jump to navigation

Sentuh Mereka Dengan Mata Hatimu April 14, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
trackback

Orang sering memangilku dengan sebutan “Bintang”. Aku telah menikah, dan telah memiliki dua pangeran kecil yang sangat aku sayangi. Meskipun aku seorang perempuan, dalam dunia nyataku aku berprofesi sebagai seorang quantity surveyor yang disibukkan dalam pembangunan beberapa megah proyek untuk beberapa kota besar di Indonesia.

Karena profesi yang kutekuni sekarang ini, membuat aku sering berada di berbagai lingkungan sosial. Terkadang jika aku berada di kantor aku bergaul dengan para enginner, consultan, owner, dan sejuta notabene kaum proffesi lainnya yang lumayan wah…

Tapi, ketika aku berada di lapangan, tak jarang aku melihat berbagai pemandangan yang jauh berbeda. Aku bergaul dengan para mandor, para tukang, pekerja kuli lainnya yang notabene pekerja kasar. Tetapi aku sangat yakin bahwa tanpa mereka maka mustahil berbagai bangunan megah di kota ini dapat berdiri dengan gagah.

Beberapa waktu yang lalu diselah-selah kesibukkanku, aku menyempatkan diri untuk mengikuti sebuah training kepribadian.

Dalam sebuah tugas sessinya kali ini, trainer meminta kepada kami, para peserta training untuk mempraktekkan pelajaran “Tersenyum” yang telah kami pelajari secara teori, dalam kehidupan nyata kami, yaitu dengan memberikan “Senyum” kepada orang lain. Karena ini berupa tugas training, maka kami diminta untuk melaporkan hasilnya pada pertemuan session berikutnya (2 hari kemudian).

Saya sempat berpikir bahwa trainer kali ini sangat inspiratif, karena dengan demikian kita para peserta yang mungkin, bahkan sering kali melupakan hal yang sepele dalam kehidupan kita, seolah diinggatkan kembali untuk berbuat sesuatu dalam hidup yang mulai tak ramah ini.

Menurutku praktek session kali ini mudah, jadi sekali lagi aku berpikir bahwa aku tak akan mengalami kendala.

Segera saja ketika aku tiba dirumah aku mencoba mempraktekkan “Senyum” kepada kedua pengeran kecilku, ketika bersuah denganku. Kepada suamiku yang ternyata sudah tiba dirumah lebih dulu dariku. Ah.. semua berjalan seperti biasanya. Begitu mudah, karena mereka adalah orang-orang yang paling sering aku perlakukan istimewa. Lagi-lagi aku berguman dan berpikir dalam hati, “Nggak ada efek yang special !”.

Tak lama kemudian pangeran kecilku yang pertama mengajakku untuk sekedar makan malam di sebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari rumahku. Aku pikir boleh juga. Sudah agak lama aku tidak mengajak mereka keluar untuk sekedar makan malam, beserta pengasuhnya. Akhirnya aku memutuskan untuk makan malam bersama ke2 pangeran kecilku, suami dan kedua orang pengasuhnya.
Kira-kira 30 menit kemudian kami tiba di sebuah restoran cepat saji yang menjadi makanan favorit pangeran kecilku yang pertama.

Yap, dengan sigap pangeran kecilku yang pertama menempati kursi dan meja panjang yang kosong di sebuah sudut ruang yang menghadap TV. Suamiku, kedua orang pengasuh dan pangeran kecilku yang keduapun ikut menyusul menempati kursi dan meja kosong tsb.

Diluar tampak mulai hujan deras. Kebetulan keadaan restoran agak ramai mungkin karenakan jam makan malam, maka tak pelak lagi antrian dikasirpun lumayan panjang.

Tak lama kemudian, akupun ikut tenggelam dalam antrian menuju pesanan ke kasir.

(Ah…capek juga, mau makan aja pakai acara ngantri dulu, lagi-lagi aku mulai bergumam dalam hati karena rasa bosan mulai muncul di kepalaku).

Tapi tiba-tiba antrian yang tadinya lumayan panjang mulai bubar satu persatu. Tinggal satu orang didepanku yang tengah dilayani kasir, lalu aku. Dibelakangku tidak ada lagi orang yang ngantri. Hanya kulihat seorang perempuan tengah baya di kasir sebelah menunggu giliran dilayani.

Lagi-lagi kuperhatikan, antrian bubar bukan karena sudah selesai dilayani. Tapi karena ada seorang wanita tengah baya yang tiba-tiba ikut mengantri.

Karena agak curiga dengan antrian yang tiba-tiba jadi sepi. Aku menolehkan mukaku ke belakang dan disampingku. Aku perhatikan mereka semua menyingkir karena perempuan tengah baya yang dekil berada tepat di kasir sebelahku.

(Pengasuh pangeran kecilku yang tadinya menyusul diriku untuk membantu membawakan makanan juga ikut menyingkir sejenak, ke sisi yang lain).

Terus terang aku agak kikuk dengan keadaan ini. Jadi aku setengah bengong melihat keadaan sekeliling, yang mulai menunjukkan sikap tak bersahabat.
(Maksudnya ditujuan kepada wanita tengah baya itu).

Tapi lagi-lagi aku tidak bisa menolak keinginnaku untuk memperhatikan perempuan tengah baya yang (maaf : agak dekil, kucek dan baunya agak angir !).

Terus terang rasa ibaku muncul seketika, ketika aku melihat dia memesan hanya satu porsi paket hemat seharga Rp. 5000,- dan mulai menghitung uang recehan yang ada di celah-celah kain yang melilit pingangnya. Aku perhatikan dengan seksama raut muka wanita tengah baya ini, yang seakan takut kalau-kalau uangnya kurang / tercecer, sehingga kurang untuk membayar kasir yang sudah mulai tidak sabar melayaninya.

(Maklum, zaman sekarang kalau masuk restaurant itu identik dengan beli / pesan).

Ah, akhirnya uang perempuan tengah baya itu cukup dan kasir tak lama kemudian memberikan nampan yang hanya berisikan satu bungkus nasi dan sepotong sayap ayam dan segelas cola-cola kecil. Kulihat kasirnya dengan muka kurang bersahabat mengucapkan terima kasih sekenanya kepada wanita tengah baya itu.

Mungkin wantita tengah baya ini tahu, kalau aku memperhatikan gerak-geriknya. Wanita tengah baya ini lalu ganti menatapku sepintas. Aku sempat agak kaget. Tapi aku cepat membalas tatapan wanita tengah baya ini dengan seutas senyum, sebagai tanda salam. Tak kusangka wanita tengah baya ini membalas dengan senyum yang begitu tulus. Aku jadi terharu. Sungguh aku terharu atas balasan senyumnya yang kurasa begitu tulus .

Lalu wanita tengah baya itu beranjak membawa nampan makanannya.

Lagi-lagi aku perhatikan wanita tengah baya itu, berjalan ke sebuah sudut meja yang agak jauh dekat toilet restaurant ini.

Nampak disana dua orang bocah kurus menanti kehadirannya dengan raut muka yang semeringgah. Ternyata mereka sudah tak sabar menanti ibunda mereka yang hanya membawakan satu porsi makanan untuk mereka nikmati.

Karena masih penasaran, aku tetap memperhatikan gerak-gerik mereka, sambil menahan rasa haru yang mulai memenuhi relung hatiku.

Lalu tak lama berselang :

“Maaf mbak, mau pesan apa ?”, tanya kasir kepadaku.

“Paket ini 6, tambah kentang 3, minumannya tanpa es 2 !”, jawab saya kepada kasir sambil menunjukan gambar paket-paket yang aku pesan.

“Terus tambah ini mbak !”. “Satu porsi lagi paket ini !”, ujar saya kepada kasir.

(Sengaja aku pesan lagi 1 paket ember kecil yang terdiri dari 5 potong ayam, 3 nasi & 3 cola-cola, rencanaya untuk wanita tengah baya tadi).

Aku tahu mungkin ada sebagian mata yang juga mengamati gerak-gerikku. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk wanita tengah baya tadi, begitulah pikirku.

Setelah pesanan untukku selesai, kuminta pengasuh pangeran kecilku untuk membawakannya ke meja kami.

Sedangkan pesanan 1 porsi lainnya lagi sengaja aku bawa sendiri. Aku sengaja membawanya, menuju meja dimana wanita tengah baya dan kedua anaknya tadi duduk.

Ketika sampai dimeja mereka, aku meletakkan nampan tadi di meja mereka.

Lalu wanita setengah tengah baya itu berkata padaku yang tiba-tiba ada dihadapannya.

“Neng mau duduk disini ?”, tanyanya kepada saya sambil menyodorkan 1 kursi yang tersisa.

“O, enggak bu, saya hanya mau mengantarkan makanan ini, untuk anak ibu dan ibu !”. “Silahkan dimakan, ya bu !”, ujar saya tanpa bermaksud mengabaikan kursi yang tadi ditawarkan kepada saya.

“Ini, untuk kami neng ?”, tanya wanita ini lagi setengah tak percaya.

“Iya, ini buat ibu dan ke2 anak ibu, silahkan di nikmati !”, ujar saya lagi menyakinkan mereka.

“Terima kasih banyak, neng !”. “Semoga Allah membalas kebaikan orang-orang seperti eneng !”, ujar wanita tengah baya ini lagi, sambil tak mampu menahan tetesan air matanya.

“Sama-sama bu, ayo dik, dimakan yach !. “Kalau nggak habis dimakan disini, boleh dibawa pulang !”, ujar saya lagi kepada kedua anaknya yang sudah tak sabar ingin menyantap hidangan yang tadi kubawa.

(Kulihat kedua mata anak wanita tengah bawa ini berbinar. Pipi hitam mereka merona karena girang. Hem…anak-anak yang manis …gumamku dalam hati sambil tersenyum kecil meninggalkan kegembiraan mereka).

Aku cepat-cepat menyapu butiran air mataku yang tadi sempat tak kuasa kubendung. Maklum aku mungkin melankolis. Jadi, kalau ada kejadian seperti ini, aku pasti nggak bisa nahan air mataku untuk ikut keluar.

Lalu aku segera kembali berjalan menuju meja dimana suami, kedua pengeran kecilku dan kedua pengasuhnya duduk. Ternyata mereka belum mulai bersantap.

Ketika aku duduk, suamiku tersenyum kepadaku.

“Ayo kita makan !”, ajakku memecah keheningan yang sempat terjadi.

Lalu aku sekeluarga menikmati hidangan yang tadi kami pesan. Sambil makan lagi-lagi aku berkata dalam hati.

“Terima kasih ya Allah atas segala Nikmat dan Rejeki yang telah Kau berikan untukku dan keluargaku”. “Amien ya Robba Alamien !”.

Ketika perjalanan pulang, suamiku sempat menayakan prihal wanita tengah baya yang sempat bertemu denganku di kasir tadi. Ketika kuceritakan secara detail perihal tadi, suamiku sempat terdiam sejenak melelaah ceritaku.

“Thanks honey, Kau memang Bintangku !”, ujar suamiku diiringi senyum kecil ciri khasnya kearahku.

Lalu, dua hari kemudian, paginya, aku menyerahkan hasil tugasku kepada trainer.

Ketika 30 menit sebelum session pada hari ini akan berakhir, tiba-tiba trainer memintaku untuk menceritakan isi dari tugas “SENYUM” yang aku kumpulkan tadi pagi.

Kemudian aku menceritakan kejadian yang aku alami, 2 hari yang lalu didepan para peserta dan trainer.

Semua tampak terdiam, hening dan sebagian terharu. Tapi yang terpenting bagiku dapat menceritakan kejadiaan ini dan kemudian dapat memberikan inspirasi, dapat mengambil hikmat dan manfaat dari ceritaku ini, merupakan anugerah yang sangat istimewa. Sebuah pelajaran agar dapat menyentuh mereka, meskipun hanya dengan mata hati kita.

Semoga kita menjadi insan yang selalu mau berbagi, meskipun itu hanya seutas senyum yang tulus.

Sekian ceritaku, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat dan inspirasi !

Iklan

Komentar»

1. Rezki - April 14, 2008

Semoga kita masuk golongan ahli syukur….Amin

@Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya Rezki !
Best Regard,
Bintang,
https://elindasari.wordpress.com

2. Resi Bismo - April 14, 2008

mmm so nich real story, bertolak belakang sekali dengan apa yang aku alami disini, benar2 kita harus menjadi orang yang bersyukur. Tulisan diatas membuktikan bahwasanya kita orang2 yang memiliki rejeki berlebih harus ringan tangan kepada Mustad’afiin (orang2 yg lemah) ini harus selalu dilakukan selama pemerintah belum mampu memelihara mereka. Semoga tetap istiqamah dan sukses selalu mbak.

@Iya, mudah2an langkah dan sikap kita senantiasa dalam kebajikan. Keadaan sebagian besar rakyat Indo sekarang semakin memprihatinkan. Berbagai musibah silih berganti datang. Keadaan ekonomi yang tak kunjung membaik. Sungguh menyedihkan Mas Ario. Semoga kita bisa melakukan yang TERBAIK buat mereka, meskipun itu kecil. Amien.

Ok, selamat beraktivitas kembali !

Best Regard,
https://elindasari.wordpress.com

3. kaitokid724 - April 15, 2008

Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/pengetahuan_umum/sentuh_mereka_dengan_mata_hatimu/

4. hendralayo - April 16, 2008

walah… mbak!!! senang, terharu dan kagum.
tiga hal ityu yang saya rasakan mwmbaca ceritanya.
Senang, karna Allah masih memberikan hidayahnya kepada orang” seperti mbak.
Terharu, karana cerita ttng “Ibu Dekil” itu sangat dekat dengan kehidupan saya. tapi jarang ada orang” seperti mbak.
Kagum, atas ide mbak untuk berbagi cerita itu. Semoga orang yg baca cerita ini bisa belajar dan mau mulai berbagi serta saling menghargai antar sesama.

Selamat, smoga mbak bisa tetap diberikan Tuhan anugrah tuk tetap bisa menulis, khususnya tulisan yang bisa memberikan inspirasi.

@Alhamdullillah Mas Hendra, kalau cerita saya bisa memberikan manfaat & inspirasi bagi orang lain. Semoga kita menjadi pribadi2 yang selalu bersyukur. Amien.

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

5. kweklina - Desember 6, 2008

Ya…disaat kita memiliki makanan yang banyak malah kadang kita lupa ada orang yang hampir mati kelaparan,membuangnya begitu saja atau malah tak menyentuhnya sama sekali.

Dunia kadang tak adil buat mereka,sekeliling melihat mereka dengan mata sebelah,padahal itu bukan yang mereka mau.

Kamu memang bintang,hatimu bagai sinar bintang,berkelap-kelip memberi sensasi tersendiri.Semoga akan muncul bintang- bintang yang lain…

thanks renungan indah ini!

@Terima kasih kembali mbak Kweklina, senang bisa memberi inspirasi 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

6. dhinda - April 4, 2011

kita tlh d bri anugrah olh than yg mha kuasa., sbg ucapan trma kaci mka banyak banyaklah bersyukur kpdanya………………………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: