jump to navigation

PERJALANAN NAPAK TILAS SEJARAH (PART 7) MUSEUM WAYANG Agustus 28, 2008

Posted by elindasari in Belajar.
Tags: , , , , , ,
trackback

MUSEUM WAYANG

 

Setelah saya dan rombongan puas berkeliling di Taman Fatahillah, kami melangkahkan kaki menuju Museum Wayang.

 

 

Musem Wayang ini persisnya terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat.  Dari jauh sudah kelihatan kalau gedung ini tampak unik dan sangat menarik. 

(Pokoknya semakin tua semakin unik hehehe…)

 

Karcis masuk ke Museum ini sangat terjangkau.  Cukup hanya dengan membayar Rp. 2.000,- utk Dewasa, Rp. 1.000,- untuk mahasiswa, sedangkan anak-anak dan pelajar hanya Rp. 600,- saja.  Malah kalau dengan rombongan minimal 20 orang bisa mendapatkan tiket masuk dengan harga yang lebih murah lagi.  Waktu buka museum ini hari Selasa s/d Minggu.  Hari Senin dan hari Besar museum Tutup.

(Benar-benar terjangkaukan dan super ekonomis utk tiket masuknya yach…)

 

Menurut info dari guide tour Napak Tilas Sejarah Indonesia yang mendampingi saya beserta rombongan :

 

Gedung ini juga telah mengalami beberapa kali perubahan / perombakan.

 

Gedung ini pertama kali dibangun pada tahun 1640 yang diberi nama ”De Oude Hollandsche Kerk” artinya Gereja Lama Belanda, dan tentu saja difungsikan sebagai Gereja.

 

Pada tahun 1732 gedung ini diperbaiki dan diganti namanya menjadi ”De Nieuwe Hollandsche Kerk” artinya Gereja Baru Belanda.

 

Gedung ini pernah hancur akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1808.

 

Nah, kemudian dibekas reruntuhan ini dibangun kembali gedung yang akhirnya dipergunakan sebagai Museum Wayang.  Walaupun bangunan ini pernah dipugar, beberapa bagian gereja lama dan baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini.

 

Museum Wayang ini diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1975 oleh mantan Gubernur DKI Jakarta yaitu Bapak H.Ali Sadikin.

(Terus terang saya salut / bangga buat beliau “Bapak H. Ali Sadikin”, karena ternyata pada masa kepemimpinan beliau banyak sekali tempat / museum bersejarah yang diresmikan)

 

Pada tanggal 16 September 2003 museum ini mendapat perluasan bangunan atas hibah dari Bapak H. Probosutejo.

 

Museum Wayang memamerkan dan memilki berbagai jenis koleksi dan bentuk wayang dan boneka seluruh Indonesia.  Seperti wayang kulit, wayang golek, patung wayang, topeng wayang, wayang beber,  wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, dan lain-lain.

 

Wayang-wayang dan boneka tsb ada yang terbuat dari kayu, kulit dan lain sebagainya. 

 

Ada juga wayang dan boneka dari luar negeri misalnya dari Tiongkok, Vietnam / Kamboja, Thailand, Suriname, China, Perancis, Inggris, Polandia, India, Colombia, dll.

 

Ketika melihat berbagai koleksi, anak saya sangat tertarik pada koleksi boneka si Unyil, Cuplis, Pak Ogah, Melani, Usrok, Penjahat, Nenek Sihir, Pak Raden, Kinoi dkk.  Komentarnya boneka-boneka itu lucu sekali.

 

(Hem saya jadi teringat waktu saya masih kecil, Film “Si Unyil” adalah tontonan yang selalu ditunggu hehehe)

 

Ada juga boneka Pinokio yang berhidung panjang, hehehe.

 

Hingga kini Museum Wayang mengoleksi lebih dari 5.400 buah koleksi.

 

Sebagai orang Indonesia kita sepatutnya bangga karena ternyata Wayang Indonesia telah diakui oleh UNESCO (United Educational, Scientific and Cultural Organization) pada tanggal 7 Nopember 2003 di kota Paris, Perancis dengan memproklamirkan Wayang Indonesia sebagai “Masterpieceof Oral and Intangible Heritage of Humanity”. 

 

Hal ini membuktikan bahwa Wayang Indonesia telah diakui sebagai “Karya Agung Budaya Dunia”.  Pada kesempatan itu juga secara resmi diserahkan “Piagam Penghargaan UNESCO”, yang juga dilaksanakan di Paris, Perancis pada tgl 21 April 2004 lalu.

 

Eit, saya hampir lupa menceritakan kalau di dalam bangunan ini ternyata dulunya pernah juga difungsikan sebagai makam orang-orang Belanda yang pertama kali datang ke Batavia.

 

 

Antara lain  orang VOC Belanda yang bernama “Jan Pieterzoon Coen”.  Didepan bekas makam beliau ini juga terdapat berbagai macam jenis nisan dan bentuk tulisannya. Desain dinding dan tulisannya sangat kental dengan Gaya Eropa.

 

Ok, sekian dulu cerita saya dari museum Wayang.  Saya dan rombongan akan segera berkunjung ke Museum berikutnya (Museum Bank Mandiri).  

Para pembaca penasaran ceritanya ?  Ikuti di cerita Perjalanan Napak Tilas Sejarah Indonesia (Part 8).  Saya tunggu yach….

 

Semoga bermanfa’at dan memberi inspirasi.

Komentar»

1. yulism - Agustus 28, 2008

Saya suka sekali dengan wayang sebagai dekorasi rumah. Sama mbak Film si unyil memang dulu merupakan satu satunya hiburan anak yang ditunggu tunggu. Ayah saya almarhum malah membelikan kasetnya karena kita sangat menyukainya. thanks

@ hehehe..ternyata Si Unyil memang kesukaan kita2 pada era itu ya mbak, hehehe….🙂 🙂 🙂 Terima kasih atas kujungannya mbak🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. Katrin - Maret 23, 2009

Mbak Elindasari, minta info, apakah tempat ini cocok dikunjungi oleh anak-anak usia 5-6 tahun? Terima kasih

@Cocok, karena sewaktu saya berkunjung kesana saya juga bersama keluarga. Disana juga ada koleksi boneka si unyil dan dari berbagai negara, sehingga dapat menambah wawasan anak-anak. Selamat berkunjung Katrin🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: