jump to navigation

Berjumpa 2 Manusia Super di Jembatan “Setiabudi” Jakarta Februari 20, 2008

Posted by elindasari in Renungan.
trackback

Mungkin tanpa kita sadari terkadang sikap apatis senantiasa menyertai kita saat melangkahkan kaki, untuk mengarungi dan mencoba menaklukkan ibukota negeri ini.

Tapi…Semoga saja kita selalu diingatkan, untuk selalu bersikap lebih Bijaksana dan Mulia.

Saya coba berbagi cerita. Yach…Sekedar berbagi pengalaman tentang sekelumit kisah kehidupan 2 manuasia Super yang ada di sekeliling kita… di forum orang-orang super, dalam keindahan hari ini !

Akhir-akhir ini cuaca cenderung ekstrim. Tak di sangka-sangka bisa hujan lebat sampai-sampai timbul perasaan takut (karena khawatir banjir). Siang ini, selepas pagi hari tadi yang sempat diguyur hujan lebat, tanpa sengaja , saya bertemu dua manusia super.

Mereka adalah mahluk-mahluk kecil ,kurus , kumal berbasuh keringat. Pertemuan saya dengan mereka, tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi. Dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam yang sudah agak lusuh & lecek (nggak rapi).

Saat itu saya sedang menyeberang untuk makan siang. Mereka mencoba menawari saya tissue sampai saya sampai diujung jembatan. Dan dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum, yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Mbak !”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka ! Saya cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan , menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan. Laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya. Lagi-lagi terdengar sayup sayup, mereka mengucapan terima kasih, dari mulut kecil mereka. “Terima kasih, Om”.

Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka, masih tetap teronggok disudut jembatan, tertabrak derai angin Jakarta yang memang cukup kencang akhir-akhir ini. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong hitam itu, dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita tengah baya. Senyum memecah merona diwajah mereka. Terlihat berkembang, seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta yang mulai pekat.

“Terima kasih ya bu !…semuanya dua ribu rupiah!”, tukas mereka. Tak lama si wanita tengah baya itu merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

“Maaf, nggak ada kembaliannya bu ..ada uang pas nggak bu? ” ujar mereka sambil menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita tengah baya itu menggeleng.

Lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak sekitar empat meter.

“Mbak, boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan? “, suara itu kembali mengingatkan saya, kepada anak lelaki saya yang seusia dengan mereka.

Sedikit terhenyak dan tersentuh hati ini, membuat saya merogoh saku blazer saya dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah .

“Wah…nggak punya, tukas saya! “.

Lalu tak lama kemudian si wanita tengah baya tersebut berkata, “Ambil saja kembaliannya, nak!”, sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan segera menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut, sambil meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti.

Lalu, ia tergopoh-ngopoh mengejar wanita tengah baya tersebut, untuk memberikan uang empat ribu rupiah yang dipinjam dari saya tadi.

Si wanita tengah baya tadi tampak kaget, setengah berteriak ia bilang “sudah buat kamu saja , nggak apa-apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.

“Maaf bu, cuma ada empat ribu, nanti kalau ibu lewat sini lagi saya kembalikan!” ujarnya.

Akhirnya uang empat ribu itu diterima si wanita tengah baya tadi, karena si kecil buru-buru pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya.

Mereka menghampiri saya dan berujar ” Mbak , bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”.

“Eh .nggak usah ..nggak usah…biar aja..nih!” saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya, tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya.

“Nanti dulu Mbak, biar ditukar dulu sebentar”

“Nggak apa-apa, itu buat kalian saja !”, lanjut saya.
(Terus terang menyaksikan situasi ini sedari tadi membuat hatiku nyiris !)

“Jangan ..jangan Mbak, itu uang Mbak sama Ibu yang tadi juga !”, ujar anak itu bersikeras”

“Sudah…saya Ikhlas, ibu yang tadi juga pasti ikhlas!”, saya berusaha menyakinkannya.

Namun ia tetap menghalangi saya sejenak, dan berlari keujung jembatan, sambil berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, dan secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

“Ini deh Mbak, kalau kelamaan, maaf ..” ia memberi saya empat bungkus tissue. (ternyata 1 bungkus tissue seharga seribu rupiah). “Buat apa?”, ujar saya setengah terbengong ???.

“Habis teman saya lama sih Mbak !”. Jadi,maaf, tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

“Terima kasih Mbak,!”. Lalu, mereka kembali keujung jembatan.

Sambil sayup-sayup masih terdengar percakapan:

“Duit Ibu tadi gimana ?”.

Suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin !”.

Percakapan itu sayup sayuppun menghilang seiring perjalananan saya kembali ke kantor. Saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan sejuta perasaan.

Tuhan,
Hari ini saya belajar dari 2manusia super.
Kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya terenyuh.
Mereka berbalut baju lusuh,.
Tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra.
Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain.
Mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

Lalu, saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun kekurangan rizki kita, meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain.

“Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, tetapi…Kitalah yang memilih untuk menjadi Bijaksana atau Tidak”

Tuhan bimbingan saya selalu dijalan-MU !. Amien.

Semoga cerita ini bisa memberikan inspirasi yang bermanfaat !.

Komentar»

1. Rezki - Februari 22, 2008

Sungguh suatu sikap yang sangat langka kita temukan. Untuk mendapatkan rejeki meeka tidak mau merugikan orang lain.

@ Ya setuju Rezki.

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

2. dimasu - Februari 24, 2008

wah… ini cerita yang sering beredar via email atau milis..
ternyata diambil dari blog ini ya .. wuaah😀

3. Darmawan - Maret 2, 2008

memang kemuliaan, ketulusan, dan keperkasaan jiwa sering kita dapatkan dari orang-orang yang kurang beruntung secara ekonomi. Mereka sebenarnya adalah orang-2 yang teladan dan mempunyai jiwa yang kuat, tidak menyerah, tidak mencela, tidak mengeluh, dan mereka tahu yang mana hak mereka dan mana bukan hak mereka. Sementara para pejabat kita, para politisi yang justeru adalah orang-orang kaya, mereka yang katanya ilmunya dah banyak bahkan sudah kuliah sampai S3, justeru seballiknya “jiwanya kerap kosong”. Mereka para pejabat kita hanya mikirin perut sendiri dan kelompoknya, mereka kadangkala banyak tidak sadarnya bahwa rezeki yang mereka terima ada sebagian hak orang lain. Bahkan tak cukup itu hak orang lain pun mereka MAKAN demi ambisi mengumpulkan kekayaan.

@Dharmawan, thank atas kunjungannya !
Semoga langkah kita selalu dijalan yang benar. Amien.

Best Regard,
Bintang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: