jump to navigation

The Boss is Always Right ? Januari 23, 2008

Posted by elindasari in Tips.
trackback

Sepertinya ungkapan tsb tidak asing ditelinga kita. Apalagi jika anda adalah seorang karyawan / karyawati di sebuah perusahaan, yach nggak !

Tapi apakah dengan slogan seperti itu membuat kita jadi kehilangan nyali ? Wah, kalau sampai hal itu terjadi, sepertinya kita akan mengalami suatu kemunduran dalam menghasilkan suatu karya yang maksimal !

So, bagaimana agar hal ini tidak terjadi dan menimpah kita, yach minimal memiminalkan budaya yang semakin pekat ini ? Yok kita kulas !

Ada beberapa tip & trik yang dapat anda terapkan al :

1. Kunci Hubungan Mesra Atasan – Bawahan di Tangan Anda

Di mana pun, di perusahaan apa pun, banyak kita mendengar keluhan tentang atasan. Bahkan, dalam pelatihan pelatihan yang kami adakan, sudah lazim saya mendengar keluhan:
”Mengapa kita saja sih yang diberi pelatihan seperti ini. Atasan kitalah yang perlu mendapat pelatihan ini”.
Atau:
” Ibu bisa tidak menyampaikan hal yang ibu katakan tadi kepada atasan kami juga?”

Hubungan atasan – bawahan akan dirasakan sebagai neraka bila ada ’ketidakcocokan’ . Tidak jarang individu berencana mengundurkan diri bila ia merasa akan terus berada dibawah bimbingan atasan tertentu. Di lain pihak, banyakkah individu yang kemudian benar-benar mengambil langkah mundur karena alasan atasan tertentu? Tidak juga.

Pada dasarnya bawahan tidak bisa memilih atasan, sementara atasan lebih bebas memilih bawahan. Mau tidak mau bawahanlah yang harus menyesuaikan diri dengan bagaimanapun kondisi atasan. Sebagai bawahan, dapatkah kita me-manage hubungan menjadi mesra?

Teman saya sempat ’curhat’ dan mengatakan bahwa atasannya sangat alergik dengannya. Saya perhatikan memang atasan tersebut lebih cepat naik darah bila dia berbuat salah ketimbang rekan lainnya.

Usul saya padanya adalah untuk meningkatkan komunikasi, dengan cara konsisten meng-update laporan, baik yang positif maupun negatif pada atasannya. Semula ide ini ditolak olehnya, dengan alasan:

”Ah, nanti saya dikira menjilat atasan dan dituduh teman sebagai tukang mengadu”.

Setelah diyakinkan bahwa komunikasi, baik laporan negatif dan positif sangat berguna bagi atasan, ia pun mencobanya. Cara ini ternyata berhasil. Hubungan atasan dan teman saya berubah menjadi mesra. Jelas terlihat bahwa bawahan pun bisa mengontrol dan merubah situasi.

2. Belajarlah Cara Menyampaikan Informasi

Atasan punya banyak cara berkomunikasi. Dari pengamatan saya, bawahan sering tidak merasa penting untuk menyesuaikan cara berkomunikasi. Atasan yang ”mobile”, misalnya, tidak sempat membaca laporan yang berlembar-lembar.

Dalam menciptakan suatu hubungan kita juga harus tahu Seni-nya. Seni berhubungan dengan atasan adalah mengupayakan sedemikian rupa agar komunikasi ’sampai’ pada atasan.

Misalnya : ”Saya lebih suka di sms, bila ada hal yang harus saya putuskan”.

Preferensi atasan ini yang perlu ’ditemukan’ dan dipelajari oleh bawahan. Dalam penyampaian informasi, bawahan juga perlu belajar membuat kerangka presentasi yang komprehensif.

Gunakan ”magic words”, kata-kata berbobot positif, walaupun dalam berita terkandung informasi yang negatif.

So anda harus pandai dalam menganalisa, apa yang menjadi point interest bagi atasan anda !

3. Pelajari ”Likes and Dislikes” Atasan Anda !

Keluhan mengenai atasan yang menganut faham ”likes and dislikes” bisa dijawab santai: ”So what?”. Setiap orang mempunyai ”likes and dislikes”. Ini manusiawi.

Setiap orang mempunyai nilai, prioritas, kekuatan, kelemahan dan keahliannya masing-masing. Setiap atasan juga mempunyai preferensi pertemanan.

Kita sebenarnya bisa menganalogikan situasi ”likes and dislikes” dengan rasa nyaman. Atasan bisa merasa tidak nyaman terhadap situasi tertentu dan tentunya ia tidak akan menyukai bila di bawa ke situasi tersebut. Atasan pun mempunyai kebutuhan akan rasa aman, nyaman dan kesuksesan.

Bila Anda membantu atasan untuk merasa nyaman dengan peran Anda di bawah pimpinannya, dan memastikan bahwa peran Anda memberi kontribusi pada kesuksesannya, ia pasti akan bersikap lebih terbuka dengan Anda. Yakinlah, optimislah !

4. Jangan Harap Atasan Bertanggung Jawab Terhadap Hubungan Atasan – Bawahan dengan Anda

Wewenang dan kekuasaan atasan yang lebih besar, sering dipersepsi bawahan sebagai kekuatan untuk menghukum, dan berlaku tidak “fair” ke bawahan. Hal ini juga disertai anggapan bahwa atasan-lah yang harus bertanggungjawab untuk membina hubungan baik dengan bawahan.

Sebaliknya, kita perlu melihat bahwa tanggung jawab atasan lebih besar, tugasnya lebih sulit, sehingga hubungan mesra dengannya lebih efektif bila diupayakan dari pihak bawahan.

5. Bantu Atasan Meraih Sukses

Ingat bahwa Anda dan atasan berada dalam satu tim. Sukses atasan adalah sukses Anda. Kerelaan Anda terhadap kesuksesan atasan, akan terasa olehnya. Biasanya atasan berada dalam posisi yang terisolasi, sehingga ia kekurangan masukan..

Jangan biarkan atasan Anda bersikap acuh tak acuh dengan teknologi, penampilan, dan cara berkomunikasinya. Seorang atasan baru perlu di ”brief” mengenai rahasia umum yang beredar di lingkungan kerja, dan cara cara informal yang biasa dilakukan diluar prosedur standar perusahaan. ”Brief” bawahan seperti ini bahkan akan menghasilkan hubungan saling percaya dan nyaman di tim Anda.

Upaya untuk menjadi bagian dari solusi atasan adalah hal yang paling efektif untuk membina hubungan atasan – bawahan. Ingatlah selalu bahwa anda adalah bawahan atasan anda !

6. Jangan Harap Hasil Segera

Membina hubungan mesra dan saling percaya butuh waktu. Perubahan sikap atasan tidak terjadi dalam sekejap. Saat mengupayakan peningkatan kematangan dan kedewasaan diri dalam hubungan atasan – bawahan, kita perlu bersabar untuk menunggu reaksi positif atasan.

Ok, mudah2an tip & trik diatas bermanfaat yach. Sekarang anda tetap yakin, optimis & teruslah memberikan hasil yang maksimal & terbaik. Satu lagi yang paling penting, yaitu tetap selalu berdo’a kepada Tuhan, agar setiap langkah yang anda tempuh selalu diberikan kemudahan oleh-NYA. Amien.

Disarikan kembali oleh : Bintang, sumber dari tulisan Eileen Rachman, seorang Direktur EXPERD

Komentar»

1. Rezki - Januari 23, 2008

Sangat menarik dan berguna. Trims😀

2. jedliem - Januari 25, 2008

Jadi ingat pelajaran waktu ospek kuliah dulu, kita semua disuruh menghafal 2 pasal yaitu:
Pasal 1. Bos-bos tidak pernah bersalah.
Pasal 2. Apabila bos-bos bersalah, tinjau kembali pasal 1.
Wakakakakak…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: