sedikit imbalan untuk usaha mereka ini. Meski nilainya tidak seberapa.

“Masih bu, hanya kami berdua masuknya siang jadi kalau pagi kami berdua jualan dulu”, jelas mereka kepadaku.

“Terima kasih banyak yach bu, lumayan uangnya bisa untuk nambahi tabungan, juga buat bayar uang sekolah adik saya bu !”, lanjut mereka lagi sambil tersenyum lebar kepadaku.

Tak terasa penumpang bis hampir penuh. Mereka berpamitan untuk segera melanjutkan aktivitas jualan mereka ke bis yang lain.

“Hati-hati bu !”, ujar mereka kepadaku.

“Yach, kalian juga harus tetap sekolah yach !”, lanjutku sambil tersenyum yang dibalas lambaian tangan oleh keduanya.

Hem, terus terang mungkin ini hanya secuil cerita pagi yang biasa buat segelintir orang.
Bahkan mungkin ada juga yang beranggapan kalau hal seperti ini nggak penting sama sekali. Tapi bagi saya kejadian biasa seperti ini justru sangat mempunyai nilai. Betapapun kecilnya saya bisa menarik benang merahnya.

NOT EVERYBODY HAVE CHOICE !!!

Ya, Tidak semua orang mempunyai pilihan. Pilihan untuk bertahan hidup, pilihan untuk sekolah, pilihan untuk menikmati masa kecil, pilihan untuk menikmati masa remaja, bahkan pilihan untuk masa depan.

Tapi sebaik-baiknya adalah orang yang selalu menjalani kehidupan dengan penuh suka cita, penuh semangat, tak mudah putus asa. Karena selama kita mau berusaha, kemudahan itu pasti akan datang. Pasti…

Jadi ingat lagunya D’Masiv – Jangan Menyerah, yang syairnya begini:

Tak ada manusia, Yang terlahir sempurna, Jangan kau sesali, Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah, Dapatkan cobaan yang berat, Seakan hidup ini, Tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugerah, Tetap jalani hidup ini, Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia, Yang terlahir sempurna, Jangan kau sesali, Segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan, Kebesaran dan kuasanya, Bagi hambanya yang sabar, Dan tak kenal Putus asa

Ok, sekian dulu ceritanya, semoga cerita pagi saya ini bisa memberi manfa’at dan inspirasi.

Komentar»

1. edratna - November 19, 2009

Jika kita memandang ke sekitar kita, betapa banyak orang yang harus berjuang demi bisa melanjutkan pendidikan, untuk hidup lebih baik. Mungkin hasil tak seberapa, namun mereka dapat membantu orangtuanya.

Saat SMP saya punya teman cewek yang setiap hari sekolah sambil berjualan kue-kue, dan teman2 berebutan beli padanya, yang lebih enak dibanding kue ibu di kantin. Demikian juga saat SMA, ada teman yang jualan permen dll di depan gedung bioskop, dan yang beli temannya yang mau nonton bioskop. Tahu nggak hasil akhirnya?Yang jualan kue jadi pengusaha terkenal, sedang teman cowok yang jualan di depan gedung bioskop pernah menjabat Kepala Rumah Tangga kepresidenan (pangkatnya Brigjen)…padahal teman2nya yang dulu jauh lebih kaya, hanya biasa-biasa aja.

@ Yah begitulah bunda Ratna. Nasib seseorang tidak bisa ditebak. Kalau kita mau berusaha dgn tegar, penuh keyakinan, sabar, insya Allah berbuah manis. Jadi teringat juga cerita Andrea Hirata di novelnya Laskar Pelangi yach bunda, itu termasuk salah satu contohnya.
Yah semoga saja, banyak hati yang juga tergerak untuk membantu orang2 di sekitar kita yang kurang beruntung, agar mereka juga dapat merasakan indahnya hidup ini.

Terima kasih sharingnya bunda 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang

2. nh18 - November 19, 2009

Ya …
bagi orang lain ini mungkin cerita biasa …
Umum …

Tapi bagi saya tidak Bu Linda …
Ini tetap merupakan perenungan yang sangat layak untuk saya kaji …
Yes indeed you are right …
Tidak semua orang bisa punya pilihan (yang leluasa)
Tetapi jangan menyerah …
Berusahalah agar kita bisa punya banyak pilihan … pilihan yang “sedikit lebih leluasa”

Salam saya

3. Cerita Cerita Ku - November 19, 2009

Hidup penuh ujian agar kita lebih tegar dan tangguh dalam menjalani hidup dengan bijaksana… Suatu cerita nyata yangsangat inspiratif bagi saya…. Thanks Bintang….

4. aap - November 20, 2009

Terkadang banyak hal yang membuat kita kagum melihat disekitar kita betapa berat untuk sebagian orang mencari rezeki..namun mereka tetap berusaha..! salam kenal

5. dyah suminar - November 21, 2009

mbak Erlinda….Bunda cermati postingan ini…indah sekali,ditengah hiruk pikuk Jakarta….masih ada yang punya rasa untuk berbagi…berbagi cerita,berbagi kesenangan.
Jangankan Jakarta…di daerahpun….saat ini…banyak orang yang tidak punya pilihan….Bersyukurlah mbak…kita ini…termasuk Bunda masih diberi keleluasaan memilih….kesempatan…termasuk kesempatan Nge BLOG…lho…opo hubungane…?/..He..he

6. didta - November 21, 2009

artikelnya bermanfaat, lam kenal, mampir keblog saya juga ya

7. zipoer7 - November 22, 2009

Salam Takzim
Selamat malam, maap nih baru bisa hadir karena sakit. Sukses ya sahabat
Salam Takzim Batavusqu

8. adipati kademangan - November 24, 2009

Semua orang memiliki pilihan masing – masing, tapi ada sebagian dari kita memang tidak mempunyai pilihan. Hanya kita sebagai orang yang dipinjami kuasa oleh Tuhan untuk membukakan jalan bagi mereka. Seperti bintang lakukan itu, membukakan jalan bagi mereka adalah sebaik-baiknya pelaksana tugas Tuhan. Saya saja belum tentu bisa berbuat seperti itu, terima kasih telah menginspirasi saya.

9. ivita - November 24, 2009

Haiii Bintang,
tulisannya seindah nama”Bintang”
semoga “kerlip”mu memberi terang di hati para pembaca

salam kenal,
ivita

10. Mariska Ayu - November 24, 2009

Hidup memang pilihan ya kak Erlinda

11. Guru Go!Blog - November 24, 2009

Semuga tidak banjir mbak. Salam kenal dari wandisukoharjo.com😆

12. TupaiTambun - November 26, 2009

Cuma mau ngucapin salam kenal, Mbak..
Setelah itu baru tak ubek-ubek rumahnya..😀

ini kunjungan perdana saya..

13. zipoer7 - November 27, 2009

Salam Takzim
Setelah mendengar butiran-butiran hikmah Idul Adha di masjid dan di tanah lapang, mari kita aplikasikan hikmah semangat berqurban kepada sesama dan kerja keras sekeras ibunda Hajar dalam mendapatkan setetes air cinta untuk Nabi Allah Ismail.
Salam Takzim Batavusqu

14. tutinonka - Desember 2, 2009

Di Yogya, dulu banyak pengemis anak-anak yang mangkal di perempatan traffic light. Sekarang Pemkot sudah mengeluarkan himbauan agar tidak memberikan uang kepada mereka, karena tidak mendidik. Sejak dulu pun saya enggan memberi uang kepada anak-anak itu, karena banyak di antara mereka sebenarnya dipekerjakan oleh orangtua mereka sendiri, atau sindikat yang terorganisir.

Nah, tapi ada juga anak-anak yang menjual koran. Untuk penjual koran ini, saya sering membeli koran yang mereka jajakan, meskipun pada akhirnya koran yang saya beli itu tidak terbaca, karena di rumah saya sudah berlangganan 2 koran. Tak apalah, hitung-hitung untuk membantu dan menyemangati mereka bekerja mencari tambahan uang pembayar sekolah.

Memang kita harus menghargai anak-anak yang mau bekerja, bukan yang mengemis.

salam hangat,
Tuti

@Betul mbak Tuti, saya sangat setuju kita harus menghargai mereka (terutama) yang kebetulan masih anak-anak yang mau berusaha utk menambah penghasilan / membantu orang tua mereka dgn bekerja, berjualan, dll.

Kalau utk yang mengemis harus pinter-pinter kita seleksi, mana yang memang mengemis karena terdesak (cacat, atau tua/ renta) atau memang menjadikan profesi krn keenakan jadi pengemis. Karena hal ini sama sekali tidak mendidik mrk. Menjadikan mrk pribadi yang malas. (Hem, saya juga nggak suka kalau ini).

Terima kasih yach mbak Tuti sudah sharing disini, kapan2 kita ngobrol yang lebih panjang dlm topik2 yang pasti menarik lagi & pastinya menyenangkan, hahaha…

Selamat beraktivitas kembali, YES Semangat…karena pagi ini tampaknya Jakarta & Bekasi cerah sekali, gimana dgn Kota Yogja ?🙂

Best regard,
Bintang

15. rismadany - Desember 2, 2009

nice article…keep berbagi, salam kenal dari PMRELOAD

16. heartcleaner - Desember 17, 2009

Ass wr wb
Sekedar sharing jg mbak..
Ilmu yang tidak pernah bisa dinilai dengan uang adalah ilmu hikmah. Hakikat dari segala hakikat hanya hak Allah semata, dan diberikan hanya kepada hamba-hamba yang dipilih-Nya.

Di bus PPD itu mbak melihat dengan mata hati, mbak berpikir dan akal mbak terasah..dan mbak mau mengambil pelajaran hidup dari kejadian 2 pengasong cilik di depan mbak, yang saya yakini bukan kebetulan..(krn tdk ada sesuatupun terjadi secara kebetulan).

Tidak semua orang bisa melakukannya, hanya orang2 yang berakal lah yang bisa menerima pelajaran..dan Allah hanya menerima amal yang saleh, yang diniatkan hanya kepada Allah semata
.
Permasalahannya adalah berapa banyak orang yang hartanya banyak & berlebih mau memikirkan masyarakat bawah? Bukankah mereka lebih memikirkan hartanya & sibuk menjaga hartanya. Hanya orang2 tertentu yang ikhlas merelakan hartanya untuk orang lain, krn mereka meyakini hartanya tak kan berkurang dan malahan Allah akan menambahnya dengan rezeki yang tak disangka-sangka.

Ketika kita mau mengasah akal kita, maka banyak pelajaran yang akan kita dapat dan insya Allah seringkali akan ada jalan kemudahan terbuka.

Wassalam

@Waalaikumsalam mbak Anita 🙂
Iyach mbak kebetulan kejadian pagi itu menurut saya bagitu memberi inspirasi, jadi sengaja saya bagikan di blog ini. Senang bila bisa saling memberi manfa’at & inspirasi bagi orang lain, meski baru lewat media ini.
Terima kasih juga atas kunjungan dan sharing mbak Anita disini.
Selamat atas blog barunya mbak, saya akan segera berkunjung balik 🙂 🙂 🙂

Best regard,
Bintang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: