jump to navigation

Sebuah Kesalahan = Fitur Unik ? Oktober 30, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , ,
trackback

”Fitur unik” di rumah anda mungkin berawal dari sebuah kesalahan. Sama halnya, apa yang anda sangka sebagai kesalahan pada diri anda, pasangan anda, atau dalam hidup secara umum, dapat menjadi ”fitur unik”, memperkaya waktu anda di sini, sewaktu anda berhenti berfokus padanya.

 

Kalimat itulah yang selalu mengingatkan saya apabila ada suatu kesalahan yang telah saya lakukan atau orang-orang terdekat / dekat saya lakukan, sehingga membuat saya tidak mau terlalu memusingkannya.  “Let it easy !” begitulah kira-kira gumam saya. 

Yach, terus terang sebelum saya membaca  buku karangan Ajahn Brahm yang berjudul “Opening the Door of Your Heart”, orang-orang terdekat saya kebanyakan menilai kalau saya termasuk type yang maunya serba “perfect”, hehehe…itu katanya….yap tapi tak bisa saya pungkiri mungkin karena terbiasa menerapakan suatu standard yang tinggi sehingga cenderung menuntut orang-orang yang berada disekeliling saya juga berlaku sama seperti yang saya inginkan. Hahaha…tapi itu sudah berlalu, yach minimal sudah berkurang (jauh) hehehe…setelah saya membaca buku ini.

 

Nah, kalau para pembaca juga penasaran seperti apa isi buku tsb saya akan ceritakan garis besarnyanya, yuk disimak, siapa tahu bisa bermanfa’at :

 

“Opening the Door of Your Heart” karangan Ajahn Brahm

 

Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami di tahun 1983, kami kehabisan uang. Kami berhutang. Belum ada bangunan di atas tanah, gubuk pun tidak. Pada minggu-minggu pertama, kami tidur di atas pintu tua yang dibeli dengan murah dari tempat loak; kami menaruhnya di atas tumpukan batu bata di setiap sudutnya untuk meninggikan posisinya di atas tanah. (Tidak ada matras, tentunya –kami adalah bhikkhu hutan).

 

Kepala vihara mempunyai pintu terbaik, yang rata. Pintu saya bergelombang dengan lubang di tengahnya tempat pegangan pintu. Saya senang karena pegangan pintunya telah dicopot, tapi itu meninggalkan sebuah lubang di tengah-tengah pintu pembaringan saya. Saya bercanda dengan mengatakan sekarang saya tidak perlu meninggalkan pembaringan untuk ke toilet! Namun sejujurnya, angin dingin masuk melalui lubang tersebut. Saya tidak bisa tidur beberapa malam itu.

 

Kami hanyalah bhikkhu miskin yang membutuhkan bangunan. Kami tidak bisa membayar tukang, bahan-bahan bangunannya sudah cukup mahal. Jadi saya belajar untuk bertukang: bagaimana menyiapkan fondasi, menyemen dengan batu bata, membangun atap, langit-langit –semuanya. Saya dulunya ahli fisika teoritis dan guru sekolah tinggi (SMU) sewaktu masih umat awam, tidak terbiasa kerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya sudah cukup mahir dalam bertukang, bahkan saya menyebut rekan-rekan bhikkhu sebagai BBC (Buddhist Building Company – Perusahaan Bangunan Buddhis, pent). Tapi saat saya memulainya, pekerjaan itu sangat sulit. Kelihatannya memang mudah untuk menembok dengan sebuah batu bata: seonggok semen di bawah, ketok sini, ketok sana. Sewaktu saya mencoba melakukannya, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, sisi yang lain jadi menaik. Lalu saya ketok sisi tersebut, batu batanya tidak lagi lurus. Setelah saya ratakan kembali, sisi yang pertama kembali menjadi terlalu tinggi. Coba saja sendiri!

 

Sebagai bhikkhu, saya mempunyai kesabaran dan waktu yang banyak, sebanyak yang saya butuhkan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tidak perduli berapa lamanya saya bekerja. Akhirnya, saya menyelesaikan tembok saya yang pertama dan berdiri di depan untuk mengaguminya. Saat itulah saya menyadari –celaka! – saya melupakan dua batu bata. Semua batu bata terpasang sempurna dengan lurus, tapi yang dua ini terpasang miring. Kelihatan sangat jelek. Merusak pemandangan ke seluruh tembok. Kelihatan kacau.

 

Saat itu, semennya sudah mengeras, tidak bisa lagi mencabut dua batu bata tersebut, maka saya bertanya kepada kepala vihara apakah saya bisa merobohkan saja dinding tersebut dan memulai dari awal – kalau perlu, meledakkannya. Saya membuat kesalahan dan sangat malu. Kepala vihara berkata tidak perlu, temboknya dibiarkan saja.

 

Sewaktu saya mengajak pengunjung pertama untuk melihat-lihat  pembangunan vihara, saya selalu berusaha mencoba menghindari mereka untuk melihat tembok tersebut. Saya tidak suka orang-orang melihatnya. Pada suatu hari, sekitar tiga atau empat bulan setelah saya membuat tembok tersebut, saya mengantarkan seorang pengunjung dan dia melihatnya.

 

“Tembok yang indah,” katanya dengan santai.

 

“Pak,” saya menjawab dengan kaget, “Apakah kacamata anda ketinggalan di mobil? Apakah mata anda tidak beres? Tidakkah anda melihat dua batu bata yang merusak keseluruhan tembok itu?”

 

Apa yang dikatakannya kemudian mengubah sudut pandang saya secara keseluruhan mengenai tembok itu, mengenai diri saya dan mengenai berbagai aspek-aspek lain mengenai hidup. Dia berkata, “Ya. Saya bisa melihat dua batu bata miring itu. Tapi saya juga melihat 998 batu bata yang terpasang sempurna di sini.”

 

Saya tersadar. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ini, saya bisa “melihat” batu bata-batu bata yang lain, selain dua batu bata tersebut. Di atas, bawah, kiri dan kanan batubata tersebut adalah batu bata yang terpasang dengan baik, sempurna. Lagipula, batu bata yang terpasang sempurna jauh lebih, lebih banyak daripada dua batu bata yang jelek tadi. Sebelumnya, mata saya akan berfokus hanya kepada dua kesalahan tadi. Saya menjadi buta terhadap hal-hal lainnya. Itulah sebabnya mengapa saya tidak tahan melihat tembok itu, atau memperlihatkannya kepada orang lain. Itulah sebabnya mengapa saya ingin menghancurkannya. Sekarang saya dapat melihat batu bata lain yang baik, temboknya juga tidaklah terlalu jelek. Buktinya satu pengunjung berkata, “Tembok yang indah”. Tembok itu masih ada di sana sampai sekarang, dua puluh tahun kemudian, tapi saya sudah lupa di mana tepatnya kedua batu bata yang terpasang miring itu. Saya benar-benar tidak dapat melihatnya lagi.

 

Berapa orang yang mengakhiri hubungan cinta atau bahkan bercerai karena apa yang mereka lihat pada pasangannya hanyalah “dua batu bata jelek”? Berapa banyak yang menjadi depresi bahkan melakukan bunuh diri, karena yang bisa mereka lihat pada dirinya hanyalah “dua batu bata jelek”. Sebenarnya, ada banyak, banyak sekali batu bata baik yang terpasang sempurna – di atas, bawah, kiri dan kanannya – tapi seringkali kita tidak bisa melihatnya. Namun, setiap kali kita memandang, mata kita hanya berfokus pada kesalahan. Hanya kesalahan yang terlihat, dan kita merasa hanya kesalahan yang ada, maka kita ingin untuk menghancurkannya. Dan kadang, menyedihkan, kita benar-benar menghancurkan “tembok yang indah” tersebut.

 

Kita semua memiliki dua batu bata jelek, tapi batu bata-batu bata yang terpasang sempurna di diri kita jauh lebih banyak daripada kesalahannya. Sekali kita bisa melihat ini, keadaan sebenarnya tidaklah terlihat terlalu buruk. Tidak hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menikmati hidup bersama dengan pasangan. Mungkin ini adalah kabar buruk bagi pengacara peceraian, tapi ini adalah kabar baik bagi anda.

 

Saya telah menceritakan hal ini berkali-kali. Pada suatu kesempatan, seorang pekerja bangunan datang dan menceritakan sebuah rahasia profesinya.

 

“Kami pekerja bangunan selalu membuat kesalahan,” katanya, “tapi kami mengatakan kepada klien bahwa ini adalah ‘fitur unik’ yang tidak terdapat di rumah lain pada perumahan yang sejenis. Dan kami menagih bayaran extra ribuan dollar untuk itu!”

 

Jadi ‘fitur unik’ di rumah anda mungkin berawal dari sebuah kesalahan. Sama halnya, apa yang anda sangka sebagai kesalahan pada diri anda, pasangan anda, atau dalam hidup secara umum, dapat menjadi ‘fitur unik’, memperkaya waktu anda di sini, sewaktu anda berhenti berfokus padanya.

 

 

Hope this story can give us a little wisdom to see through our life, May all living creatures life happy….

 

Nah, semoga cerita tsb diatas bisa memberi inspirasi & manfa’at.

Komentar»

1. michaelsiregar - Oktober 30, 2008

Pemaparan yang sangat unik dan begitu mendalam artinya, sangat inspirative untuk direnungkan, Terima kasih telah berbagi.
Salam dari jauh.

@Terima kasih kembali Michael, salam dari jauh juga. Sering2 main kemari yach 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. kweklina - Oktober 30, 2008

Renungan yang sangat menarik.Thanks!

Kadang justru kesalahan adalah awal kesuksesan..dari kesalah menimbulkan keindahan yang berbeda..

Pasangan ,sahabat,orang-orang disekitar kita ibarat jari2…memiliki kebaikan..kelembutan..keburukan..keindahan ,kelemahan ,dan lain-lain…kita berusaha untuk memahaminya..karena tanpa satu bagian..satu jari tak ada arti.Karena tak seorang pun sempurna!🙂

@Ya setuju sekali Kweklina, nobody is perfect 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

3. mikekono - Oktober 31, 2008

sebuah tulisan yg memberi pencerahan
kesalahan justru melahirkan fitur unik
so, kelemahan orang lain mngkn
merupakan sebuah keunikan
dan bs jadi merupakan ciri khasnya
kuncinya mari selalu saling
menghargai, memahami dan menghormati

@Setuju bang, saling mengisi itu lebih baik dari pada saling menyalahkan 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

4. dyahsuminar - Oktober 31, 2008

wah….tulisan yang sangat bagus…
Satu sisi ,membuat kita ayem,tenang…karena sekalipun kita punya dua batu bata jelek…tapi masih ada batu bata baik yang lebih banyak pada diri masing masing…
Memang…tidak ada yang semourna didunia ini…semua punya kelebihan dan kekurangan serta kesalahan

@benar sekali bu Dyah, sebagai makhluk ciptaan-NYA, tentu kita tak luput dari segala kekurangan 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Terima kasih atas kunjungannya bu🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. geRrilyawan - November 1, 2008

saya setuju…kesalahan atau kelemahan orang lain harus kita coba untuk pahami, maafkan, dan diterima dengan hati lapang.
namun kalau untuk diri sendiri kesalahan sekecil apapun harus kita usahakan untuk memperbaikinya.
salam kenal…..

@Salam kenal juga gerrilyawan. Terima kasih atas kunjungannya Sering2 main kemari yach 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

6. David Pangaribuan - November 2, 2008

Pagi Mbak, postingan yang unik dan bagus. Saya melihat bahwasanya kita harus percaya diri (sikap positif) akan apapun hasil yang kita buat. Kesalahan itu hal biasa ” mengulang kesalahan yang sama berarti kita tidak pernah belajar dari kesalahan yang lalu”, itu sangat konyol. Sikap mampu menghargai orang lain adalah sebuah sikap yang harus kita bangun.

Orang sukses bukanlah orang tidak pernah gagal tapi “adalah orang yang mampu bangkit dari kegagalan tersebut”.
Salam

@Wah bang David, saya sangat setuju dengan statementnya :
“Orang sukses bukanlah orang tidak pernah gagal tapi, adalah orang yang mampu bangkit dari kegagalan tersebut”.
Benar-benar penyemangat, terima kasih atas kunjungannya bang 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

7. aryf - November 2, 2008

ahh..ada yg berubah dari anda.

bintang pun tau saatnya utk tenggelam dan tiada.
munkin saja tak seindah peristiwa supernova.
bisa jadi lubang hitam yg tercipta,
tetapi..tahukah anda..
bahwa selalu ada bintang2 muda yg akan menghiasi angkasa.

ahh..ternyata tak ada yg perlu diselali wahai sahabat
munkin saja waktunya udah dekat
agar tak lupa utk selalu bertobat
tak lupa saling menghormat,
saling ucapkan kata selamat.

mari mendekat, ayo merapat
saling berjabat, saling mengingat.
kalo udah bersatu, tak kan munkin ada sekat.
genggamlah erat erat…..

@Aryf, who are you ? Apakah anda kenal saya sebelum ini. Kata-katamu sepertinya mengingatkan saya pada seseorang. Boleh kapan2 kita ngobrol2 lagi ? 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

8. yulism - November 2, 2008

Buku yang menarik mbak Elindasari, terkadang memang sifat manusia selalu melihat kesalahan orang lain dengan mudahnya. Tetapi seandainya semua manusia juga bisa melihat dari sudut yang lain dengan pemikiran positive akan menemukan keunikan pada setiap pribadi. Thanks

@Setuju banget mbak Yulism. Setiap orang adalah pribadi yang unik. Terima kasih sudah mampir kemari mbak 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

9. madzz - November 3, 2008

halooo slam kenal tukeran link yukkk

@Hallo salam kenal juga madzz, sekarang blogmu sudah saya link di blog saya. Saling nge-link yach (semoga berkenan) 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

10. isfiya - November 5, 2008

Lucu…lucu….

@Ha lucu yach 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

11. reatheryan - November 8, 2008

Kok bisa…? *heran*

@Hehehe, namanya juga cerita🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Terima kasih atas kunjungannya reatheryan 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

12. Yoyok - November 12, 2008

Juaraaaa……
Saya salin yg ini jg…
Thx bget🙂
U’re so beautiful… like I said🙂

@Monggo mas Yoyok. Disalin cerita2nya untuk dibagikan lagi ke teman-teman yach. Selamat berbagi inspirasi 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: