jump to navigation

MENGENAL TIONGKOK SEKILAS (Bagian 10) Januari 31, 2008

Posted by elindasari in Belajar.
trackback

TULISAN SINGKAT MENGENAI SEJARAH DAN BUDAYA TIONGKOK

Dinasti Shang (1766 – 1122 SM)

Pada mulanya Shang adalah nama suku yang mendiami salah satu bagian Sungai Huang He, dimana ia merupakan bawahan atau adipait/raja muda dinasti Xia. Menurut legenda , leluhur dinasti Shang adalah keturunan anak DiKu, yaitu Qi Karena Qi berjasa membantu Yu melawan banjir , maka oleh kaisar Shun diberi wilayah Shang untuk dipimpinnya.

500 tahun kemudian pada masa diperintah oleh ChengTang (selanjutnya disebut Tang) dan dibantu oleh YiYin berhasil memakmurkan wilayahnya dan mendapat dukungan dari wilayah-wilayah lain serta menaklukkan wilayah yang tidak mau bergabung atau mendukungnya.

Xia.
Raja terakhir Dinasti Xia yang bernama Jie adalah seorang penguasa lalim, maka memberontaklah Tang, pemimpin Shang melawan hagemoni Xia. Pemberontakan tersebut berhasil dan Tang mendirikan dinasti baru serta menjadikan Bo (sekarang distrik Caoxian di Propinsi Shandong) sebagai ibu kotanya.

Tang mempelajari kesalahan pendahulunya, ia tidak memperlakukan rakyatnya dengan semena-mena serta memperkerjakan banyak menteri yang bajik dan bijaksana. Oleh karena itu terjadilah kemajuan yang pesat dalam bidang ekonomi semasa pemerintahannya.

Dinasti Xia diperintah 30 raja dan berlangsung selama 17 generasi. Dan sistem kekuasaan biasanya dari kakak diwariskan kepada adik pria, jika tidak ada adik pria baru diwariskan kepada anaknya.

Pada masa pemerintahan cucu Tang yaitu Tai Jia , ternyata Tai Jia tidak bisa memimpin negara bahkan cenderung berfoya-foya. Karena itu YiYin menurunkan TaiJia dan memerintah sementara. 3 tahun kemudian TaiJia menyesali dan kembali menjabat sebagai raja dan memerintah dengan baik.

Pada masa pemerintahan para raja berikutnya, Dinasti Shang diliputi kemelut internal berupa perebutan kekuasaan serta penyerbuan bangsa barbar di sekelilingnya. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa Dinasti Shang memindahkan ibu kotanya sebanyak lima kali.

Pemindahan ibu kota yang paling tersohor terjadi pada masa pemerintahan raja ketujuh belas dari Dinasti Shang, yakni Pan Geng. Ia memindahkan ibu kotanya ke Yin (sekarang kota Anyang, Propinsi Henan) dan selanjutnya hingga berakhirnya dinasti ini, tidak pernah lagi ibu kotanya dipindahkan. Hal ini terjadi karena letak ibu kota baru ini, dirasa yang terbaik, sehingga karenanya Dinasti Shang juga disebut dengan Dinasti Yin.

Penguasa terkenal dari Dinasti Shang lainnya adalah Wu Ding, yang merupakan keponakan Pan Geng. Ia merupakan raja yang tak henti-hentinya memperkuat negerinya. Di bawah kepemimpinannya, Dinasti Shang mencapai kemajuan yang luar biasa dalam bidang ekonomi, di mana hal ini meletakkan dasar bagi dinasti-dinasti berikutnya.

Penemuan arkeologis juga telah membuktikan prestasi dinasti Shang, dimana pada masa itu telah dicapai teknologi yang tinggi dalam bidang pertanian. Selain itu orang pada jaman itu telah dapat pula menghasilkan bejana-bejana dari perunggu. Temuan bejana perunggu yang paling tersohor adalah bejana berkaki empat simuwu, yang beratnya mencapai 732,84 kg dan dikenal sebagai bejana perunggu yang terbesar di dunia.

Pada masa Dinasti Shang berkembanglah sistim perbudakan, dimana kaum bangsawan hidup dalam kemewahan, sementara kaum budak hidup dalam kondisi yang sangat buruk. Setelah pemilik budak meninggal, maka budak-budaknya juga dikubur hidup-hidup sebagai korban bersama-sama dengan persembahan berupa hewan. Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan di sini.

Para budak, tidak seperti halnya perbudakan di Tibet, Amerika atau tempat lainnya, perbudakan yang terjadi adalah seseorang menjual dirinya kepada seorang majikan sebagai pelayan seumur hidup, jadi mereka diperlakukan sebagai pelayan secara manusiawi dan mengganti marga mereka sesuai dengan majikannya.

Pengertian dikubur hidup-hidup harus dijelaskan bahwa yang bersangkutan ikut dikubur sebagai pelayan, tidak langsung mati saat dikubur, kuburan orang kaya di tiongkok besar sekali ukurannya, bisa sebesar rumah bahkan lebih dalamnya, jadi para pelayan itu ikut masuk di dalam kuburan dan duduk di ruangan pelayan, dan disediakan lampu minyak sebagai penerangan dan makanan serta minuman untuk beberapa saat, kalau makanan dan minumannya habis baru mereka mati.

Setelah mangkatnya Wu Ding, Dinasti Shangpun mengalami keruntuhannya. Raja terakhir Dinasti Shang juga merupakan seorang tiran yang kejam, hingga akhirnya pada tahun 1122 SM, timbullah pemberontakan yang berhasil menggulingkan raja lalim tersebut.

Nah, sekarang anda sudah mulai mengenal Sejarah & BudayaTiangkok meskipun sekilas. So..bila ada yang bertanya, anda sudah ada bahan untuk menjawab, yach minimal anda minta yang bertanya untuk membaca tulisan ini tentunya !!!

Selamat beraktivitas kembali !

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: