jump to navigation

Bocah Aris dan Bang Maman “Tukang Gorengan” Februari 25, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
trackback

Weleh,weleh…pagi ini hujan lagi.  Malas banget rasanya berangkat ke kantor. Belum lagi sekarang saya harus melanjutkan perjalanan ke kantor sendirian, dengan kendaraan umum.  Maklum sejak awal tahun kemarin, suamiku kantornya pindah ke daerah Cibitung. Biasanya kita berangkat berdua. Saya diantar dulu ke kantor saya oleh suami, baru dia ke kantornya. So…agak susah sekarang. 

 <
>

So…walaupun dengan perasaan setengah terpaksa, saya harus tetap menjalankan aktivitasku sebagai karyawati. Habis ini tanggung jawab.  Saya harus rela berdesak-desakan dengan para penumpang lain dalam bis agar sampai ke kantor tidak terlambat.  Abis tahu sendiri daerah tempat tinggalku sekarang (Bekasi) nggak pagi, nggak sore, nggak malam…mecetnya luar biasa.  Hem rasa malas itu semakin menghayutkan semangat & pikirannku.  Sebel,bel,bel,bel…

 

Tapi tiba-tiba lamumanku tersentak.  Seorang bocah yang kucel sedang mengamen.  Kali ini tembang yang dinyayikannya “Ingat Kamu”  Mbak Maia & “Cahaya” Letto punya.  Hem…gumamku dalam hati.  Si kecil ini jam berapa bangunnya yach.  Pagi gini sudah ada di bis.  Pagi-pagi sudah nyanyi-nyanyi.  Meski dengan pakaian kucel, nggak pakai sandal, baju lembab, suara yang terputus-putus…boleh juga semangatnya. (lagi-lagi aku bergumam dalam hati…mengakui semangat anak ingusan itu lebih hebat dari diriku!).

Yap, seperti biasa setelah mendendangkan lagu-lagu ala kadarnya, dia mulai beraksi.  “Uangnya Om, Bu, Tante…!” ujar pengamen kecil tersebut sekedar minta jasanya kepada para penumpang yang sudih memberi. 

Mungkin nasib si pengamen kecil itu pagi ini lagi apes…atau mungkin juga para pemunpang lagi pada nggak punya uang receh, saya perhatikan hampir ¾ pemunpang bis tidak memberikan uang kepadanya. 

Tapi dia tetap semangat mengedarkan kantong bekas permen golia sebagai tempat menadah uang dari para pemumpang yang bermurah hati. 

Ketika kantong itupun tiba di giliran saya, dengan berat hati saya pun terpaksa berujar,”Lain kali yah !”  (Abis kebetulan uang recehan saya lagi habis.Yah… meskipun saya sebenarnya kasihan juga, karena sepertinya muka si pengamen kecil itu tak seceria ketika dia mendendangkan 2 tembangnya tadi).

Tak terasa, perjalananku ke kantor sebentar lagi sampai.  Saya lihat si bocah pengamen itu kok tumben belum turun.  Mungkin karena hujan masih turun, sehingga dia mengurungkan niatnya berpindah bis untuk mencari recehan dari para penumpang yang iba padanya.

“Kiri-kiri ya,bang !”, tiba-tiba teriak pengamen kecil itu.  Karena jarak kantorku sudah sangat dekat, sayapun memutuskan untuk turun bersama dengan bocah pengamen tadi. 

“Ah, sekalian beli gorengan,  biar sambil buka email nguyah gorengan, pikirku dalam hati”.  Lagian kalau hujan begini, teman-teman yang lain juga pada datang telat, lagi-lagi saya menyakinkan diri saya sendiri.”

Lalu, saya memesan beberapa macam gorengan.  Ternyata gorengan-gorengannya belum semuanya matang.  Si tukang gorengan masih sedang menggoreng berbagai macam gorengan.

“Bang, jirengnya ada nggak ?”, tanyaku kepada si tukang gorengan.  “Oh, masih goreng singkong mbak !.  Tapi kalau mau tunggu sebentar, saya langsung gorengkan mbak !”.  Mau berapa mbak ?”, tanya si tukang gorengan.

“Hem,  jirengnya 3, lainnya campur-campur”. 

“Pokoknya lima ribu bang”, jawab saya singkat, sembari duduk menunggu gorengan yang masih dalam proses penggorengan (tanpa mengeluarkan uangnya terlebih dahulu). 

Tiba-tiba bocah kecil pengamen yang sempat ketemu saya di bis tadi, datang ke tukang gorengan.  Sekonyong-konyong dia berujar, “Bang Maman bagi pisangnya satu yak !”, ujarnya. Sambil tangan kecilnya mencomot satu pisang molen dari gerobok tukang gorengan.

Bang Maman (alias tukang gorengan hanya tersenyum) tanda setuju dan merelakan pisang gorengnya dinikmati bocah pengamen itu tanpa harus membayar.  Saya sempat tersenyum kearah si tukang gorengan.

“Biasa, mbak anak-anak !”, ujar tukang gorengan, yang akhirnya saya tahu bernama Maman.

“Emang, sering minta Bang ?”, tanyaku jadi penasaran.

“Ya, hampir tiap hari mbak, tapi saya ikhlas kok mbak, abis masih anak-anak, lagipula saya kasihan sama dia mbak !”, jawab bang Maman sambil tetap focus sama gorengannya.

“Emang, Bang Maman kenal dengan anak itu ?, tinggalnya dimana ?”,saya jadi makin penasaran tentang cerita si bocah kecil pengamen itu.

“Oh, namanya Si Aris mbak, tinggalnya ya agak dekat rumah tempat saya kontrak.  Cerita orang-orang, Bapaknya si Aris itu tadinya pelaut, tapi nggak pulang-pulang !”

“Lho, ibunya emang nggak ada bang ?”,  tanya saya lagi.

“Wah, ibunya enggak tahu kemana mbak, wong si Aris itu di titipkan di rumah saudaranya mbak !”.

“Lah…anak saudaranya itu aja banyak, rumahnya kecil”. 

“Wong si Aris itu malah sering tidur di rumah orang lain, mbak”. 

“Ya kadang kalau lupa nonton tivi karena kemalaman langsung nginap”. 

“Begitulah mbak, anak-anak susah di omongi, lagian mungkin Si Aris itu nggak ada yang ngurus”, celoteh Bang Maman sembari mengangkat gorengan dari kuali besarnya.

“Lha… emangnya, saudaranya (yang ngasuh si Aris itu) kerjanya, apaan Bang ?”, Tanya saya lagi sembari memasukan beberapa cabe rawit ke kantong plastic tempat gorengan yang saya beli nantinya.

“Jualan kecil-kecilan di pasar mbak !”, jawab si Bang Maman.

Tak terasa gorengan pesanan saya sudah selesai semuanya. 

“Nich mbak udah semua”.  “Jadi lima ribu”.

“Oh yach, sebentar !”, jawab saya.

“O..o…bang sorry nich uangnya 20 ribuan”, ujar saya sambil menenteng gorengan yang saya pesan tadi.

“Wah mbak, masih pagi belum ada kembaliannya”. 

“Ris..ris sini !”, teriak bang Maman kearah beberapa bocah kecil yang sedang asyik bermain di genangan air sisa hujan di pinggir jalan.

Secepat kilat Aris muncul ke hadapan Bang Maman. 

“Tukerin uang lima ribuan ke mpok Yani”. (Ternyata yang dimaksud mpok Yani yang jualan nasi uduk di sudut jalan).

“Mbak, sebentar ya !”. 

“Ya deh !”, ujar saya, karena kepalang tanggung.

Tak lama si Aris kembali dengan uang yang telah ditukar. Dan dia memberikannya segera ke Bang Maman.

“Ini mbak kembaliannya, makasih !”, ujar bang Maman kepada saya.

“Ya sama-sama, bang !”, sahut saya singkat.

Kulihat si Aris masih berdiri di pojok gerobak bang Maman, kaki kecilnya yang kucel sembari memainkan air dan tanah becek di sekitar gerobak gorengan. 

“Ini, singkong goreng upah kamu nukerin duit tadi”, sayup-sayup terdengar percakapan Bang Maman lagi, mengantar kepergian langkahku menuju kantorku yang sudah tinggal beberapa puluh meter lagi.

Terus terang saya jadi tidak terlalu nafsu untuk menikmati gorengan ini.  Perutku terasa kenyang seketika.  Ternyata untuk kurun beberapa saat saja, saya telah mendapatkan sekelumit kisah kehidupan tentang seorang bocah bernama Aris & Kemurahan hati seorang tukang Gorengan seperti Bang Maman.

Ah…lebih baik langkah saya putar sejenak, piker saya sembari kembali kearah gerobak Bang Maman lagi. 

Kali ini gantian saya yang berteriak, “Aris, Aris..sini !”, teriakku agar anak itu cepat datang.  Dan benar saja dugaanku.  Aris bocah pengamen yang kucel itu secepat kilat menghampiri saya.

“Kenapa, mbak”, tanyanya dengan muka tanpa dosa.

“Ini kamu beli nasi uduk buat kamu dan teman-temanmu.  Bagi yang adil ya !”, ujarku sambil memberikan sisa kembalian uang dari beli gorengan tadi. 

Si Aris kecil sembari mengucapakan,

 “Terima kasih ya, mbak, semua nich mbak ?”, ujarnya lagi setengah tidak percaya. 

“Ya…semua untuk kamu & teman-temanmu !”. ujar saya lagi sembari melanjutkan langkahku menuju kantor.  Kali ini dengan hati yang berbunga dan bersemangat.

Sembari langkahku berlalu meninggalkan mereka, sempat ke tolehkan mukaku beberapa saat ke belakang.  Si Aris dan teman-temannya “Berjoget kegirangan”, menuju mpok Yani penjual nasi uduk di sudut jalan.

Hem…pagi-pagi begini saya telah mendapatkan inspirasi dan motivasi dari mereka.  Tuhan memang Maha Besar, gumam saya dalam hati.  Terima kasih, Tuhan karena Engkau telah menyadarkan saya lewat mereka.

 Bahwa, kegigihan hidup, tetap bersemangat di kalah apapun, tetap lapang dada, bermurah hati terhadap siapa saja….sungguh-sungguh akan memberikan Hikmah kehidupan yang Tiada Tara.   

Sampai jumpa pengamen kecil yang selalu bersemangat “Aris” dan “Bang Maman“ tukang gorengan yang baik hati. 

Semoga sepotong cerita ini bisa memberikan inspirasi & manfaat bagi semua.  Amien.

Komentar»

1. Rezki - Februari 26, 2008

Kepedulian sosial yang besar ternyata terdapat pada rakyat kecil.

@ Yach, terkadang mereka lebih peka Rezki !
Terima kasih atas kunjungannya yach.

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. elindasari - Februari 27, 2008

Hello, Rezki !

Terima kasih atas komentar2nya selama ini. Semoga suka dgn cerita2ku yang aku tulis di blog !.

Bgmn kabar aktivitasmu ?. Semoga tetap sukses yach !

Best Regard,
Bintang

3. Rezki - Februari 27, 2008

Sy selalu membaca semua cerita di blog ini. Sangat inspiratif.

4. elindasari - Februari 27, 2008

Terima kasih atas pujiannya Rezki !
Blog Rezki juga menarik lho !

Best Regard,
Bintang

5. jedliem - Februari 27, 2008

Salut ama itu abang gorengan, setau sy gorengannya paling murah, enak dan kalo kita sudah langganan malah kadang dikasih lebih. Masih bisa memberi kepada si anak kecil. Memberi dari kekurangan, bukan dari kelebihan, itulah yang patut diacungi jempol.

6. Pluto - Februari 28, 2008

Nek, eike jadi terharu baca critanya, sebelumnya dalam benak eike klo pengamen-pengamen cilik itu yang ada yang koordinir, jadi males mo ngasih duitnya krn nanti keenakan bossnya…. Tp klo mmg kita tau siapa sesungguhnya pengamen cilik itu sept crt Kang Maman itu, eike salut sama pengamen ciliknya yang semangat cari uang pagi2 buta and keikhlasan Kang Maman memberi walau mungkin keuntungan yang dia dapat tidak seberapa…. Patut ditiru memang sedekah tidak harus banyak, yang penting niat dan ikhlas choiii…..

7. elindasari - Februari 28, 2008

Pluto..Pluto,

Akhirnya singgah juga ke blog Bintang, Makasih yach Mbak !

Iya,mbak ternyata di sekitar kita itu banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik. Hanya mungkin kadang2 kita terlalu sibuk memikirkan diri kita sendiri, sehingga kepekaan kita menjadi berkurang.

Mbak sering2 beri komentar yach…abis lagi belajar nulis nich !
Hehehe…

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

8. Resi Bismo - Februari 28, 2008

speechless gak bisa komentar apa2, tulisannya mengena banget dihati saya.

@ Terima kasih Mas Ario, thank atas kunjungannya Mas :>

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

9. Metta Tenggara - Juli 24, 2008

Mengharyukaaaan….Hikkkksssss….

10. elindasari - Juli 24, 2008

Mamet…terima kasih atas kunjungannya yach. Bintang juga jadi haru nich baca komentar para pembaca / blogger disini. besok2 bintang nulis artikel-artikel yang happy-happy ah…hehehe 🙂 🙂 🙂 Sampai jumpa diartikel mendatang Mamet !!!

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: