jump to navigation

RAHASIA PANGERAN (Bag 2) Januari 29, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , ,
trackback

(Bagian 2)

 

Dalam waktu sekejap aku sudah berada di atas.  Aku bergegas masuk ke

kamar Pangeran.  Kudapati Pangeran sehabis makan siang tadi, sedang

tertidur pulas sambil mendekap guling bermotip mobil balap kesukaannya. 

Seperti maling yang takut ketahuan keberadaanya, aku mulai memeriksa

semua laci di lemari dan meja belajarnya. 

 

Tapi aku tidak menemukan kedua celengan yang aku cari.  Aku semakin

penasaran.  Aku mulai membuka keranjang tempat mainan biasanya diletakkan. 

Lagi-lagi aku tak menemukannya.  Aku mulai kehilangan akal. 

Aku memutuskan untuk keluar dari kamarnya. 

 

Lalu aku mulai putus asa dan mulai menanyakan kedua celengan ini kepada

pembantu rumahku.  ”An-an (maksudnya Ani, sebutan untuk pembantuku),

kamu lihat celengan Pooh dan Beruang Teddy yang biasa di atas meja

Pangeran nggak  ?”.

”Wah udah agak lama saya nggak liat bu”.  ”Bukankah biasanya diletakkan

di dekat meja belajar”, jawab pembantuku tak kalah bingung ketika aku

menanyakan hal ini.

”Hem, yach sudah, ndak apa-apa”, ujarku mengakhiri percakapan dengan Ani.

 

Mungkin suster pengasuh Rajiv (putraku yang kedua), mencoba menangkap

kebingunganku, dan mulai bertanya kepadaku:

 

”Ibu, cari apa bu ?”, tanya suster pengasuh Rajiv. 

”Suster lihat celengan Pooh dan Teddy Bear yang biasa ada di meja belajar

Pangeran nggak”, tanyaku kepada pengasuh anakku yang kedua ini.

 

”Kalau nggak salah dipindahin Pangeran di lemari buku atas bu”, jawab

susterku ini lagi.

”O, yach sudah kalau begitu”, sahutku sambil segera kembali bergegas naik

keatas ingin membuktikan keberadaan kedua celengan itu. 

 

Tak lama kemuadian aku mendapati kedua celengan yang kucari ini. 

Celengan Teddy Bear teronggok di dalam lemari di rak paling bawah

berdampinan dengan Globe yang akhir-akhir ini sering dikeluarkan Pangeran. 

 

Sedangkan celengan Pooh-nya diletakkan persis diatas piano dan sedang

menindih buku kesukaan Pangeran yang bertajuk ”Kisah 25 rosul”. 

 

Tapi, lagi-lagi karena aku masih penasaran, sengaja aku mencoba mengintip

isi kedua celengan tersebut.  Kuamati isinya memakai senter agar terang. 

Tampaknya isi kedua celengan ini baik-baik saja, nggak berkurang, bahkan

sepertinya isi celengan Pooh hampir penuh sesak oleh uang. 

 

”Alhamdullillah”, ujarku, karena terus terang tadinya aku sempat deg-degan

dan berpikiran yang agak jauh tentang Pangeranku ini.  Hem…aku mengela

napas plogku.

 

Lalu aku sekali lagi menyempatkan masuk ke dalam kamar putraku ini.  Dia

masih tertidur pulas rupanya.  Mungkin dia kecapekan abis ku ajak pergi tadi. 

Kuperhatikan raut mukanya yang tenang.  Wajahnya yang lucu dan

mengemaskan.  Rambutnya yang tebal tampak semakin hitam saja. 

Kuperhatikan jari-jarinya yang dulu mungil, kini mulai pandai memainkan

tuts-tuts piano meski masih untuk lagu-lagu yang sederhana.  Postur tubuhnya

tampak semakin tinggi. 

 

Pangeranku yang dulu mungil, sekarang sudah mulai besar. Sudah menginjak

9 tahun.  Aku sempat menyesali sikapku yang terkadang mulai kurang sabar

atas tingkah polanya, mungkin sejak keberadaan Rajiv (putra keduaku).

”Mama tidak bermaksud memarahimu,  Ma’afin mama sayang”, kini aku

berujar lirih sambil tetap memandangi anakku yang tertua ini.

 

****

 

Suatu sore aku mendapati Pangeran sedang sibuk untuk mengelap 2 sepeda

Papanya dan 2 buah sepeda kesayangannya di teras belakang.

 

”Wah rajin sekali anak mama”.  ”Nah, gitu dong sekali-sekali, kalau habis

main sepeda, sepedanya dibersihin, di lap, biar tetap tampak bagus dan

kinclong”.  ”Itu namanya menghargai barang dan tanda anak yang bersyukur”,

ujarku bak kertea api, karena aku mulai menggoda Pangeran yang sedang

asyik dengan aktivitasnya. 

 

”Harus dong”, timpal suamiku yang tiba-tiba muncul dari dalam menghampiri

aku dan Pangeran. 

 

”Iya, iya, Pangeran tahu”.  ”Ini sepeda harganya mahal, apalagi yang satu ini

lebih mahal dari yang ini, khan Pa”, ujar Pangeran terkagum-kagum atas

2 buah sepeda yang resmi jadi milikinya ini.

 

Kulihat suamiku tersenyum menanggapi perkataan Pangeran ini.  Kulihat

suamiku mengusap beberapa kali rambut hitam Pangeran yang memang

semakin menggoda.  ”Ayo papa bantu ngelap sepedanya”, ujar suamiku lagi

tanpa siap bergotong royong dengan anaknya.

 

Berlanjut….

 

****

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: