jump to navigation

Kisah Masa Tua “Opa Chuan” September 12, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , ,
trackback

 

Disuatu kesempatan acara sosial, saya dan beberapa teman saya mengadakan acara untuk mengunjungi salah satu rumah jompo di kota ini.  Kami pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha.

 

Ketika kami sampai di sana, segera kami melaksanakan beberapa acara yang telah kami persiapkan sebelumnya guna menghibur para penghuni rumah jompo ini.  Tak lupa kami juga membagikan beberapa bingkisan, merayakan ulangtahun beberapa opa & oma yang kebetulan berulang tahun.  Mengajak mereka bercanda, sekedar mimijat, dsb.  Kami lihat mereka sangat terharu dan bahagia atas kedatangan kami. Menurut beberapa oma & opa yang kami temui disana,  kehadiran kami bisa sejenak memberikan nuansa yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hem, sungguh pengalaman yang mengaharukan sekaligus membahagiakan.

 

Tapi, sa’at teman saya sedang berbicara dengan beberapa oma, tiba-tiba mata teman saya tertuju pada seorang Opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Memang sedari tadi saya perhatikan juga kalau opa ini, mencoba menyendiri saja.  Tak seperti opa dan oma yang lain, yang dengan riangnya ikut bercanda dengan teman-teman saya yang lain.

 

Lalu teman saya sebut saja “Adi” mencoba mendekati Opa itu.  Adi mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti Opa itu akhirnya mau mengobrol dengan Adi.  Tak lama kemudian  si Opa itupun menceritakan kisah hidupnya kepada Adi dan saya.

 

Opa itu ternyata bernama Chuan. Sejak masa muda, opa Chuan menghabiskan waktunya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarganya. Karena opa Chuan sangat mencintai anak-anaknya, maka beliau berusaha keras agar bisa memenuhi segala kebutuhan hidup keluarganya.

 

“Saya sangat giat berusaha, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai”, ujar opa Chuan terbata-bata membuka cerita kisah hidupnya.

 

Lalu beliau melanjutkan kembali ceritanya,

“Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya, dimana kami sekeluarga bisa tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus dan mewah”.

 

(Kali ini saya dan teman saya melihat ada perubahan mimik muka opa Chuan, tergambar jelas di raut mukanya, kalau ada dulu ketika itu ada seutas kebanggaan yang pernah digapainya)

 

“Anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai ke luar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi”.

 

“Apa saja yang mereka butuhkan, saya bisa penuhi !”.

“Sekarang ini, mereka semua (anak-anaknya) berhasil dalam sekolah, juga dalam usahanya. Mereka juga sudah berhasil dalam berkeluarga”.

 

(Kemudian sejenak opa Chuan menghentikan ceritanya).

 

“Sa’at itu saya dan isteri saya berpikir, sekarang waktunya sudah tiba, dimana kami sebagai orang tua merasa sudah sa’atnya pensiun dan menuai hasil panen kami”.

 

“Tapi malang nasib saya, tiba-tiba istri saya tercinta, yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini, meninggal dunia karena sakit dan pergi meninggalkan saya dalam waktu yang sangat mendadak”.

 

(Kali ini opa Chuan tak kuasa menahan air matanya, karena terkenang almarhumah isterinya tercinta, saya dan teman saya juga tak kuasa menahan air mata karena ikut terharu.

 

“Sejak kematian istri saya, saya tinggal di rumah saya, hanya dengan para pembantu kami, karena anak-anak saya sudah mempunyai rumah sendiri yang juga besar”.

 

“Hidup saya rasanya mulai hilang, hari-hari saya mulai kosong, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap sa’at saya memerlukannya”.

 

“Tidak sebulan sekali anak-anak saya mau menjenguk saya, ataupun memberi kabar melalui telepon”, karena mereka bilang mereka sangat sibuk dengan berbagai urusan.

 

“Saya sebagai orangtua, coba selalu maklumi semua itu”, lanjut opa Chuan lagi dengan suara yang gemetar.

 

“Lalu tiba-tiba, suatu hari anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah saya, karena selain tidak effisien juga saya dapat ikut tinggal dengannya”.

 

“Pada mulanya saya, sebagai orangtua dengan hati yang berbunga, saya merasa sangat tersanjung. Saya langsung menyetujuinya.  Saya piker, saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi.  Buat apa punya rumah besar, tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya”.

 

“Setelah hari itu, saya ikut dan tinggal dengan anak saya yang sulung”.

 

(Kali ini opa Chuan, menundukkan kepalanya, sambil mengambil nafas dalam-dalam, untuk melanjutkan ceritanya).

 

“Tapi apa yang saya dapatkan ?”.

 

(Opa Chuan memandang Adi dan saya, dengan raut muka yang sangat mengharukan.  Saya dapat merasakan kalau opa Chuan mengalami putus asa yang sangat mendalam).

 

“Setiap hari, anak-anak saya malah sibuk sendiri-sendiri”.   

 

“Kalaupun mereka ada di rumah, tak pernah mereka mau memperhatikan saya, meskipun hanya untuk sekedar menyapa saya”.

 

“Semua keperluan saya pembantu yang memberi”.

 

“Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda, maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan”. 

 

(Hehehe…kali ini saya dan Adi melihat mimik yang lucu pada raut opa Chuan, ketika beliau mengatakan kalimat ini)

 “Saya tidak terlalu merepotkan menurut saya”.

 

 

“Lalu, karena tidak betah tinggal dengan anak saya yang sulung, saya tinggal dirumah anak saya yang lain”.

 

“Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita di rumah anak saya yang ini. Tapi rupanya tidak, kondisinya tidak jauh berbeda dengan anak saya yang sulung”.

 

“Malah di tempat anak saya yang ini lebih membuat saya sedih”. 

“Perlakuan anak saya ini, lebih menyakitkan lagi”.  

 

“Memangnya kenapa opa ?”, tanya Adi dan saya hampir bersamaan, karena penasaran atas perlakuan anak opa Chuan yang lain ini.

 

(Opa Chuan menjawab pertanyaan Adi dan saya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah enggan ditumbuhi rambut itu)

 

“Semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti”.

 

“Mereka menyediakan semua peralatan dari plastik, dengan alasan untuk keselamatan saya, tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu”.

 

“Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat terbuat dari plastic murahan, yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka”.

 

“Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata”.

 

“Saya selalu bertanya dalam hati kecil saya, dimanakah hati nurani anak-anak saya ?”  “Saya adalah orang tua kandung mereka”. 

“Yang memberikan mereka kehidupan yang layak ketika mereka kecil sampai dewasa”.

 

“Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil”.

“Anak saya ini dulunya sangat saya kasihi melebihi yang lain, karena dia adalah anak bungsu saya, dan dulunya  adalah seorang anak yang sangat memberikan suka-cita pada kami semua, terutama buat saya dan almarhumah isteri saya”.

 

“Tapi apa yang saya dapatkan ?”, lanjut opa Chuan dengan kalimat yang datar.

 

“Saya terlalu berharap banyak pada anak bungsu saya tentang perhatian dan kasih sayang”.

 

“Setelah beberapa lama saya tinggal disana, akhirnya anak saya yang sulung dan istrinya mendatangi saya dirumah anak saya yang bungsu”. 

 

 

Lalu mereka mengatakan bahwa, “Mereka sepakat akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo”.

 

“Alasannya supaya saya punya teman untuk berkumpul, dan mereka juga berjanji akan selalu mengunjungi saya”. 

 

“Saya dianggap seperti barang usang yang tidak terpakai.  Mereka buang dimana saja mereka suka”, ujar opa Chuan kali ini dengan kata yang terbata-bata karena menahan isak tangis.

 

(Sungguh pengalaman hidup yang mengharukan, sekaligus sangat memprihatinkan bagi Adi dan saya, ketika mendengarkan keluh kesah dari lelaki tua ini).

 

Menurut opa Chuan, sekarang ini beliau tinggal dip anti jompo ini sudah 2 tahun. Tetapi tidak sekalipun dari anak-anaknya yang datang untuk mengunjunginya. Apalagi membawakan makanan kesukaannya. Sepertinya hilanglah semua harapan opa Chuan tentang anak-anak yang beliau besarkan, dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat dimasa mudanya.

 

Pada lain kesempatan, opa Chuan juga pernah mengutarakan kepada Adi bahwa, “Mengapa beliau mengalami kehidupan di hari tuanya demikian menyedihkan”. “Padahal menurut opa Chuan beliau bukanlah orangtua yang menyusahkan”.  Semua harta opa Chuan sudah beliau berikan pada semua anak-anaknya, mereka sudah mengambil dan menikmati kekayaan yang pernah diraih opa Chuan”. “Opa Chuan hanya minta sedikit perhatian dari anak-anaknya, tapi mereka sibuk dengan diri sendiri”.

 

(Terkadang opa Chuan seolah menyesali diri,  mengapa beliau bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk menurut pandangannya sebagai orangtua yang kurang mendapatkan perhatian).

 

“Tapi, saya masih bersyukur,  saya masih untung di sini, saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat – sahabat yang mengasihi saya”. 

 

“Seperti kalian yang datang kemari, dan mau mendengarkan cerita saya, mencoba membagi perhatian kalian dengan kami disini”, ujar opa Chuan dengan muka yang mulai sembringa, ketika salah satu dari teman saya menyodorkan sepotong kue yang sengaja kami bawa untuk dinikmati bersama penghuni panti jompo yang lain.

 

(Tapi Adi dan saya tahu betul, bahwa Tetap di dalam hati kecil opa Chuan, beliau tetap merindukan anak-anaknya).

 

Nah, sebagai gantinya, sejak kunjungan kami yang pertama ke panti jompo itu, sahabat saya “Adi” selalu menyempatkan diri untuk datang kesana. Adi selalu menyempatkan diri untuk berbicara dengan Opa Chuan. Maklum lambat laun ternyata banyak kesamaan prinsip hidup yang Adi dapat dari opa Chuan. 

 

(Malah menurut saya, sekarang ini  membuat mereka berdua semakin akrab, tak ubah seperti anak dan bapak, hehehe…. )

 

Menurut cerita sahabat saya Adi,

Sekarang ini rasa kesepian di mata sang Opa Chuan sudah mulai sirna, sudah mulai berganti dengan keceriaan, apalagi kalau sekali-sekali sahabat saya membawa serta anak-anaknya untuk berkunjung.  Alhamdulillah ternyata keluarga sahabat saya Adi bisa menjadi pelipur lara buat opa Chuan.

 

Hem, setelah saya mendengar kisah ini baik sewaktu saya berkunjung langsung kesana maupun dari cerita sahabat saya Adi, saya jadi bertanya dalam hati kecil saya,

“Mengapa kita sampai hati, membiarkan para orang tua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita ?”.

“Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian ?”

“Bukankah tanpa Ayah dan Ibu, kita tidak akan ada di dunia dan menjadi seperti ini”.

 

So…Jika para pembaca masih mempunyai Orang Tua, bersyukurlah sebab banyak anak yatim-piatu yang merindukan kasih sayang Orang Tua.  “Love your parents in anyway they are !” 

 

Terima kasih atas ceritanya “Adi” & salam juga buat “Opa Chuan”

 

Semoga cerita ini dapat memberi manfa’at dan inspirasi.

 

Komentar»

1. Zainuddin A Lutfi - September 14, 2008

Kasihan sekali dg Opa Chuan. Semoga kita semua bukan termasuk seperti anak2nya Opa Chuan.

Salam kenal dari Jambi.

@Hai Zainuddin salam kenal kembali. Ya..semoga kita tidak termasuk seperti anak2 beliau. Amien. Terima kasih atas kunjungannya yach🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. Reza - September 30, 2008

:)……..SubhanaLlah………

Kisah Ini SaNgaT dalAm……….
SaNGat MeNyeNtuH HAtI saYa……….
MemBuka PiKirAn SayA MeNgeNai PenGoRBaNan SeORaNg Ayah………….Yang Di Sia2Kan Oleh Anak2Nya

SmoGa Kita AdaLah AnaK2 Yang BeRbakTi
Amiiiiiiiiiien

SaLam KeNal Dari Reza🙂

@Salam kenal juga Reza, terima kasih atas kunjungannya dan sering2 main kemari yach🙂 🙂🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: