jump to navigation

Oh , So “Wonderful Life”, if you have “Balancing Life” Juni 18, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Hari Minggu lalu (+/- seminggu yang lalu), saya sempat mengunjungi rumah seorang tante saya di bilangan Jakarta Selatan. Terus terang hal ini agak setengah terpaksa saya lakukan, karena ibu saya meminta saya terus untuk mengantarkan buah tangan ibu dari kampung, untuk tante saya tersebut. Yach jadi meski dengan perasaan setengah mengomel dalam hati tugas mengantarkan oleh-oleh ini saya lakoni juga.

Terus terang maksud hati saya bukan semata-mata menolak keinginan ibu saya, hanya saja saya merasa hari Minggu ini juga saya masih ada pekerjaan yang lebih penting yang harus saya selesaikan. Karena dari dua minggu yang lalu sempat tertunda karena ada tamu dan kerjaan itu akhirnya belum kelar.

Ekspresi mendengar nasehat Tante

Ekspresi mendengar nasehat Tante

Padahal, saya sudah mengorbankan hari Sabtu dan hari Minggu yang lalu (+/- 2 pekan lalu) untuk bersama anak-anak. Pada akhir pekan 2 minggu yang lalu, saya sudah meminta suami saya untuk mengajak anak-anak pergi dan bermain tanpa saya, meskipun disambut dengan cembetut oleh suami dan kedua putra saya.

“Hem, I’m sorry, my son, my honey, To day, Mommy must do some works, so you can play in garden with your nanny or you can round a way with your father, ok ?”, pinta saya kepada kedua buah hati saya yang ingin mengajak saya bermain di akhir pekan 2 minggu yang lalu. Sementara itu saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya hingga sore akhir pekan berakhir.

Ok, balik lagi ke session awal (hari Minggu lalu), setibanya saya dirumah tante saya itu (Minggu kemarin), saya disambut hangat oleh putri bungsu tanteku.

“Ei, tante Bintang, sudah lama nich nggak main kemari, sudah sombong nich tante…sampai-sampai pas acara nikahan bang Fahri nggak datang !”ujar keponakan saya (anak tanteku yang bungsu) ini membuka pembicaraan kami kala itu tatkala aku baru turun dari mobil. Ternyata keponakanku ini sedang asyik menggunting batang dan daun bunga yang mulai kering.

Aku hanya membalasnya dengan perasaan setangah malu,” Yach maklumlah nasib pegawai kayak gini, terkadang mesti bela-belain lemburin kerjaan meski nggak dibayar dan merelakan waktu weekend”. “Ini ada oleh-oleh dari kampong, 2 minggu lalu mama habis mudik”, lanjutku lagi sambil menyerahkan oleh2 titip Mama untuk keluarga tante ini.

“Aduh tante terima ksih banyak yach, sudah merepotin. Yuk, masuk tante !”, ajak keponakanku ini lagi. “Saya panggil mama dulu yacht tante”, lanjutnya lagi sambil berlalu meninggalku di ruang tamu yang tampak elegant.

Sebenarnya ada perasaan nggak enak juga, karena gara-gara lumayan sibuk waktu untuk saling berkunjung dan saling bertegur sapa meski lewat telp, kurasakan agak berkurang akhir-akhir ini. Padahal dulunya hampir tiap bulan saya dan keluarga berkunjung kemari. Karena tanteku ini yang paling akrab denganku sedari aku kecil. Saya jadi agak menyesal juga.

Sebenarnya secara tak sengaja, sedari kedatanganku tadi saya sempat terpukau sa’at melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah di rumah tanteku ini.

“Ei…ma’af jadi agak lama nunggunya !”, seru tanteku yang langsung memelukku. “Yuk, kita ke dapur, kebetulan tante lagi bantuin si mbaknya masak kue maksubah dibelakang, kamu pasti suka khan ?” seru tanteku dengan wajah yang semeringgah.

Sambil masuk ke dapur, saya tetap memperhatikan tatanan rumah tanteku yang memang tertata rapi dan dipenuhi berbagai koleksi benda-benda yang unik dan berbagai lukisan dengan ukuran yang juga bervariasi.

Sayapun sekonyong-konyong bertanya, “Maaf, tante, gimana caranya kok tante masih bisa menata rumah serapi ini, terus tetap melukis dan merawat taman yang begitu indah sambil tetap aktif bekerja dan juga tetap aktif di berbagai kegiatan sosial juga di majelis taklim ?”.

Tanteku ini kebetulan seorang pengusaha di bidang catering, disamping itu dia juga sangat suka melukis dan menata rumah. Dia juga aktif dikegiatan social kemasyarakatan dan majelis taklim. Selain itu yang kutahu tanteku juga punya kegemaran travelling dan mengumpulkan barang2 unik dari tempat-tempat yang dikunjunginya. Anaknya ada 3 orang. Yang pertama Fahrisudah bekerja dan sudah menikah sebulan yang lau (tapi aku nggak sempet hadir pada sa’at itu) karena ada kesibukkan. Yang kedua masih meneruskan kuliahnya di London. Sedangkan yang bungsu Ratih masih kelas 3 SMA di Jakarta. Omku sendiri (suami tanteku) masih aktif sebagai karyawan di perusahaan Oil & Gas di Jakarta. Dan aku bisa merasakan kalau keluarga tanteku ini sangat harmonis. Aku sangat salut akan hal ini, sebagai salah seorang keponakannya saya juga turut bangga akan tanteku ini. (Ceileh….iyach dong kalau bukan keponakan sediri siapa lagi yang muji tantenya…yach nggak, qiqiqiqi..)

Mendengar pertanyaanku yang mungkin sedikit konyol, tanteku hanya tertawa terbahak-bahak.
Lalu, dengan tetap memperhatian masakan kue yang sedang dikerjakan si mbak, tanteku menjawab ramah, “Duch Bintang, kamu masih mau lihat keindahan yang lainnya nggak ?”, kali ini tampaknya tanteku nggak berseloroh.
“Sekarang, kamu mulai kelilingi rumah dan lihat-lihat seisi rumah ini. Tetapi tante minta dengan satu sayrat, sambil berkeliling, bawalah segelas juice buah dan sayur yang segar ini, nikmatilah. Tapi, tante minta juice ini jangan sampai tumpah ya. Kalau Bintang sudah puas kembali lagi kemari, bantu tante di dapur !”, ujar tanteku seolah memerintahkan aku untuk segera berlalu.

Dengan perasaan sedikit heran, namun senang juga, ku ikutinya perintah tante itu. Hanya, tak berselang lama kemudian, aku memutuskan untuk segera kembali ke dapur dengan perasaan sedikit lega karena gelas juice buah & sayurku tidak tumpah sedikit pun.

Lalu tanteku bertanya, “Gimana Bintang, kamu sudah lihat hasil lukisan tante di ruang tengah, itu lukisan tante yang terbaru lho?” Terus, kamu sudah lihat-lihat fotomantenan nya Fahri bulan lalu ?”

Sambil tersipu malu, aku hanya bisa menjawab, “Ma’af tante, aku belum melihat apa pun, karena konsentrasiku hanya tertuju pada gelas juice buah & sayur ini”.

Karena agak malu juga, karena nggak melihat yang di minta tanteku , aku pergi lagi dari dapur, sebentar yach tante aku mau lihat hasil lukisan tante dulu dech & foto2 nikahnya Fahri tempo hari”, ujarku lagi sambil bergegas meninggalkan dapur.

Sa’at kembali lagi dari mengelilingi isi rumah tanteku, dengan nada gembira dan kagum saya bisa berkata, “Duch tante lukisan tante sekarang tambah ciamik, bagus banget, aku ngiri nich !”, kataku sedikit manja. “Terus foto2 resepsinya Fahri tempo hari bagus-bagus banget yacht tan, isterinya Fahri cantik banget. Dan aku suka banget sama tema pernikahannya. Wow surprise. Eh, tante itu koleksi tanamannya yang di pot-pot kecil gambar none2 belanda aku mau dong, kalau dikasih !”, celoteh dan rayuanku mulai beraksi.

Mendengar celotehanku bak kereta api, tanteku tersenyum lebar.
Tampaknya tanteku gembira mendengar hasil pengamatanku dirumahnya. Tanteku tersenyum puas sambil matanya melirik gelas juice sayur dan buah ditanganku yang tinggal separuhnya.

Menyadari lirikan sang tante ke arah gelas juiceku , aku lalu berkata, “Ma’af tante, tadi aku agak keasyikan menikmati indahnya semua pernak-pernik di rumah tante, jadi juicenya sempat tumpah tadi di teras belakang”, jawabku dengan nada yang sedikit ciut minta dimaklumi.

“Hahaha! Bintang, Bintang. Jadi sekarang apa yang dapat kamu pelajari hari ini dari rumah tante ?”, Tanya tanteku lagi tanpa perlu jawaban dariku.

“Jika juicemu itu tetap utuh, maka isi rumah tante yang indah ini tidak akan tampak olehmu”. “Jika isi rumahku terlihat indah di matamu, maka juicemu tadi akan tumpah semua”.

“Yah seperti itulah kehidupan kita”. “Kehidupan itu harus kita buat seimbang”. “Seimbang menjaga agar juice yang digelas tadi tidak tumpah semuanya, tapi sekaligus rumah ini juga indah di matamu”.

“Kita harus pandai-pandai menyeimbangkan & membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga kita, Bintang”.
“Semua itu kembali kepada kita, bagaimana membagi dan memanfaatkannya”.
“Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita akan harmonis”, nasehat tanteku seperti seorang ibu yang memberi pencerahkan kepada anaknya.

Dengan tersenyum gembira atas nasehat tanteku akupun berkata, “Terima kasih banyak atas nasehatnya, tante !”.

Tidak diduga akhirnya saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya akhir-akhir ini.

Sekarang saya semakin tahu, kenapa orang-orang sekitar tante menjuluki tante sebagai “Seorang tante yang bijak, seorang Tante baik hati, sekaligus seorang tante yang luar biasa” dimataku.

“Tante memang wanita yang luar biasa !”, pujiku kepada tanteku ini.

Mendengar pujianku untuknya, wajah tanteku merubah meronah, wajah itu tampak semakin bijak saja.

Sambil memandangku dan menepuk pundakku tanteku bilang, “Kamu juga bisa lebih hebat dari tante Bintang !”.
“Yuk, sekarang kita nikmati dulu kue maksubahnya, ini kue kesukaanmu bukan ?”, lanjut tanteku lagi sambil kami menikmati kue yang memang lezat ini.

Tak terasa hari semakin siang, akhirnya akupun segera berpamitan dengan tanteku dan keluarganya. Kali ini aku melangkah dengan perasaan yang bergelora. Aku ingin meneladani sikap dari tanteku ini untuk menapaki hari-hariku esok dengan sikap dan cara yang lebih baik.

Para pembaca & sahabatku yang luar biasa,
Disini saya hanya mencoba sedikit mengulas dari pelajaran dan nasehat yang aku terima dari tanteku tempo hari, bahwa :

Jika kita dapat membuat kehidupan seimbang tentu akan mendatangkan keharmonisan dan kebahagiaan yang luar biasa. Namun bisa membuat kehidupan menjadi seimbang, tentu saja bukan pekerjaan yang mudah.

Saya rasa, kita semua membutuhkan proses pematangan pikiran dan mental. Butuh pengorbanan, perjuangan, dan pembelajaran terus menerus setiap harinya.
Dan yang pasti, untuk menjaga supaya tetap bisa hidup seimbang dan harmonis ini, tentu saja bukan urusan satu atau dua hari saja, satu atau dua bulan saja, bukan pula dalam masa lima tahun atau sepuluh tahun. Tetapi kita semua butuh keseimbangan hidup ini selama hidup kita.

Ok, sekian dulu ceritaku kali ini, selamat berjuang, selamat menikmati hidup. Remember, If you can “Balancing your Life”, you will have a “Wonderful Life”.

Semoga bermanfa’at dan memberi inspirasi.

Komentar»

1. nh18 - Juni 18, 2009

Balancing your life

Work hard …
Play hard …

yang jelas setiap sabtu dan minggu boss saya berubah …
hehehe …

@Hahaha…betul Om Trainer harus balance agar hidup ini jadi indah, hahaha….
Ngomong2 lagi sibuk apa Om ?. Gimana akhirnya si Sulung ambil SMA mana ? Titip salam buat keluarga tercinta yach Om 🙂
best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. rizoa - Juni 18, 2009

hmm… fotona cakep..heheheh.. btw lam knal iah. senang membaca postingan mbak.:D

@Hello, salam kenal juga rizoa 🙂 🙂 🙂 Terima kasih sudah berkunjung kemari yach 🙂
best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

3. Farijs van Java - Juni 18, 2009

hoho. hidup seimbang, ya? yah, pandai2lah mengatur waktu sebelum waktu mengatur kita. hwehe…

v(^_^)

tawazun, kalo dalam islam mah.

semangat!

@Sip betul sekali itu Farijs van Java. Terima kasih sudah main lagi disini. Gimana kabarnya ?. Baik & lancar terus khan ?.
best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

4. Farijs van Java - Juni 19, 2009

alhamdulillah, bu. baek2 aja. lancar. iya nih, dah lama juga ternyata gak maen2 ke sini lagi. hwehe…

mohon doanya aja, bu.

v(^_^)

@Alhamdullilah kalau begitu farijs van Java, saya turut senang mendengarnya. Iyach saya juga terkadang nggak sempat bogwalking, maklumlah terkadang juga ada beberapa kesibukan. Yang penting kamu masih rajin posting artikel di blog khan ?
Sukses buat kamu dech 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. Indah Sitepu - Juni 19, 2009

Salut buat tantenya mbak…

tapi bener juga kunci kesuksesan hidup adalah keseimbangan🙂

@Betul Indah, hidup seimbang akan menhasilkan kehidupan yang sangat menyenangkan dan tentu saja qualitas hidup semakin baik. Kayaknya perlu kita teladani sikap tanteku ini 🙂 🙂 🙂
Gimana sekarang lagi sibuk apa Indah ?
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

6. iwan setiawan - Juni 19, 2009

keluarga memang segalanya tapi silaturahmi gak kalah pentingnya untuk menjaga hubungan antar keluarga..jadi keseimbangan memang perlu terus dijaga

@Sip, terima kasih atas sharingnya Iwan 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

7. adipati kademangan - Juni 22, 2009

Jarang sekali saya menemui seseorang yang bisa memberikan pencerahan dalam kata-katanya. Mungkin salah satunya adalah tantenya mbak (kalau nanti saya sempat ketemu), beruntunglah mbak memiliki beliau.

@Yach betul adipati, tante saya itu orangnya memang baik sekali, saya memang beruntung memiliki tante seperti dia 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

8. edratna - Juni 23, 2009

Bintang, dalam kehidupan sehari-hari, tak semua orang bisa bersifat seperti tantemu itu. Ada orang yang bisa berpikir dan bekerja paralel, namun ada juga yang seri. Saya termasuk tak bisa bekerja dan berpikir paralel, jadi agenda kerjaku harus detail. Saat anak-anak kecil, saya juga buat semacam daftar harian tugasnya (tentu setelah didiskusikan dengan si kecil), juga mbaknya, aturan jam makan, tidur, dan makanan apa aja yang boleh dan tidak boleh, termasuk menonton acara TV.

Kalau libur, saya khususkan waktu untuk anak-anak…jadi kalau ada kerja lembur, mengerjakannya malam hari, saat mereka dan suami tidur. Yahh saya mengakui, temanku ada yang seperti tantemu, namun tak semuanya bisa. Dan melihat posisi teman2ku yang bisa mencapai Direktur dan Dirjen, mereka bekerja keras, dan mendelegasikan sebagian wewenangnya pada yang lain sehingga lebih fokus.

@Iyach begitulah bunda Ratna, mungkin kita harus pandai2 mengatur waktu dan mungkin juga pandai dalam mendelegasikan pekerjaan2 yang memang bisa kita delegasikan agar pekerjaan kita jadi lebih ringan dan lebih fokus ke hal lain.
Tetapi terkadang ada juga yang nggak berjalan dgn mulus.
Hehehe, mendengar cerita bunda Ratna tentang teman2 bunda dgn berbagai posisi penting (Direktur & Dirjen), kalau menurut pengamatan saya bunda Ratna juga nggak kalah hebat dgn teman2 bunda itu. Bukankah bunda berhasil mencetak anak2 bunda dgn prestasi yang juga sangat membanggakan & semuanya sudah mandiri 🙂 🙂 🙂
Bunda Ratna juga seorang wanita yang luar biasa hebatnya menurut saya (ini beneran lho bun…semoga bunda jadi tersenyum lebar mendengar pujianku ini, saya salut akan hal ini bunda)

Ok, bunda Ratna see you 🙂 🙂 🙂
Selamat beraktivitas🙂 🙂 🙂
best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

9. tutinonka - Juni 23, 2009

Betul sekali Mbak Linda, hidup sehat adalah hidup yang seimbang. Seimbang dalam aktivitas fisik dan olah pikir, seimbang antara kerja keras dan pleasure, seimbang dalam kehidupan duniawi dan ukhrowi, juga seimbang antara kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Cuma, memang tidak selalu mudah untuk menyeimbangkan semua itu. Ada kalanya di suatu periode dalam kehidupan kita, kita harus fokus pada suatu hal saja, karena hal itulah yang sedang menjadi prioritas kehidupan kita dan tak dapat ditunda. Tetapi hal yang prioritas ini pun harus kita beri limit waktu, sehingga tidak terus-terusan menyita hidup kita. Setelah itu, kita upayakan untuk segera menyeimbangkan kembali hidup kita.

Salam hangat selalu,
Tuti

@Asyik terima kasih atas pencerahannya mbak. Oiyach mbak salah satu pencerahan yang ada kaitannya dengan hal ini sempet tetuang dalam buku yang mbak Tuti hadiahkan tempo hari “Makin Cantik Aja”. Isinya sarat dengan hal2 yang bisa membangkitkan semangat dan pencerahan bagi perempuan. Thanks yach mbak Tuti.
Titip salam juga buat keluarga mbak Tuti disana 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

10. Rina Suryakusuma - Juni 23, 2009

Mbak, dalem deh tulisannya😉 Senang bacanya. Keep writing ya mbak

@Hahaha bisa aja kamu Rin, iyach nich terkadang banyak yang mau ditulis tapi itu dia waktu terkadang begitu sempit, hahaha.
Saya tunggu novelmu yang baru keluar yach, sukses buat kamu juga Rin 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

11. mikekono - Juni 23, 2009

keseimbangan hidup
memang sulit dimenej
tp hrs diwujudkan…..
inspiring sista🙂

@Terima kasib atas kunjungannya bang Mike 🙂 🙂 🙂 Gimana bang lagi sibuk apa sekarang ?
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

12. D.Y.N.A.H ^^v - Juni 24, 2009

keren banget tulisan sama pic nya.. wahh pic nya bikin sendiri yah? ciee

@Yach hanya menuliskan pengalaman dari ngobrol dgn tante saya tempo hari 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

D.Y.N.A.H ^^v - Juni 25, 2009

mau dunks diajarin bikin pic nya keren..🙂 huehehe…. ternyata punya bakat jg yah ^^

@Hem, gimana caranya yach Dyn ?
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

13. Nug - Juni 30, 2009

Ada banyak sisi kehidupan yang perlu dijaga keseimbangannya…

Aku suka istilah yang digunakan Oom Trainer: Work Hard.. Play Hard..

Ada waktu kerja dimana kita akan kerja keras, all out…
Ada saat break dimana kita bisa nikmati bersama keluarga atau menikmati hobby.. nikmati hidup.

Gak selalu mudah, dalam praktek. Tapi selalu bisa jika emang diniatkan..🙂

@Betul yang Mas Nug bilang, selama kita niatkan insya Allah semuanya bisa kita lakukan & insya Allah semua berjalan lancar. Terima kasih sudah sharing bareng disini Mas Nug 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

14. deddypermadi - Juli 2, 2009

waah.. sebuah dialog yg menginspirasi. Dalam banyak hal, memang yg terbaik adalah apabila kita bisa menyeimbangkan sesuatu. Namun tentunya dgn tidak mengesampingkan prinsip adil (duh ini nih yg berat tuk dilakukan).

Anyway picnya Mb’ Bintang bagus2 ya, bikinnya gmn mb’?

@Terima kasih sudah sharing disini deddy. Pic hanya iseng-iseng doang di photo shop 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: