jump to navigation

Perempuan sebagai Ibu, Pencari Nafkah, Pengurus Rumah Tangga, Segalanya… Juli 13, 2007

Posted by elindasari in Artikel.
trackback

Perempuan sebagai Ibu, Pencari Nafkah, Pengurus Rumah Tangga, Segalanya….   

Seiring dengan kemajuan zaman sekarang ini, yang penuh tantangan di segala bidang kehidupan,  sepertinya tidak memungkinkan lagi bagi perempuan untuk tetap berdiam diri, berpangku tangan, duduk diam tanpa harus berbuat banyak bagi dirinya sendiri dan orang disekelilingnya, khususnya juga bagi keluarganya bagi yang sudah memilikinya. 

Perempuan tetap harus menyandang dan menjalankan kodrat yang memang sudah diterimanya sejak lahir.  Seorang perempuan, apalagi yang sudah menikah pasti akan menjadi seorang Ibu.  Yah… Ibu,  bagi anak yang akan dilahirkannya tentunya.    

Seorang perempuan akan mengalami hal yang sangat alami, yaitu mengandung selama +/- 9 bulan, mangalami berbagai perubahan secara biologis terhadap tubunhya, sampai akhirnya melahirkan.    

Semuanya tentu saja melalui sebuah proses.  Dan proses itu tentu saja tidak berjalan begitu saja.  Seorang perempuan akan mengalami hal-hal yang mungkin tidak persis sama antara perempuan satu dengan lainnya.  Mulai dari Morning Sickness (seperti muntal, mual, tidak nyaman diwaktu pagi) sampai dengan yang mungkin harus bed rest untuk beberapa saat.    

Sungguh sesuatu perjalanan dan proses yang menegangkan sekaligus menggembirakan bahkan ada pula terkadang menyedihkan. 

Tergantung dari perempuan itu sendiri dan orang-orang yang berada disekitar perempuan itu tentunya.Yah… suatu pejuangan yang harus dilalui dan harus dijalani oleh seorang perempuan untuk menjadi seorang  Ibu” yang sesungguhnya. 

Setelah menjadi seorang ibu, ada pula sebagian perempuan harus pula mencari nafkah, untuk menghidupi keluarganya.  Dengan berbagai alasan ekonomi dan lain hal.   

Semakin tinggi tingkat kebutuhan hidup dan biasanya tingkat penghasilan yang masih belum bisa mencukupi , maka tak pelik lagi masih mengharuskan para perempuan untuk membantu para suami untuk mencari sumber kehidupan / nafkah untuk membantu menunjang penghasilan para suami. 

Bahkan  tak sedikit para perempuan mempunyai penghasilan yang melebihi penghasilan para suami.   Tentu bila hal terjadi  merupakan suatu yang sangat menggembirakan bagi keluarganya.  Karena dengan demikian  tingkat kebutuhan ekonomi mereka dapat dipenuhi atau bahkan dapat meningkatkan taraf kehidupan mereka agar menjadi lebih berkecukupan bahkan lebih makmur dari sebelumnya.  Yang menikmati adalah keluarganya (Suami, anak-anak, orangtua bahkan keluarganya). 

Tapi tak sedikit pula, justru hal ini dapat yang menjadikan sesuatu yang negative, khususnya bagi para “suami” yang semestinya bertanggung jawab penuh sebagai kepala rumah tangga untuk memenuhi kewajibannya sebagai pencari Nafkah  Utama untuk istri dan anak-anak mereka.  

Karena terlena dan terbisa ditopang olah para perempuan / isteri sebagai pencari nafkah (yang semestinya perempuan hanya sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarganya menjadi sebaliknya), hal ini bisa saja mengakibatkan hal-hal yang dapat merugikan dari beberapa sisi. 

Misalnya saja :  Timbul sikap manja bagi para suami. Suami cenderung bersikap santai dalam pencari nafkah, tidak bersemangat karena terbisa dibantu, bahkan  ada yang menjadi bersikap masa bodoh terhadap apa yang semestinya menjadi tanggung jawab utama mereka.  Ini hanya contoh, tapi tak sedikit yang terjadi disekitar kita…

Sungguh sebuah contoh yang menyedihkan bagi para perempuan bukan ??? 

Tak sedikit alasan yang dapat dilontarkan oleh para suami yang memiliki sifat dan karakter seperti ini.

Mereka (para suami maksudnya) sebenarnya hanya tidak dapat memanfaatkan segenap kemampuan mereka untuk dapat lebih optimis, lebih bersemangat , lebih gigih, lebih terpacu dalam mancapai kesuksesan dalam bekerja dan berkarya. 

Mereka kurang termotivasi, kurang kreatifitas bahkan innovasi untuk merancang masa depan bagi dirinya dan keluarganya. Bahkan ada yang menyalahkan para perempuan / istri dengan mengatakan tidak dimotivasi, tidak diberi semangat, kurang komunikasi dll yang sebenarnya tidak pantas untuk dijadikan alasan.   

Hal ini bisa saja terjadi dikarenakan mereka merasa ada yang menopang kekurangan atas kewajiban mereka, dsb, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat penghasilan dan kemakmuran yang dapat diperolehnya. 

Tapi jangan berkecil hati, itu hanya perumpaan beberapa contoh. Memang tak semua suami seperti ini.  

Maka bersyukurlah dan berbanggalah  kita (para perempuan yang tidak mengalami / mempunyai para suami dengan karakter atau sikap yang kurang baik seperti ini).  

Dizaman sekarang ini : Tak sedikit pula yang dapat kita lihat, dapat kita jadikan contoh, coba tengok ke kanan atau kiri  kita,  tak sedikit para perempuan yang bekerja.   

Bila anda sedikit kreatif untuk bertanya mengapa para perempuan ini tetap Terus Bekerja ? 

Anda akan sedikit terkejut dengan beratus, beribu bahkan berjuta alasan yang terlontar dari mulut para perempuan ini.  Yaitu dengan berbagai alasan ataupun embel-embel yang mungkin untuk menghibur diri perempuan itu sendiri. 

Mulai dari mengisi kekosongan waktu, mencari income / penghasilan sendiri, bahkan tak sedikit pula yang terang-terangan mengatakan kalau mereka mencari penghasilan demi untuk membantu penghasilan para suami yang memang belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang cenderung semakin hari semakin meningkat. Ada juga yang mengatakan hanya untuk enjoy, menghabiskan waktu untuk mengisi waktu luang saja. 

Tragis memang. 

Tapi itulah fakta yang terjadi di era sekarang.   

Setelah menjadi seorang ibu, menjadi sumber pencari nafkah, perempuan pun tak bisa lepaskan peran yang satu ini yaitu :  meraka juga tetap tak bisa lari dari tanggung jawab yang tak kalah penting, yaitu harus mengurus keluarganya dengan sebaik-baiknya.  

Walapun terkadang dapat diwakilkan kepada pembantu atau apapun istilahnya pada zaman sekarang ini. Tapi tetap peran ini tak kan bisa dilepaskan begitu saja. Meskipun terkadang atau hanya sebagian kecil saja yang masih melakukannya.   

Masih ingatkan kita, begitu jelas dapat kita  lihat para perempuan yang meskipun  sudah bekerja seharian, dan hari telah beranjak malam, mereka masih disibukan dengan kegiatan rumah tangga, mulai dari membereskan dapur, menyiapkan makanan untuk keesokan harinya, mengurusi anak-anak, memeriksa pekerjaan dari sekolah, merapikan buku-buku anak, menyiapkan perlengkapan untuk suami, perlengkapan anak-anak dan untuk diri mereka sendiri.   

Seorang perempuan tak kan bisa melepaskannya begitu saja.  Mereka memang seakan tidak dapat berhenti sejenak.  Perempuan, kau memang mesin yang tiada henti. 

Menengok beberapa kulasan diatas, tak pelak lagi bahwa sebenarnya tak salah jika dari jaman dahulu, telah ada beberapa pepatah & kata-kata bijak untuk perempuan seperti : 

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah… 

Surga itu adanya dibawah telapak kaki ibu…. 

Muliakanlah ibumu, Sayangilah mereka,  Agungkanlah mereka… 

Dan masih banyak lagi pujian yang untukmu Perempuan, Ibu…. 

Untuk itulah hendaknya para suami, pesan yang tak kalah penting yang harus diingat dan dilakukan dalam hidupmu: Hargai mereka, Pujilah mereka,  Kasihilah mereka, Bantulah mereka, Jangan pernah menyandarkan bebanmu kepada mereka, karena mereka sesungguhnya mereka tak terlalu pantas menerima segala yang berat darimu.   

Ringankan beban mereka, buatlah mereka untuk selalu Bahagia dan selalu Tersenyum, karena sesungguhnya bila mereka (perempuan) bisa dibuat merasa “Bahagia” maka para suami akan menerima berjuta “Kebahagian “ sebagai gantinya. 

Karena Sesungguhnya Perempuan itu memang seorang yang amat Luar Biasa….      

Komentar»

1. Metta - Juli 13, 2007

Sebenarnya dalam hal ini suami tidak bisa disalahkan 100%.
Karena tugas primer wanita seorang istri atau ibu memang mengurus anak.Sedangkan yang lainnya adalah sekunder.
Tapi wanita jaman sekarang banyak wanita menjadikan alasan diharuskan bekerja karena alasan financial. Padahal wanita itu sendiri lebih senang bekerja dibandingkan harus mengurus rumah tangga.Karena profesi Ibu rumah tangga sering diremehkan oleh sebagian orang. Padahal menjadi Ibu rumah tangga tidaklah mudah.
Mengenai double job: menjadi Ibu rumah tangga dan wanita pekerja itu adalah suatu option. Pada jaman sekarang banyak seorang ibu meng gaji pembantu atau baby sister untuk menggantikan tugasnya menjaga anak. Menurut aku: ikuti kata hati dan dahulukan kepentingan keluarga: suami dan anak daripada kepentingan diri sendiri. setelah mengambil keputusan itu, terima semua resiko dan hasil positif atau negatif yang timbul akibat pilihan anda. Sooo…. terserah anda…
Cia yoo Bu Ernaaa

2. elindasari - Juli 13, 2007

Metta, selagi lagi thank komentarnya….
Hehehe…bisa dijadikan renungan dikala senja…
Cerio….

3. abuabdilbarr - Juli 14, 2007

Assalamu’alaikum
ana mau sedikit memberi sedikit komentar..
keadaan wanita karier sekaligus ibu rumah tangga, dan banyaknya wanita yang bekerja diluar rumah adalah hasil dari propaganda musuh-musuh islam dengan seruan emansipasi. bukankan lebih baik keluarga dan lebih aman bagi agamanya bila wanita tinggal dirumah
bacalah tulisan ana http://abuabdilbarr.wordpress.com/2007/06/20/buat-aktivis-muslimah/
Sungguh dengan terjunnya wanita kelapangan kerja, keluarnya wanita ke luar rumah akan banyak terjadi kerusakan, ikhtilath, perzinaan, banyaknya laki-laki yang menganggur karena kalah saing dengan wanita dan lainnya
baca juga
http://abuabdilbarr.wordpress.com/2007/06/20/ekspresi-muslimah/
semoga bisa menjadi bahan renungan
Wassalamu’alaikum

dee - Mei 17, 2012

Mohon ikhwan, tidak sesimpel yang anta sampaikan, tidak semua wanita bekerja demi seruan emansipasi. Tidak sedikit wanita bekerja krn terpaksa, suaminya diphk nyari kerja sulit, apa ya terus nuntut cerai, lalu perasaan dan perkembangan anak-anak dikorbankan? Ya jalan satu-satunya wanita harus ambil peran. Sebagai wanita mau sekali kalau dapat kesempatan menyanding anak 24 jam, tapi apa mungkin? Sementara tidak pasti pria beruntung dapat kerja. Jualan juga selalu merugi. Dosakah wanita yang bekerja itu? Pikirkan jika mau komen, karena komen anda terasa menyakitkan bagi kami wanita yang “wajib” bekerja. Bukankan aniaya itu bisa lewat ungkapan? Anta Islami namun telah menganiaya hati seorang wanita. Salam

4. elindasari - Juli 16, 2007

Thank sobat….
Ini akan jadi bahan renungan dan telaahku, semoga akan membawa berkah dan manfaat.
Terimakasih juga atas artikel-artikelnya.
Wassalam,

5. marina - September 5, 2007

tidak ada masalah bagi wanita untuk terjun ke lapangan kerja selama tidak melalaikan kewajibannya kepada suami dan anak serta bisa menjaga kehormatannya. sebagai manusia mereka juga ingin berprestasi dan mengaktualisasikan diri. bukan semata-mata masalah uang saja. suami juga sebaiknya tidak hanya menganggap urusan domestik itu masalah istri saja, selalu ingin dilayani, mereka harus bekerja sama dan ikut membantu menangani perkembangan serta pendidikan anak.

tugas terbesar seorang lelaki adalah pencari nafkah, itu juga erat dengan tanggung jawab kepala keluarga. jika istri lebih besar peranan dalam menafkahi keluarga saja, otomatis akan ada sedikit ego laki-laki yang agak terkena, karena ada rasa tidak dibutuhkan karena independensi istri. dengan fungsi sedemikian banyak seorang wanita : melahirkan, mendidik, mencari nafkah, lelaki seolah kehilangan aktualisasi diri di tengah keluarga. bisa jadi suami manja adalah bentuk protes terselubung dari ego yang mulai sakit karena fungsinya hilang. bisa dikatakan wanita bekerja tidak bisa dihindari, yang harus dipersiapkan adalah psikis dan kebesaran hati suami atau laki-laki dalam menyikapinya. dan hal ini lebih sulit.

kalau laki-laki banyak menganggur jangan hanya menyalahkan wanita, tapi kembali kepada mental dan kualitas tenaga kerjanya sendiri, kenapa bisa kalah di dunia persaingan yang keras. lagipula wanita bekerja itu sudah ada sejak jaman dahulu, dimana mereka pergi ke sawah menanam padi, memetik daun teh, dsb. jadi kesimpulan mengenai pengangguran karena wanita adalah sangat absurd jika kita kembali pada banyak fakta sejarah.

6. elindasari - September 6, 2007

Thank a lot for your attention…

Thw woman is the best.

Best Regard,

Bintang

7. Joerig™ - September 11, 2007

sungguh suatu pembahasan yang sangat mencerahkan … terima kasih telah berbagi …🙂

8. elindasari - September 11, 2007

Thank, sudah baca artikelku & singgah di blog-ku.

Salam,
Bintang

9. ND - November 27, 2007

suami atw istri yang bekerja merupakan suatu contoh kerjasama yang baik dan bisa di ikuti oleh anak2nya kelak.
(Kalo ada artikel lagi mau dong ikut baca u/ tambah2 ilmu, thx ya..)

10. elindasari - November 28, 2007

Teman2 semua…Thank a lot atas komentar2nya….Semoga artikel ini bisa dijadikan bahan renungan, sharing,dll juga, yang terpenting dapat diambil sisi positif dan hikmahnya dalam kehidupan kita ini…Amien…

Best Regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

11. papabonbon - Januari 18, 2008
12. tita - Desember 17, 2008

thx banged sis……………
emank bener tuch, perempuan sebenarnya gak tahu klu mereka tuch kerja keras banged… can u imagine, look after family???? looking for money…. oh my… so hard…..
makanya perempuan harus diberikan pendidikan penyadaran terhadap dirinya sendiri….. sehingga tendensi sub ordinasi perempuan sebagai yang inferior akan dihilangkan step by step….
we have to bringing women together…………………..
chayooooooooooooo

@Yach begitulah perempuan Tita, malah mungkin disekeliling kita masih banyak keadaan yang lebih memprihatinkan. Terima kasih atas kunjungannya yach Tita 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

13. tita - Desember 17, 2008

thx banged sis……………
emank bener tuch, perempuan sebenarnya gak tahu klu mereka tuch kerja keras banged… can u imagine, look after family???? looking for money…. oh my… so hard…..
makanya perempuan harus diberikan pendidikan penyadaran terhadap dirinya sendiri….. sehingga tendensi sub ordinasi perempuan sebagai yang inferior akan dihilangkan step by step….
we have to bringing women together…………………..
chayooooooooooooo

14. deta - Desember 17, 2008

ya emank perempuan (ibu) adalh inspirator hidup,g da yang boleh membuat air mta ibu jtuh dan bibir ibu ta lg tersenyum walaupun it seorang ayah……………….

@Hem, Ibu memang segalanya yach 🙂 🙂 🙂
Terima kasih atas kunjungannya Deta. Sering2 main kemari yach 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang
https://elindasari.wordpress.com

15. Sissy - Agustus 19, 2010

Bagus sis artikelnya.. dan memang ini masalah yg sdg sy hadapi sekarang ini. Benar sekali kalu suami menjadi agak manja bahkan timbul sifat agak sakit hati, iri, dengki thdp istri. Dan ingin memperlihatkan bhw dia adalah laki2 tp dgn cara yg salah yg justru menyebalkan para istri yg sudah lelah mencari nafkah tp tetap dicurigai oleh suami.

Semoga suami2 seperti ini diberikan Hidayah oleh Allah SWT, amin ya robbalalamiin…

Thank you sis…

16. ana - Mei 2, 2011

Menurut saya ada 2 tipe wanita bekerja, yaitu dia bekerja karena ingin mengaktualisasikan dirinya atau sekedar mencari uang jajan buat dirinya atau hasil dari propaganda musuh islam yang disebutkan diatas. Yang kedua adalah wanita tersebut terpaksa bekerja karena suaminya tidak mampu menafkahinya. Saya adalah tipe yang kedua. Sebelum menikah saya tidak pernah menanyakan kepada calon suami apakah dia mampu menafkahi rumah tangganya atau tidak. Saya hanya berpikir dia punya pekerjaan, punya rumah yang belum lunas dan dalam benak saya adalah kewajiban dia untuk menafkahi keluarga. Setelah menikah baru saya tahu suami tidak mampu menafkahi saya karena gajinya kecil dan hanya cukup untuk bayar cicilan rumah dan dan kartu kredit yang dia belanjakan untuk membantu keluarganya sebelum menikah dgn saya. Walhasil dari hamil anak pertama, kedua, bayar pembantu pokoknya urusan rumah tangga dari A sampai Z saya yang penuhi kebetulan gaji saya jauh lebih besar dari suami. tahun ini saya memasuki tahun ke 9 saya menikah, sedih rasanya tidak pernah dinafkahi. Dalam perjalanan rumah tangga, rumah akhirnya saya lunasi dr bonus perusahaan. Kemudian sejak hamil anak kedua suami jobless. Sebenarnya sudah lama saya ingin berhenti bekerja tapi kalau saya berhenti bagaimana dengan anak2, dengan semua biaya rumah tangga? Suami saya karena usianya sulit untuk mendapatkan pekerjaan lagi akhirnya dia ngobyek sana sini tapi belum menghasilkan sama sekali. Saya, selain menanggung nafkah rumah tangga juga menanggung kedua orang tua saya yang ikut bersama saya. Sekali lagi saya bekerja bukan untuk mengikuti ego saya sebagai wanita yang berpendidikan, malah kalau bisa saya teriak saya ingin mengatakan saya ingin diberi nafkah oleh suami lalu saya berhenti bekerja dan berada disamping kedua anak saya setiap saat dalam masa pertumbuhan mereka. Bukan seperti sekarang yang pergi pagi pulang malam bertemu anak hanya setengah jam di pagi hari dan 2 hari weekend. Kadang saya bertanya kepada Tuhan ‘Dia memerintahkan wanita untuk tinggal dirumah, mengurus rumah tangga dan mendidik anak, tapi mengapa Dia tidak memberi rejeki untuk suami saya sehingga bisa menafkahi keluarganya? Mengapa saya ditempatkan diposisi dimana saya harus mencari nafkah sehingga harus meninggalkan anak-anak saya? saya tidak menemukan jawaban kecuali menjalani peran ganda ini dengan berusaha ikhlas…FYI, teman-teman saya dikantor banyak yang breadwinner seperti saya…

17. dee - Mei 17, 2012

Tulisan ini sungguh nyata. Banyak yang mencibir, wanita bekerja mengira hanya karena butuh eksistensi, mereka tak pernah merasakan bagaimana rasanya jika suami dipecat, nyari kerja nggak dapat2, usaha ditipu dan merugi, sementara istrinya dapat kesempatan kerja meski juga berat lalu menjadi tulang punggung keluarga. Apakah salah keluarga yang seperti itu? Terkadang wanita yang memang “wajib” kerja ingin menjadi wanita yang “dirumahkan” jangan berpikir wanita kerja mengejar karir, melainkan terkadang terpaksa karena demi bisa menghidupi keluarga. Salut dengan tulisan ini dan prihatin dengan yang menyalahkan kondisi wanita bekerja krn anda tak pernah merasakan menjadi wanita yang harus bekerja.

18. gitsni - Oktober 29, 2012

Andai pilihan itu ada, saya akan lbh memilih untuk menjadi seorang ibu dan istri saja daripada harus bekerja,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: