jump to navigation

KETEGARAN HATI MPOK YANI & MBOK SUTI April 4, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
trackback

Ah…pagi ini aku mau mengajak pangeran kecilku berkeliling di daerah seputar kawasan tempat tinggalku. Lagi pula mumpung beberapa hari ini ada hari libur berturut-turut, jadi pangeran kecilku tidak berangkat ke sekolah. Sedangkan suamiku sepertinya lagi serius menyelesaikan pekerjaannya.

Yap…aku mau ngajak resfreshing sambil menyalurka hobi baruku mengumpulkan foto-foto unik yang ada di seputar sini. Ya…begitulah aku, selalu ada ideku bila aku enggan melukis atau bosan terhadap kesibukan yang aku geluti.

Tak lama berselang setelah pamit dengan suamiku, aku dan pangeran kecilku berjalan-jalan menyusuri kawasan pinggir kali ta jauh dari tempat tinggal kami. Sengaja aku mengendarai motor“Mio”ku berdua saja dengan pangeran kecilku, sambil berbekal camera dan satu tas ukuran sedang berisikan pernak-pernik jalan-jalan, makanan & minuman kecil buat kami nikmati.

Tiba-tiba aku tertarik pada sekelompok bocah-bocah kecil yang sedang asyik bermain kereta dorong. Lalu kuputuskan untuk berhenti dan memarkir “Mio”ku tak jauh dari situ. Kusuruh pangeran kecilku berdiri di beberapa sisi yang kuanggap bagus, dan cis,cis,cis tanganku dengan lincah memainkan camera dan mengambil berbagai objek gambar yang ada.

Pangeran kecilku yang sedang beraction, lapang rumput yang masih basah karena embun. sekelompok bocah-bocah kecil yang asyik bermain, dll. Pokoknya ok, punya ! begitulah gumanku begitu aku merasa puas, hehehe…

Tapi tiba-tiba keasyikan memotretku terusik oleh isak tangis seorang bocah bertubuh agak bonsor di sudut pohon perdu. Kudengar isaknya tak kunjung berhenti. Lalu karena penasaran aku hampiri bocah itu.

“Ada apa dik, mengapa menangis, abis berantem dengan mereka yah ?” tanyaku penasaran.

Tapi bocah bertubuh bongsor itu hanya menggeleng. Bibirnya tetap membisu. Isak tangisnya memang jadi agak berkurang setelah aku bertanya. Hanya sesekali masih kudengar isaknya.

Melihat bocah bongsor tersebut masih sedih, pangeran kecilku tak kalah sibuk ikut membujuk.

“Sudah jangan nangis, aku ada coklat untuk kamu, tapi kamu jangan nangis lagi !”, ujar pangeran kecilku manis.

Eit, benar saya tak lama berselang, bocah berbadan bongsor itu menghentikan isak tangisnya dan mulai menikamati coklat pemberian pangeran kecilku.

Sengaja kuamati mereka dari agak jauh. Kubiarkan pangeran kecilku bersosialisasi dengan mereka dan bocah lain yang tengah beristirahat karena kelelahan bermain kereta dorong dan sepeda kecil yang sudah tua.

Ah, biar pangeranku kenal dengan anak-anak kampung daerah sini. Lagi-lagi aku bergumam dalam hati.

“Mama, mama, semua coklat dan kuenya aku bagi untuk teman-teman yach ?”, teriak pangeran kecilku menghampiri aku yang masih asyik memotret.

“Ya, pageran makan dan bagi dengan teman-teman semua ya sayang !”, jawabku tanda setuju.

Kulihat pangeran kecilku sibuk membagikan coklat dan kue yang tadi kami bawa buat mereka. Hem lumayan juga disini. Masih hijau. Masih alami. Pohon-pohonnya masih lumayan banyak. Tapi sayang sepertinya penduduk disini kehidupannya kontras banget dengan keadaan komplek yang telah berdiri mengepungnya. Disini masih berdiri bangunan-bangunan sederhana. Hanya satu dua yang menurutku cukup lumayan. “Ah, kapan yach…negeri ini seperti negaralain”, lagi-lagi aku bergumam kecil dalam hati.

“Ma, ini Umar ma !, tiba-tiba pangeran kecilku menghampiriku dan membuat aku agak terperanjat.

“O, namanya Umar ?”, sapaku kepada bocah yang bertubuh bongsor yang sempat menangis tadi.

Ternyata pangeran kecilku sudah berkenalan dan telah sempat bermain kejar-kejaran dengan Umar.

“Iya, tante, aku Umar dan dia Ali !”, ujarnya mengenalkan seorang bocah lagi, yang akhirnya kutahu kalau dia (Ali) adalah adiknya Umar.

“Nah, sekarang kalian berdiri disitu, nanti tante foto !”, mintaku pada Pangeranku, Umar dan Ali.

“Satu, dua, tiga, yes !”, ucapku tanda ekspresi mereka sudah bagus.

“Rumahmu dimana Umar”, tanyaku ingin tahu pada bocah ini.

“Disana, yang jualan nasi uduk !”, jawab bocah ini sambil menujukkan sebuah tempat yang berada tak jauh dari sini.

“Yang itu yah !”, tanyaku lagi setengah menyakinkan perkiraanku agar tak salah.

“Iya, yang dekat pohon itu !”, ujar bocah ini yang mulai riang.

“Tadi kenapa kamu menangis ?”, tanyaku masih penasaran pada bocah ini.

“E…aku nggak dibolehin naik kereta sama temen-temen”. “Kalau aku dan Ali mau pinjem sepedanya Ipan juga nggak boleh !”, ucap bocah ini polos.

Lalu kupangku pangeran kecilku yang sudah mulai lelah berlarian di lapang rumput.
Sambil mengusap keringatnya aku berkata,

“Sayang, sepedamu yang Batman masih suka nggak ?”.

“Em, emang kenapa ma ?”, pangeran kecilku balik bertanya.

“Gini, pangeran kan sudah punya sepeda United yang baru dari Papa, nah kalau pangeran sudah nggak pakai sepeda Batmannya, gimana kalau sepedanya kita hadiahin aja ke temen !”, aku mencoba memeparkan maksudku.

Ternyata diluar dugaanku pangeran kecilku langsung setuju. Bahkan pangeran kecilku langsung memberikan ide kalau sepeda batmannya, yang kebenaran sudah tidak pernah dipakainya bermain, ke teman pilihannya.

“Ma, kalau sepeda Batmanku aku kasihkan buat Umar dan Ali, Mama boleh nggak ?”, pangeran kecilku malah balik meminta persetujuanku.

“Benar, pangeran mau kasihkan sepeda Batmannya buat Umar dan Ali, sayang?”, tanyaku lagi karena aku ingin meyakinkan lagi bahwa itu murni keinginan dari pangeran kecilku.

“Iya, nggak apa-apa Ma, pangeran sudah punya sepeda United, aku kasihan sama Umar dan Ali yang pengen banget punya sepeda !”, jawab pangeran kecilku polos.

“Ok, kalau begitu mama mau telpon papa supaya papa nyusulin kita disini sekalian bawa sepeda Batman untuk Umar dan Ali, setuju ?”, jawabku lagi.

Lalu aku menelpon suamiku untuk menyusul kami disana dan sekalian minta dibawakan sepeda Batman. Akupun tak lupa menceritakan secara singkat maksud dan tujuan pangeran kecil kami. Ternyata suamikupun setuju dan tertarik untuk datang menyusul.

Tak lama kemudian suamiku datang membawa sepeda Batman yang kami minta.

“Nah, ini pesanannya datang !”, ledek suamiku setengah bercanda kepada aku dan pangeran kecilku.

“Nanti kalau pulang Mama sama Pangeran pijatin papa yah, abis pegel nich bawa sepeda pakai motor !”, ledek suamiku yang datang pakai motor “Shogun”nya.

“Beres bos !”, pangeran kecilku kembali ngededek papanya.

“Ayo panggil Umar dan Ali !”, mintaku pada pangeran kecilku.

“Umar, Ali kemari !”, teriak pangeran kecilku sambil berlari kecil kearah mereka yang sedang menggambar tanah yang rumputnya gundul dengan potongan ranting pohon.

Tak lama kedua bocah itu bersama pangeranku datang ke arahku.

“Umar, Ali, ini sepeda buat kalian berdua dari pangeran!”. “Kalian mau menerimanya kan ?”, ucapku pada mereka.

“Mau banget tante !”. “Terima kasih tante, pangeran !” ujar mereka lagi dengan mimik muka yang merah merona karena suka.

“Ayo bawa sepedanya, dan ajak teman yang lain untuk bermain bersama yah !”, pesanku pada kedua bocah itu.

(Ha…benar-benar pengalaman yang indah).

“Yok kita kemas-kemas pulang, ambil fotonya sudah bereskan !” ajak suamiku yang sedari tadi mengamati aku dan pangeran kecilku.

E, tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya ke arah kami bertiga yang sedang mengambil motor yang kami parkir tak jauh dari situ.

“Ibu, Bapak, terima kasih banyak yah sepedanya, ma’af anak-anak saya merepotkan !”. “Saya Mpok Yani, ibunya Umar dan Ali”, ujar wanita paruh baya itu sambil memperkenalkan diri.

“Ayo, ibu Bapak, mampir sebentar ke rumah saya”. “Rumah saya dekat sini !”, pinta wanita itu lagi kepada kami sehingga kami enggan untuk tidak mengabulkan permintaanya.

Lalu setelah mengambil “Mio”ku dan “Shogun” suamiku, kami singgah di rumah wanita yang kami kenal dengan nama Mpok Yani ini.

Ternyata mpok Yani ini adalah seorang penjual nasi uduk dan lontong sayur yang bermodalkan sebuah meja kecil ala kadarnya di teras depan rumahnya yang mungil.

Dari jendela kulihat seorang bocah kecil lainnya, yang sedang tidur di dalam ayunan kain.

“Ibu, bapak, kenalkan ini ibu saya “Mbok Suti” dan yang dalam ayunan itu anak saya yang paling kecil “Yusuf” !”, ujar mpok Yani lagi.

“Ini pak, bu monggo diminum airnya !”. “Mau saya hidangkan nasi uduk ?”, tawar mpok Yani kepada kami.

“Sudah mpok Yani nggak usah repot-repot, mpok !”, jawabku singkat.

Kulihat pangeran kecilku dan suamiku mengamati keadaan seputar rumah ini. Umar dan Ali pun sudah berada di teras depan rumahnya.

Eih ternyata mereka bocah yang baik dan rajin.. Sehabis bermain mereka tutun tangan membantu ibunya. Kecil-kecil sudah bisa meringankan pekerjaan ibunya dengan membawa beberapa nampan gorengan ke meja depan rumah untuk dijual.

Hem, ternyata boleh juga kerjasamanya. Mbok Suti membantu meneyelesaikan menggoreng gorengan sebagai tambahan jajanan, sambil sesekali menggenyot ayunan untuk yusuf.

Sedangkan Ali dan Usman kembali membawa piring dan gelas kotor ke belakang rumah berikut nampan yang sudah kosong.

Mpok Yani sendiri selesai masak lontong sayur, langsung kembali menjaga dagangannya dan melayani pembel di teras depan rumahi.

“Maaf ya pak, bu saya sambi kalau ada yang beli !”, ujar mpok Yani meminta izin.

“Silahkan, mpok !”, jawabku singkat.

“Sekali lagi terima kasih yah pak, bu, pangeran, anak-anak saya sudah merepotkan !”, ulang mpok Yani lagi kali ini dengan nada yang sedikit terisak.

“Iya mpok, sama-sama !”, ulangku lagi untuk menyakinkan kalau kami sekeluarga benar-benar merasa tidak direpotkan.

Sebersit kuamati ada kesedihan di raut muka wanita paruh baya ini. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Mpok Yani, Mbok Suti, juga dengan Umar dan Ali, kami jadi tahu kalau ayah dari Umar, Ali dan Yusuf sudah meninggal dunia sekitar 3 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan kereta api. Jadi ayahnya Umar, Ali dan Yusuf sudah tiada sejak Yusuf masih dalam kandungan.

(Yusuf sekarang baru berusia +/-2 tahun)

Untuk menghidupi ketiga anak dan ibunya, mpok Yani harus bangun super pagi untuk berbelanja, menyiapkan semua masakan untuk dagangannya, juga menjaga ketika bocah tsb. Maklum mpok Suti hanya bisa membantu pekerjaan-pekerjaan kecil karena sudah tua. Aku dapat merasakan getar-getar kerja keras Mpok Yani buat menghidupi ketiga buah hatinya dan ibunya yang sudah tua. Meskipun dengan modal seadanya, peralatan seadanya, wanita paruh baya ini menempuh kehidupan tanpa rasa kenal lelah. Sungguh aku terharu !!!.

“Mpok Yani, mbok Suti, Umar, Ali !”. “Kami mohon pamit dulu yah !”, ujar kami bertiga untuk berpamitan.

“Kapan-kapan kami singgah lagi untuk makan nasi uduk dan lontong sayur !”, ujar suamiku untuk menghibur agar mpok Yani tidak lagi bersedih.

“Kalau ada waktu main ke rumah pangeran yah !”, ajak pangeran kecilku kepada Umar, Ali dan Yusuf yang ternyata sudah bangun dari boboknya.

Dalam perjalanan pulang dari petualangan memotretku, lagi-lagi aku menemukan pelajaran yang aku nilai sungguh berharga.

Bertemu dua sosok wanita “Mpok Yani dan Mbok Suti “, yang sangat tegar menurut pandanganku, dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini. Dia tetap berjuang keras agar dapat menghidupi ketiga buah hatinya tanpa kenal lelah, bersama seorang ibunda yang sangat disayanginya.

“Semoga Tuhan selalu membukakan jalan kemudahan bagi mereka !” Amien.

Sekian sepotong cerita dari Bintang, semoga cerita ini bisa memberikan inspirasi dan manfaat.

Iklan

Komentar»

1. Pluto - April 4, 2008

Menurut aku seorang perempuan kadang memang lebih perkasa daripada seorang laki2. Keperkasaan itu karena kekerasan hatinya untuk menghidupi buah hatinya yang telah ditinggal ayahnya dan untuk ibunya yang sudah renta. Belum tentu seorang laki2 yang ditinggal istrinya bisa sukses membesarkan anak2nya walaupun didukung dengan kemampuan phisik yang lebih kuat daripada seorang wanita jg mungkin pendidikan yang lebih tinggi dari istrinya. Mpok Suti tidak perduli lagi dengan penampilan, perawaatan kecantikan, karena baginya untuk bisa makan bersama anak2nya dan ibu sudah merupakan anugerah dari Alloh Swt . Yah..Itulah wanita sekaligus seorang ibu yang rela berkorban untuk anak-anaknya tanpa balas jasa.

@ Setuju banget Pluto, Ibu memang segalanya. Semoga kita tak pernah lupa jasanya baik beliau masih ada maupun telah tiada. Ibu bagiku adalah wanita yang paling aku kagumi !

Thank atas komentar & kunjungannya Pluto !

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. Rezki - April 4, 2008

Mpok Yani memberi contoh bahwa betapapun keras dan susahnya hidup, tapi kalau kita berusaha Tuhan pasti memberi rejeki bagi kita

3. Resi Bismo - April 9, 2008

Duh mbak, sambil nangis aku mbacanya.. 😦 sangat menyentuh hati. Anak2 tersebut punya hak untuk maju seperti anak2 seusianya. Mudah2an kita diberikan kekuatan untuk membantu sesama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: