jump to navigation

PERJALANAN NAPAK TILAS SEJARAH INDONESIA (Part 2) MUSEUM BAHARI Agustus 22, 2008

Posted by elindasari in Belajar.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

MUSEUM BAHARI

 

Pada kesempatan kali ini saya dan rombongan juga bersama komunitas historia Jakarta juga berkunjung ke Museum Bahari.  Museum ini terletak di  Jl. Pasar Ikan No.1 Jakarta Utara.  Telp. 669 3406 Fax. 669 0518. 

 

 

Untuk masuk ke museum ini ternyata tidak mahal lho, cukup membayar Rp. 2.000,- per orang utk dewasa, Rp. 1.000,- untuk mahasiswa dan Rp. 600,- untuk anak-anak.  Malah utk rombongan ada tarif khusus yang lebih murah lagi lho. Waktu bukanya dari hari Senin s/d Minggu dari jam 9 s/d 15.00 wib.  Sedangkan pada hari Senin / besar museum ini tutup.  So, untuk para pembaca yang ingin berkunjung tempat ini juga bisa dijadikan alternative wisata sejarah Indonesia sekaligus untuk mengenalkan rasa cinta bahari kepada generasi muda sejak usia dini.

 

Nah mau tahu apa saja yang saya dapat dari hasil kujungan saya, yuk ikuti cerita nya :

 

Bangunan yang sekarang ini kita kenal dengan Museum Bahari ini ternyata bangunan kuno yang telah dibangun secara bertahap sejak tahun 1654 hingga 1774 (wow sudah tua banget yach ???). 

 

 

Ketika itu bangunan ini difungsikan oleh VOC Belanda (yang dulu menjajah Ibu pertiwi kita nich), sebagai gudang rempah-rempah.

 

Selanjutnya pada masa pemerintahan Jepang di Indonesia, gedung yang dulunya lebih dikenal dengan sebutan gudang rempah-rempah ini, yaitu tepatnya tahun 1942 dialihan fungsinya menjadi gudang logistic peralatan militer Jepang.

 

Setelah Indonesia merdeka, bangunan kuno ini difungsikan sebagai gudang logistic PTT dan PLN. 

 

Pada tahun 1976 mulai direnovasi dan akhirnya pada tanggal 7 Juli 1977 diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota sebagai Museum Bahari.

 

Di Museum Bahari ini saya jumpai berbagai koleksi, antara lain perahu-perahu tradisional dari seluruh wilayah nusantara sebut saja :  Perahu Pinisi dari Bugis Makasar, perahu kora-kora dari Maluku, perahu Mayang dari pantai utara Pulau Jawa, perahu Lancing Kuning (layarnya memang berwarna kuning lho) dari Riau, perahu Jukung dari Kalimantan, dsb.

 

 

 

Sedangkan koleksi biota lautnya juga dapat kita jumpai disini, sebagian juga ada yang diawetkan alam toples.

 

Selain itu saya juga dapat melihat koleksi peralatan Navigasi (dari yang paling kuno lho), Matra laut, maket pulau Onrust, peralatan penangkapan ikan tradisional, peta pelayaran serta berbagai foto mengenai kegiatan kebaharian nusantara sejak masa colonial (dengan ciri khas tempo doeloenya tentunya).  Pokoknya seru banget dan banyak pengetahuannya dan membuat saya jadi tambah cinta Indonesia.

 

Disini juga saya dapat ceritakan tentang struktur bangunan Museum ini yang sangat unik yang terbuat dari kayu Ulin atau disebut juga Kayu Besi yang usianya sudah sangat tua dan keaslinya masih terjaga.  Kayu Ulin / kayu besi ini asli dari kekayaan bumi Indonesia yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan dan Sumatra.. (Hem keren abis deh)

 

Selain itu saya juga dapat melihat beberapa lukisan tua pahlawan-pahlawan kita, ada lukisan Pahlawan Sisingaraja, Sultan Hasanuddin, Patimura,dll.

 

Pada sa’at melihat lukisan ini saya sangat tertarik dan berkesan pada lukisan tentang seorang pahlawan wanita yang bernama Laksamana Malahayati (sekarang nama beliau diabadikan jadi salah satu Perguruan Tinggi di kota Bandar Lampung). Menurut informasi guide sejarah yang memandu kami pahlawan ini adalah seorang pejuang wanita kita yang pertama yang melawan kaum penjajah dengan perahunya. 

 

Beliau dapat mengalahkan pasukan Portugis, yang kalah itu dengan kekuatan 15 perahu melawan pasukan kita (Laksamana Malahayati) yang hanya 5 perahu saja.  Jadi beliau adalah sosok pejuang wanita pertama yang berasal dari daerah Aceh yang berjuang mempertahankan wilayah kelautan kita dari tangan penjajah.

 

Di Museum ini ternyata juga tersedia fasilitas ruang pertemuan yang layak digunakan untuk seminar, lokakarya dengan kapasitas 150 orang.  Halaman dalam yang artistic untuk kegiatan Bazar dan Resepsi dengan kapasitas 500 orang.

 

Ok, sekian dulu cerita saya tentang Museum Bahari, karena perjalanan saya dan rombongan akan berlanjut ke tempat yang tak kalah menarik. 

 

So, tetap baca artikel selanjutnya yach…

 

Semoga cerita diatas memberikan inspirasi & manfa’at.

Komentar»

1. bapakethufail - Agustus 25, 2008

boleh dong ikut kalau pas jalan2an…… he he he
jalan2 yang membawa manfaat…. lagi cinta banget nih sama sejarah ????

2. yulism - Agustus 26, 2008

Bener juga ya, Indonesia yang negara kepulauan seharusnya memiliki kekayaan bahari yang sangat mengagumkan. Syang saya takut akan ombak dan tidak bisa berenang. Tapi memang saya berasal dari tempat yng jauh dari laut sih. Menarik sekali thanks

3. fahmi - Oktober 4, 2008

hai erlinda, saya butuh informasi tentang legenda lancang kuning untuk acuan desain saya, yaitu dari segi historik, sosial kebudayaan dan filosofi ny yg bisa saya ambil dari legenda tersebut.
apabila erlinda mau dan bkenan untuk membantu saya^_^

hizam fahmi
terima kasih

@Hello Mas hizam Fahmi, mungkin saya bisa kasih usul agar mas Fahmi coba berkunjung ke blognya mas Asep kambali (salah satu pendiri komunitas sejarah kota jakarta,dll) yaitu :
http://komunitashistoria.blogspot.com
(semoga beliau bisa membantu memberikan artikel dan data-data maupun personal yang bisa membantu lebih jauh).
Selain itu coba juga kunjungi situs-situs museum sumatera selatan dan riau, mudah-mudahan menadapat info yang dicari.

Ok, sekian infonya semoga membantu 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

4. aWa' - Februari 12, 2009

bs Mnta tlong ngga bwt d cariin literatur tentang sejarah bahari indonesia dan pengolahan SDl…pliz soalx aku btuh bgt bwt bhan makalah..thx be4.. ^-^

@Hem mungkin aWa’ bisa browsing di Internet (Google) dan coba literature di beberapa perpustakaan. Saya yakin pasti banyak artikelnya. OK, selamat berburu bahan makalah yach 🙂 🙂 🙂
best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. Andi Qirah - Februari 26, 2009

Perhatian thd budaya bAhari hrS lbih dtingktkn mengingat sbgian bsr wilayah INDONESIA adlh prairan..

@Setuju banget ANdi Qirah. NAh, sekarang jadi PR bagi kita semua utk menanamkan rasa cinta terhadap budaya bahari terutama pd generasi muda. Mudah2an lewat artikel2 bisa membangkitkan rasa cinta tsb 🙂 🙂 🙂
Terima ksh sudah berkunjung disini 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

6. chaca - November 21, 2009

ihhh ….

chaca jdi pengen lebih tau dehhh tentang sejarah indonesia

skarang aku kan sekolah di jurusan pariwisata jdi aku pengen banyak tau niihh tentang sejarah’a indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: