jump to navigation

Chocolatenya Lupa Saya Makan !!! Februari 22, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
trackback

Ada cerita tentang sepasang anak kecil yang bernama Embri (perempuan) dan Vivo (laki-laki) yang sedang berjalan melewati lembah chocolate di sebuah negeri.  Di tengah lembah chocolate itu terdapat jalan setapak yang beralaskan rumput yang hijau yang dipenuhi pepohonan yang rindang yang penuh pesona dan sejuk.  Di jalan itulah Embri dan Vivo berjalan kaki bersama.

<>
Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah chocolate itu terdapat banyak sekali chocolate yang berwarni-warni dengan aneka rasa dan berbagai macam bentuk.  Mulai yang berbentuk bulat, kotak, oval, bintang…pokoknya semuanya beraneka bentuk dan semuanya menarik. 
 

Chocolate-chocolate itu seakan terlihat seperti berbaris dan seakan menunggu tangan-tangan kecil Embri dan Vivo untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka. 
 

Embri sangat kegirangan melihat banyaknya chocolate yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan chocolate-chocolate tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil beraneka macam chocolate lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya.  

Embri mengumpulkan sangat banyak chocolate yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan chocolate-chocolate tersebut tapi sepertinya chocolate-chocolate tersebut tidak pernah habis, maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua chocolate yang dilihatnya.

Tanpa terasa Embri telah sampai di ujung jalan lembah chocolate. Dia melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan”. Itulah batas akhir lembah chocolate.  

Di ujung jalan, Embri sempat bertemu seorang lelaki tua penduduk sekitar.

 Lelaki tua itu bertanya kepada Embri :

“Bagaimana perjalanan kamu di lembah chocolate, nak ?”. 

“Apakah chocolate-chocolatenya lezat?”. 

“Apakah kamu mencoba yang rasa mint?”.

“Itu rasa yang paling disenangi”.

“Atau kamu lebih menyukai rasa coffee?”.  

“Itu juga sangat lezat”.

“Atau kamu telah mencoba yang rasa anggur ?”.

“Itu juga rasa yang sangat dasyat !”. 

Pertanyaan lelaki tua itu bertubi-tubi meluncur seakan penasaran tentang apa yang telah dilakukan Embri saat berada di lembah chocolate. 

Embri terperanjat dan  terdiam sesaat mendengar pertanyaan-pertanyaan lelaki tua itu. Ia merasakan badannya sangat lelah dan kehilangan begitu banyak tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak chocolate yang terasa berat di dalam tas karungnya.  

Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa sangat terkejut.  Sehingga ia pun segera menjawab pertanyaan lelaki tua itu. 

“O…oh…Chocolatenya lupa saya makan!”.  

Setengah kecewa, kemudian lelaki  tua itupun berlalu.  Tinggallah Embri yang masih terbengong menelaah pertanyaan-pertanyaan lelaki tua tadi.
 

Tak berapa lama kemudian, Vivo sampai di ujung jalan lembah chocolate.

“Hai, Embri!”.  

“Kamu berjalan cepat sekali”.   

“Saya memanggil-manggil kamu, tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya”.   

“Kenapa kamu memanggil saya ?” tanya Embri.  

“Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan chocolate rasa anggur bersama”.

“Rasanya lezat sekali”, ujar Vivo. 

Saya juga sudah menikmati pemandangan lembah chocolate.

“ Pemandangan tadi Indah sekali, benar-benar menakjubkab !”, ujar Vivo tetap dengan nada girang .

Kemudian… Vivo bercerita panjang lebar kepada Embri. Vivo menceritaka bahwa ia sempat bertemu dengan seorang kakek tua yang sangat kelelahan di lembah chocolate. Vivo sempat menemani dia berjalan.  Saya sempat memberi dia beberapa chocolate yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu dan menyenangkan. Kami tertawa bersama.

“Pokoknya sungguh membuat diriku berbahagia dan gembira”, ujar Vivo menambahkan.

Mendengar cerita Vivo, Embri menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah chocolate yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan chocolate-chocolate itu.

Dia telah lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatan chocolate-chocolate itu, karena ia begitu sibuk memasukkan semua chocolate-chocolate itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah chocolate, Embri baru menyadari suatu hal. 

Embripun bergumam kepada dirinya sendiri, “Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak chocolate yang telah saya kumpulkan.

Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.”  Ia pun berkata dalam hati, “Waktu tidak bisa diputar kembali”. 

Perjalanan di lembah chocolate sudah berlalu.  Embri dan Vivo pun harus segera melanjutkan kembali perjalanannya.

Hem….Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.

Kita cenderung menjadi Embri di lembah chocolate yang sibuk mengumpulkan chocolate-chocolate tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia?  

Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para teman saya, biasanya mereka menjawab, “Saya akan bahagia nanti… nanti pada waktu saya sudah menikah… nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri… nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya… nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya… nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar… , dan masih beragam persi jawaban mereka.

Pemikiran ‘nanti’ itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ‘sekarang’. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ‘nanti’ bahagia.  Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ‘nanti’ bahagia.

Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ‘nanti’ bahagia itu.  Ritme hidup yang sangat cepat… target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu… tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan taman di beranda depan rumah kita, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga tercinta, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir, terasa hidup menjadi lebih indah dan lebih bermakna. Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa riang anak-anak kita, bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa kita syukuri.  Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Vivo yang melewati perjalanannya di lembah chocolate yang menakjubkan.

Sekedar renungan, semoga memberikan inspirasi.

Iklan

Komentar»

1. Rezki - Februari 22, 2008

Andai kita mempunyai sifat mau besyukur tentu kita akan mampu menikmati segala pencapaian yang telah kita peroleh, hingga semua itu tidak menjadi kesia-sia an belaka.

@Ya setuju banget Rezki, bersyukur hal yang penting dalam hidup kita !
Terima kasih atas kunjungannya yach.

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: