jump to navigation

MAMPUKAH ANDA MENCINTAI PASANGAN ANDA TANPA SYARAT ? September 5, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Di hari dan bulan yang suci ini, saya mau berbagi cerita tentang “keikhlasan” yang saya dapatkan dari pengalaman / kisah nyata seseorang.

 

Tentu saja kalau kita bicara tentang keikhlasan, semua itu akan  kembali kepada keikhlasan seseorang terhadap dirinya sendiri, ya nggak ?.

 

Seorang bapak yang sudah berusia tidak muda lagi ini, pernah mengutarakan kisahnya, tentang “Mampukan kita mencintai pasangan kita tanpa syarat”.

 

 

Menurut saya kisah beliau ini sangat menarik dan semoga dapat menjadi bahan renungan.  Nah para pembaca penasaran bagaimana kisah beliau,  mari disimak yach.

Ditinjau dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam.  Kita sebut saja nama beliau disini sebagai “Bapak Harun”.  Usia bapak Harun ini sekarang sudah menginjak +/- 60 tahun. Keseharian kegiatan beliau selain sebagai pencari nafkah juga harus diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Sekarang ini usia istrinya juga sudah tua, karena jarak usia mereka tidak jauh.  Mereka sudah menikah lebih dari 32 tahun.

Pasangan ini telah dikarunia 4 orang anak. Nah, disinilah awal cobaan menerpa kehidupan mereka yang terbilang sangat menyenangkan dan membahagiakan pada sa’at itu, karena mereka menerima “kekayaan” dari sisi jasmani, rohani dan financial.

Cerita ini dimulai setelah istrinya melahirkan anak mereka ke empat.  Tiba-tiba kaki isterinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, dan hal  itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuh isterinya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang, lidahn isterinyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Sungguh keadaan kesehatan yang memprihatinkan bagi isterinya.

Setiap hari Bapak Harun tetap setia untuk membantu memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja beliau letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara lagi, tapi bapak Harun selalu melihat istrinya tersenyum.  Untunglah tempat usaha Bapak Harun ini, tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga ketika waktu siang hari, beliau bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Dan ketika sore harinya, beliau menyempatkan diri lagi untuk pulang memandikan istrinya, mengganti pakaiannya. Lalu selepas maghrib, beliau tetap mau menemani istrinya dan anak-anak mereka meskipun hanya sekedar menonton televise, sambil tak lupa beliaupun mulai menceritakan apa-apa saja yg beliau alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang dan tidak bisa menanggapi, Bapak Harun sudah cukup senang. Bahkan beliau juga selalu menggoda istrinya setiap berangkat ke tempat tidur.

Rutinitas seperti ini dilakukan Bapak Harun lebih kurang 25 tahun.  Beliau tetap dengan sabar merawat istrinya, sambil tetap harus membesarkan ke empat buah hati mereka.

Sa’at ini anak-anak mereka sudah dewasa bahkan anak pertama, kedua dan ketiga sudah menikah.  Hanya tinggal si bungsu yg masih menempuh bangku kuliah dan belum menikah.

Pada suatu hari, keempat anak Pak Harun beserta keluarga anak-anaknya berkumpul dirumah kedua orang tua mereka. Mereka semua (keempat orang anak Bapak Haruan & isteri beserta keluarga) ini, sedang berlibur sambil menjenguk Ibu mereka. Maklum sejak ketiga anaknya menikah, maka ketiga anak Bapak Harun ini, tinggal dengan keluarga mereka yang baru masing-masing.  Kesempatan berkumpul kembali ini menjadi sebuah ajang yang sangat menyenangkan bagi kedua orang tua ini (bapak Harun & isteri).

Sejak anaknya yang sulung, kedua dan ketiga menikah, otomatis yang tinggal merawat ibu mereka, tinggal Bapak Harun dan dibantu oleh si bungsu. Maklum bapak Harun bersih keras memutuskan kalau Ibu mereka,  biar beliau saja yang merawat.  Karena Bapak Harun hanya menginginkan satu hal dari anak-anaknya. Keinginan beliau adalah “Semua anaknya berhasil dan dapat menggapai cita-citanya, anak-anaknya bisa hidup mandiri dan sukses”, begitulah pintanya selalu dalam harap dan do’a.

Maka disuatu kesempatan, ketika dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yang sulung berkata kepada Bapak Harun,  “Pa, kami ingin sekali merawat Ibu, karena sejak kami masih kecil, selalu melihat Papa merawat Ibu, dan  tidak ada sedikitpun keluhan yang keluar dari bibir Papa, bahkan terkadang papa tidak mengijinkan kami untuk menjaga Ibu, agar kami tetap focus belajar dan sekolah”.

(Lalu si bungsu tetap melanjutkan kata-katanya, kali ini tak terasa air matanya  mulai berlinang)

Si sulung melanjutkan kata-katanya, “Pa, sudah yang keempat kalinya kami anak-anak papa mengijinkan papa untuk menikah lagi, kami rasa Ibupun akan mengijinkannya pa. Kapan Papa akan menikmati masa tua Papa.  Kami semua anak-anak papa sudah tidak tahan melihat papa dengan berkorban seperti ini lagi. Kami sudah tidak tega melihat Papa, kami berempat berjanji, kami akan merawat Ibu baik-baik secara bergantian, seperti papa selama ini merawat Ibu”. 

(Kali ini si sulung sudah tidak bisa menahan tangisnya dihadapan kedua orangtua yang dikasihinya)

Namun, Bapak Harun menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anaknya. “Anak-anakku, jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Papa akan menikah lagi.  Tapi ketahuilah anak-anakku bahwa, dengan adanya Ibu kalian disampingku saja, itu sudah lebih dari cukup buat papa. Dia telah melahirkan kalian”. 

(Sejenak kerongkongan pak Harun tersekat dan parau karena haru, tapi beliau tetap melanjutkan kata-katanya)

“Anak-anakku, kalianlah yang selalu kurindukan hadir didunia ini, dengan penuh cinta dan tidak ada satupun yang dapat menggantikannya dengan nilai dan harga berapapun”.

Coba kalian tanya Ibumu apakah beliau menginginkan keadaannya seperti ini menimpa dirinya ?”

“Papa tahu, anak-anak papa menginginkan Papa bahagia.  Tapi apakah batin papa bisa bahagia dengan meninggalkan Ibumu seperti keadaanya sekarang”. 

“Kalian anak-anak papa menginginkan Papa yang masih diberi Tuhan kesehatan  untuk dirawat oleh orang lain, dengan wanita lain.  Tapi bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit, nak ?”.

(Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Harun.  Mereka semua melihat butiran-butiran kecil juga jatuh dipelupuk mata Ibu mereka. Ibu mereka menatap mata suaminya yang sangat dicintainya itu dengan perasaan pilu dan haru karena sangat bahagia). 

Mereka dapat merasakan perasaan bahagia yang mendalam bagi ibu mereka, meskipun beliau tidak bisa mengungkapkan semua perasaannya dengan kata-kata dan gerakan bahasa tubuh seperti orang lain yang masih sehat.  Tapi mereka tahu ibu mereka teramat sangat berbahagia mendapatkan pasangan hidup seorang pak Harun, suami yang mau berbagi, menerima keadaan terpahit yang menempuh perjalanan hidup mereka berdua.

Dilain kesempatan pak Harun sempat menasehati kembali anak-anaknya, “Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah sebuah kesia-siaan”.

“Papa memilih ibu kalian sebagai istri papa untuk papa jadikan pendamping hidup papa”. “Sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat papa, mencintai papa dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan ibu kalian telah memberi saya empat orang anak yang lucu, pintar dan baik sebagai pelita, pelipur hati papa”.

“Sekarang,  dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama, keluarga kita, dan itu merupakan ujian bagi papa, apakah papa dapat memegang komitmen untuk tetap mencintainya, apa adanya. Sehatpun belum tentu papa mencari penggantinya apalagi dia sakit”.

(Wow, sungguh cinta yang luar biasa, benar-benar cinta yang sesungguhnya…)

Semoga cerita ini bermanfa’at dan memberi inspirasi.

Iklan

Komentar»

1. hedi - September 5, 2008

Insya Allah saya akan mencintai pasangan saya tanpa syarat

@ Amien, semoga yach mas. Terima kasih atas kunjungannya mas 🙂 🙂 :). Mas kita saling bertukar link yok ? Blog mas hedi sudah saya lonk ke blog saya (semoga berkenan) 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. yulism - September 5, 2008

Semoga keluarga kami dan semua pasangan didunia ini dirahmati cinta sejati seperti Pak Harun. terimakasih atas sharenya.

@Amien, semoga ya mbak Yulism. Terima kasih kembali 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

3. subpokjepang - September 7, 2008

pasangan impian,

i wanna be like them

@Semoga ya mbak, amien. Terima kasih atas kujungannya mbak 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

4. edratna - September 7, 2008

Semoga kitapun mendapat pasangan yang mencintai tanpa syarat….

@Amien, semoga Tuhan mendengarkan do’a-do’a kita. Terima kasih atas kunjungannya tante Ratna 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. bulanmalam - September 11, 2008

Bagi Aku mencintai seseorang tak perlu akan alasan kerana jika meletakkan sesuatu walaupun satu alasan kita akan rasa terikat. Kita harus rasa bebas untuk mencintai seseorang.

Jika punya alasan ia hanya untuk memberikan yang terbaik buat pasangan.

Apa pandangan kamu.

@Menurut pendapata saya, kurang lebih sama, bulan malam. Intinya bisa menerima kekurangan & kelebihan dari pasangan kita. Dan terus berusaha melakukan yang terbaik. Ok, terima kasih atas kunjungannya yach 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

6. nazuwa - Oktober 22, 2009

Gut Story


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: