jump to navigation

ARTI MERDEKA BAGI SEORANG PAK HOLIL Juli 16, 2008

Posted by elindasari in Artikel.
Tags: , , ,
trackback

Pagi ini sengaja kulangkahkan kakiku menuju sebuah istana kecil di sudut keramaian kota Metropolitan.  Aku menuju istana mungil milik salah seorang veteran pejuang kemerdekaan kita.  Sebut saja namanya pak Holil. 

 

Lelaki rentah ini hidup bersama isterinya tercinta dan ketiga anaknya.  Kebetulan anaknya yang perempuan telah menikah dan mengkaruniakan kepada mereka 2 orang cucu.  Istana hidup anak & cucunya terletak bersebelahan yang hanya dibelah dgn dinding triplek alakadarnya sebagai pembatas.  Kehidupan keluarga anak perempuannya secara finasial tidaklah terbilang sukses.  Mungkin bolehaku berpendapat tak lebih meprihatinkan dengan kehidupan kedua orangtuanya.

 

Untungnya beliau masih mempunyai 2 orang anak laki-laki yang sudah dewasa dan belum menikah, yang bisa sedikit menopang kehidupan hari tua mereka.  Yah, meskipun pengasilan ke dua anaknya ini, boleh dikatakan juga tak gemilang, karena profesi mereka hanya sebagai buruh kasar dan tukang ojek.  Tapi mereka adalah anak-anak yang tahu diri & berbakti kepada kedua orangtuanya. 

 

Meskipun kehidupan mereka di kota Metropolitan ini penuh dengan keprihatinan, tak ada kata-kata menyesal dari seorang Pak Holil juga keluarga, atas apa yang telah/ pernah lakukan untuk negeri ini. 

 

Beliau begitu sempurna sebagai Pejuang Sejati menurut kacamata dan pandangan saya.

 

Istana mungil mereka ini hanya berukuran tak lebih dari 18 m2 dengan petak triplek yang penuh tembelan disana-sini.  Nuansa cat yang sudah pudar.  Lantai istana inipun hanya berhiaskan keramik combing-cambing, yang tak tentu ukuran dan corak warnanya.  Tertempel di lantai dengan konsep design interior kontemporer ala kadarnya. 

 

Kondisi kamar tidurnyapun tak jauh berbeda.  Hanya diisi sebuah dipan reot yang sudah usang dimakan usia dan siap roboh kapan saja.  Di lain sisi berdiri dengan lemah, almari tua dengan kaca yang hanya tinggal sebelah karena kondisinya sudah pecah tak rata.

 

Ruang makanmu merangkap ruang masak keluargamu. Tak tampak meja makan sebagi symbol kesehteraan penghuninya. Sedangkan tempat yang biasanya paling enak untuk merendamkan diri dari kepenatan ibukota selain di tempat tidur, bagi kebanyakan orang sukses di kota Metropolitan, alias “Kamar mandimu” sepertinya tak pantas dikatakan tempat yang nyaman.  Disana hanya bertengger sebuah pompa dragon yang tak kalah tua dengan umurmu.  Sebuah gayung bertemankan ember rombeng disisinya. Suasana yang pengap dan gelap karena tak ada cahaya ibaratkan kuburan yang tak terawat.

 

Hem, yang lebih memprihatinkan lagi kondisi dapurmu.  Disana hanya teronggok sepasang kompor minyak tanah, yang menurutmu sekarang sudah jarang menyala, karena energi yang berasal dari minyak tanahnya semakin langka, kalaupun ada kau tak akan mampu membelinya.

 

Untuk itu kau hanya menggandalkan sebuah tabung kecil, hasil pembagian yang katanya pemberian dari pemerintah.  Untuk mendapatkan tabung mewah tsb, dirimupun nyaris / hampir tak kebagian jatah, karena ulah oknum-oknum yang sengaja salah-salah ketika mendata secara nyata.

 

(Hem…hidup yang kau jalani terasa tak pernah bersahabat dengan gembira). 

 

Kutatap lagi dinding triplek istanamu. Disanalah tempat yang paling agung yang aku temukan dari istananmu.  Disana dengan bangga kau tempelkan, untuk menunjukkan padaku, bahawa  itu sebuah photo dirimu ketika kau masih gagah. 

 

Berpakaian tentara dengan sikap tegap.  Beberapa tanda kemiliteran yang kau banggakan melekat didada. Tanda bintang jasa yang pernah kau terima. Pertanda bukti bahwa kau pernah membela bangsamu, tanah airmu, ibu pertiwimu dari kaum penjajah. 

 

Untuk Indonesiamu yang Raya kau rela mati, kapan saja, asalkan Pertiwimu bisa bebas dari belenggu penjajah.  Sungguh mengharu biru bial kutatap dinding berhiaskan photo ini.

 

Pak Holil,

Diguratan mukamu aku dapat membayangkan , meraba jauh kebelakang untuk melihat sisi kegagahanmu kala itu.  Meskipun sekarang telingamu sudah sulit mendengar kata-kata kami, tapi kau tetap pejuang kami.  Meskipun cengkraman tanganmu sekarang sudah gemetar tak sekuat cangkramammu ketika menghunus bamboo runcing kala itu, kami tetap menghormatimu, menghargaimu sebagai pejuang tanah air.

 

Ma’afkan kami, anak cucumu yang telah menikmati kemerdekaan yang pernah kau perjuangkan bersama para pejuang lainnya, yang tidak bisa memberikan kau kebahagiaan dan kelebihan dari segi financial & menempatkan dirimu di dalam istana yang layak, sebagai  tempat kau bernaung di hari tuamu.   Ma’afkan pemerintah kami yang hanya mampu mensubsidi kehidupanmu bersama isterimu yang sudah sangat rentah sa’at ini, hanya dengan nilai Rp. 600.000,- saja per bulan.

 

Sekali lagi ma’afkan dosa-dosa anak & cucu bangsamu ini,  yang tidak pernah tahu membalas budi perjuanganmu bersama pejuang lainnya, yang belum mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan yang sesungguhnya. 

 

Aku tahu persis bahwa orang-orang seperti Pak Holil dan pejuang lainnya tidak pernah meminta imbalan apapun atas kemerdekaan yang pernah mereka raih.  Kemerdekaan bagi mereka adalah mempertahankan hak atas bumi pertiwi ini dari tangan penjajah. Kemerdekaan bagi mereka adalah pengorbanan apa saja untuk mempertahanan hak sesungguhnya atas Tanah Air. Bagi mereka perjuang  ini belum berakhir.  Bagi mereka perjuangan ini sesungguhnya masih panjang.

 

Tapi, lewat tulisan ini saya ingin mengucapkan BERIBU TERIMAKASIH  buat Pak Holil dan para pejuang (veteran perang lainnya) yang kini masih ada, tapi belum bisa menikmati arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Sekali lagi TERIMA KASIH Pak Holil dan para pejuangku yang lainnya.  Kusematkan sejuta Bintang Tanda Jasa atas perjuanganmu yang tidak pernah berakhir.

 

Kupersembahkan tulisan ini buat :

Pak Holil (salah satu Veteran Pejuang Kemerdekaan) & Para Pejuang Kemerdekaan Indonesia lainnya di seluruh Tanah Air.

Indonesiaku, Indonesiamu.  Indonesia, Bangkitlah !

Komentar»

1. Arsyad Salam - Juli 16, 2008

kasian ya pa holil…. sedih skali nasibnya, pemerintah ga perhatiin veteran…

@ Ya Mas Arsyad, nasib mereka sangat memprihatinkan !. Aku sangat sedih menyaksikannya, sungguh…
(Cerita ini fakta lho Mas Arsyad)
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. cryingdevil - Juli 16, 2008

😦

kita bangsa yang ga peduli ama masa lalu,
sbgian peduli…namun ga cukup waktu bwt memikirkan massa itu,
kasian para veteran bangsaku,,

@Hem, betul Mas Hengky, Bintang sangat prihatin atas nasib dan kehidupan mereka !!!
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

3. Abdee - Juli 16, 2008

Dan masih banyak pak Kholil-Pak Kholil yang lain di negeri ini…

@Betul Mas Abdee, dan mungkin usia-usia mereka sa’at ini sudah renta, dan saya pesimis kalau kehidupan mereka-mereka secara finansial mapan ?. Karena dari beberapa info/berita banyak terdengar nasib2 mereka memang kurang diperhatikan & tdk beruntung. Kasihan dan prihatin sekali…
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

4. ame268 - Juli 17, 2008

Menarik sekali blog ini. Salah satu blog aktif yang impressif. Lam kenal aja… salam dari kota Malang..

@Hello, salam kenal kembali dari saya buat Ame di kota Malang. Sering2 berkunjung kemari ya Ame🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. Amabel - Juli 24, 2008

Hai Bintang,
Lam kenal dari saya yach? bait per bait saat membaca air mataku turun dgn sendirinya, emang Bangsa ini sudah bobrok dgn segala masalah2 sampai2 bisa lupa akan pejuang2 terdahulu yg telah mati-matian membela & berjuang utk bangsa ini. Mungkin sekarang Pak Holil menderita dgn keadaan sekarang mungkin nanti di alam lain beliau akan dpt tempat yang layak sesuai keringatnya yang bercucuran membela bgs & negara ini, amien2 ya Rabbal Allamin.

rgds,
Abel

@Hello Abel, senang dapat kunjungan dari Abel. Benar Abel, kita sangat prihatin atas kondisi yang menimpa para veteran perang kita. Semoga kita bisa berbuat sesuatu buat mereka. Sering2 main kesini ya Abel. Sukses buat Abel yach🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

6. Metta Tenggara - Juli 24, 2008

Yah bagaimanapun juga Pak Holil harus berjuang untuk melanjutkan kehidupannya. Perjuangan nya tidak selesai pada saat Indonesia sudah merdeka. Perjuangan seorang Pak Holil berakhir pada saat ajal menjemputnya…
That is LIFE..

@Ya, perjuangan buat seorang Pak Holil memang belum selesai Mamet. Sungguh ironis yach ? Terima kasih atas kunjungannya Mamet🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

7. tsa - Juli 25, 2008

mau minta alamat pak holil boleh gak?
terima kasih, tulisannya bagus
mohon di email secepatnya ke gembel_kecil@yahoo.com

@Hello tsa, salam kenal. Ngomong-ngomong kalau Bintang boleh tahu, tsa siapa yach ?. Terima kasih atas kunjungannya. Segera saya kirim alamat jelasnya 🙂 🙂🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

8. bayu75 - Agustus 9, 2008

BARU SEMPET BACA..
tulisan yang bagus, dan amat real…
KEEP IN WRITE yach….
salam kenal juga

9. Fitto - September 10, 2008

saya turut prihatin thd veteran perang kita.
saya sedang ingin membuat film tentang perang Indonesia antara tahun 1935-1960) saya sudah research, tetapi saya kesulitan mendapatkan alamat perkumpulan veteran kita atau veteran lain.
saya tdk yahu, apakah tulisan tadi karangan atau real. tapi kalo ada informasi tentang veteran2 tersebut. tolong kirimkan alamatnya ke email saya ya..fittoerigarunfieldo@gmail.com
terimakasih

10. Pesan tidak berjudul - Agustus 13, 2009

Ayo pemerintah! Sudahkah kalian bca tulisan ini!
Kalian tidak akan bisa hidup enak,tanya perjuangan pak kholil dan tentara veteran yg lain ya,

@Hem, prihatin yach Yuli, terima kasih atas sahringnya 🙂
Best regard,
Bintang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: