jump to navigation

Jakarta In Need of Improvements Oktober 23, 2008

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , ,
trackback

Ketika saya membaca tulisan dengan judul diatas yang ditulis oleh Andre Vitchek , yang ditulis di wordpress.org contributing editor pada July 26,2007 lalu,  terus terang sebagai salah satu penduduk yang mendiami ibukota ini saya menyatakan saya sangat setuju dengan yang diutarakannya, Jakarta memang sangat membutuhkan “Improvements” di segala sektor kehidupan. 

 

Bahkan jika kita kepakan sayap kita lebih lebar, bukan hanya Jakarta yang membutuhkan hal ini.  Semua kota dan wilayah yang termasuk dalam KNRI harus segera dibenahi secara serius.

 

Nah, para pembaca penasaran apa yang ditulisnya, berikut saya kutip tulisannya (aslinya dalam bhs Inggris), sbb:

 

Today, high-rises dot the skyline, hundreds of thousands of vehicles belch fumes on congested traffic arteries and super-malls have become the cultural centers of gravity in Jakarta , the fourth largest city in the world. In between towering super-structures, humble kampongs house the majority of the city dwellers, who often have no access to basic sanitation, running water or waste management.


Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh ratusan ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta , yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara gedung tinggi, terhampar perkampungan dimana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah.

While almost all major capitals in the Southeast Asian region are investing heavily in public transportation, parks, playgrounds, sidewalks and cultural institutions like museums, concert halls and convention centers, Jakarta remains brutally and determinately ‘pro-market’ profit-driven and openly indifferent to the plight of a majority of its citizens who are poor.


Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.

Most Jakartans have never left Indonesia , so they cannot compare their capital with Kuala Lumpur or Singapore ; with Hanoi or Bangkok . Comparative statistics and reports hardly make it into the local media. Despite the fact that the Indonesian capital is for many foreign visitors a ‘hell on earth,’ the local media describes Jakarta as “modern,” “cosmopolitan, ” and “a sprawling metropolis.”

Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok . Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota “modern”, “kosmopolitan” , dan “metropolis” .

Newcomers are often puzzled by Jakarta ‘s lack of public amenities. Bangkok , not exactly known as a user-friendly city, still has several beautiful parks. Even cash-strapped Port Moresby , capital of Papua New Guinea , boasts wide promenades, playgrounds, long stretches of beach and sea walks. Singapore and Kuala Lumpur compete with each other in building wide sidewalks, green areas as well as cultural establishments. Manila , another city without a glowing reputation for its public amenities, has succeeded in constructing an impressive sea promenade dotted with countless cafes and entertainment venues while preserving its World Heritage Site at In tramuros. Hanoi repaved its wide sidewalks and turned a park around Huan-Kiem Lake into an open-air sculpture museum.

Para pendatang / wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.

But in Jakarta , there is a fee for everything. Many green spaces have been converted to golf courses for the exclusive use of the rich. The approximately one square kilometer of Monas seems to be the only real public area in a city of more than 10 million. Despite being a maritime city, Jakarta has been separated from the sea, with the only focal point being Ancol, with a tiny, mostly decrepit walkway along the dirty beach dotted with private businesses.

Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.

Even to take a walk in Ancol, a family of four has to spend approximately $4.50 (40,000 Indonesian Rupiahs) in entrance fees, something unthinkable anywhere else in the world. The few tiny public parks which survived privatization are in desperate condition and mostly unsafe to use.

Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang tak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak aman.

There are no sidewalks in the entire city, if one applies international standards to the word “sidewalk.” Almost anywhere in the world (with the striking exception of some cities in the United State , like Houston and Los Angeles ) the cities themselves belong to pedestrians. Cars are increasingly discouraged from travelling in the city centres. Wide sidewalks are understood to be the most ecological, healthy and efficient forms of short-distance public transportation in areas with high concentrations of people.

Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar “internasional” ). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kota di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana transportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.

In Jakarta , there are hardly any benches for people to sit and relax, and no free drinking water fountains or public toilets. It is these small, but important, ‘details’ that are symbols of urban life anywhere else in the world.

Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak ada keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangat penting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan di bagian lain dunia.
Most world cities, including those in the region, want to be visited and remembered for their culture. Singapore is managing to change its ‘shop-till-you- drop’ image to that of the centre of Southeast Asian arts. The monumental Esplanade Theatre has reshaped the skyline, offering first-rate international concerts in classical music, opera, ballet, and also featuring performances from some of the leading contemporary artists from the region. Many performances are subsidized and are either free or cheap, relative to the high incomes in the city-state.

Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah citr a kota belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.  

Kuala Lumpur spent $100 million on its philharmonic concert hall, which is located right under the Petronas Towers , among the tallest buildings in the world. This impressive and prestigious concert hall hosts local orches tr a companies as well top international performers. The city is currently spending further millions to refurbish its museums and galleries, from the National Museum to the National Art Gallery .

 Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser philharmonic yang terletak persis dibawah Pe tr onas Tower , salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkes tr a lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.

Hanoi is proud of its culture and arts, which are promoted as its major at tr action millions of visitors flock into the city to visit countless galleries stocked with canvases, which can be easily described as some of the best in Southeast Asia . Its beautifully restored Opera House regularly offers Western and Asian music treats.

Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya, dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaran musik Asia dan Barat.

Bangkok’s colossal temples and palaces coexist with ex tr emely cosmopolitan fare international theater and film festivals, countless performances, jazz clubs with local and foreign artists on the bill, as well as authentic culinary delights from all corners of the world. When it comes to music, live performances and nightlife, there is no city in Southeast Asia as vibrant as Manila .

Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya, dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila .
Now back to Jakarta . Those who have ever visited the city’s ‘public libraries’ or National Archives building will know the difference. No wonder; in Indonesia education, culture and arts are not considered to be ‘profitable’ (with the exception of pop music), and are therefore made absolutely irrelevant. The country spends the third lowest amount in the world on education (according to The Economist, only1.2 percent of its GDP) after Equatorial Guinea and Ecuador (there the situation is now rapidly improving with the new progressive government).

Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang bernah berkunjung ke “perpustakaan umum” atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap “menguntungkan” (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia – “Masya Allah!  (pent.)” –  (menurut  The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif)

Museums in Jakarta are in appalling condition, offering absolutely no important international exhibitions. They look like they fell on the city from a different era and no wonder the Dutch built almost all of them. Not only are their collections poorly kept, but they lack elements of modernity there are no elegant cafes, museum shops, bookstores or even public archives. It appears that the individuals running them are without vision and creativity. However, even if they did have inspired ideas, there would be no funding to carry them out.

Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya. Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.

It seems that Jakarta has no city planners, only private developers that have no respect for the majority of its inhabitants who are poor (the great majority, no matter what the understated and manipulated government statistics say). The city abandoned itself to the private sector, which now controls almost everything, from residential housing to what were once public areas.

Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik.                                    

While Singapore decades ago, and Kuala Lumpur recently, managed to fully eradicate poor, unsanitary and depressing kampongs from their urban areas, Jakarta is unable or unwilling to offer its citizens subsidized, affordable housing equipped with running water, electricity, a sewage system, wastewater tr eatment facilities, playgrounds, parks, sidewalks and a mass public transportation system.

Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di Kualalumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan warganya perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, lis trik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan sistem tr ansportasi massal.

Rich Singapore aside, Kuala Lumpur with only 2 million inhabitants boasts one metroline (Putra Line), one monorail, several efficient Star LRT lines, suburban tr ain links and high-speed rail system connecting the city with its new capital Putrajaya. The “Rapid” system counts on hundreds of modern, clean and air-conditioned buses. Transit is subsidized; a bus ticket on “Rapid” costs only $.60 (2 Malaysian Ringgits) for unlimited day use on the same line. Heavily discounted daily and monthly passes are also available.

Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Me tr o (Pu tr a Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan keretaapi kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Pu tr ajaya. Sistem “RApid” memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit (kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga tersedia.

Bangkok contracted German firm Siemens to build two long “Sky Train” lines and one me tr o line. It is also utilizing its river and channels as both public transportation and as a tourist attraction. Despite this enormous progress, the Bangkok city administration claims that it is building an additional 50 miles (80 kilometers) of tracks for these systems in order to convince citizens to leave their cars at home and use public transportation. Polluting pre-historic buses are being banned from Hanoi , Singapore , Kuala Lumpur and gradually from Bangkok . Jakarta , thanks to corruption and phlegmatic officials, is in its own league even in this field.

Bangkok menunjuk kon tr aktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur panjang “Sky Train” dan satu jalur me tr o. Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai tr ansportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan tr ansportasi umum. Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi , Singapura,  Kualalumpur, dan Bangkok . Jakarta ? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan kota-kota tersebut.

Mercer Human Resource Consulting, in its reports covering quality of life, places Jakarta repeatedly on the level of poor African and South Asian cities, below metropolises like Nairobi and Medellin .

Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup, menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan dibawah kota Nairobi dan Medellin

Considering that it is in the league with some of the poorest capitals of the world, Jakarta is not cheap. According to the Mercer Human Resource Consulting 2006 Survey, Jakarta ranked as the 48th most expensive city in the world for expatriate employees, well above Berlin (72nd), Melbourne (74th) and Washington D.C. (83rd). And if it is expensive for expa tr iates, how is it for local people with a GDP per capita below $1,000?

Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup disana tidaklah murah.Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006, Jakarta menduduki peringkat 48 kota  termahal di dunia untuk ekspa tr iat, jauh diatas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83).  Nah, kalau untuk ekspa tr iat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan perkapita DIBAWAH  $1000??

Curiously, Jakartans are silent. They have become inured to appalling air quality just as they have gotten used to the sight of children begging, even selling themselves at the major intersections; to entire communities living under elevated highways and in slums on the shores of canals turned into toxic waste dumps; to the hours-long commutes; to floods and rats.

Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan, dengan kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotor dan penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.

But if there is to be any hope, the truth has to eventually be told, and the sooner the better. Only a realistic and brutal diagnosis can lead to treatment and a cure. As painful as the truth can be, it is always better than self-deceptions and lies. Jakarta has fallen decades behind capitals in the neighbouring countries in aesthetics, housing, urban planning, standard of living, quality of life, health, education, culture, transportation, food quality and hygiene. It has to swallow its pride and learn from Kuala Lumpur , Singapore , Brisbane and even in some instances from its poorer neighbours like Port Moresby , Manila and Hanoi .

Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh dibelakang ibukota lain negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, tr ansportasi, dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti belajar dari Kualalumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port Moresby, Manila, dan Hanoi.

Comparative statistics have to be transparent and widely available. Citizens have to learn how to ask questions again, and how to demand answers and accountability. Only if they understand to what depths their city has sunk can there be any hope of change. “We have to watch out,” said a concerned Malaysian filmmaker during New Year’s Eve celebrations in Kuala Lumpur . ” Malaysia suddenly has too many problems. If we are not careful, Kuala Lumpur could end up in 20 or 30 years like Jakarta !”

Data statistik harus tr ansparan dan tersedia luas. Warga harus belajar bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok, maka barulah ada harapan. “Kita harus berhati-hati” kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun baru di Kualalumpur. ” Malaysia punya banyak masalah. Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kualalumpur akan bernasib sama seperti Jakarta !”

Could this statement be reversed? Can Jakarta find the strength and solidarity to mobilize in time catch up with Kuala Lumpur ? Can decency overcome greed? Can corruption be eradicated and replaced by creativity? Can private villas shrink in size and green spaces, public housing, playgrounds, libraries, schools and hospitals expand?

Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kualalumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit berkembang pesat?
An outsider like me can observe, tell the story and ask questions. Only the people of Jakarta can offer the answers and solutions.

Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya

Semoga tulisan tersebut bisa membawa pencerahan bagi negeri kita yach, memberi manfa’at dan inspirasi bagi kita agar kita bisa merubah dan berbenah lebih baik lagi, setidaknya dimulai dari diri kita masing-masing.  Amien.

Thanks a lot to “Andre Vitchek” for your article !

Semoga bermanfa’at dan memberi inspirasi.

Komentar»

1. David Pangaribuan - Oktober 23, 2008

Bagaimana dong jadinya, kalau Jakarta sudah seperti ini saat ini. Kita warga Jakarta sudah sangat akrab dengan kondisi sperti sekarang ini. Pemerintah Pusat dan Daerah juga sepertinya tidak dapat berbuat apa, hanya mampu membuat slogan dan program namun hasilnya = tidak berarti banyak. Untuk keberhasilan dan tercapainya tujuan diatas : Pemda DKI harus tegas ! dalam melaksanakan sasaran dan tujuan yang diharapkan serta kita warga masyarakat Jakarta harus mendukungnya walaupun kita harus berhadapan dengan “kelompok atau organisasi” atau kekuatan lain yang bertentangan. Jakarta salah urus … dan kebijakan yang dibuat banyak berpihak.

Salam

@IYa nich Bang David, bagaimana nasib Jakarta nich, semoga bisa lebih baik, saya juga berharap demikian,terima kasih atas kunjungannya yach 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. tren di bandung - Oktober 24, 2008

kita memang belum terlalu mengerti makna dari membangun. sehingga pembangunan kota seperti asal terjun. ngga peduli kualitas lingkungan semakin menurun. yang penting menyenangkan orang yang sudah punya harta karun. wajar kalau masalah berulang dari tahun ke tahun. memang kita perlu membandingkan dengan negara serumpun. atau bagaimana dibandingkan negara kamerun. ya kalau mau dibandingkan dengan semua negara yang tergabung di UN.
kalau begitu coba dinilai blog saya yang baru tiga bulan mengalun. apakah sudah baik sebagai sebuah akun?

http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/23/amerika-krisis-indonesia-bangun/

@Terima kasih atas kunjungannya mas Andri, segera berkunjung 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

3. yulism - Oktober 24, 2008

Wow… saya tidak pernah tinggal di Jakarta. Tetapi pernah berkunjung beberapa kali. Dari gambarnya lebih mirip tempat parkir daripada jalan raya.. 🙂 Memang susah untuk merubah atau menata ulang tata kota jakarta. Tetapi yang jelas improvement di Jakarta benar benar diperlukan. Semoga pemerintah DKI bisa menjadikan kota Jakarta lebih baik dikedepannya. thanks

@Semoga yach mbak, saya juga berharap demikian. Terima kasih atas kunjungannya mbak Yulism 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

4. achoey - Oktober 25, 2008

Jakarta oh Jakarta

Sahabat
aku nanti kau di
http://cucuharis.wordpress.com

5. achoey - Oktober 25, 2008

Jakarta oh Jakarta

Sahabat
aku nanti kau di
http://cucuharis.wordpress.com

@Segera berkunjung achoey 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

6. kweklina - Oktober 25, 2008

jujur…dari penglihatan dan yang aku tahu..aku nilai.. (pendapat pribadi ya…)kenapa Jakarta susah maju..

masyarakat kurang bersatu…masyarakat mementingkan diri sendiri..masyarakat dan pemerintah tak memiliki wadah penengah sehinga apa ayang diperlukan rakyat apa yang harus dilakukan negara apa tak jelas..semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing…

Knapa Taiwan negara kecil bisa maju..bisa menjadi negara tekmakmur walaupun hanya 20 keatas…

Pemerintah dan rakyat…saling peduli

1.Adanya Askes .setiapa penduduk wajib membayar askes..setiap bulan .yang sehat bantu yang sakit…yang kaya bantu yang miskin..walaupun kecil tapi jika dikumpulkan artinya berguna.Kalau kita berobat kita memiliki kartu yang disebut kempo…dengan fasilitas baik tapi dengan harga murah..

2.Pemerintah membantu petani …gagal tanam karena keadaan alam seperti angin taupan dll..dengan cara menganti rugi berapa pesrsen dari setiap hektar tanaman.
3.Orang tua diatas 65 tahun setiap bulan mendapat tunjangan 3000NT-6000NT.

3.Tapi semua pekerja…semua instasi wajib …bayar pajak…

4.Kebanyakan orang Taiwan mengendarai sepeda ..pertama untuk menjaga polusi..menghemat bbm dll sampai saat ini minyak di Taiwan masih dapat subsidi dari pemerintah…dan tak pernah yang namanya kekurangan seperti di Indonesia.

5.Taiwan ingin rakyatnya tidak buta huruf…khususnya pendatang dari luar baik yang bekerja atau menikah dapat ikut sekolah tanpa dipungut biaya.
6.tentang macet…seharusnya ditambah lagi jalan-jalan tol atau cari solusi yang tepat dan baik.

Sebenarnya kemajuan suatu negara adalah bagaimana memanfaatkan pontensi yang dimiliki…sama -sama membangun baik pemerintah dan masyarakat.

semua diam…kapan hal itu bisa terjadi..kapan ada kemajuan bukan hanya mimpi…

Negara Cina.. saat dalam keadaan tebelit utang…pemerintah minta rakyat setiap satu rumah menyediakan satu biji beras setiap hari…setelah bertahun-tahun beras itu banyak sekali dan dan dijual sehingga mampu melunasi utang negara.

hal kecil..jika seluruh rakyat Indonesia bersatu…aku yakin bisa…tapi siapa yang bisa memulai…kalau setiap gerakan ada rasa curiga..tak ada rasa percaya…(sering dengar ucapan begini “jangan-jangan dikorupsi…”)

Ya…kalau mau menunggu kemajuan itu datang sendiri…aku yakin…mimpi-mimpi buruk…akan selalu menghantui masayarakat..

semoga ide dan rasa peduli,cepat ditemukan sehingga mimpi buruk itu bisa berlalu!

salam…

@Iya betul Kweklina, kapan yach semuanya itu bisa terwujud, mungkin harus dimulai dari hal yang kecil dan dari diri kita sendiri dulu yach ? 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

7. mikekono - Oktober 28, 2008

setiap kali ke Jakarta
saya tak pernah betah berlama2
Jakarta terasa sumpek dan kurang bersahabat

@Perlu di Improvement yach Bang 🙂🙂 🙂
Best Regard
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

8. catatanqs - November 13, 2008

salam kenal balik kakak Qs..

saya rasa, kita tidak bisa membandingkan jakarta dengan ibu kota negara seperti KL dan s’pore.

jelas berbeda, dari segi kepadatan penduduk, luas kota sungguh tidak bisa dibandingkan. jumlah penduduk MALAYSIA lebih sedikit dibanding kan jumlah penduduk JAKARTA, apalagi jika dibandingkan dengan KUALA LUMPUR, sungguh tidak adil saya rasa.

Negara kita mungkin negara kaya..
tp butuh waktu yang tidak sebentar untuk membenahi semua kekurangan pada saat ini.. dibutuhkan tangan2 kecil yang jujur dan bersih agar bisa mengubah negara kita menjadi negara yang kita harapkan…

I hope someday… our Indonesia can be better than today… Amin…

@Iya saya juga berharap demikian dik, terima kasih atas kunjungannya yach 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

9. marjrie - Desember 5, 2008

1:
Jembatan dekat rumahku di Jakarta Barat sudah 2 tahun terakhir ambruk karena dilalui truk segede kereta api. Padahal depan jembatan itu ada portalnya untuk mencegah kendaraan berat lewat.

Tapi portal itu sepanjang hari TERBUKA, ditunggui seorang kakek uzur, mengenakan seragam hijau muda, duduk dikursi dan menjulurkan tangannya setiap kendaraan berat lewat jembatan itu.

Tepian Jakarta, BANYAK sekali peraturan-peraturan yang pelanggarannya menjadi “nafkah” bagi Petugas dan Pejabat macam kakek itu.

Setiap halte bus yang dibuat jualan sehingga tak ada lagi tempat buat meneduh atau duduk menunggu bus, PASTI ada pengutipnya.

Setiap lapak arloji, parfum, dvd, apple atau pisang yang digelar di pedestrian walk PASTI ada pengutipnya.

Setiap kreta jelek yang berisi teh-botol dan minuman lain yang bertebaran di Monas PASTI sudah beli “pass masuk” dari oknum-oknum macam si kakek.

Mereka akan sangat bersyukur jika Pemda DKI berkenan membangun trotoir yang luas karena penghasilan mereka akan berlipat-lipat….

2:
Mengapa jalan-jalan di daerah perniagaan di Indonesia (bukan saja di Jakarta) selalu dalam keadaan RUSAK, mobil yang lewat semua lompat-lompat sepert kodok karena aspalnya sudah lama hilang tinggal bebatuan, sementara jalan-jalan di daerah perumahan Pegawai selalu mulus, belum rusakpun sudah dilapis ulang? Padahal frekuensi kendaraan yang lewat jelas JAUH dibawah daerah niaga.

Apakah ini yang disebut “subsidi silang”?

@Marjrie terima kasih atas info dan sharingnya yach. Saya juga berharap semoga permasalahan ini segera bisa dibenahi 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

10. [Jakarta]Part 1 : Kenapa Jakarta? - September 22, 2010

[…] https://elindasari.wordpress.com/2008/10/23/jakarta-in-need-of-improvements/ : Jakarta, Just a Note : jakarta, kerja, kos, […]

11. arithok - Oktober 6, 2010

thx for artikelnya, ijin (sudah) saya share🙂

12. Wahyudi - Oktober 6, 2010

Sangat memprihatinkan ya jakarta ternyata,sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk sang penulis artikel ini,sebenarnya kita harus malu sebagai warga negara indonesia khususnya pemerintah dan warga jakarta,knapa harus sampai orang dari negara lain yang peduli dan menuliskan artikel ini yang bisa menggugah hati kita dan mengembalikan kepeduian kita terhadap kondisi Negara indonesia khususnya Jakarta,dan menurut saya untuk bisa mengubah jakarta menjadi yang lebih baik diperlukan orang2 yang duduk di pemerintahan adalah orang2 yang bewawasan luas,mempunyai moral yg baik dan hati nurani,takut akan Tuhan,dan mempunyai rasa kepedulian terhadap kemanusiaan dan kesejahteraan masyarakat,dan berani menindak tegas terhadap pelaku kejahatan dan kelicikan baik di masyarakat dan di pemerintahan itu sendiri,kita semua sudah bosan dengah ulah para pelaku korupsi dan orang2 yang hanya mementingkan kepentingan sendiri dan golongannya,orang2 yang hanya mengurusi urusan politik tanpa kesadaran moral dan hati nurani,untuk itu sembari kita perbaiki dari kondisi yang sekarang ini menuju yang lebih baik,mulai dari sekarang pendidikan bagi tunas2 bangsa harus juga diperbaiki sejak dini,ajaran2 yang mendidik moral dan rasa kepedulian terhadap sesama dan bangsa harus lebih diterapkan sejak dini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: