jump to navigation

DO’A BIK MARYAM (SI PENJUAL TAPE) September 23, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
trackback

 

Waktu saya duduk dibangku SMP orangtua saya pernah dinas di daerah Pramulih Sumatera Selatan.  Kota ini tidak terlalu besar, namun cukup ramai menurut saya, karena di kota yang berjarak tempuh +/- 1.30 jam dari kota Palembang ini merupakan salah satu tempat pengeboran dan pengilangan minyak dan gas bumi untuk Pertamina  Sumbagsel.

 

Di kota ini saya dan keluarga saya mengenal Bik Maryam yang profesinya sebagai pembuat sekaligus penjual tape.  Karena tape yang dibuat & dijualnya terkenal enak, jadi kami sekeluarga menjadi salah satu pelanggan tetapnya.   Beliau atau lebih sering saya panggil dengan sebutan Bik (panggilan untuk orang Sumatera untuk wanita tengah baya yang kita hormati dan sejenisnya meskipun tidak ada ikatan darah) “Maryam” adalah seorang janda dengan lima orang anak. 

 

Maklum almarhum suaminya sudah meninggal dunia ketika anaknya yang bungsu masih berusia +/- 3 tahun.  Sedangkan yang sulung sa’at itu sebaya kakak saya yang pertama (kira-kira SMP).  Tapi sayangnya karena keadaaan financial beliau yang sulit anak lelakinya yang pertama tidak melanjutkan pendidikannya dan memilih menjadi tukang angkut barang di pasar Prabumulih untuk membantu ibunda menghidupi ke empat orang adiknya.

 

Karena tidak ada ketrampilan lain maka Bik Maryam ini sehari-harinya hanya menekuni profesinya sebagai pembuat tape sekaligus menjualnya.  Kalau pagi hari beliau biasanya mangkal di depan pasar Prabumulih, sedangkan pada siang sampai sore harinya beliau akan menjajakan dagangannya sampai ke komperta Prabumulih hingga dagangannya habis. Yach, begitulah kehidupan beliau untuk menafkahi keluarganya, dengan kata lain tak ada pekerjaan lain yang dapat beliau lakukan untuk menyambung hidup dirinya dan anak-anaknya.

 

Tapi meskipun demikian, bik Maryam nyaris tak pernah mengeluh. Beliau adalah sososk yang tegar dan mandiri. Beliau tetap menjalani hidupnya dengan riang. Karena saya dan keluarga termasuk pelanggan setianya, maka ketika mampir kerumahku tak jarang beliau sempat berbincang-bincang sejenak sambil menikmati air es yang selalu kami sediakan bila beliau lewat dimuka rumahku dan kebetulan kami singgahkan untuk membeli dagangannya.  Bahkan terkadang anaknya yang bungsu ikut menemaninya berkeliling. 

 

(Hem… kasihan yach bik Maryam…itulah ucapanku kala itu, jika saya melihat beliau berjalan mengintari komplek perumahan kami dan kebetulan ibu saya tidak membeli tape beliau, karena kebetulan tape di rumahku persediaannya masih ada / masih banyak)

 

Bahkan sekali waktu beliau pernah berpetuah kepada saya, yang sampai sekarang masih saya ingat persis kata-katanya,

“Andai dari  tape-tape ini, nantinya dapat mengantarkanku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya”, demikian beliau berujar ketika saya pernah bertanya tentang kenapa beliau tidak melamar jadi pembantu di kompleks perumahanku yang mungkin secara financial lebih terjamin dan anak-anaknya direlakan untuk diambil oleh orang-orang yang kebetulan mau mengadopsinya.  Tapi ternyata beliau bukan tipe ibu seperti itu.  Baginya anak-anaknya adalah rahmat dan amanah yang terindah dari Allah.  Mereka bukanlah beban bagi beliau.


Nah, lalu ada kisah istimewa apa dari Bik Maryam si penjual tape ini pembaca ?.

 

(Beliau pernah menceritakan kepada saya pengalaman beliau selama menjadi pembuat dan penjual tape)

 

Suatu hari setelah salat subuh dan menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya ke sekolah, bik Maryam segera berkemas akan menuju pasar seperti biasanya. Beliau segera mengambil keranjang bambu tempat beliau biasanya meletakkan tapenya. Beliau segera ke belakang / dapur. Tapi pada hari ini beliau kaget bukan kepalang. 

 

“Astarfirlahalazim”, ucapnya berkali-kali.  Degup jantungnya tiba-tiba bergetar kencang, dadanya seakan bergemuruh laksana ombak yang memecah bibir pantai.

 

Tape yang akan dijualnya ke pasar pada hari itu ternyata belum jadi. Masih berupa singkong.  Mungkin tape-tape itu harus menunggu lebih kurang 1 hari lagi agar layak dijual.  Beliau akui sa’at itu tubuh beliau rasanya lunglai seketika.  Pikiran beliau tiba-tiba kacau, beliau membayangkan, bahwa pada hari ini, pasti beliau tidak akan mendapatkan uang.

 

Jangankan untuk membeli perlengkapan sekolah keempat anaknya yang masih sekolah (yang kebetulan sa’at itu tahun ajaran baru dimulai),  untuk makan dan modal membeli singkong dan ragi saja,  beliau sudah tidak punya.


Lalu, ditengah keputus-asaanya, terbersit sebuah harapan dalam hati perempuan yang biasa kusapa Bik Maryam ini. Beliau yakin dan sangat percaya, jika hambanya meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil.

Kemudian Bik Maryam memutuskan untuk sholat dhuha seperti biasanya, hanya pada akhir sholatnya kali ini beliau sengaja menengadahkan kepala, diangkatnya tangannya. Beliau sengaja memohon do’a khusus yang lebih panjang dari hari biasanya kepada Allah. Beliau berdo’a,

“Ya Allah, Engkau Tuhanku Yang Maha Besar, Engkau Tuhanku  Yang Maha  Tahu atas segala kesulitanku,  Ya Allah, ya robbi, Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini, bantulah hamba-Mu ini ya Allah, jadikanlah singkong-singkong daganganku hari ini menjadi tape seperti biasanya. Hanya kepada-Mu ya Allah, aku berserah diri “.  “Amien”.

Dalam hati bik Maryam, beliau yakin, bahwa Allah akan mengabulkan do’anya.

Lalu tak lama kemudian dengan langkah yang tenang, beliau berjalan seperti biasanya menuju pasar Prabumulih. Dalam perjalanan, beliau membayangkan dan yakin bahwa Allah pasti sedang “memproses” do’anya. Dan singkong-singkong yang ada dikeranjang bambunya itu pasti akan jadi tape. Beliau yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah sepertinya.

Sesampai di pasar, beliau duduk di tempat biasanya berjualan. Perempuan ini meletakkan keranjang-keranjang itu dengan hati-hati. “Mudah-mudahan tapenya jadi!”, batinnya.

Lalu dengan perasaan yang masih berdebar, beliau membuka daun pisang penutup keranjang dagangannya. Beliau melakukannnya dengan pelan-pelan. Tapi beliau hampir terlonjak. Ternyata singkong-singkong dalam keranjangnya masih belum berubah menjadi tape seperti do’anya.  Singkong-singkong  itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali beliau buka di dapur rumahnya tadi pagi.

Karena rasa kecewa, dan kesedihan dan membayangkan wajah-wajah anaknya yang tidak bisa menikmati makan hari ini, tak terasa airmata perempuan ini menetes membasahi pipinya yang mulai keriput karena dimakan usia.

“Ya, Allah, ya Robbi, kenapa do’aku tidak dikabulkan ?”.  “Kenapa singkongku ini tidak jadi tape ya Allah ?”.  “Mengapa hal ini terjadi, apa salah dan dosaku, ya Allah ?”, demikian ucap batinnya lirih dan dengan sejumlah perasaan yang berkecamuk di dalam hati.

Lalu, tangan Bik Maryam lemas, serasa tak ada lagi keyakinannya, tak akan ada yang mau membeli tapenya yang masih berupa singkong itu. Tiba-tiba beliau merasa lapar, merasa sendirian. “Tuhan telah meninggalkan diriku”, batinnya lagi.

 

Airmatanya kini kian membasahi pipinya.  Matanya terasa panas. Terbayang bahwa besokpun mungkin beliau tak dapat berjualan, bahkan yang lebih menyedihkan dan membuat hatinya pilu mungkin besok pun anak-anaknya tak akan dapat makan.

 

Lalu, dengan langkah yang gontai, bik Maryam beranjak meninggalkan pasar Prabumulih.  Beliau mencoba berkeliling komplek kami, meskipun hari masih pagi.  Maklum biasanya beliau mulai menjajahkan tapenya ke komplek kami, setelah lepas zuhur sampai sore.  Kali ini tak seperti biasanya beliau mulai berkeliling kompleks.

Sambil menelusuri jalan kompleks beliau mencoba mengingat, bahwa beliau tak pernah mengalami kejadian seperti hari ini. Tak pernah singkongnya tak jadi. Lalu beliau menghentikan langkahnya, beliau menangis di bawah pohon mangga yang kebetulan berada di depan Rumah Sakit di komplek kami. Beliau merasa cobaan kali ini terasa amat berat untuk dipikulnya.

Nah, tanpa disangka-sangka, di tengah kesedihannya itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Bik Maryam memalingkan wajahnya yang masih sembab karena menangis.  Ternyata ada seorang wanita cantik, berusia separoh baya tengah tersenyum, memandang bik Maryam yang tengah duduk di bawah pohon mangga yang berada persis di depan Rumah sakit kompleks kami.

Lalu wanita cantik tersebut berkata,

 “Maaf Bik, apa bibik berjualan tape dan kondisi tapenya masih setengah jadi ?”.

“Kebetulan supir saya tadi sudah coba mencarinya dipasar Prabumulih, tapi ternyata tidak ada yang jual !”, lanjut wanita cantik itu lagi. 

“Apa bibik punya ?”, tanya wanita itu lagi seakan memecah keheningan dan kebisuan Bik Maryam.

Bik Maryam sempat terbengong, bahkan raut mukanya jadi terkesima. Tiba-tiba saja wajah bik Maryampun berubah jadi pucat. Dan masih belum bisa menjawab pertanyaan wanita cantik itu.  Bik Maryam lalu cepat-cepat menadahkan tangannya sambil berdo’a dengan kata-kata yang  lirih memohon,

“Ya Allah, sa’at ini hamba-Mu ini tidak ingin singkong itu jadi tape”. “Jangan Engkau kabulkan do’aku yang tadi ya Allah”. “Biarkan saja singkong itu seperti tadi, jangan jadikan tape”. “Amien ya robbalamaien”, ucap Bik Maryam lagi mengakhiri do’anya.

Lalu, dengan tangan yang gemetar Bik Maryam mulai membuka keranjang jualannya. “Bismilahirromanirrohim”, ujar Bik Maryam lagi sambil pelan-pelan membuka daun pisang penutup keranjangnya.

Dan tahukah apa yang terjadi para pembaca ?. 

Ternyata di balik daun pisang penutup keranjang itu, Bik Maryam melihat singkongnya dalam kondisi yang masih sama. Belum jadi.

 “Alhamdulillah ! “, ujarnya lagi setengah terpekik tanpa sadar.

Segera saja setelah itu Bik Maryam mengatakan kepada wanita cantik yang menanyakan dagangannya tadi bahwa yang dicarinya ada tersedia.

Lalu, terjadilah percakapan ringan antara Bik Maryam dan wanita cantik yang akan pembeli tape tadi.

“Ma’af bu, ibu mau tapenya serapa ?”, tanya Bik Maryam dengan suasana hati yang gembira karena dagangannya akan segera laku.

“Kalau saya borong semuanya beserta keranjangnya sekalian apakah ibu tidak keberatan”, ujar wanita cantik itu lagi.

“Tentu boleh saja bu !” jawab Bik Maryam dengan gembira.

“Baiklah kalau begitu saya bayar dengan Rp. 100.000,-, apakah bibik keberatan ?”, ujar wanita cantik itu lagi.

“O, terima kasih banyak bu, terima kasih banyak”, jawab bik Maryam lagi kali ini dengan wajah yang memerah karena bahagia tak terkirakan dan setuju dagangannya diborong lengkap dengan keranjangnya.

(Maklum utk uang senilai seratus ribu rupiah pada tahun +/- 1982 adalah jumlah yang cukup besar untuk harga sekeranjang ukuran sedang, tape dengan kondisi setengah jadi).

Lalu, sambil menyerahkan sekeranjang tape yang masih dengan kondisi setengah jadi ke tangan wanita cantik itu, bik Maryam memberanikan diri untuk bertanya,

“Ma’af  bu kalau saya boleh tahu, kenapa ibu mencari dan membeli tape yang kondisinya masih setangah jadi yach ?”.

“Ooh, kebetulan nanti siang saya dan suami akan berangkat ke Australia untuk mengunjungi putra saya disana“.

“Putra saya yang sedang belajar disana sangat doyan makan tape“. 

Nah, agar bisa sampai sana belum tetap segar, saya sengaja mencari tape yang belum jadi”.

“Agar setibanya kami di sana, tapenya jadi dan masih layak dimakan, sekalian juga untuk oleh-oleh beberapa kerabat kami disana”.

“Terima kasih banyak ya Bik”, jawab wanita cantik itupun berlalu meninggalkan Bik Maryam dengan hati gembira.

 

Nah, inti cerita diatas adalah :

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kadang kala kita berdo’a dan terkadang “memaksa” Allah untuk memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita.

Jika do’a kita tidak dikabulkan, kita merasa sedih, kita merasa diri kita diabaikan, lalu kita merasa kecewa.

Padahal, Allah Maha Tahu, apa yang paling pas, paling cocok, paling sesuai untuk diri kita.

Semua rencana-Nya adalah sempurna.

 

Semoga cerita tsb memberi manfa’at dan inspirasi.

 

Komentar»

1. yulism - September 23, 2008

Saya mengalami hal yang sama mbak Elindasari, saya menikah diusia yang boleh dibilang lumayan tua 33 tahun. Padahal sejak kecil saya hanya ingin berpacaran sekali dan menikah tidak mau berganti ganti pacar. Ketika menemui orang yang saya anggap tepat, ternyata kami putus. Pada saat itu saya merasa Tuhan tidak mencintai saya karena tidak mengabulkan doa saya. Tetapi sekarang setelah menikah dengan suami saya yang kebetulan jauh lebih baik dibanding mantan pacar saya, saya yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang sempurna untuk Kita.

@Yap, setuju mbak Yulism, Tuhan Maha Sempurna. Gimana rencana lebarannya mbak ?.🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. Diedien® - September 26, 2008

Subhanalloh… bahwasanya dari setiap kejadian yg menimpa kita baik dan buruknya akan selalu ada hikmah di balik semua itu…
Alloh Maha Mengetahui… Salam Bintang…🙂

@ Betul, setuju Diedien 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

3. Diedien® - September 26, 2008

“Andai dari tape-tape ini, nantinya dapat mengantarkanku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya” —> Maknanya Dalam sekali…
😦

4. Diedien® - September 26, 2008

Duh … ada yg lupa… bermaksud utk bertukar link..😉
bolehkah…???🙄

@O tentu saja boleh dong. Sekarang blognya Diedien juga sudah saya link di blog saya. Sukses buat kamu yach Diedien🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. dyah suminar - September 27, 2008

Subhanallah….Allah senantiasa memberikan yang tepat untuk kita.
kadang kita tidak bersyukur ya,,,,,manusia ,,ukurannya selalu KEINGINAN…bukan KEBUTUHAN.
Cerita yang sangat menyentuh,,,membuat kita berpikir bahwa di Indonesia,,,banyaaak sekali Bik Maryam Bik Maryam lain yang berjuang untuk keberlangsungan hidup dan membiayai anak2nya.
Seandainya konsep zakat itu dipahami dan dilaksanakan dengan benar,,,mungkin bisa mengurai masalah kemiskinan ya mbak,,

@Betul Bu Dyah, selayaknyalah kita selalu bersyukur pada Allah karena Dia Maha Tahu segalanya bagi hambanya. Semoga di masa yang akan datang zakat dll seperti yang ibu utarakan bisa terwujud.
Bu, mohon ma’af lahir bathin yach, ma’af baru sempat diupdate lagi setelah liburan panjang tepo hari, hehehe 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.cm

6. ThUmBpHiEL - Maret 10, 2009

mbak,tolong dikasih gambar proses pembuatan tape dari pemilihan singkong sampai jadi tape donk………..plizzzzzz……..

@Nah lho, pembaca sekalian ada yang bisa bantuin nggak nich 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

7. bedja purnama - Maret 22, 2009

Luarrr biasaa…mbak Elindasari, kebetulan saya pernah tugas ~3thn (2004 sd 2007) di Palembang dan beberapa kali melintas di Prabumulih (krn area jobku meliputi Sumsel, Jambi, Bengkulu dan Babel).
Kisah sederhana yang begitu menyentuh kalbu, dan intinya adalah manusia boleh punya skenario namun skenario Allahlah pada kenyataannya yg harus kita jalankan.
Sesuatu yg kita rencanakan akan baik di depan belum tentu akan demikian hasilnya, namun demikian juga yg di depan tampak tidak baik belum tentu hasilnyapun demikian.Namun yg pasti tiada satupun kejadian di muka bumi ini tanpa seijin Allah,yg besar maupun yg sangat kecil, yg tampak maupun yg tidak tampak oleh manusia .

@Sip, benar sekali Mas Bedja. Sepantasnyalah kita selaku Hamba NYA senantiasa mensyukuri semua karunia dari NYA. Karena sesungguhnya ALLAH itu Maha Tahu 🙂🙂 🙂 Terima kasih atas sharingnya Mas Bedja 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

8. Pengorbanan di Balik Tape Singkong Mang Asep « (new) Mbot's HQ - Agustus 17, 2012

[…] tape singkong gue pinjem dari sini. Share this:Share Pin ItEmailLike this:LikeBe the first to like this. 40 Comments by mbot on 16 […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: