jump to navigation

Pentingnya memberikan “Pujian Yang Tulus” Juni 19, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Dulu sewaktu saya kecil dan masih tinggal di daerah (kebetuIan daerahku sangat kental akan kebudayaan Melayu). Tepatnya kesenian tradisional Melayu.  Mulai dari tembang-tembang sampai dengan irama pengiring seperti rampak gendang, seruling bamboo sampai instrument yang sangat etnik dan khas selalu terdengar untuk mengiringi pesta keemasan rakyat.  Misalnya saja kesenian musik ala tanjidor yang lengkap dengan terompet raksasa dan musik perkusi yang akan mengeluarkan suara meriah kicik-kicik, ger-ger, dor, dor.. ., dst.  Pokoknya kalau ada pertujukkan dan pentas seni budaya masyarkat,  suasana akan heboh & kesannya meriah sekali. Aku dan keluargaku biasanya tak mau ketinggalan menyaksikan pertunjukkan seni, budaya tersebut.

 Apalagi, kebetulan tetanggaku adalah salah seorang personil seni musik tradisonal untuk tembang-tembang nuasa Melayu. Jadi semakin taka sing bagi kami akan nuansa seni ini. Kita sebut saja namanya Bang Toyib.  Bang Toyib ini mempunyai seorang isteri yang cantik juga mempunyai bakat dalam menyanyi / nembang.  Kita sebut saja namanya Zubaidah .  Jadi kami para tetangga sangat mengagumi mereka.  Karena mereka  berdua, menurut kami mereka adalah pasangan yang pas.  Seorang wanita cantik dengan suara yang merdu berpasangan dengan seorang pemuda yang sangat pandai memainkan alat-alat musik tradisonal melayu. 

 

Tembang-tembang yang sering mereka bawakan di panggung-panggung hiburan masyarakat juga bagus-bagus menurut ukuran kami orang daerah. Karena kami masyarakat daerah masih sangat familier dengan tembang-tembang bernuasan Melayu yang kaya akan iringi rancak gendang, seruling dan perkusi.

Maka tak pelak lagi kalau kami sangat terkagum-kagum akan kepiawaian pasangan ini bila membawakan pertunjukkan / pementasan musik dan tembang-tembang Melayu.  Tembang-tembang tsb biasanya berisikan puja-puji tentang masyarakat Melayu dan alam nan elok yang dibawakan dengan khas sekali. Amboi aku jadi bernostalgia nich.

Tapi,  tak dinyana, terdengar ada kisah sedih dibalik kesuksesan panggung pasangan ini.  Bila di rumah tak jarang, kami sekeluarga sering mendengar percekcokan mulut diantara kedua psangan ini.  Maklum, kebetulan rumah keluargaku bersebelahan dengan pasangan bang Toyib ini.  Kebiasaannya bila tidak manggung / mentas, mereka akan sibuk berlatih dirumah. 

Nah, disini permasalahannya.  Bang Toyib ternyata seorang pemusik sekaligus pelatih vocal yang cukup keras terhadap isterinya.  Sehingga apabila bang Toyib menemukan kesalahan atau ketidak-selarasan antara melodi-melodi yang dimainkan alat-musiknya maka serta merta dia akan mengeroksi, dan mengoreksi suara Zubaidah isterinya.

Aku ingat betul kata-kata yang sering dilontarkan Bang Toyib buat isterinya,

“Ya, suaramu untuk bait pertama sudah pas dengan gendang Zubaidah ,  lanjut ke bait kedua, nah kurang tinggi di kalimat akhir,  turun lagi,  kurang sahdu,   kurang cengkoknya, sedikit, lagi dst.  Begitulah sura yang kami dengar berulang-ulang, bila mereka sedang berlatih.  Sepertinya suara isterinya Zubaidah dan iringan musiknya tak pernah mulus.  Ada saja yang masih kurang pas.  Sampai-sampai aku dan keluargaku terkadang bosan juga mendengar ocehan bang Toyib ini. Selalu saja ada komentar kurang pas malah cenderung pedas yang Bang Toyib lontarkan kalau isterinya Zubaidah menyanyi, bahkan sekalipun sang isteri hanya sedang bersenandung.  Tak jarang Zubaidah menangis, karena kesal akan omelan bang Toyib yang mulai tak sabar.

Akhirnya sang isteri Zubaidah jadi malas menyanyi.

“Ah, dak usah nyanyi saja aku Bang, kalau semua salah”,  lagi-lagi sang isteri merajuk tanda kesal bukan kepalang.

Malah terkadang menjadi pertengkaran diantara keduanya hanya soal menyanyi dan menyanyi. Bahkan akhirnya Zubaidah membuat keputusan yang agak ekstrim, yaitu Zubaidah tidak mau bernyanyi lagi.  Jangankan untuk mentas dipanggung, bersenandungpun dia sekarang jadi enggan.  Ooooo…..

(Padahal menurut kami yang awam alat musik dan nada-nada suara yang tinggi, rendah ini, suara isterinya Zubaidah dgn alat musik pengiringnya  sudah lumayan bagus dan merdu bahkan boleh dibilang sudah pas untuk ukuran di telinga kami yang awam ini ! Hehehe)
Yach, begitulah hal-hal rutin yang sering kami dengar dalam mengikuti rutinitas kami sehari-hari.  Sampai-sampai nenekku jadi hafal tembang-tembang tsb meskipun tidak perlu menghafalkannya secara khusus.

Singkat cerita, suatu hari ada kabar yang menyedihkan. Sang suami, Bang Toyib mengalami suatu musibah di kapal Ferry penyeberangan antar pulau dalam rangka pementasan musik daerah di pulau seberang. Kebetulan Zubaidah tidak ikut serta.  Kapal Ferry yang ditumpangi bang Toyib hanggus terbakar.  Bang Toyib adalah salah satu korban yang meninggal.  Sang isteri Zubaidah cukup terpukul atas kepergian sang suami, meskipun di masa hidupnya bang Toyib sempat membuat dirinya memutuskan untuk berhenti mendendangkan tembang-tembang kesukaannya.

(Hem, sungguh malang nasib Zubaidah)

Untuk mengusir rasa dukanya agar tak berlarut-larut, akhirnya Zubaidah memutuskan untuk merantau ke pulau seberang.  Lalu tak lama berselang kami mendengar kabar kalau dia sudah menikah lagi.  Tapi kalai ini profesi suaminya  bukan seniman seperti halnya Bang Toyib.  Zubaidah menikah dengan lelaki yang profesinya tukang kayu.  Kita sebut saja namanya Parjan. 

Pekerjaan Parjan sehari-hari bersama beberapa orang temannya yang juga tukang kayu adalah memborong dan membangun rumah-rumah penduduk yang berbentuk rumah panggung (rumah khas daerah seberang dan juga bernuansa Melayu). Parjan dan teman-temanya juga tak segan-segan membuat perabot rumah tangga seperti lemari, meja, kursi bila borongan rumahnya sedang sepi. Hasilnya garapannya lumayan terkenal sampai ke beberapa daerah tetangganya.  Karena hasil garapan Parjan, suami Zubaidah sekarang ini, terkenal akan kehalusan, kuat dan punya citra seni ukir yang unik.

Profesi  Parjan sungguh berbeda dengan bang Toyib, suami Zubaidah pertama.  Parjan sangat awam dibidang seni musik dan tembang.  Intinya Parjan tidak tahu menahu soal yang satu ini. Parjan hanya tahu kalau isterinya mantan penembang / penyanyi yang sering membawakan tembang-tembang Melayu dan bersuara indah.

Parjan termasuk sumai yang sangat bangga akan keahlian isterinya.  Karena secara tak sengaja Parjan pernah mendengar senandung isterinya ketika sedang mandi.  Lalu sekonyong-konyong ketika isterinya keluar dari kamar mandi, Parjan bertepuk tangan dengan riang memberi amplose seakan  habis mendengarkan alunan merdu yang sengaja diperdengarkan utnuknya.   

Dari sejak itu Zubaidah merasa dirinya tersanjung, dan mulai sering lagi bernyanyi meskipun hanya di dalam rumah dan diperdengarkan untuk suaminya Parjan.  Tapi lagi-lagi Parjan selalu terpukau, dan selalu memuji isterinya Zubaidah jika isterinya selesai bernyanyi. Wow Parjan sudah terbius suaranya Zubaidah.  Amboi romatis juga yach ?.
Mendapatkan pujian yang begitu berapi-api dari suami tercinta Parjan, Zubaidahpun akhirnya keranjingan untuk selalu bertanya bila selesai bernyayi, “Kak, bagaimana tembangku,  suaraku sudah merdukan ?”.

Parjanpun selalu menjawab dengan decak kagum, “Isteriku Zubaidah suaramu, tembangmu, membuat aku semakin merasa bahwa aku tak salah pilih, kau memang pujaan hatiku yang pandai bernyanyi !”.  Lalu mereka berdua tertawa dan canda tawapun berderai mengisi rumah panggung mereka yang bertiang-tiang tinggi.

Pernah juga ada kejadian di siang bolong, tiba-tiba Parjan pulang kerumah dan berkata dengan antusias, “Dik Zubaidah, aku hari ini sengaja pulang cepat, aku  ingin cepat pulang karena mau mendengar kau beryanyi”. (Weweh…pujian yang romatis bukan ?)
Suatu malam menjelang tidur, Parjan berkata jujur kepada isterinya,

“Dik Zubaidah,  kalau saya tidak menikah dengan engkau, mungkin saya sudah tuli, tuli  karena bunyi gergaji yang selalu berderit kalau aku memotong kayu, tuli karena bunyi palu, yang selalu menngetok-ngetok ketika aku memukul paku,  tuli karena suara amplas yang selalu mengereges ketika aku mengamplas, tuli karena suara genteng, suara papan dan seribu bunyi yang lainnya, yang  selalu saya dengar sepanjang hari kalau saya bekerja”.

“Sebelum aku menikah denganmu, saya sering mimpi dan terngiang-ngiang suara gergaji yang tidak mengenakkan itu ketika aku tidur”.

“Tapi, sekarang setelah aku menikah dan sering mendengar engkau menyanyi dan nembang, maka lagu & tembangmulah yang terngiang-ngiang ditelingaku, merdu sekali, dik !”, cakap Parjan lebih romantis kini.

Istrinya Zubaidah sangat bersuka cita mendengar puja dan puji sang suami, Parjan.  Zubaidah merasa sangat,tersanjung. Hal itu membuat Zubaidah jadi semakin gemar
bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi. Mandi dia bernyanyi, masak dia bernyanyi dan tanpa disadarinya dia berlatih, berlatih dan berlatih.
 

Suaminya Parjan meskipun awan di bidang seni dan musik tetap mendorong hingga Zubaidah akhirnya mulai mau merekam dan mengeluarkan kaset volume pertamanya.  Hal ini juga berkat ada tawaran dari dinas pariwisata di daerahku untuk Zubaidah. Dan ternyata disambut baik tidak hanya oleh  masyarakat setempat, bahkan telah melampaui negeri seberang.
Wanita bernama Zubaidah ini,  akhirnya menjadi penyanyi terkenal, penembang terkenal lagu-lagu Melayu. Zubaidah justru terkenal bukan pada sa’at suaminya seniman musik, tetapi justru pada saat suaminya hanya seorang tukang kayu/ pemborong kayu,  yang selalu memberinya pujian yang mampu sedikit demi sedikit mengubahnya, menempahnya menjadi seorang penyanyi / penembang melayu yang bisa diperhitungkan. 

Nah, dari kisah mantan tetanggaku ini, yang secara tidak langsung turut membuatku bangga karena telah membawa harum nama & budaya Melayu, hingga cukup diperhitungkan sekarang, jadi mulai sekarang, mari kita budayakan untuk saling memuji antar sesame, agar orang lain merasa terpacu untuk lebih maju.

Bukankah disaat sekarang justru lagi tumbuh subur yang namanya kritik, cacian, omelan, dll yang cenderung ke negative,  lebih baik kalau kita ganti untuk lebih senang untuk memuji sesama.

Bila kita mengkritik maka berarti kita memperhatikan kejelekan orang.  Tetapi bila kita memuji maka kita akan memperhatikan kelebihan seseorang.
”Sedikit pujian memberikan penerimaan. Sedikit pujian memberikan rasa diterima, bahkan memberikan dorongan, semangat untuk melakukan hal yang baik dan lebih baik lagi”.

“Sedikit pujian dapat membuat seseorang bisa meraih prestasi tertinggi”.

“Omelan, bentakan, kecaman, amarah atau kritik sesungguhnya tidak akan banyak mengubah”. 

Jadi intinya berikan  pujian yang tulus, kepada teman kita, anak kita, suami kita agar  prestasi dan motivasi mereka semakin cemerlang.

Ok, semoga cerita diatas dapat memberikan manfa’at & inspirasi !

Iklan

Komentar»

1. ciput - Juni 21, 2008

trims atas inpirasinya!

2. achoey sang khilaf - Juni 22, 2008

Wah bener2 mencerahkan 🙂

3. Rita - Juni 23, 2008

Sebenarnya sadar atau tidak, didikan keras suaminya turut menempah keindahan suara atau dendangan suabaedah, cuma sayangnya kritikan dan didikan keras itu tidak disertai pujian manakalah sudah melakukan yg seharusnya atau sebenarnya.. Pujian yg terus menerus juga kalau tidak dibarengi dengan usaha perbaikan, maka kualitasnya mentok sampai disitu aja (bisa saja dgn sedikit usaha masih akan bertambah lebih baik)…
Sebaliknya Kritikan yang terus menerus, ada memang yg dapat bertahan dan biasanya daya hidupnya lebih tangguh(pemilik mental baja).Ada juga yg tidak tahan, adanya kritikan yg terus menerus bukannya membuat dia tertantang untuk mencari tau yg terbaik melainkan semakin tidak tau bagaimana si yangsesungguhnya, yang benar itu seperti apa… Baik pujian maupun Kritikan kalau dilakukan secara proforsional akan jadi nilai tambah atau bersifat membangun kesempurnaan/ketangguhan. 😀

4. khepri - Juni 24, 2008

Artikel yg menarik, pujian memang perlu buat penyemangat hidup

5. EMULTY - Juli 3, 2008

listen at new window.!

EMULTY DEMO 77

6. Metta Tenggara - Juli 24, 2008

Seperti hukum tarik menarik.. Positif akan menarik positif..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: