jump to navigation

RAHASIA PANGERAN (bag 5) Februari 3, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

sepeda-buat-guruku 

(Bagian 5)

 

Keesokkan harinya , sekitar jam 3 sore,  aku, suami dan pangeran sudah

tiba di depan rumah ibu Ita.  Tapi keadaan rumah tampak sepi dan

lenggang saja. 

 

”Assalamualaikum”, ujarku, pangeran dan suami hampir berbarengan. 

Sekali lagi  kami mengulanginya, ”Assalamualaikum”

 

Tapi lagi-lagi kami tidak mendapatkan jawaban dari dalam rumah. 

Lalu aku berinisiatif untuk bertanya kepada seorang tetangga yang berada

selang dua rumah dari rumah bu Ita.  Kebetulan ibu ini sedang duduk-

duduk di terasnya.

”Ma’af bu… mau tanya, apa ibu tahu ibu Ita ada di rumah nggak ?”, tanya

saya kepada ibu ini.

 

”O, ibu Ita sudah sekitar 4 bulan ini pindah dari sini bu”, jawab wanita

ini pendek.

 

”O,  begitu, ibu tahu nggak keluarga ibu Ita pindah kemana ?”, tanya

saya lagi kepada ibu ini.

 

”Hem…”, wanita ini tampak ragu menjawab pertanyaan saya.

 

“Ma’af bu…saya Bintang, kebetulan anak saya Pengeran adalah muridnya

bu Ita, saya ingin mengantar sesuatu buat ibu Ita.  Apa ibu bisa kasih tahu

alamatnya bu Ita ?”, kali ini saya mencoba menyakinkan kepada mantan

tetangga bu Ita ini maksud kedatangan saya.

 

“O, begitu…Yach, sebentar dulu yach neng, saya coba tanyakan dulu ke

anak saya, rasa-rasanya pernah nyimpen alamatnya bu Ita, pas tempo

hari pindahan”, ujar wanita ini lagi bergegas meninggalkan kami sejenak.

 

Tak lama kemudian wanita ini kembali dan menyodorkan secarik

kertas, ”Ini neng alamatnya”. 

 

”Wah, terima kasih banyak yach bu, kalau begitu kami pamit dulu, mau

langsung kesana”, ujar saya mengakhiri percakapan dengan wanita ini.

 

****

 

Ternyata agak susah juga mendapatkan alamat ini.  Tak kurang dari

setengah jam perjalanan kami tempuh.  Jalan menuju alamat ini agak

sempit dan banyak lubang.  Kami sempat bertanya beberapa kali dalam

perjalanan kepada beberapa orang yang kami jumpai.  Berbeda sekali

dengan rumah bu Ita sebelumnya. 

 

Dalam perjalanan kesini, Pangeran mengutarakan kalau bu Ita memang

pernah cerita akan pindah ke kontrakan yang baru, karena kontrakannya

sekarang akan dipakai oleh yang punya rumah.  Oooo…

 

Akhirnya pencaharian kami berakhir disebuah rumah yang mungil tanpa

pagar di sudut gang.  Rumah ini kelihatannya cukup rimbun.  Pot-pot bunga

dari kaleng bekas tampak menghiasi pekarangan rumah dengan anggun. 

Bunga kuping kancil dan sirih gading nampak merambat di dinding samping

rumah.  Meski rumahnya mungil dan sederhana, namun tetap tampak asri,

gumamku dalam hati.

 

Tiba-tiba keluar sesosok bayangan dari sampingku yang membuat aku

hampir terperanjat.

 

”Cari siapa yach ?”, ujar seorang laki-laki yang keluar dari samping rumah.

”Assalamualaikum pak”, ujarku agak terbata menyambut kehadiran laki-laki

ini yang juga langsung dijawab salam olehnya.

 

”Pak, apa betul ini rumah ibu Ita”, tanya saya lagi.

 

”O, betul, ini siapa yach ?”, laki-laki ini balik bertanya kepadaku.

 

”Saya Bintang, ini Pangeran putra saya,…muridnya bu Ita”, lanjut saya

lagi mencoba menjelaskan.

 

”Ayo, masuk bu Bintang, ayo Pangeran”, ujar laki-laki ini ramah.

 

”Sebentar yach saya suruh anak saya untuk penggil bu Ita dulu ke masjid,

tadi lepas Zuhur kebetulan ada pengajian”.  Biasanya sich…lepas Ashar

udah pulang kok”, ujar laki-laki ini lagi sambil meminta anaknya ”Ali” untuk segera menyusul ibunya ke masjid tak jauh dari rumah.

 

Tak lama kemudian kami melihat ibu Ita dan anakknya di ujung gang. 

Aku, pangeran dan suamiku bergegas menurunkan sepeda mini buat bu Ita. 

Aku sengaja mengajak suami bu Ita untuk membuat sebuah surprise kecil

buat isterinya.  Kebetulan suaminya bu Ita setuju. (Hehehe…dasar iseng….)

 

Nah, tepat ketika bu Ita dan Ali tiba di depan rumah dan mengucapkan

salam, ”Assalamualaikum”, kami serentak menjawab ”Waalaikumsalam”,

dan muncul secara bersamaan. 

 

Kontan saja bu Ita agak kaget atas kehadiran kami di rumahnya. 

Lalu kami meminta ibu Ita untuk menutup mata dan mengarahkannya ke

samping rumah. Untungnya bu Ita langsung menurut saja, atas permintaan

kami yang spontan dan tiba-tiba ini.  Bu Ita menutup matanya dengan

kedua belah tangannya.

 

”Nggak boleh ngintip yach bu !”, ujar suami bu Ita nggak mau kalah untuk

beri kejutan kepada isterinya.

 

”Teretet…sekarang bu Ita boleh buka matanya”, ujar Pangeran setengah

berteriak.

 

Dalam sekejap bu Ita melepaskan kedua belah tangan yang tadi menutup

mukanya.

Melihat hadiah sebuah sepeda mini buat dirinya bu Ita tak dapat menahan

titik air matanya.  Mata ini seketika jadi berkaca-kaca. 

 

Bibir bu Ita langsung berujar ”Terima kasih yach bu, Pak, Pangeran”.

 ”Ibu jadi malu”, ujar bu Ita lagi dengan wajah yang mulai merona. 

 

”Bu Ita ini sekedar hadiah dari kami di hari Ultah Ibu”.  ”Terima kasih atas

bimbingan ibu Ita selama ini buat pangeran”.  ”Semoga ibu Ita dan keluarga

berkenan menerima hadiah sederhana ini yach bu”, ujarku mewakili

Pangeran dan suami sambil memeluk bu Ita, yang masih menangis haru

sekaligus bahagia menerima semua ini. 

 

****

 

Setelah menikmati hidangan teh hangat dan bakwan sayur yang sengaja

dibuat bu Ita akan kehadiran kami, kami mohon pamit.  Aku, pangeran

dan suami diantar bu Ita sekeluarga sampai di ujung gang tempat suamiku

memarkir mobil.

 

”Sekali lagi terima kasih yach pak, bu, pangeran”, ujar bu Ita dan suami

mengantar kepulangan kami.

 

Kami semua selambaikan tangan perpisahan sore ini dengan berjuta

perasaan di dada kami.  Perasaanku kali ini sangat berbahagia, karena

ternyata dibalik Rahasia Pangeran kali ini, menyimpan peristiwa yang

sangat berarti bagi seorang bu Ita.  Guru yang selama ini telah membimbing

putraku jadi gemar melukis seperti diriku.  Sekali lagi terima kasih bu Ita

dariku dan pangeran kecilku.  Semoga ibu Ita dan keluarga selalu berbahagia.

 

 

Cerita ini kupersembahkan buat :

“Ibu Ita Ayuningtyas dan keluarga”

 

Semoga cerita tersebut bermanfa’at & memberi inspirasi.

 

Komentar»

1. sunarnosahlan - Februari 3, 2009

berkunjung dulu, baca nanti saja

@Sip…sip 🙂🙂 🙂
Best regard,
Bintang

2. yulism - Februari 3, 2009

Perhatian dari seorang murid adalah hal yang tiada ternilai harganya. Apalagi hadiah disaat Ultah, bukan harga atau valuenya akan tetapi ketulusan Pangeran memberikannya saya yakin membuat Ibu Ita merasa terharu dan bahagia. Thanks

@Betul mbak Yulism, saya sangat bahagia dgn ini semua. Terima kasih sudah berkunjung kemari 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang

3. mikekono - Februari 3, 2009

kalau semua orangtua
murid seperti ortu-nya Pangeran,
wow…sungguh bahagialah
para guru……,
semoga Pangeran kelak
betul-betul menjadi Pangeran
thanks my sista 🙂

@Hehehe, bnag Mike bisa aza, jadi malu nich. Terima kasih atas do’anya bang Mike 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang

4. yande - Februari 4, 2009

wah… saya salut mbak ternyata Pangeran meski masih kecil namun jiwanya begitu besar, saya salut mbak bisa membentuk seorang anak menjadi seperti Pangeran. ada Award untuk mbak diambil ya… semoga rajiv bisa menjadi seperti kakaknya ya mbak

@Wah terima kasih banyak yande atas awardnya. Terima kasih juga atas do’anya yach. Saya juga berdo’a semoga permata hati yande juga jadi anak yang pintar dan baik hati. Amien. Sampai jumpa🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. andri - Februari 6, 2009

ya-kisah nya – bagus banget, ma kash juga e-mail nya, blog saya sederhana kok, blog mbak yang oke banget- yach

@Terima ksh sudah mampir kemari sandi 🙂🙂 🙂 Blog sandi juga unik krn saya sangat suka dengan foto2 pemandangan & bike-nya 🙂 🙂
best regard,
Bintang

6. anto84 - Februari 6, 2009

hohohohohoh inilah pangeran itu…aku datang…salam kenal dari blogger jadul n super norak..salam balik..

@Hehehe…salam kenal juga Anto84 🙂 🙂 🙂
Terima ksh sudah main kemari yach 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

7. kweklina - Februari 7, 2009

Wah…salut dengan pangeran dan keluarga Mbak Bintang.🙂

@Hehehe, mbak Kweklina saya jadi malu nich 🙂 🙂 🙂 . Terima kasih yach mbak atas kunjungannya dan semua do’anya selama ini. Gimana kabarnya mbak Kweklina, masih rajin nulis cerpen kan ?
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

8. Hejis - Februari 8, 2009

Pangeran, mau dong om dikasih hadiah sepeda. Lumangyan… he.. he..😆

@Wah…wah…kalau begitu pangeran harus nabung lebih giat lagi nich, wakakak…
mas Heru terima kasih atas kunjungannya yach Mas 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: