jump to navigation

QURBAN April 3, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
trackback

Tak terasa aku sudah menetap di kota ini selama 9 bulan. Maklum sejenak aku tinggalkan gemerlap kota Metropolitan ke sebuah kota yang agak sunyi di propinsi Jawa Tengah. Kotanya kecil, tapi cukup tenang.

Tempat tinggalku sekarang berada di sebuah bukit dengan suasana alam yang masih hijau. Hari-hari yang aku lalui bersama pangeran kecilkupun lebih rileks dibandingkan dulu. Biasanya selepas mengantar pangeran kecilku ke sekolah, aku habiskan waktuku dengan latihan melukis di sekitar rumah. Kebetulan suamiku dapat tugas dikota ini, jadi mau tak mau aku harus ikut suamiku.

Pokoknya suasananya disini beda deh, tapi aku mulai suka lingkungan & rutinitas baruku ini. Meskipun kadang ada perasaan kangen karena tinggal jauh dari kedua orang tua dan sanak family, aku, suamiku dan pangeran kecilku masih enjoy aja.

Hem…hari raya Qurban tinggal 3 hari lagi.

Sejenak aku terkenang masa-masa kecilku dulu di Sumatera, yang sangat gembira bila menjelang lebaran Idul Adha tiba. Gimana tidak senang bukan kepalang. Karena tak jauh dari rumahku ada padang rumput yang cukup luas yang akan segera diisi oleh beberapa hewan ternak qurban dari para penyumbang, seperti sapi dan kambing yang akan siap disembelih dan dagingnya dibagikan kepada penduduk seputar komplek tempat tinggalku.

(Masih teringat bagaimana suasana hiruk pikuk dan canda bocah-bocah kecil seusiaku yang berlarian dan dengan wajah-wajah gembira mendapatkan jatah daging qurban untuk dimasak dan dinikmati keluarga mereka pada hari itu. Hem sungguh kenangan yang indah).

Ah…lebih baik aku beli kambing qurban tahun ini, toh tahun lalu aku tidak sempat berqurban, lagi-lagi aku berpikir dan mengiyakan pikiranku yang sempat melalang buana tadinya.

Seperti biasa setelah bangun pagi, aku sarapan bersama pangeran kecilku. Kebetulan sejak 3 hari yang lalu suamiku ada tugas ke Jakarta.

Nah, berhubung hari ini sekolah pangeran kecilku libur, jadi sengaja aku ajak dia untuk ikut denganku. Hem sekalian mengendarai mobil”Honda City” ku yang baru, aku pergi diseputar tepat tinggalku untuk mencari pedagang hewan qurban.

Benar saja, tak lama kemudian aku segera mendapati penjual kambing qurban yang tengah menunggu pembeli dagangannya. Segera saja kuparkirkan mobilku sambil mengandeng tangan pengeran kecilku untuk melihat kambing qurban yang akan kubeli.

Tak lama kemudian terjadilah percakapan dan negaosiasi antara aku dan penjual kambing.

“Mas, kambing yang itu berapa duit mas ?”, tanyaku kepada penjual kambing sambil menunjukkan seekor kambing yang paling menonjol diantara kambing-kambing yang lain.

Kambing yang saya tunjuk itu kebetulan seekor kambing super jumbo. Pokoknya mantep deh untuk qurban, begitu pikirku. Pangeran kecilkukupun sempat senang melihat pilihanku.

Pangeran kecilkupun tak kalah girang berucap, “Ma..Ma iya, Ma itu kambing yang paling gede aja Ma yang kita beli !”.

“Hem yang itu harganya 2,5 juta mbak !”, jawab penjual kambing sambil mencoba melepas tali kambing yang aku tunjuk dan mencoba memperlihatkan kambing tsb.

“Wah mahal banget mas !”, ucapku tak kalah kaget.
(Abis perkiraanku harganya paling 1,5 juta).

“Boleh kurang nggak ?”, ujarku lagi.

“Nggak bisa mbak, pas !”, ujar penjual kambing.

Tapi aku tetap mau coba negosiasi dengan si penjual kambing.

“Kalau 1,5 juta boleh nggak ?”, tawarku.

“Wah belinya aja ndak dapet mbak, sewa mobilnya ke sini mahal, belum bayar lahan, kamtib, dllnya mbak….ndak balik modal !”, jawab si penjual kambing mulai ogah melayaniku.

“Masak ndak boleh kurang sama sekali, toh mas !” ujarku tetap mencoba negosiasi.

Kuperhatikan wajah pangeran kecilku mulai bosan, mungkin dia tahu kalau aku juga mulai kehilangan mood untuk menawar dan mendapatkan kambing tsb.

Yah, akhirnya aku putuskan untuk nawar sekali lagi dengan besar harapan negosiasiku kali ini berhasil.

“Ya, sudah 2 juta ya mas, kalau dikasih saya ambil !”, tawar saya lagi.

“Nggak bisa kurang mbak, pas 2.5 !”, jawab penjual kambing sekenanya karena sudah ogah melayani saya.

Mendengar jawaban tukang kambing yang jual mahal aku mulai sebel juga. Aku mulai beranjak menganjak pangeran kecilku untuk pergi dari situ. Meskipun sebenarnya aku punya uang yang lebih dari cukup untuk beli seekor kambing tsb. Tapi kok kupikir-pikir & kuhitung-hitung lebih mahal 500 ribu, aku jadi mengurungkan niatku untuk membelinya. Malas pikirku singkat.

Tanpa aku sadari, ternyata sedari tadi ada seorang kakek yang memperhatikan gerak-gerik dan situasi tawar menawarku dengan si penjual kambing yang agak alot.

Lalu tak lama kemudian kakek itu menyapaku.

“Gimana, neng jadi beli kambingnya ?”, tanya si kakek dengan lembut.

“Enggak kek, sebel harga kambingnya mahal banget !”. “Mas-nya susah ditawar dan melayaninya ogah-ogahanan lagi !”, ujarku setengah sewot.

(Maksudku bukan sewot sama si kakek, tapi sama mas penjual kambing).

“Ya, sudah kalau begitu, saya ambil kambingnya buat saya yach, ?”, ujar si kakek minta permisi pada saya untuk jadi pembeli berikutnya.

“Wah, enggak usah beli kambing disini kek, harganya mahal lho, kek, mending cari di penjual kambing lain aja kek !”, ujar saya menyakinkan kalau bukan hanya itu kambing yang terbagus.

“Ndak, apa-apa neng !”. “Saya mau qurban kambing saya yang terbagus dan terbaik, neng !”, jawab kakek lagi.

Tak lama kemudian si kakek menunjuk kambing yang super jumbo, pilihanku tadi.

“Nak, kambing yang paling besar itu, berapa harganya ? “, tanya kakek kepada penjual kambing.

“Hem, itu yang paling mahal kek, paling bagus !”, jawab si penjual kambing tidak yakin kalau si kakek sebenarnya ingin mengadakan transaksi dengannya.

“Iya, nak saya mau yang itu yang paling bagus, yang paling besar itu, harganya berapa ?”, tanya si kakek lagi tanpa merasa disepelekan oleh si penjual kambing.

“Dua setengah kek !”, jawab si penjual kambing sekenanya.
(Maksudnya 2,5 juta rupiah)

“Ya, nak saya ambil buat saya, ini uangnya !”, ujar si kakek sambil mengeluarkan sejumlah uang dari tas kulitnya yang terbilang usang.

Melihat si kakek serius membeli kambing tsb, mimik muka si penjual kambing langsung berubah 180 derajat. Mukanya yang semua kecut dan tutur kaktanya yang tadi ogah-ogahan berubah manis.

“O, yah mbah, saya lepas dulu talinya, mbah lihat dulu & dipegang dulu kambingnya mbah !”, ujar si penjual kambing jadi ramah.

(Yang tadinya manggil kakek jadi mabak nih, pikirku lagi-lagi tak kalah sebel !)

“Ini kambing paling bagus mbah, paling top deh untuk qurban !”, ujar penjual kambing lagi.

“Ini, uangnya nak !”, ujar mbah sambil memberikan segepok uang lima puluh ribuan ke tangan penjual kambing itu.

Penjual kambingpun dengan sigap menghitung uang tsb.

“Hem lebih 50 ribu mbah !”, ujar penjual kambing dengan jujur.

“O..ndak ada ongkos kirimnya, nak !”, tanya mbah lagi.

“Emang mau diantar ke mana mbah ?”, tanya penjual kambing dengan sopan.

“Ke kampung sawah belakang, nak. Bilang saja bila nyasar, kambing ini untuk mbah Dibyo, pensiunan tukang pos !”, jawab mbah polos.

“O, enggeh mbah !”, jawab penjual kambing ramah.

“Insya Allah, anak-anak kampung hafal dengan mbah. Tolong dan terima kasih ya, nak !”, ujar si mbah tak kalah sopan kepada penjual kambing.

“Yah, segera saya antar, mbah, jangan khawatir, untuk Qurban lusa kan mbah !”, ujar si penjual kambing sambil mengembalikan sisa uang 50 ribu ke mbah Dibyo.

“Iya,nak, Alhamdulllillah, masih bisa ditabung lagi !”, ujar si mbah Dibyo sambil meraih uang 50 rb tsb, sambil manguk-mangguk meninggalkan si penjual kambing.

Terus terang aku penasaran bukan kepalang pada kakek yang ternyata dikenal orang-orang kampung sawah belakang dengan sebutan mbah Dibyo ini.

Kuperhatikan dari pakaiannya yang hanya mengenakan batik yang nggak bisa dibilang bagus, celana ala kadarnya dan sadal model tempo dulu, berani beli kambing yang menurutku terbilang mahal dan cukup mahal malah.

dan…yang lebih membuatku tak kalah kaget, ketika aku melihat si mbah tadi ternyata memarkirkan sebuah sepeda ontel disamping warung tak jauh dari penjual kambing tadi. Kulihat mbah Didyo beranjak meninggalkan warung tadi, sambil mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan dengan sopan ke penjaga warung ketika mengayu sepeda tuanya pulang.

Hem, sungguh kejadian diluar duganku. Seorang kakek tua, dengan sepeda ondel, penghasilan pensiunanan, pakaian biasa aja, kok berani beli kambing qurban mahal amat, ….lagi-lagi aku berguman dalam hati.

“Pangeran kita ikuti kakek itu yok !”, ajakku pada anakku yang sedari tadi mengamati aku dan kakek.

“Ayok !”, ujarnya pangeran kecilku.

Lalu, aku dan pangeran kecilku mengikuti si kakek dari belakang dengan mobilku. Dari kejauhan kuamati mbah Dibyo berhenti di sebuah rumah. Kuamati rumah itu tampak biasa saja, malah cenderung sederhana, tidak kelihatan mencolok dengan bangunan di sekitarnya. Hanya kulihat tampak pagar kawatnya dipenuhi tanaman merambat, Disisi kiri kanan pekarangan rumahnya tampak beberapa pohon yang cukup rindang.

“Yok, kita turun disini, kita singgah ke rumah mbah Dibyo !”, ajakku pada pangeran kecilku, sambil memarkir mobilku beberapa meter dari rumah mbah Dibyo.

“Mau ngapain ma ?”, tanya pangeran kecilku mulai heran.

“Enggak kita mau main aja, pangeran maukan ?”, tanyaku pada si kecil.

“Ok, deh !”, ujar pangeran kecilku dengan riang.

“Assalamualaikum mbah ?”, sapaku berbarengan dengan pangeran kecilku ketika sampai di depan pintu pagarnya.

“Waalaikumsalam !”, jawab mbah Dibyo yang ternyata muncul dari samping rumahnya.

“E..neng yang tadi ketemu di tempat penjual kambing !”, ujar mbah Dibyo.

“Ada apa neng ?”, tanya mbah Dibyo agak heran atas kedatanganku ke rumahnya.

“Enggak mbah, cuma lewat, dan mau main aja disini !” jawabku polos.

“O, monggo-moggo…ayo masuk, neng !”.

“Kenalkan, mbah, saya Bintang dan ini anak saya Pangeran. Kebenaran saya tinggal nggak jauh dari sini. Di atas bukit mbah. Saya sama anak saya lagi pengen jalan-jalan dan main di sekitar ini mbah !”, ujar saya mencoba menjeaskan maksud kedatanganku.

“Ayo kasih salam sama mbah !”, ujar saya kepada pengeran kecilku.

Pangeran kecilku meraih tangan si mbah tanda salam perkenalannya.

“Wah Pangeran nganteng amat, pintar lagi !”, mbah Dibyo langsung memuji pangeran kecilku.

“Enyang Putri, kemari, ada tamu nih !”, mbah Dibyo memanggil isterinya yang ternyata sedang menuju ke depan.

“Nah, ini kenalkan Eyang Putri, isterinya mbah !”, ujar mbah Dibyo lagi..

“Saya Bintang dan ini anak saya Pangeran Eyang putri !”, ujar saya lagi memperkenal diri pada isteri mbah Dibyo.

“O yah ayo, ayo kemari !”, ajak Eyang Putri & mbah Dibyo ke bale-bale depan terasnya.

“Mbah, kambingnya tadi untuk Qurban mbah ?”, tanya saya.

“Iya, neng, ini untuk qurban lusa. Insya Allah bisa dibagi-bagikan untuk para tetangga di sini !”, ujar mbah Dibyo.

“Kebetulan hasil dari tabungan mbah dan eyang putri dan ada rejeki untuk qurban !” , ujar mbah Dibyo polos dibarengi senyumnya seakan tak pernah lepas dari raut muka ini.

Lalu aku dan mbah Dibyo ngobrol –ngobrol, mulai dari profesi mbah Dibyo sedari waktu muda dulu sampai kegiatannya saat ini.

Dari obrolan ringan tsb aku ketahui, kalau mbah Dybyo dulunya seorang tukang pos, yang mengabdi lebih dari 37 tahun. Penghasilannya sebagai tukang pos jauh dari cukup menurut ukuranku. Apalagi di masa pensiunnya yang hanya seorang tukang pos dengan golongan yang rendah. Kehidupannya dulu dan sekarang menurutkupun jauh dari makmur. Usia beliau sekarang menginjak 70 tahun. Tapi melihat keuletan dan gerak-geriknya mungkin orang menganggap beliau lebih muda 10 tahun dari usia sebenarnya.

Kegiatan beliau sekarang adalah mengajarkan mengaji untuk anak-anak dikampung dengan bayaran sekedarnya, mengurus musholla di sebelah rumahnya tanpa merasa terbebani. Sedangkan untuk menyambung hidupnya sekarang mbah Dibyo berdua isterinya mengandalkan dari uang pension sebagai tukang pos, hanya mereka rajin menanami lahan disamping dan belakang rumahnya dengan tanaman-tanaman yang menghasilkan, seperti singkong, cabe, tomat, rambutan, jambu. Juga terdapat sejumlah kembang yang dapat dibeli jika ada yang berkenan, itupun dengan harga sekenanya.

(Mbah, mbah kok masih ada yah orang seperti ini jaman sekarang..lagi-lagi aku berpikir !)

Meskipun jauh dari makamur untuk ukuran orang kota sepertiku, ternyata dalam diri mbah Dibyo dan isteri adalah sosok yang bisa kunilai sebagi orang yang ulet, rajin, tekun, bersahaja, sederhana dan punya kepedulian dengan sesama. Pokoknya meskipun aku baru mengenal beliau, aku benar-benar terkesan dengan kepribadian beliau.
Tak terasa waktu Zuhur tiba, mbah Dybyo pamit sebentar untuk sholat dan mengajar mengaji di musholla sebelah rumahnya. Pangeran kecilku tertarik untuk ikut mbah Dibyo ke musholla.

“Ma, aku ikut mbah Dibyo sholat di mushola yah ?”, ujar pangeran kecilku.

“Yah, sekalian mama antar !”, ujarku.

Lalu pangeran kecilku ke musholla di sebelah rumah mbah Dibyo. Ternyata beberapa anak kecil sudah menunggu untuk sholat Dhuzur bersama. Lalu setelah itu dilanjutkan dengan belajar mengaji sampai Azar dengan mbah Dibyo. Selesai sholat Azar berjamaah baru mereka bubaran.

Hem.. sungguh pemandangan yang sudah jarang aku temui kalah aku masih tinggal di kota Metropolitan dulu.

Yap, sepeninggalan pangeran kecilku asyik mengikuti mengaji di musholla, aku bersama Eyang putri berkeliling di samping dan belakang rumahnya. Eyang putri kuperhatikan masih lincah mencabuti rumput disela-sela tanaman. Kuperhatikan tangannya yang keriput tsb sangat cekatan memainkan arit kecilnya.

Tak terasa obrolan-obrolanpun mengalir begitu saja, antara aku dan Eyang putri. Terus terang aku merasakan kedekatan dengan beliau. Aku tidak merasakan asing dengannya, meskipun baru mngenal beliau hari ini.

Dari perbincangan itu aku jadi tahu kalau mbah Dibyo dan Eyang putri tidak memiliki anak kandung. Mereka hanya mempunyai seorang putra angkat. Sekarang sedang dinas sebagai tentara di Aceh. Dari perbincangan tsb & foto yang tertempel didinding rumahnya, aku dapat menyimpulkan kalau kedua orang tua ini sangat menyayangi putra angkatnya. Begitu pula sebaliknya. Karena kulihat seonggok surat masih tersusun rapi di samping radio di tengah rumahnya.

Tak terasa hari mulai sore. Hidangan singkong rebus & teh tawar yang dihidangkan eyang putri sudah saya nikmati. Pangeran kecilku pun sudah ada lagi disampingku.

“Ma, tadi aku belajar do’a agar cepat pintar !”, ujar pangeran kecilku yang mulai pamer kepandaiannya.

“Do’a apa, coba !”, tantangku pada si kecil.

Gini ma,
“Robbi zitni illma, war zukni fahma, amien !” ujar pangeran kecilku dengan lantang.

“Wah…pintar banget, siapa yang ngajari ?”, tanyaku lagi.
“Mbah Dibyo, ketika ngaji sama teman-teman di musholla tadi !”, jawab pangeran kecilku dengan bangga.

“Hehehe…!”, kudengar mbah Dibyo tertawa dan senang mendengar pujian pangeran kecilku.

“Mbah Dibyo, Eyang Putri, sepertinya udah sore, saya dan pangeran mohon pamit dulu ya mbah. Kapan-kapan saya dan pangeran main kesini lagi yach mbah !” ucap saya mohon pamit.

“O,ya, monggo-moggo neng, sering-sering main kesini, mbah berdua seneng dikunjungi. Anggap saja ini rumah eneng dan mbah berdua kerabat eneng !”, ujar mbah Dibyo dan Eyang putri dengan sungguh-sungguh.

Lamaian tanganku dan pangeran kecilku untuk mereka berdua mengakhiri perjumpaan kami kali ini. Lalu aku dan pangeran kecilku pulang ke rumahku. Dalam perjalanan pulang, terus terang dalam hatiku berkecamuk sejuta perasaan. Rasa senang, rasa bahagia, rasa haru, rasa menyesali sikapku dan perilaku tentang qurban, dll selama ini.

Rasanya aku ingin menangis, ditengah kecukupanku ternyata aku masih dibutakan dengan sejumlah embel2-embel k-eegoan-ku. Mengapa aku tidak membandingkan diriku dengan kehidupan mbah Dibyo yang masih jauh dariku.

Aku merasa kecil, mengapa ketika aku berqurban aku malah penuh perhitungan dan keraguan, ooh…aku berteriak kecil dalam hati. Aku malu pada diriku sendiri. Tuhan ampuni hambamu ini yang masih kurang bersyukur atas rejeki dan nikmat-Mu. Ampuni aku Ya Robbi !.

Tak berapa lama kemudian aku dan pangeran kecilku tiba di rumahku. Pangeran kecilku masih tertidur. Mungkin dia capek dan ngantuk abis kuajak jalan seharian. Tapi dia tampak happy lho !

Ternyata, suamiku sudah pulang dari Jakarta.

“Kapan pulang, mas ?, sapaku pada suamiku yang membantu mengangkat pangeran kecilku keluar dari mobil.

“Tadi jam 2, sengaja, surprise buat Mama & pangeran !”, jawab suamiku.

“Dari mana, Ma sama pangeran ?”, tanya suamiku.

“Abis dari jalan-jalan dikampung sawah belakang, mas. Nanti abis mandi aku ceritain deh !”, jawabku biar suamiku penasaran.

“Iya, pa dari rumahnya mbah Dibyo !”, sahut pangeran kecilku yang ternyata sudah bangun digendongan papanya.

“O,ya, mbah Dibyo yang mana ?”, tanya sumaiku makin penasaran.
“Ada deh !” , jawab pangeran kecilku kompak denganku untuk mencoba menggoda papanya yang makin penasaran.

“Ok, deh sekarang pangeran minta mandi dulu sama mbak Iis. Nanti abis makan malam kita cerita tentang petualangan kita tadi sama papa, ok, ?”, bujukku pada pangeran kecilku.

“Ok, deh Ma ! “, sahut pngeran kecilku yang mulai naik ke atas untuk mandi, dll.

Selesai makan malam, aku dan pengeran kecilku menceritakan kejadian dan hasil petualanganku sehari ini. Mulai dari nyari kambing, nawar kambing, ketemu mbah Dibyo, main ke sana sampai siapa mbah Dibyo, Eyang putri, keluarganya, profesinya, dll pokokke lengkap…kap deh.

Kulihat suamiku sempat terharu mendengar ceritaku. Kuperhatikan pangeran kecilku sampai tertidur disamping suamiku.

“Besok, kita cari sapi yok Ma ?”, ucap suamiku memecah keheningan di akhir ceritaku tadi.

“Untuk apa ?”, tanyaku untuk menyakinkan ajakkannya.

“Yah untuk Qurban kita !”, sahut suamiku dengan ekpresi surprisenya.

“Beneran ?”, tanyaku lagi.

“Ya, bener dong !”, jawab suamiku lagi.

“Gini, sebenarnya kemarin-kemarin aku memang niat qurban, dan Alhamdullillah ini ada rejeki, Insya Allah bisa untuk beli sapi. Kamu setuju nggak ?”, tanya suamiku lagi.

“Ya…setuju dong, so..kita nyari sapi nich besok ?”, aku balik bertanya kepada suamiku.

“Yap, besok kita nyari sapi dan kita qurban di kampung sawah tempat tinggalnya mbah Dibyo !”, ujar suamiku.

“Yoi, thank a lot yach Mas, I am very happy !”, ujarku diiringi mata yang mulai berkaca-kaca karena senang.

Keesokkan harinya aku, suamiku dan pangeran kecilku pergi mencari sapi untuk qurban. Alhamdullillah tak lama kami muter-muter ketemu penjual sapi qurban. Sapi yang kami dapat Alhamdullillah sesuai kriteria yang kami cari. Sapi yang bagus.

Dan Alhamdullillah banget, transaksinya berjalan mulus, tanpa negosiasi yang alot. Sekali nawar langsung final & sepakat.

Lalu sapinya kami minta kirim ke alamatnya mbah Dibyo.

Karena takut mbah Dibyo bingung ini sapi siapa, untuk apa dan sekalian pengen ngenali suamiku ke mbah Dibyo…so hari ini aku mengajak suamiku dan pangeran kecilku untuk main lagi ke rumah mbah Dibyo dan eyang putri. Lagian mumpung hari ini suamiku libur.

Sekalian bawain oleh-oleh dari Jakarta untuk mereka pikirku girang. Dan benar saja, ketika aku, suami dan pangeranku datang, mbah Dibyo dan isterinya agak bingung mendapati sapi yang diantar ke alamat beliau.

“Assalamualaikum mbah !”, salamku untuk mereka berdua yang kebetulan masih agak bingung menerima serah terima sapi dari pengantar/ penjual sapi tadi.

“Waalaikum salam !”, jawab mbah Dibyo.

“Mbah, itu sapi dari saya dan keluarga. Rencananya untuk di qurbankan besok & mohon dibagikan untuk warga disini. Jadi mohon diterima yah mbah !”, ucapku.

“Alhamdulillah, dan mewakili warga kampong sini kami mengucapkan terima kasih banyak ya nak !”. Ayo monggo-monggo ke dalam, ajak mbah Dibyo dan isteri kepada kami bertiga.

“Sama-sama mbah !’, ucapku dan suamiku.

“Mbah, ini suamiku !”, ucapku pada mbah Dibyo.

“Fahri, mbah !”, ujar suamiku memperkenalkan diri kepada mbak Dibyo.

“Saya Sudibyo, orang dikampung ini manggil saya mbah Dibyo !”, ujar mbah Dibyo sambil tersenyum.

“Ayo, ayo monggo kita ke bale-bale depan sambil lihat-lihat tanaman !”, ajak mbah Dibyo.

Kuperhatikan Eyang putri sedang membawa sepiring singkong rebus yang masih hangat.

“Wes eyang Putri nggak usah repot-repot !”, susulku ke belakang sambil membawakan oleh-olehku buat mereka ke belakang.

Lalu aku membantu membawakan seteko air teh tawar dari belakang.

“Wah terima kasih banyak yah neng, sudah dibawakan oleh-oleh dari Jakarta buat kami disini !”, ujar Eyang Putri dengan rasa haru.

“Sama-sama Eyang !”, ujarku lagi

“Ayo, ayo monggo-moggo nak !”. Ajak mbah Dibyo dan Eyang Putri hampir berbarengan menawarkan hidangan singkong dan teh yang masih hangat.

Tak lama kemudianan suamikupun sudah asyik bercakap-cakap dengan beliau.
Sungguh suasana yang menyenangkan. Akupun terkenang kampung tempat tinggal kedua orangtuaku di Sumatera. Kenangan masa kecil. Nostalgia indah.

Rumah dinas yang kami tempati sekarang, kebetulan berada di atas kampung sawah ini. Sebuah komplek perumahan yang cukup dikenal, karena bangunannya bagus-bagus. Alhamdullah kami jadi salah satu penghuni di sana.

Dari hasil perbincangan suamiku dengan mbah Dibyo hari, semakin membuat keluargaku dengan keluarga mbah Dibyo akrab. Kami jadi semakin tahu keadaan orang-orang kampung ini dengan segala kesederhanaan dalam kehidupan mereka. Aku dan suamiku jadi belajar banyak tentang makna sebuah kesederhanaan, arti bersahaja, dan lain-lain yang Insya Allah akan memperkaya relung rohani / bathin kami.

Ops…lagi-lagi hari sudah beranjak sore, selepas sholat Azar kami sekeluarga pamit pada keluarga mbah Dibyo. Kali ini perasaanku diliputi rasa bahagia dan senang, karena akhirnya niatku dan keluara kesampaian. Insya Allah dan semoga qurban kami besok bisa membawa berkah. Amien.

“Terima Kasih, Ya Robbi, karena lewat sosok keluarga mbah Dibyo lagi-lagi “Kau” bukakan mata hati kami untuk bisa kembali mendalami makna dan arti bersyukur yang sebenarnya. Lewat orang-orang seperti mereka, kami kembali diingatkan untuk lebih mawas diri, bersikap rendah hati, saling peduli dan tidak lupa kepada sesama. Selalu bersyukur dan berbagai rejeki dan karunia yang telah aku dan keluargaku terima selama ini”.

“Alhamdullillah, amien, ya robbal alamien !.”

Nah, sekian dulu sekelumit ceritaku ini, semoga bisa memberikan inspirasi dan manfaat.

Komentar»

1. Rezki - April 3, 2008

Tidak rugi saya mampir di blog ini…cerita2 nya sungguh sarat dengan pelajaran berharga…Apabila kita mau melihat sekeliling kita pastilah kita akan lebih bisa bersyukur…

@Terima kasih Rezki, sudah mampir di blog saya. Sungguh suatu kebahagian bagi saya apabila bisa berbagi pelajaran & dapat menginspirasi orang lain. Sekali lagi terima kasih yah !🙂

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. Resi Bismo - April 9, 2008

ini dia nich, cerita kepahlawanan dan kesederhanaan yang langka bin sulit ditemukan pada saat sekarang. Mbak dibyo benar2 mengajarkan kita secara langsung bagaimana dengan kesederhanaan orang tidak turun derajatnya, bahkan dimata tuhan ia sangat mulia. Thanks bintang sudah berbagi dengan saya… dtiunggu pengalaman2 menarik selanjutnya.

3. C - Februari 22, 2010

mampir dari blog walking,
buka dari beranda dan pas disini berkaca-kaca pol,
inget banget masih perhitungan kalo pas mo kurban,
hiks..
makasi ya mbak buat pencerahannya.
salam kenal,
c.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: