jump to navigation

Kesederhanaan Hidup Yang Penuh Makna November 24, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

 

masjid1

 

Di suatu kesempatan saya beserta keluarga pulang ke kampung halaman suami saya, yang kebetulan berada di Jawa Timur, tepatnya di kota Surabaya.  Setelah beberapa hari sempat berkeliling kota, sengaja saya beserta keluarga besar suami yaitu Ibu mertua, 3 orang keponakan yang kebetulan memang tinggal serumah dengan ibu mertua, serta seorang anak asuh kami yang kebetulan tinggal di rumah ini juga menikmati beranda depan rumah ibu mertua yang kebetulan banyak ditumbuhi aneka rupa tanaman. 

Anakku “Pangeran” yang masih berusia 7 tahun asyik bermain kejar-kejaran dengan keponakan saya yang paling kecil yang kebetulan usianya hanya terpaut 3 tahun diatasnya. 

 

Hem, sudah agak lama juga suasana seperti ini tidak kami lakukan.  Meski hanya duduk-duduk di beranda depan rumah sambil mengobrol kecil dengan para keponakan, bahkan bercerita tentang sanak saudara yang sekarang sudah agak jarang berjumpa dengan ibu mertua yang kebetulan usianya sudah lanjut.

Suamiku sempat menceritakan beberapa hal kenangan manis masa kecilnya yang masih membekas di rumah ini,  ketika bapak mertua masih ada.  Ibu mertuaku hanya tersenyum kecil, mungkin beliau terkenang masa-masa indah ketika bapak mertuaku masih ada. 

 

Sekarang ibu mertuaku hanya ditemani  ketiga orang keponakan dari Kakak tertua suamiku yang sekarang kebetulan tinggal di negeri Sakura untuk beberapa waktu, (yang dua orang perempuan sudah duduk di Perguruan Tinggi, yang terkecil “Arizona” berusia +/- 10 tahun), seorang anak asuh kami “Kiki” (sekarang sudah duduk di kelas 2 SMA), dan 2 orang Bude yang masih merupakan saudara dari keluarga ibu mertua untuk mengurus keperluan ibu dan anak-anak sepeninggalan bapak mertua beberapa tahun yang silam.

Tak terasa 2 jam berlalu di beranda ini. Sore hari mulai menjelang.  Tapi kami masih belum mau beranjak dari tempat ini. Terus terang saya sangat menikmati sausana ini. Daun-daun dari pohon mangga di sisi depan rumah satu persatu mulai berjatuhan karena ditiup angin yang semilir. Ah, sungguh nikmat rasanya,  dapat berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga besar suami dalam suasana sanatai yang agak jarang kami lakukan karena kesibukan dan tempat tinggal kami yang berlainan kota (Jakarta). 

Tiba-tiba terdengar suara, “Tek, tek, tek”, dari jalan depan rumah.  Aha, ada gerobak penjual tahu tek-tek, makanan yang kerap dijumpai di kota ini.  Bau petisnya serasa mulai menyengat hidung.  Membuat perut kami semua seketika jadi lapar. 

 

”Tek-tek, mampir”, suamiku berteriak untuk menghentikan langkah si penjual tahu yang langsung disambut gembira oleh semua keponakanku.

“Asyik, kita semua di traktir makan tahu tek-tek yach om”, ujar Kiki (keponakanku yang paling kecil), ingin menyakinkan dirinya. 

“Beres, ayo pada pesan semua, boleh makan sampai sepuasnya”, ujar suamiku lagi yang langsung di sambut antusias oleh semua anggota keluarga di rumah.

 

Kulihat bapak penjual tahu tek-tek mulai sibuk menyiapkan semua pesanan. Lalu, tak lama berselang semua pesanan sudah terhidang di meja beranda depan rumah. Anakku dan ketiga orang keponakanku bahkan sudah mendahului untuk menyantap tahu tek-tek. 

 

“Yuk, makan yuk, mumpung masih panas”, ujarku mengajak ibu mertua beserta 2 orang bude yang masih ada di belakang.  Lalu kami semua keluarga besar larut dalam santapan tahu tek-tek yang nikmat sambil terus bercengkrama. (Hem..eunakkk tenannn…)

 

Setelah semuanya selesai makan, suamiku menyodorkan sejumlah uang dan memberi isyarat padaku untuk segera membayar pesanan kami tadi, kepada penjual tahu tek-tek yang kebetuan sudah selesai mengemasi pirings, sendok dan garpu, telah menunggu di gerobaknya yang berada di depan rumah.

 

“Pak, jadi berapa semua pesanannya ?”, tanyaku kepada bapak penjual tahu tek-tek ini.

“Jadi Rp………”, nak ujar bapak ini lagi dengan senyum.  “Ini uangnya pak”, ujarku sambil menyodorkan uang yang disebutkan tadi”.

 

“Lagi liburan nak ?”, tanya bapak ini kepadaku.  “Iya, pak kebetulan saya sekeluarga lagi mengunjungi ibu mertua saya disini”.  “O,begitu, pantas saya jarang lihat”, ujar bapak ini lagi.

 

Tak terasa saya dan penjual jadi sempat berbincang-bincang ringan disini.  Saya jadi tahu kalau bapak ini namanya Pak Sohirin, dan sudah berjualan tahu tek-tek selama 20 tahun. Bahkan sudah berjualan di daerah ini tak kurang dari 12 tahun, karena sebelumnya beliau sempat mangkal di daerah stasiun.

 

Tapi, disela-sela perbincangan ringan kami, ada satu hal yang menggelitik pikiran saya. Saya perhatikan pada sa’at  saya membayar makanan pesanan kami, Bapak Sohirin “Si penjual tahu tek-tek ini”, memisahkan uang yang diterimanya.

 

Satu bagian disimpan dilaci gerobaknya, satu bagian lagi langsung dimasukkannya ke dalam dompetnya yang sudah agak usang, dan sisanya yang lain di masukkannya ke dalam  kaleng bekas roti Khong Guan, yang diikatkannya di pojok gerobak jualannya.

 

Terus terang hal ini membuat saya jadi sangat penasaran.  Lalu saya memberanikan diri untuk sekedar bertanya, daripada saya penasaran gumamku dalam hati.   

Lalu, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada bapak Sohirin, meskipun ada perasaan khawatir kalau beliau tidak berkenan atas pertanyaanku ini. 

Tapi saya tetap memberanikan diri untuk sekedar bertanya,

“Pak Sohirin, ma’af yach saya mau nanya, ini kalau saya boleh tahu lho”, suaraku agak pelan.

“Tanya apa nak ?”, jawab pak Sohirin  yang juga penasaran tentang hal yang akan saya tanyakan.

“Hem, itu lho pak, kenapa uang pembayaran saya tadi bapak pisah-pisahkan di tempat yang berbeda-beda ?”, ujarku sedikit khawatir atas pertanyaanku yang sedikit usil barangkali. 

“Apa barangkali ada tujuannya ?”, lanjutku lagi karena terlanjur penasaran ingin tahu.
“O, uang-uang itu”, jawab pak Sohirin yang sekarang sudah mengerti maksud pertanyaanku.
 

 

 

“Iya nak, memang saya sudah memisahkan uang ini selama jadi penjual tahu tek-tek yang
sudah berlangsung hampir 20 tahun”.

“Tujuannya sederhana nak”. 

“Bapak hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak bapak, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita bapak untuk meyempurnakan iman “, jawab bapak Sohirin dengan santun.
“Maksudnya apa pak ?”, saya tetap bertanya karena kurang paham maksud perkataan beliau.
“Begini nak, dalam agama, Tuhan menganjurkan kita sebagai hamba-NYA untuk selalu bisa berbagi dengan sesama.  Makanya saya membaginya menjadi 3 bagian, yaitu sebagai berikut :
Pertama : Uang yang saya masukkan ke dompet, itu untuk memenuhi keperluan hidup
sehari – hari bapak dan keluarga.

 

 

Sebagian yang kedua: Uang yang saya masukkan ke dalam laci, itu untuk infaq /sadaqoh, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Alhamdulillah selama 20 tahun bapak jualan tahu tek-tek, bapak selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun ukuran kambingnya sedang saja.

Nah, sebagian yang terakhir : Uang yang bapak masukkan ke dalam kaleng bekas roti ini, untuk keinginan menyempurnakan agama sebagai orang muslim.

Bukankah dalam Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Makanya bapak sudah sepakat dengan istri dirumah bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan harus bapak sisihkan. 

Bapak memang menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Insya Allah selama 20 tahun menabung, jika Allah mengizinkan bapak dan istri akan melaksanakan ibadah haji tahun depan.
”Masya Allah”, hatiku sangat tersentuh dan terharu mendengar jawaban dari bapak Sohirin ini. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia dan luar biasa yang saya dengar dari seorang penjual tahu tek-tek yang tampak biasa saja. 

 

Bahkan mungkin saya yang memiliki nasib lebih baik dari dirinya, belum mempunyai pikiran dan rencana indah dalam hidup ini, seperti yang beliau lakukan. Bahkan seringkali kalau saya boleh jujur disini, saya masih berlindung di balik kata-kata belum mampu atau belum ada rejeki.

Terus… saya  jadi tambah penasaran untuk mengorek lebih jauh dari bapak Sohirin ini, maka saya tetap melanjutkan sedikit pertanyaan, sekedar memuaskan rasa penasaran yang semakin berkecamuk dalam bathin saya.

“Memang bagus sich pak, tapi bukannya Ibadah Haji itu hanya diwajibkan bagi yang
mampu, dan memiliki kemampuan dalam biaya”, ujarku lagi setengah beragumentasi. (Hihihi, dasar usil…)
Tapi lagi-lagi pak Sohirin menjawab pertanyaanku dengan penuh keyakinan, ” Itulah sebabnya bapak melakukan semua itu”. “Terus terang justru bapak malu kalau bicara soal
mampu atau tidak mampu ini, nak”.
 

 

“Karena arti mampu atau tidak mampu itu bukan hak pak RT, pak RW, pak Camat ataupun siapa saja di dunia ini”.

“Arti mampu itu menurut bapak yakni dapat diartikan dimana kita diberi kebebasan untuk mengartikannya sendiri”.

“Kalau kita mengartikannya bahwa diri kita sebagai orang tidak mampu, maka
mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu”.

“Tapi, sebaliknya kalau kita mengartikannya bahwa diri kita “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kuasa-NYA dan kewenangan-NYA, kita akan diberi kemampuan oleh ALLAH”.
“Allahu Akbar”, sebuah jawaban yang sangat elegant  dari mulut seorang bapak Sohirin “Si penjual tahu tek-tek” yang saya jumpai di kota kelahiran suami saya ini.
 

“Terima kasih ya robbi, lewat pemikiran dan cerita beliau yang sederhana ini, seakan memberikan saya angin segar untuk semakin melakukan yang terbaik dan mengambil hikmah terbaik dalam kehidupan ini”.  Amien ya robbal alamien.

Semoga cerita tersebut bermafa’at dan memberi inspirasi.

Komentar»

1. Hejis - November 24, 2008

Pelajaran kemuliaan sering dipancarkan oleh orang-orang yang disepelekan sebagian orang ya mbak Elin? Tapi saya juga berterima kasih, pelajaran itu saya peroleh karena digali oleh mbak. Semoga pak Sohirin dapat segera berhaji. Demikian juga mbak dan keluarga (kalau memang belum). Siapa tahu itu menular ke saya. Amien.🙂

@Amien, terima kasih atas do’anya mas heru. Isnya Allah kita semua bisa segera menunaikan ibadah haji. Saya juga do’akan mas Heru dan keluarga bisa naik haji. Amien ya robbbal alamien 🙂 🙂 🙂 Terima kasih sudah mampir kemari mas Heru 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. mikekono - November 24, 2008

wisdom….nilai nilai luhur
bisa datang dari mana saja
termasuk dari si penjuah tahu itu
so, mari selalu menghargai sesama
tanpa memandang status, harta dan jabatannya
sebab….sprti kata Mbak Linda
dari sebuah kesederhanaan pun
bs muncul kehidupan penuh makna
monggo….matur sanget nuwun

@Terima kasih atas kujungannya bang mike, Terima kasih juga bang mike telah turut berpartisipasi dalam menyebar kebajikan didunia ini.
Sukses terus juga buat bang mike nun jauh di sana, hehehe🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

3. mikekono - November 24, 2008

kesederhanaan yg tulus
memang sering terasa lbh bermakna
dibanding kemewahan yg
penuh dengan basa basi……

@Wow, setuju banget bang mike. Statementnya benar-benar mantap 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

4. kweklina - November 24, 2008

kadang dari orang-orang yang sederhana kita temukan ilmu yang bermakna!

Salam Hangat!

@Iya betul Kweklina, terkadang lewat sosok yang sederhana kita menemukan berlian dlm memaknai hidup. Terima kasih atas kunjungannya. salam hangat juga buat Kweklina dan family di sana 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. Y Iskandar - November 25, 2008

Terkadang kita tidak memahami dari mana datang nya suatu hidayah, kemuliaan yang Allah berikan terhadap umatnya meskipun tidak secara langsung dan ini merupakan suatu hidayah.
Dalam hal Religi juga Nabi Kita tidak langsung menerima wahyu dari Allah melainkan melalui perantaranya malaikat Jibril..
Hal ini selayaknya kita pahami masih banyak di sekitar kita yang dapat di jadikan pelajaran, keikhlasan dan hikmah hikmah yang tersurat dan tersirat coba lihat dan renungkan surat AL FUSHSHILAT 41 AYAT 53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
Jadi disini sudah jelas bahwa Allah akan memberikan suatu contoh dari sejenis mahluk/ciptaanya nya itu sendiri demi kelangsungan hidup yang lebih baik

@Wah, terima kasih banyak atas kunjungan dan pencerahannya pak Yusep. Saya sangat senang mendengarnya. Semoga kita semua memperoleh hidayah dan dapat mengambil hikmah dari semua kejadiaan. Amein.
Sering2 berkunjung kemari yach pak Yusep 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

6. yande - November 25, 2008

20 tahun…, itu hampir seusiaku, selama itu dia bisa menabung ya? Sangat sederhana pemikirannya namun hanya tekad dan niat yang menjadi ujian.

Saya aja dapat gaji sekali sebulan bisa nabung sehari dan habisnya sehari, coba yah gajian tiap hari…

*loh kok malah ngomongin gajian?*

@Hehehe, bisa aza nich Yande, tapi ngomong-ngomong meskipun gajiannya sekali sebulan, sekali dapat gede-kan, hihihi (mulai usil nich hihihi….).

Ok, saya tunggu cerita-certia kita berikutnya, dan kunjungan berikutnya yach🙂 🙂 🙂

Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

7. Muhammad Amir Rosyidi - November 26, 2008

good and inspiring story, terima kasih mbak elin atas ceritanya, saya jadi malu dengan penjual tahu tek-tek itu, ternyata dengan penghasilannya yang bisa dibilang jauh dari kita para pekerja kantoran beliau sudah memperlihatkan apa arti syukur itu sebenarnya…
Lainsyakartum laadziidannakum walainkafartum inna ‘adzaabi lasyadiid..

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan hamba-hamba yang senantiasa bersyukur, aminnn

@Senang mendengarnya Mas Rosyidi. Amien, ya robbal alamien, semoga kita semua termasuk ke dalam golongan hamba-hamba yang senantiasa bersyukur yach Mas, seperti do’a mas Rosyidi diatas. Oyach terima kasih sudah mampir kemari mas, ditunggu kunjungannya berikutnya 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

8. Hejis - November 26, 2008

Ke sini lagi, mbak Elin. Tapi sekarang hanya untuk mengabari bahwa karena tulisan-tulisan mbak Elin banyak memberikan pencerahan maka mbak Elin mendapatkan award yang bisa diambil di blog saya. Selamat ya mbak. Semoga berkenan.😀

@Oo…terima kasih banyak Mas Heru atas apresiasinya buat saya. Saya tersanjung sekaligus malu karena sebenarnya blog saya masih jauh dari sempurna. Tapi mudah-mudahan dengan adanya apreasi dari kita untuk kita & teman-teman (lewat per-blogger-an) ini bisa semakin memperat tali sirahturramih kita. Sekali lagi terima ksh yach mas Heru, dkk.
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

9. papatio - November 26, 2008

Met kenal mbak, saya baru bikin blog di wordpress dan mampir di sini, great inspiration.. thanks

@Salam kenal papatio, senang dapat kujungannya. Semoga dengan hadirnya papatio di dunia maya semakin menambah semarak per-bloggeran di tanah air. Selamat memberi inspirasi bagi semua. Sukses buat papatio 🙂 🙂 🙂. Saya segera berkunjung balik 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

10. dyahsuminar - November 26, 2008

Ibu merinding baca postingan ini….luar biasa, kalau saja pemikiran pak Sohirin dimiliki oleh sebagian besar umat muslim di indonesia…Alangkah indahnya….tidak ada yang menderita ,dan selalu bisa tertolong oleh kelebihan umat lainnya.
Kita seharusnya malu pada pak Sohirin ya…membuat kita jadi semakin bersyukur.terimakasih mbak…telah diingatkan

@Betul sekali bu Dyah, dunia ini sesungguhnya sangat indah apalagi bila dihiasi dengan keikhlasan untuk saling berbagi dengan sesama. Terima ksh atas kunjungan dan sharingnya bu Dyah. Ditunggu kunjungan berikutnya 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

11. caknun - November 27, 2008

Salam kenal, Bu. Inspirasi bisa muncul dari sepiring tahu tek-tek di Surabaya. Di sini, di Malang, inspirasi bisa timbul dari Oskab, Nowar, Otos, Lecep dan…..lele

@Salam kenal juga Caknun 🙂 🙂 🙂
Wow senang sekali mendengarnya krn caknun bisa terinspirasi dari orang-orang tsb. Sukses juga buat orang2 yang telah caknun cantumkan shg bisa menginspirasi banyak orang. Terima kasih atas kunjungannya caknun. Saya tunggu kunjungan berikutnya 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

12. Admin - November 27, 2008

maaf mba saya tidak bisa berkata apa-apa.. Selain Subkhanallah..

Salam kenal aja ya mbak..

@Salam kenal juga Admin / Isti 🙂 🙂 🙂
Semoga kita semua selalu dilimpahkan nikmat dan berkah dari Allah & selalu diberi kemudahan. Amien 🙂 🙂 🙂
Terima ksh atas kunjungannya, ditunggu kunjungan berikutnya. Sukses juga buat Admin / Isti yach 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

13. SIge - November 28, 2008

Ada makna yang bisa saya petik dari pengalaman mbak elin, saya jadi lebih yakin tentang ilmu syukur setelah membca tulisan ini, terima kasih mbak yah, kalo sempet tengok juga di Blog sederhana saya. trims.

@Terima kasih atas kujungannya Sige🙂 🙂 🙂
Blognya Sige dimana yach, biar saya bisa kunjungan balik ?
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

14. andreanelfachri - November 29, 2008

Subhanallah..
Sungguh sebuah artikel yang bagus dan pantas untuk direnungkan dan diteladani mbak.Semoga dengan membaca aerikel ini kita bisa bercermin diri.darimana kita berasal,kemana kita berjalan menyusuri kehidupan dan kepada siapa kita kita akan mempertanggungjawabkan amal ibadah kita.Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmad serta Ridhanya buat kita semua.Amiinnn…

@Amien ya robbal alamien. Senang bisa memberi inspirasi. Terima ksh atas kunjungannya andrean 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

15. andreanelfachri - November 29, 2008

Assalamualaikum Wr.Wb

Mbak elinda yang senantiasa dalam naungan Ridha Ilahi andre mohon ijin buat numpang menampilkan Artikel.Sekalian mohon ijin mau mengcopy Artikel punya mbak elinda.Terimakasih Sebelumnya.

Sesuatu yang tak Terlihat

Dua orang malaikat berkunjung ke rumah sebuah keluarga kaya.
Keluarga itu sangat kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat itu
bermalam di ruang tamu yang ada di rumahnya.Malaikat tersebut ditempatkan pada sebuah kamar
berukuran kecil yang ada di basement.
Ketika malaikat itu hendak tidur, malaikat yg lebih tua
melihat bahwa dinding basement itu retak.Kemudian malaikat itu memperbaikinya sehingga
retak pada dinding basement itu lenyap.Ketika malaikat yg lebih muda bertanya mengapa ia melakukan hal itu,
malaikat yg lebih
tua menjawab,
“Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya”.

Malam berikutnya, kedua malaikat itu beristirahat
di rumah seorang petani dan istrinya yang miskin tetapi sangat ramah.

Setelah membagi sedikit makanan yang ia punyai,
petani itu mempersilahkan kedua malaikat untuk tidur
di atas tempat tidurnya.

Ketika matahari terbit keesokan harinya,
malaikat menemukan bahwa petani itu dan istrinya
sedang menangis sedih karena sapi mereka
yang merupakan sumber pendapatan satu-satunya
bagi mereka terbaring mati.

Malaikat yg lebih muda merasa geram.
Ia bertanya kepada malaikat yg lebih tua,
“Mengapa kau membiarkan hal ini terjadi?
Keluarga yg pertama memiliki segalanya, tapi
engkau menolong menambalkan dindingnya yg retak.
Keluarga ini hanya memiliki sedikit tetapi
walaupun demikian mereka bersedia membaginya dengan kita.
Mengapa engkau membiarkan sapinya mati ?”

Malaikat yg lebih tua menjawab,
“Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya.”

“Ketika kita bermalam di basement,
aku melihat ada emas tersimpan di lubang
dalam dinding itu. Karena pemilik rumah sangat tamak
dan
tidak bersedia membagi hartanya untuk bersedekah, aku menutup dinding itu agar ia tidak menemukan emas itu.”

“Tadi malam ketika kita tidur di ranjang petani ini,
malaikat maut datang untuk mengambil nyawa istrinya.
Aku memberikan sapinya agar malaikat maut tidak jadi mengambil
istrinya.”
“Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya.”

Kadang2 itulah yang kita rasakan,ketika kita berfikir bahwa sesuatu tidak seharusnya terjadi,bisa terjadi atas kehendak Alloh SWT

Jika kita punya iman,keyakinan kepada Alloh SWT
kita hanya perlu percaya sepenuhnya bahwa semua hal
yang terjadi adalah demi kebaikan kita.

Dengan demikian kita harus selalu mengingat 5 Perkara sebelum datang 5 Perkara

1.Masa Lapangmu sebelum datang masa sempitmu

2.Ingatlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu

3.ingatlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu

4.Ingatlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu

5.Ingatlah masa Hidupmu sebelum datang masa ajalmu

Kita mungkin tidak menyadari hal itu sampai saatnya tiba…..sampai saatnya maut datang menjemput kita……dan kita harus ikhlas untuk dan sabar untuk menerima kenyataan yang ada,karena apa yang baik menurut kita,belum tentu baik menurut Alloh.Semoga Alllah Azza Wajalla senantiasa menjaga hati dan fikiran kita dari hal-hal yang dilarang-Nya.Amiinn…

Andrean el-Fachri

http://andreanelfachri.wordpress.com

@Oyach silahkan. Terima kasih atas sharing artikelnya yach 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: