jump to navigation

IBU, KASIHMU SEPANJANG JALAN Oktober 16, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
trackback

Beberapa waktu yang lalu saya sempet membaca sebuah cerita yang beriksah tentang kasih Ibu terhadap anaknya. Dan semoga saja cerita yang akan saya bagi ini, bisa dijadikan ajang bagi kita semua untuk saling mengingatkan kembali arti pengorbanan orang tua, terutama ibu kita, sehingga kita lebih mencintai dan menyayangi lagi ibu / orangtua kita.
Apalagi kalau mereka sekarang masih ada di tengah-tengah kita. Semoga kita jadi anak yang pandai membahagiakan ibu / orangtua kita, semoga…

Kasih Ibu, Sepanjang Jalan

Kasih Ibu, Sepanjang Jalan

Dicerita tsb diceritakan lebih kurang sebagai berikut :

Konon pada jaman dahulu, di suatu tempat (ma’af nama tempatnya sengaja nggak saya sebutkan), ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya. (Hem menurut saya.sungguh kebiasaan yang aneh mungkin untuk ukuran pikiran orang yang normal, sungguh aneh ???)

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

“Bu, kita! sudah sampai”,kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.

Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”.

Setelah mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Tak kuasa akhirnya dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Yah, Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Sekedar isapan jempol….

Tapi di jaman sekarang, kalau kita mau jujur, kejadian mirip tersebut diatas, tak sedikit kita jumpai sangat persis cerita diatas. Mungkin hanya beberapa istilahnya saja yang diplesetan / diperhalus bahasanya. (Hem……)

Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya malas untuk merawat mereka, sibuk, ada bisnis, dan berbagai alasan lainnya. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang ada yang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja. ( Nggak percaya, coba sekali-kali bertandang ke tempat –tempat ini, kalau para pembaca nggak percaya…)

Buya & Ummi

Buya & Ummi

Yah, semoga saja cerita diatas bisa membuka mata hati kita semua, untuk bisa mencintai orang tua kita dan para manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disa’at mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang Maha Kuasa.

Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini. Sungguh pengorbanan yang tiada tara.

Terima kasih, semoga cerita diatas bisa memberi manfa’at dan inspirasi.

Komentar»

1. nanaharmanto - Oktober 16, 2009

Salam kenal, Mbak Elindasari…
posting yang sangat menyentuh…memang benar kasih ibu tak tertandingi, abadi sepanjang masa.
saya jadi ingat mama saya yang di kampung halaman di Jawa sana. Jadi kangen beliau…
Trimakasih untuk kisah yang inspiratif…

salam,
nana

2. Eka Riyadi - Oktober 16, 2009

Kasih Ibu memang sepanjang jalan…. hormati Ibu…

3. ciput - Oktober 18, 2009

kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia

4. adipati kademangan - Oktober 19, 2009

akhirnya apdet juga
postingan yang menyentuh mbak, saya jadi teringat dengan ibu saya. Setelah melihat waktu ke belakang ternyata saya belum melakukan apa-apa kepada ibu untuk menyenangkan hatinya. Terima kasih telah mengingatkan.

5. tutinonka - Oktober 19, 2009

Wah, ini pasti cuma kisah fiksi ya Mbak? Masak sih ada kebiasaan membuang orang tua yang sudah tidak bisa apa-apa ke hutan? Bukankah itu sama saja dengan membunuhnya? Hiks … jadi sedih membaca kisah ini …

Bagi teman-teman yang masih memiliki orang tua, semoga tidak lalai merawat dan berbakti kepada orang tua kita.

@Iyach mbak cerita itu fiktif. Kalau sampai terjadi…wow nggak kebayang dech, yang melakukannya pastilah orgnya raja tega…kejam….

Tapi jaman sekarang kalau yang nitipin ortunya di panti jompo atau sejenisnya banyak lho mbak. Alasannya macam-macam.
(Jadi bhsnya aja yang rada beda dikit / lebih halus).

Inti cerita tsb hanya untuk saling mengingatkan seperti yang mbak Tuti bilang juga, “Menjaga & merawat dan berbakti kpd orangtua kita adalah kewajiban kita selaku anak”.

Dan “Berbahagialah kalau sampai sa’at ini bagi yang masih memiliki orangtua”.

Semoga kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang masih kita miliki utk membahagikan mrk.

Ok, mbak Tuti, sekian dulu terima kasih atas kunjungan dan sharingnya 🙂 🙂 🙂

Best regard,
Bintang

6. ikkyu_san - Oktober 22, 2009

cerita itu bukan fiktif loh mbak Bintang…
karena memang ada kebiasaan di Jepang (dan Cina) yang seperti itu (dulu tentunya)
Tapi soal panti jompo juga jangan dianggap negatif dulu
karena untuk orangtua yang mandiri, melakukan semua sendiri, tinggal di panti jompo bisa menjamin privacy mereka. Asalkan silaturahmi, kunjungan tetap dilakukan. Percuma kok tinggal satu rumah tapi ditinggal dengan pembantu/suster di pavilyun terpisah dan tidak pernah diajak omong, atau dilibatkan dalam kegiatan, sedangkan dia sendiri tidak punya teman. Di Panti paling sedikit ada teman seumuran.

Jadi yang harus dipikirkan adalah balancenya, serta mutu daripada silaturahmi itu. Jangan di hadapan ortu itu main BB dan FB melulu…sama aja boong kan hihihi

apa kabar nih mbak….maaf saya baru bertandang lagi

EM

7. hmcahyo - Oktober 24, 2009

nice posting and inspiring mbak🙂

salam

lama gak kesini😀

8. nh18 - Oktober 26, 2009

HHmmm …
Ini postingan yang bagus
Sebagai pengingat kita …
Para anak-anak manusia …
Untuk mengingat Ibu dan Ayahnya …
Jangan sampai mereka terlantar begitu saja

Salam saya

9. elindasari - Oktober 26, 2009

Hello Om trainer, wah ternyata sudah kembali dari Jogja nich Om ?. Hem, oleh-oleh dari Jogja selain postingan kopdarnya mana Om trainer ?, hahaha 🙂 🙂 🙂

Best regard,
Bintang

10. Ade Bayu - Oktober 26, 2009

Mengharukan T_T
Untuk Bapak gimana?

11. Edi Psw - Oktober 27, 2009

Tiada kasih yang sejati kecuali kasih ibu.

12. iyehsolichin - Agustus 4, 2010

Salam kenal ……….
Terims artikel nya,menurut saya orang yg mengirim ortu nya ke panti jompo itu tidak tahu diri dan tidak tahu balas budi, bahkan bisa tergolong dosa besar.
Sukses selalu buat anda, dan kami kirim salam persahatan yg hangat dari kami. Ayo Sayangi dan hormati ortu kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: