jump to navigation

RAHASIA PANGERAN (Bag 1) Januari 28, 2009

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , ,
trackback

rahasia-pangeran

(Bagian 1)

 

Matahari baru saja terbit, ketika Pangeran mencariku yang kebetulan sudah

tidak berada di lantai atas rumah kami.  ”Mama, mama dimana ?”, teriak

Pangeran dengan suaranya yang khas agak bete ketika bangun tidur. 

 “Di belakang”, jawabku yang memang sejak sehabis sholat Subuh tadi

langsung menikmati berbagai macam tanaman di teras belakang rumah.

 

Dalam sekejap Pangeran bergegas menyusulku. 

 “Ma, Papa mana”, tanya Pangeran lagi.  

“Sudah jalan-jalan naik sepeda”, kilahku singkat. 

“Hem…Mama nggak banguni Pangeran sich, Pangerankan mau

sepedaan juga tadinya”, ucap Pangeran dengan muka yang mulai cemberut. 

“Tadi Mama sudah banguni Pangeran, tapi Pangeran sendiri yang bilang

nggak mau ikut kan ?”, jawabku mencoba mengingatkan dia yang sedari

habis sholat Subuh langsung tidur lagi.  Sebenarnya aku mulai agak kesal

dengan sikap Pangeran akhir-akhir ini.  Pangaren kecilku ini agak ngampang

ngambek ketika keinginannya tidak dituruti.

(Hem dasar anak-anak, mudah sekali cembetut)

 

“Sudah sekarang buruan mandi, mbak Ani (pembantu rumah kami)

sudah nyiapin roti bakar isi keju kesukaanmu”, bujukku kepada putraku

yang paling besar dan telah memasuki usia 9 tahun dan sudah duduk

di kelas 4 SD ini.

 

*****

 

Tak lama berselang kami sekeluarga sudah menikmati sarapan pagi. 

Tapi lagi-lagi aku masih melihat wajah Pangeran yang masih ditekuk. 

Aku pura-pura tidak tahu saja.  Aku khawatir kalau aku terlalu

memperhatikannya, anak ini semakin manja, begitulah gumamku dalam hati. 

 

(Maklum semenjak kehadiran adiknya Rajiv (anakku yang kedua),

Pangeran sering bertingkah agak berlebihan menurutku.  Tadinya aku

mengira perubahan sikapnya ini karena kehadiran adiknya. Jadi aku masih

memaklumi saja atas perubahan sikapnya ini).

 

Tapi akhirnya kesabaranku lepas juga, pada siang ini ketika kami berada

di toko Sepeda & perlengkapan baby, sa’at aku dan suami lagi konsent

memilih untuk membelikan sepeda dorong untuk Rajiv. Tiba-tiba :

 

”Ma, Pa aku juga ingin beli sepeda yach !”, ujar Pengeran mengutarakan

keinginannya. Sontak saja aku mulai marah pada putra tertuaku ini. 

”Pangeran, dengar nggak ada sepeda lagi buat Pangeran”.  ”Mama

dan Papa kesini mau beli sepeda dorong buat adik Rajiv”.  ”Bukan

buat beli sepeda Pangeran”.  ”Ayo sekarang Pangeran duduk manis

disana, jangan nakal”, ucapku mulai sewot bernada sedikit kesal,

sambil menyuruh Pangeran untuk duduk di kursi yang ada dipojok toko ini.

 

(Terus terang aku agak sebel dengan tingkah pola Pangeran untuk

ikutan minta dibeliin sepeda lagi.  Karena baru 1 setengah bulan yang

lalu, Pangeran menerima lagi sebuah sepeda dari papanya).

 

Akhirnya aku dan suami dapat membeli sepeda dorong yang kami inginkan

buat Rajiv. 

 

Tapi lagi-lagi aku dan suami mendapati wajah Pangeran yang cemberut

ketika kami hendak pulang.  Sengaja aku menawarkan untuk membeli

pizza dan mampir ke restaurant kesukaan Pangeran dalam perjalanan pulang. 

Aneh, pangeran kecilku kali ini menolak. 

 

Pangeran hanya berujar pendek ”Nggak usah ma, pageran mau makan

di rumah saja”.  ”Bener nich ?”, tanya suamiku lagi ingin menyakinkan pilihan

anaknya ini. 

”Iya, pangeran mau makan di rumah aja Pa, Ma !”, kali ini mimiknya serius

akan pilihannya. 

Suamiku hanya tersenyum melihat wajah putra tercintanya ini.  Aku dan suamiku

hanya saling pandang akan sikap Pangeran yang agak lain dari biasanya ini.

Dalam hati sebenarnya aku mulai menyesal sudah mulai setengah marah

kepadanya, dan tawarku tadi semata-mata ingin menebus kekesalanku di

toko tadi terhadap pangeran kecilku ini. Ah, tapi lagi-lagi sikap putraku yang

tertua ini membuat aku mulai pusing kepala, dan jadi salah tingkah sendiri

sebagai mama.

 

****

Sesampainya dirumah sudah hampir jam dua siang.  Aku dan suami bergegas

untuk makan siang.  Tapi, Pangeran belum nampak di ruang makan. 

”Pangeran, buruan makan dulu, nanti sakit lho”,  bujukkku kepadanya. 

”Iya sebentar !”, jawab Pangeran pendek.

 

Ketika kami mulai bersantap, Pangeran berujar:

”Pa, nanti kasih Pangeran uang sepuluh ribu yach, karena Papa belum

kasih Pangeran uang 2 hari, ujar Pangeran penuh pengharapan sambil

mengambil udang goreng tepung kesukaannya. 

”Iya, nanti habis makan”, jawab suamiku singkat.

 

”Mama juga, mama belum kasih Pangeran uang 3 hari, jadi Mama kasih

Pangeran Lima belas ribu”, tagih Pangeran kepadaku laksana tukang kredit

yang belum mendapat setoran customernya.

 

”Udah-udah makan dulu, nanti keselek lho”, ujarku berkilah karena aku

memang mulai pusing setiap hari diminta uang sebesar lima ribu rupiah oleh

Pangeran yang katanya akan dimasukkan kedalam celengan Pooh-nya di kamar.

 

(Aneh kenapa Pangeran sangat getol menagih sejumlah uang, yang

katanya untuk ditabung yach ?, aku mulai curiga akan sikapnya yang

mulai disiplin untuk hal yang satu ini.  Ada apa yach, bukankah

Pangeran kecilku ini sudah punya satu celengan beruang Teddy

di atas meja belajarnya). 

 

(Hem…lagian bukankah untuk mengisi satu celengan itu saja dia

sebelumnya agak malas, malah aku yang sering mengingatkannya

untuk rajin menabungkan uang sakunya.  Tapi mengapa sekarang

dia sangat telaten dengan celengan Pooh-nya yang satu lagi). 

 

(Untuk apa uang itu….  Ah, aku harus periksa jangan-jangan…

Aduh… pikiranku sekonyong-konyong mulai memikirkan hal-hal

yang buruk sedang menimpa putraku ini.  Oh, no…no…..no…..aku

harus cepat-cepat naik dan periksa kamar dan celengannya, pikiranku

mulai sesak karena dijejali pikiran yang aneh-aneh…)

 

Berlanjut….

 

****

Komentar»

1. Farijs van Java - Januari 28, 2009

hoho. punya rahasia apakah sang pangeran?

v(^_^)

@Hem, penasaran akhir ceritanya ikutin terus ceritanya yach Farijs van Java, hihihi 🙂 🙂 🙂
best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. Amabel - Januari 30, 2009

Aduh pangeran……..jgn buat tante penasaran dunk sebenarnya apa yang kamu inginkan dari Mama at Papa kamu…sptnya kamu dah punya segalanya apa yang kurang sayang???

@hahaha, ternyata tante AMabel penasaran atas rahasia Pangeran. Nah biar nggak penasaran ikutin terus ceritanya di bag 2, 3, 4 dan 5 yach tante. Terima kasih sudah singgah kemari 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: