jump to navigation

Memberi di Tengah Kesulitan Juni 5, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

“Ah, lagi-lagi kebijakkan pemerintah membuat rakyat semakin terhimpit. Semakin buat rakyat makin miskin, makin susah untuk hidup layak !”, gumamku pagi ini ketika aku membaca headline koran yang biasa diletakkan pembantuku di meja makan, untuk menenami aku sarapan.

Mulai berita demo, sampai berita rintihan rakyat kecil yang semakin tertindih beban berat akibat kenaikan BBM baru-baru ini. Wow bikin pusing kepala !

“Ah, daripada pusing, lebih baik aku ke pasar tradisional dekat rumahku !”. Ya..hitung-hitung aku bisa dapat belanjaan lebih murah & lumayan untuk berhemat di tengah krisis yang mulai mendera dimana-mana.

Lalu tak lama aku pergi ke pasar membawa motor Mio-ku, sambil menyusuri pemukiman penduduk di sekitar komplek perumahan tempat tinggalku. Sesampainya di pasar aku mulai memenuhi tas belanjaanku dengan berbagai sayur, ikan, daging dan berbagai bumbu dapur keperluan masak untuk hari ini dan beberapa hari ke depan.

Suasana pasar tetap ramai, makin ramai malah, karena ibu-ibu dipasar semakin sewot membicarakan harga-harga kebutuhan yang makin menggila dan makin mencekik kocek mereka. Semakin ribut dan tak sedikit yang kaget dan geleng-geleng kepala karena harga-harga makin mahal dan membuat mereka makin pusing untuk membeli kebutuhan pokok.

“Hem, kasihan mereka, termasuk diriku, karena mulai sekarang aku harus semakin berhemat, pandai-pandai mengatur uang belanja !”, lagi-lagi aku hanya bisa bergumam dalam hati yang mulai protes atas keadaan ini.

Tak lama aktivitas belanjaku akan segera kuakhiri pagi itu. “Yap..sekarang tinggal beli telur 1 kg & sebungkus kayu manis !”, aku mencoba mengingat-ingat barang yang belum aku beli, sambil melangkahkan kaki ke Mbak Nur alias tukang sayur langgananku yang posisi losnya tak jauh dari tempatku berdiri.

Ketika aku sampai di depan los Mbak Nur, kulihat dia sedang bercakap-cakap dengan seorang nenek. Jadi aku tunggu dulu percakapan mereka selesai.
Kuperhatikan nenek tsb agak sungkan mengutarakan keinginannya. Tapi tangan Mbak Nur dengan sigap mencentongkan seberapa liter beras, lalu memasukkan beberapa butir telur, sekantong kecil terigu dan sekantong kecil minyak goreng.

Lalu dengan cepat abk Nur mengendongkan barang-barang tsb ke kemben (kain yang melilit di puncak) nenek itu. Sambil menepuk-nepuk pelan bahu nenek seolah mengatakan bahwa dia tidak berkeberatan dan mengiklaskannya buat perempuan yang sudah renta itu.

Tak kemudian nenek itu berlalu dari pandanganku dan los Mbak Nur (si Tukang sayur).

“E, bu Bintang, belanja sendiri bu ?”, sapa mbak Nur ramah kepadaku.

“Iya mbak, minta telur 1 kg, sama kayu manis Rp 1000,- !”, ujarku kepadanya.

“Engge bu, tapi harga telur sekarang naik bu, jadi Rp. 14.000,- sekilo !”, mbak Nur mencoba menjelaskan harga dagangnnya.

“O, tinggi ya naiknya !” ujarku datar, karena aku sudah memprediksi kenaikan ini.

“Iya, bu…saya juga jadi ndak enak jualan. Abis kasihan sama yang mau beli. Harga-harga sekarang tinggi. Tapi saya kalau nggak jual dengan harga segitu saya ndak bisa beli barang lagi, terus saya juga nyari makan dari selisih jualan sedikit-sedikit bu !”, ujar mbak Nur lagi dengan mimik polos.

Aku hanya tersenyum, tanda setuju.

“Hem, nenek itu tadi siapa mbak Nur ?, tanyaku ingin tahu.

“O, itu Mbah Ijah, tinggal di seberang kali ini. Kasihan bu, sekarang anak mantunya lagi dak bisa kerja, kemarin-kemarin anaknya yang tukang abis jatuh ketika kerja dirumah yang direnovasi. Cucunya ada 4 orang, masih kecil-kecil. Mana si mbahnya udah ndak bisa jualan di pasar, modalnya abis buat makan !”, ujar Mbak Nur membagi cerita sedih nenek tadi denganku.

“Ya…maklum bu, kalau kita-kita orang kecil mah harus saling pengertian, kalau kita ada lebih sedikit-sediit harus saling tolong. Syukurnya dagangan saya masih laku !”, ujar Mbak Nur dengan muka tetap gembira.

“Bu, bintang ini belanjaanya jadi lima belas ribu !”, ujar Mbak Nur semberi memberikan belanjaanku.

“Oya ,ya mbak terima kasih banyak !”, ujarku sambil memberikan uang dan berlalu menuju parkir Motor MIO-ku.

Wow, lagi-lagi aku mendapatkan cerita & pengalaman berharga di pasar yang mulai sumpek ini.

Pelajaran bagaimana kita bersikap untuk selalu mensyukuri sekecil apapun rejeki yang kita terima, bagaimana kita bersikap untuk mau berbagi meskipun kita sendiri merasa belum cukup / kekurangan. Bersikap mau peduli, perhatian kepada orang lain, hidup prihatin atas keluhan & kesulitan hidup mereka.

Karena sesungguhnya Tuhan itu tidak pernah meninggalkan hambanya di tengah kesulitan yang menderanya, jika kita yakin Tuhan itu Ada.

Semoga cerita ini bisa bermanfa’at & menginspirasi. Amien !

Komentar»

1. Rita - Juni 5, 2008

Masalah harga naik, mau berteriak sekuat apapun tidak akan merubah keadaan…hanya bersabar dan ikhlas yg dapat dilakukan….
Orang2 yg berada di atas agar dapat melihat kebawah dan sekelilingnya…..(keadaan ini kembali melatih kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar).
Tetap giat berusaha dan Mendekatkan diri sepenuhnya kepada yg menggenggam kehidupan…..

@ Ya setuju banget Rita ! Sabar, ikhlas & terus berusaha. Terima kasih atas kunjungannya yach ! 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. ciput - Juni 5, 2008

Karena sesungguhnya Tuhan itu tidak pernah meninggalkan hambanya di tengah kesulitan yang menderanya, jika kita yakin Tuhan itu Ada.

statemenent diatas aku paling setuju

@ Ciput terima kasih atas kunjungannya yach ! 🙂 🙂 🙂
Best Regard,
Bintang
http://elindasari. wordpress.com

3. Rezki Handoyo - Juni 7, 2008

Semoga kita semua menjadi hamba yang bersyukur

4. fulong - Juni 12, 2008

Seperti kata aa’ Gym, orang hidup pasti punya masalah, yang penting adalah bagaimana kita punya ilmu untuk mengatasi masalah yang kita hadapi…bukan masalahnya yang tambah besar tapi ilmu kita yang kurang untuk menyikapi masalah tersebut.

5. anis - Juni 15, 2008

bagi hamba yang selalu mensyukuri apa yang terjadi, insyaAllah hidup akan selalu merasa berkelipahan. Bahkan ketika mendapat cobaan musibah, mungkin Allah sedang memberi kita “kenikmatan” berupa ujian untuk bisa naik ‘kelas’dalam hidup ini..menjadi hamba yang lebih bertaqwa, bersabar dan bersyukur..meringankan beban dan masalah orang disekitar kita adalah salah satu wujud kita bersyukur..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: