jump to navigation

M E N G E L U H Desember 10, 2008

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , , , ,
trackback

dont-worry-be-happy

     

 

Aha…pagi-pagi ketika saya baru saja tiba di kantor rekan

sekerjaku udah mulai berita paginya….yup liputan 8 pagi dimulai….

(hehehe…curhat sekaligus mengeluhkan masalah pekerjaannya). 

Dia mulai merepet & ngomel-ngomel tentang pekerjaannya kemarin,

yang belum selesai dan gara-gara pekerjaan yang direvisi terus-terusan

itu rekanku menderita penyakit Be Te, Bad Mood etc….

 

Wajahnya ditekuk, mulutnya sekonyong-konyong maju beberapa

senti kedepan, keningnya berkerut dan rambutnya seakan berdiri semua,

karena kepalanya mulai pening.  Bahkan yang lebih parah saya mulai

berhalusianasi kalau di kepala rekanku ini mulai tumbuh tanduk

di  kedua sisinya, bahkan yang lebih parah di sekelilingnya mulai muncul

asap laksana locomotif jaman bahelak (lokomotif berbahan bakar

batubara), hehehe…(Ma’af…)

 

Itulah gambaran rekanku yang sedang kesal karena ulah atasannya yang

seenak udelnya merevisi pekerjaan yang seharusnya udah final

dari beberapa hari sebelumnya.

 

Nah, lalu apa kaitan semua ini dengan saya ?. Apa dosa saya, hehehe

Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam

kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung,

baik secara sadar maupun tidak sadar.

 

Beberapa waktu lalu, ketika saya berkumpul dengan teman-teman

wanita saya (teman-teman lenong rumpi…), seperti biasanya kami

membicarakan mengenai pekerjaan, pasangan hidup, masa lalu,

dan berbagai macam hal lainnya.

Setelah pulang saya baru tersadar bahkan saya sempat terjenyak,

oh Tuhan apa yang telah kami lakukan…mengapa kami semua

jadi begini, olala. 

 

Ternyata kami semua mempunyai kesamaan satu sama lain. 

Kami semua saling berlomba untuk memamerkan keluhan kami

masing-masing, dan semua dari kami berlaku seolah-olah siapa

diantara kami yang paling banyak mengeluh, dialah yang paling hebat.

(Hem….suatu kenyataan yang ironis yach…)

 

Yach yang kami keluhkan macam-macam, diantara kami ada

yang ngomong :

”Itu lho Bos gue tuch kelewatan banget, masa udah jam 6 lebih,  

gue masih disuruh lembur, sekalian aja suruh gue nginep di kantor,

padahal gue kan datengnya selalu lebih pagi dari yang laen, terus

langsung kerja, nggak pakai acara buka email & internet-an dulu,

coba kalian bayangin, ngeselin nggak ?”, ujar Cella dengar nada

yang semakin sewot.

”E, lho masih enak, cuma sekali-sekali, gue yang lebih parah,

kerjaan gue  tuch ditambahin melulu tiap hari, padahal itu kan

bukan job-desc gue, sebel abis kan ?”, ujar Nita nggak mau kalah,

bahkan lebih sengit.

”Hem, kalian berdua masih enakan coi, kalo gue lebih parah nich,

Anak buah gue nggak bisa bantuain gue, rada o-on, disuruh apa-apa

salah melulu, ampe-ampe gue nggak bisa ngerjain yang lebih penting

untuk Div gue, khan bete abis gue jadi mengerjakan pekerjaan yang

sifatnya remeh temeh, ih sebel dech”, ujar Marisa sambil cembetut.

 

(Nah, itu hanya sekelumit cerita diantara kami, mudah-mudahan nggak

ada di antara pembaca sekalian yach, hehehe….)

 

Tanpa kita sadari, mungkin kita semua melakukan hal tersebut, bahkan

mungkin yang lebih parah setiap sa’at tanpa kita sadari, ibarat penyakit

yang siap menelan korban.

Tahukah para pembaca sekalian, bahwa sebenarnya semakin sering kita

mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut.

 

Nich sebagai contohnya, salah satu teman baik saya selalu mengeluh

mengenai pekerjaannya.  Sudah beberapa kali dia pindah kerja dan

setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu mengeluhkan

mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya.

Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan

atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa terbentuk

suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan selalu pindah

dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia belajar untuk

tidak mengeluh.

Mengeluh” adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa

orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh

menjadi suatu “kebanggaan”. (Aneh yach ?…)

 

Dari pengalaman yang pernah saya amati (hehehe,kayak detektik aza),

Bila para pembaca memiliki dua orang teman, yang pertama selalu

berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, para pembaca

 

akan lebih senang berhubungan dengan yang mana ?

(Ini harus dijawab jujur yach, tapi cukup didalam hati saja)

 

Menjadi seorang yang pengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari

teman / rekan kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak

teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat

kita kehilangan teman-teman / rekan-rekan kita.   Mengapa ?.

 

Nah, yuk kita bahas.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh ?

 

Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas / reality yang terjadi

tidak sesuai dengan harapan kita.

 

Bagaimana kita mengatasi hal ini.

 

Caranya sebenarnya mudah (hanya mungkin pelaksanaannya agak

butuh sedikit usaha, hehehe), kita hanya perlu ber “SYUKUR”.   

Bersyukur dalam arti sesungguhnya lho. Seperti apa yach tergantung

pada masing-masing individu, dan sebaiknya dengan cara yang

sejujur-jujurnya baik kepada diri sendiri maupun kepada yang

di “ATAS”.  Sekali lagi ber-“SYUKUR”

Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan

PASTI ADA” hal yang dapat kita syukuri.

Sebagai ilustrasinya misalnya :

 

Para pembaca mengeluh dengan pekerjaan Anda.

Tahukah para pembaca berapa banyak jumlah pengangguran

yang ada di Indonesia ? (Banyak sekaliiii, hihihi)

Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja,

jadi bersyukurlah para pembaca masih memiliki pekerjaan dan penghasilan.

 

Atau para pembaca mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh

melakukan kerja ekstra.

 

Tahukah para pembaca bahwa sebenarnya atasan Anda percaya
kepada kemampuan Anda ?

Kalau para pembaca tidak mampu untuk mengerjakannya,

saya rasa tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau

memberikan pekerjaan tambahan.

Bahasa kerennya “Positive thinking”, (Nah lho…)

Bersyukurlah karena para pembaca telah diberikan kepercayaan

oleh atasan Anda, mungkin dengan Anda lebih rajin, siapa tahu Anda

bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda harapkan.

(Amien…)

Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih

mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, semua. 

Karena saya yakin bahwa Anda, para pembaca sekalian dapat

melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda,

karena Anda (terlalu) sibuk mengeluh.

 

Jadi mulai sekarang lakukan langkah-langkah ini (“Try it now, ok ?”)

1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari.

Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda

atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama

10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali

kegiatan Anda.

2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan, tetapi cobalah

untuk melakukan hal berikut ini, coba yach : Tutuplah mata Anda,

tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan

pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan

pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas

semua yang terjadi pada saat ini.

 

3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang

bersama teman-teman yang sedang mengeluh. 

Cobalah untuk memberi tanggapan yang positif, tapi kalau memang

berat lebih baik tidak sama sekali.

Selalulah untuk berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.

Karena saya yakin “Semakin banyak Anda bersyukur kepada

Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang

akan Anda miliki untuk di-syukuri”.

Nah, terakhir, Saya sangat bersyukur karena Anda (para pembaca)

telah membaca kulasan ini.  Mudah-mudahan kulasan ini memberi

manfa’at dan inspirasi.   

Saya akan lebih bersyukur lagi jika Anda (para pembaca) dapat

mengambil inspirasi dari kulasan ini untuk dibagikan dengan  rekan-rekan

Anda (para pembaca sekalian), sehingga Anda juga dapat bersyukur

karena telah membuat orang lain bersyukur.

 

Ok, sekian dulu selamat beraktivitas kembali, semoga hari-hari anda

(para pembaca) sekalian selalu indah, tetap tersenyum, tetap semangat

dan penuh rasa “SYUKUR”.

 

Semoga bermanfa’at dan memberi inspirasi. 

Iklan

Komentar»

1. pramafitri adipatria - Desember 10, 2008

wah i’m the first nih.. 🙂 Setuju mbak,
klo sy lbh suka berteman dgn org2 yg berpikiran positif, karena sy sendiri tidak suka mengeluh.. berada dalam komunitas orang2 yg berpikir positif akan selalu menambah semangat hidup karena semangat dan pikiran mereka akan menulari kita sehingga kita akan tetap optimis menjalani hidup dgn seberat apapun masalah kehidupan.

@Setuju banget Prama, sukses buat orang-orang yang berpikiran seperti ini dech 🙂 🙂 🙂
Terima kasih atas kunjungannya. Ditunggu selalu kedatangannya 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. pramafitri adipatria - Desember 10, 2008

oya mbak nama sy salah tuh di link nya 🙂 Pranafitria Adipatria seharusnya Pramafitri Adi Patria 🙂

@Ooo, terima kasih atas info koreksinya, segera saya ralat…mungkin tempo hari pas ngetik sambil merem yach 🙂 🙂 🙂
Tapi sabar yach, krn sejak WP berubah tampilan dasbor di komp saya agak bermasalah karena beberapa fitur seperti kelola dll tidak muncul, padahal sudah di log in beberapa kali. Jadi mohon maklum dulu utk sementara waktu yach Pramafitri Adi Patria 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

3. Ersis Warmansyah Abbas - Desember 10, 2008

Ha ha … jangan sampai, mengeluh kog dijadikan kebanggaan. Ngak ramai ah.

@hehehe enar, ersis daripada mengeuh mending nge-blog yach, hehehe 🙂 🙂 🙂
Terima ksh sudah singgah kemari 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

4. Khufroni - Desember 11, 2008

Emang…mengeluh bukan malah meringankan beban, tapi malah menambah beban.
Dan semua orang pastinya ga mau mendengar orang mengelu!!

@Yap, mengeluh malah membuat kita tidak termotivasi, hehehe
Trm ksh ats kunjungannya Roni 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. Sassie Kirana - Desember 11, 2008

Hi hi ketonjok dah.. Nice post sist..
Jadi nyadar kalau sie juga suka mengeluh palagi akhir2 ini koneksi suka mules, acara blogwalking jadi terganggu ,padahal sie juga punya hal lain yang harus dikerjain huuuh nah looooh ngeluh juga nih xixixi

Eh iya,
Makasih ya udah jalan jalan ke blog sassie..
Umh.. Blognya baguuuss..
Adem he he..
Linknya udah di update tuh..
Sukses ya mbak
Keep good writing ^^v

@Terima kasih kembali Sassie, semoga persahabatan kita lewat dunia per-blogger-an ini semakin menambah wawasan kita & kita semua bisa saling berbagi manfa’at + inspirasi.

Blog Sassie juga bagus, kreatif, unik, saya yakin Sassie punya banyak bakat yang luar biasa, sukses juga buat Sassie 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

6. kweklina - Desember 16, 2008

Nice posting!

Bersyukur dan memiliki rasa terimakasih atas apa yang kita miliki.

@Yap, setuju banget mbak Kweklina. Bersyukur, itulah sikap yang mesti selalu kukan 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

7. kweklina - Desember 16, 2008

Nice posting!

Bersyukur dan memiliki rasa terimakasih atas apa yang kita miliki.

@Benar mbak Kweklina, bersyukur adalah salah satu sikap yang sangat terpuji 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

8. keikomita - Desember 22, 2008

kenapa harus mengeluh tanykan kepada diri kita sendiri,sebelum kita mengeluh kepada orang lain

@Betul Keikomita, saya setuju itu. Terima kasih atas kunjungannya 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

9. Rafli Noviar - Desember 29, 2008

akh,menurut saya normal banget kalau ada orang berkeluh kesah,apalagi wanita yang katanya ” perlu punya teman bicara ” kalau ada teman yg bercerita kepada kita tentang suasana hatinya yg sedang galau karena soal pekerjaan/rumah tangga dll,barangkali itu adalah pelepasan beban/cara untuk mengurangi beban,tidak selalu negatif,saya pribadi selalu kebagian tugas jadi pendengar yg baik dikantor/dirumah,buat saya oke lah,selama tidak nyerempet kesoal aib orang lain.
salam

@Hahaha, tapi jangan terlalu sering lho, nanti bisa jadi timbul perasaan simpati, kasihan, dll. Menurut saya sebaik-baiknya tempat untuk curhat, berkeluh kesah adalah pada Tuhan, hehehe 🙂 🙂 🙂 Eit…jangan terlalu serius ini hanya bersifat intermezo. Terima kasih atas sharingnya Rafli. Ditunggu kunjungan berikutnya 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

10. tutinonka - Januari 18, 2009

Bener sekali. Sekali dua mendengar teman mengeluh, kita akan bersimpati. Tetapi kalau setiap kali ketemu, teman tersebut mengeluh melulu, kita juga jadi ‘mpet’ deh …

Mengeluh membuat muka kita jelek, dunia gelap, dan hati pepat. Mengapa tidak kita analisis saja apa yang kita hadapi, kemudian mencari cara terbaik untuk menyelesaikannya? (*halah, sok teu*)

@Hahaha, betul sekali mbak Tuti, dari pada menegluh terus mendingan mikir gimana jalan keluarnya, hehehe 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: