jump to navigation

Cinta Yang Tak Lekang Dimakan Waktu Juli 4, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , ,
trackback

“Cinta,., o…o…o…cinta….” Itulah penggalan syair yang hit di era 70-an yang pernah di dendangkan olah tante Titiek Puspa. Sungguh menakjubkan makna yang tersirat didalamnya.

Kalau mengulas topic yang satu ini bisa membuat kita jadi mabuk kepayang. Tapi ada juga gara-gara cinta bisa membuat orang jadi lupa segalanya. Kasihan deh. Ups…. Kali ini saya coba bercerita tentang cinta yang tulus, tentang kesetiaan yang tulus, yang tak lekang di makan waktu. Cinta yang sesungguhnya.

Menjelang hari Pernikahannya, Tania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki pujaanya. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang. Papa, Mama, kakak-kakaknya, tetangga, dan teman-teman Tania. Mereka ternyata sama herannya akan pilihan Tania ini.

“Kenapa kamu memilih dia Tania ?”, tanya mereka di hari Tania mengantarkan surat undangan pernikahannya.

Saat itu teman-teman baik Tania sedang duduk di kantin, sambil menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampussedang sepi.

Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Tania berubah bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata, yang berterbangan di otaknya sampai-sampai melebihi kapasitasnya.

Mulut Tania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata. Bibirnya keluh. Tania jadi bisu, bungkam beribu bahasa.

Dulu, gadis berwajah indo Jerman itu, mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa dia bersedia menikah dengan laki-laki pilihannya itu. Tapi kejadian di kampus ini, adalah kali kedua, Tania yang pintar berbicara mendadak gagap. Diam, hanya terdiam bisu.

Yang pertama terjadi tiga bulan lalu, saat itu Tania menyampaikan keinginan Rafli (laki0laki pilihannya) untuk melamarnya. Moment arisan keluarga, Tania dianggap sebagai momen yang paling tepat, karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga. Maklum kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut / anak-anak mereka.

Ketika Tania mengutarakan keinginannya kepada keluarga besarnya serta merta dirinya mendapatkan perkataan , “Kamu pasti bercanda !”, jawab anggota keluarganya sekenanya.

Tania sempat kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertuanya, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Tania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Tania bercanda.

(Hem Tania hanya bisa benggong).

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Tania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua mata menatap Tania.

“Tania serius!”, tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

“Tidak ada yang lucu,” suara Papa kembali tegas.

“Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik !”, papanya mencoba memberikan penjelasan.

Lagi-lagi Tania jadi tersenyum malu akan keadaan yang sedang melandanya.

Tapi Tania jadi sedikit lega, karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik.

Tapi, lagi-lagi perkiraan Tania tidak sepenuhnya benar. Sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya. Tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan keluarga tengah tertuju pada diri Tania. Dia hanya bisa pasrah dan duduk layaknya seorang pesakitan.

“Tapi Tania tidak serius dengan Rafli, kan?”, kali ini mama mengambil inisiatif bicara. Masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa mamanya kembali berkata, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh ?”.

Ya…Tania hanya bisa terkesima.

“Kenapa ?”, sambung papa Tania lagi.
“Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik”. “Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan anak-anak papa yang lain”. “Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri”. “Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi se kota ini”. “Suaramu bagus”. “Kami semua bangga padamu sayang”, ucap papa Tania dengan tatapan sayang kepada permata hatinya.

”Kami semua sangat menyayangimu Tania”. ”Sebab masa depanmu cerah”. “Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur”. “Bakatmu yang lain pun luar biasa”.

“Tania sayang, kamu bisa mendapatkan laki laki manapun yang kamu mau !”, lanjut kakak Tania yang tertua turut memberikan nasehatnya kepada adik kesayangan mereka.

Lagi-lagi Tania hanya bisa memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama.

Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata “kenapa” yang barusan Tania lontarkan.

“Tania Cuma mau Rafli”, sahut Tania pendek dengan air mata yang mulai mengambang di kelopak mata gadis cantik itu.

Hari itu Tania jadi tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

“Tapi kenapa?” lagi-lagi Tania coba berpikir keras mencari jawabannya. Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa. Hem lagi-lagi Tania hanya bisa bergumam dalam hati.

Tapi lagi-lagi, bergantian tiga saudara tua Tania mencoba membuka matanya.

“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Tania !”.

” Cukup, cukup,cukup !”, kali ini Tania menjadi marah dan kesal.

“Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Dimana iman, dimana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini ?”, mulut mungil Tania mencoba mengeluarkan argumentasinya untuk pembelaan terhadap Rafli.

Sayangnya, lagi-lagi kali ini Tania gagal membela Rafli. Barangkali karena Tania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak “luar biasa”.

Tania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun dirinya. Tania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Tania merasa bahagia. Dan akhirnya meskipun tanpa do’a restu yang penuh dari keluarga besarnya “Merekapun akhirnya menikah”. Tania dan Rafli tetap melangsungkan pernikahannya. Mereka bersatu.

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Tania. Apa sebenarnya yang Tania lihat dari Rafli. Tapi lagi-lagi, Tania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Tania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Tania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Tania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Hem Tania sangat bernahagia dengan Rafli.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Tania. Nada suara Tania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Tania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

“Tania, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu !”
“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”
“Betul, Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”

Ha..begitulah kalimat-kalimat yang sering Tania dengar dari mulut kakak-kakaknya. Tapi Tania tetap gigih, Tania tak mau pusing.

Tania merasa lidahnya keluh. Hatinya siap memprotes.

Kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli lagi. Suatu hari Tania sempat beberapa lama, bersama ketiga orang kakaknya beradu argument lagi.

“Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak !”. “Betul”. “Tapi dia juga tidak ganteng kan ?”. “Rafli juga pintar !”. “Tidak sepintarmu, Tania”. “Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan”. “Hanya lumayan, Tania”. “Bukan sukses”. “Tidak sepertimu”. Dst…..kalimat-kalimat itu bersahut-sahutan antara Tania & ketiga kakak-kakaknya.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

“Lihat hidupmu, Tania !”. “Lalu lihat Rafli !”. “Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu “, kali ini kakak Tania yang pertama berbicara dengan lebih tegas, seakan tak pernah puas dengan keputusan adiknya yang bundsu ini.

Teganya kakak-kakak Tania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. Tania hanya bisa terseduh dan tertunduk karena kesal & kecewa.

Lima Tahun kemudian,

Usia pernikahan Tania sudah menginjak tahun kelima. Tapi lagi-lagi ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Tania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan.

Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Tania lebih dari cukup untuk hidup keluarga ini senang. Secara financial mereka hidup cukup mapan.

“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Tania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri mencari nafkah buat keluarga mereka.

“Gaji Tania cukup, maksud Tania jika digabungkan dengan gaji Hunny”, ujar Tania tak bermaksud menyinggung hati lelaki yang dicintainya itu.

Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

“Sebaiknya Tania tabungkan saja, untuk jaga-jaga, ya ?”, ujar lelaki itu, lalu dia mengelus pipi Tania dan mendaratkan kecupan lembut di sana. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Tania cerah.

Aha…Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. “Bahagia !, bahagia !, bahagia !”, sorak Tania dalam hati secara bertubi-tubi. Ya, inilah jawaban yang selama ini yang Tania cari.

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Tania. Karena Tania sudah menemukan jawaban yang sangat fantastic untuk itu. Tania sangat bahagia menikah dengan Rafli.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Tania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Tania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Tania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak keemasan. Sungguh luar biasa.

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Tania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Tania, bisik Papa dan Mama.

“Sungguh beruntung suaminya”. “Istrinya cantik”. “Cantik dan kaya !”. “Tak imbang !”.

Dulu bisik-bisik itu membuat Tania frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Tania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Tania masih belum bergeser dari puncak keemasannya. Anak-anak semakin besar.

Kali ini Tania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Tania, atau membuat Tania menangis.

Tapi keadaan berubah tegang….

Bayi yang dikandung Tania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu
dari waktunya.

“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Tania. Harus segera dikeluarkan ! “. begitulah perkataan dokter yang merawatnya pada saat control terakhirnya.

Mula-mula dokter kandungan langganan Tania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Tania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Tania di rumah sakit. Hanya saat waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidurnya. Sementara kakak-kakak serta orangtua Tania belum satu pun yang datang menjenguk.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Tania belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Tania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

“Baru pembukaan satu.”

“Belum ada perubahan, Bu.”

“Sudah bertambah sedikit!” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

“Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”

Tania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa
memiliki sense of humor yang tinggi. Mereka masih menunggu mukjizat lainnya.

Tiga puluh jam berlalu. Tania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Tapi kali ini, perkiraan mereka meleset.

“Masih pembukaan dua, Pak!” Rafli tercengang. Cemas, khawatir, berkeringat dingin jadi satu.

Tania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin parah & payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

“Bang ?”,ujar Tania lirih memanggil lelaki pujaan hatinya. Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Lalu dokter berkata, “Kita operasi, Tania. Bayinya mungkin terlilit tali pusar !”.

“Mungkin ?”. Rafli dan Tania berpandangan.

Kenapa tidak dari tadi kalau begitu. Bagaimana jika terlambat. Mereka berpandangan. Tania berusaha mengusir kekhawatiran.

Tania masih cukup senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Tania tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan. Tania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Tania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Tania yang tiba-tiba muncul, mendekat.

“Pendarahan hebat”, ujar dokter yang menangani pendek.

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah. Bayi mereka selamat, tapi Tania dalam kondisi kritis.

Mama Tania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Tania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Rafli terduduk lemas. Seakan tiang-tiang dunia ini runtuh. Lelaki itu tak tahu harus berbuat apa.

Setelah hari itu, hari-hari berikutnya adalah hari-hari penuh doa bagi Tania.

Sudah seminggu lebih Tania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Lelaki itu harus membagi perhatian bagi Tania dan juga anak-anak mereka.

Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Tania terkadang ikut menunggui Tania di rumah sakit. Sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Tania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Dia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Tania siang dan malam. Dibawanya sebuah Al-Quran
kecil, dibacakannya dekat telinga Tania yang terbaring di ruang ICU. Kadang
perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Tania bisa merasakan kehadirannya.

“Tania, bangun, Cinta ?”. Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Tania sambil menggenggam tangan istrinya dengan mesra.

Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Tania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, “Tania sayang, bangun, Cintaku ?”, ujarnya lirih tapi tetap optimis.

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan
Tania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya. Senyum yang merekah di bibir Tania. Semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli bagi ketiga buah hati mereka.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Tania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak
bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Yang diinginkan lelaki itu adalah ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik.

Tania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh do’a Rafli terjawab oleh yang Maha Kuasa. Tania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Tania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh membasahi pipi keduanya.

Asalkan Tania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.

Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Tania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Tania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Tania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Tania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Sungguh pemandangan yang luas biasa. Cinta yang sangat menakjubkan.

Ketika malam tiba, Rafli mendandani Tania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan
wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Lelaki itu ingin Tania selalu merasa cantik.

Meski seringkali Tania mengatakan itu tak perlu.
“Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh”, ucap Tania pada Rafli.

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Tania, dan membuat Tania pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli, kekasih pujaan hatinya.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Tania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Tania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Tania. Begitu terus bertahun-tahun.

Awalnya tentu saja Tania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Tania ke sana kemari.

Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Tania menyadari, bahwa : mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga tetangga, sahabat, dan teman-teman Tania tak puas hanya memberipandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

“Baik banget suaminya!”
“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”
“Tania beruntung!”
“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”

“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam & akan berpaling !”.

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Tania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa ?. Ah…

Tapi mereka salah. Sangat salah. Tania menyadari hal itu kemudian.

Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalubegitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi ?.

Dari teras Tania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya… Dua puluh dua tahun pernikahan. Tania menghitung-hitung semuanya. Anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Tapi, lagi-lagi waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa
yang tak pernah berubah, untuk Tania dari seorang Rafli yang sangat mencintai dan dicintainya.

Semoga cerita diatas bermanfa’at & memberi inspirasi.

Salam sayang buat Keluarga Rafli dan Tania.

Komentar»

1. Dei - Juli 4, 2008

luaaar biasa…..!!!!!!

@ Terima kasih atas kunjungannya yach Dei ! Salam kenal & Sering2 singgah yach🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. Farijs van Java - Juli 4, 2008

wah, panjang banget. kubaca dulu, ya. hwehehe…

(^_^)v

kok ganti sih gambarnya?

@ Hello Farijs, terima kasih atas kunjungannya yach !. Iya tampilannya sengaja diubah biar tidak bosan hehehe ….🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

3. antown - Juli 4, 2008

panjaaaaa….ng dan laaaaamaaa….. saya jadi inget iklan coklat stick jaman dulu. salam kenal ya mbak

@ Hehehe, salam kenal kembali antown, sering2 mampir yach🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
http//elindasari.wordpress.com

4. Rezki Handoyo - Juli 6, 2008

Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dengan melihat dari luar saja. Sosok Rafli memberi contoh dan tauladan bagi kita bagaimana menyikapi pandangan orang yang negatif kepada kita.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di waktu nanti…tugas kita adalah menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya.

@ Setuju banget Rezki. Semuanya telah diatur oleh-NYA !. Terima kasih atas kunjungannya yach Rezki🙂 🙂 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. azharimd - Juli 17, 2008

kelak saat aku menikah nanti, aku ingin seperti rafli, ,

memberikan cinta yang setulus-tulusnya. . . .:-)

Insya Allah

6. arch222 - Juli 20, 2008

sepertinya nulis cerpen menyenangkan juga
akan kucoba

cerpen

7. Amabel - Juli 24, 2008

Wow…. salut dech bwt Rafli…….zaman sekarang 1000:1 kalee spt Rafli he he he,

rgds,
Abel


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: