jump to navigation

Kisah Kakek Tua & Perkakas Kayunya Juli 4, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , ,
trackback

Disuatu keluarga, tinggallah seorang kakek yang harus tinggal dan menetap bersama dengan keluarga anaknya. Maklum isteri kakek ini sudah lebih dulu menghadap yang Maha Kuasa.

Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun (cusu kakek tsb).

Karena berusia sudah senja, tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya sudah buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua (kakek) yang sudah pikun ini sering mengacaukan segalanya. Yah…suasana sering dibuat kacau.

Tangan kakek yang bergetar tak menentu ini dan matanya yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu atau minuman itu tumpah membasahi taplak dan menngenai makanan yang lainnya.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa sering direpotkan dengan semua ini. Mereka mulai kesal dan tidak sabar terhadap kakek tua ini.

“Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami (kebetulan anak dari sang kakek). “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini”, ujar anaknya mulai ketus karena kesal terhadap ayahnya.

Lalu beberapa hari kemudian, kedua suami-istri ini sengaja memesan / membeli ke toko mebel sebuah meja kecil untuk diletakkan di sudut ruangan.

Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkok, piring dan perkakas kayu lainnya untuk sang kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak tangis sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput sang kakek.

Namun, kata yang keluar dari mulut suami-istri ini selalu saja omelan agar sang kakek tak menjatuhkan makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam dan hening.

Pada suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu.

Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Sayang, kamu sedang membuat apa ?”.

Lalu anaknya menjawab, “Aku sedang menyiapkan meja kayu, piring kayu, mangkok kayu dan perkakas kakyu buat ayah dan ibu, untuk dipakai makan saat aku besar nanti”. “ Aku sudah siapkan sekarang yach”, ujar anaknya lugu.

“Nanti, akan kuletakkan di sudut rumahku, seperti tempat kakek biasa makan”. “Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya”.

Sungguh tak dinyana, jawaban dari bocah itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul.

Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Ada suatu kesalahan fatal yang telah mereka perbuat kepada orangtuanya (kakek malang tsb).

Maka ketika hari berikutnya, mereka segera merubah sikap mereka. Mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda.

Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Sekarang mereka siap melayani sang kakek, dengan penuh rasa kasih sayang. Ah…sungguh perbuatan yang sepantasnya dilakukan seorang anak kepada orang tuanya.

Nah, dari kisah diatas dapat kita tarik benag merahnya bahwa :
Anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain apalagi orangtua kita dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak.

Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Ingatlah, bahwa :
Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri
Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin
Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.

Betapa terlihat disini peran orang tua sangat penting karena mereka diistilahkan oleh Khalil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan anak-anak dalam menapaki jalan masa depannya.

Tentu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari kita..

Semoga cerita diatas dapat memberikan manfa’at dan inspirasi.

Komentar»

1. Rezki Handoyo - Juli 6, 2008

Kadang orang tua tanpa mereka sadari malah membentuk pribadi yang kurang baik anak mereka

@Hem, iya Rezki…Anak adalah cermin dari orangtua. Terima kasih atas kunjungannya yach. Bagaimana bisnis Tiens-nya ?
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. Muhammad Amir Rosyidi - Agustus 1, 2008

Seperti kata pepatah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, begitupun juga dengan anak kita, orang tua adalah guru terbesar mereka, apa yang terjadi dengan anak kita kelak itu karena didikan di keluarga. Semoga renungan ini bisa memberikan perenungan terhadap para orang tua untuk selalu mendidik dan memberi tauladan yang baik kepada anak-anaknya…

@Iya setuju banget Mas Rosyidi, orangtua adalah cermin bagi anak kita. Terima kasih atas kunjungannya yach Mas🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: