KADO SPESIAL DARI SEORANG SAHABAT Mei 18, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: 10 Mei, Blog, Blogger, Buku, Kado Special, Makin Cantik Aja !, persahabatan, Sahabat, Tutinonka, ulang tahun
3 comments

Kado Special dari seorang Sahabat
Seperti biasa, setiap hari Sabtu (jika hari libur), kegiatan pagi saya isi dengan memasak untuk keluarga tercinta. Maklum jika hari kerja, mulai dari hari Senin sampai Jum’at biasanya urusan memasak lebih saya serahkan kepada si mbak, meski untuk urusan menu tetap saya yang kontrol.
So..jika para sahabat main ke rumah saya, tak jarang mereka akan ngeledek dan menggoda saya, karena mereka akan membaca sesuatu di ruang makan keluarga saya. Yach, terdapat daftar menu untuk 30 hari kedepan yang saya laminating lengkap dengan gambar-gambar yang lucu yang saya tempel dgn magnet di kulkas sehingga akan jadi pemandangan yang unik, dekat meja makan keluarga saya.
Saya sengaja membuat menu selama 1 bulan setelah berkonsultasi, lebih tepatnya bernego dulu dengan putra saya yang tertua (+/- 10 tahun), tentang menu yang akan dinikmatinya selama 1 bulan ke depan selama saya nggak ada dirumah alias di kantor, termasuk hari Sabtu dan Minggu. Hanya pengecualiannya kalau hari Sabtu atau Minggu yang jadi coki-nya saya, hahaha .
Sedangkan untuk putraku yang kedua menunya lebih special krn masih nasi tim dan sejenisnya. Nah kalau ini susternya yang masak & bikin menu, hihihi…
Tiba-tiba ketika saya lagi heboh memasak, kebetulan hari ini saya lagi coba masak rendang untuk makan siang, Pangeran putraku yang tertua setengah berteriak memanggilku sambil menghampiriku, “Mama, ini ada paket untuk mama !”.
“Hem, dari siapa Pangeran”, tanyaku karena tanganku masih sibuk mengaduk-ngaduk kuah rendang yang mulai menyusut, dan aromanya yang mulai tercium harum dan sedap, hahaha….nah kalau yang ini muji sendiri qiqiqi…
“Dari Tutinonka, Jogjakarta, ma…ini teman mama yach ?”, tanya Pangeran bak seorang detektif.
“Hah, dari mbak Tuti ?”, sini coba mama lihat, terima kasih yach Pangeran !”,ujarku lagi dengan wajah yang berbinar sambil mengusap rambutnya yang mulai basah karena keringat.
Setelah beberapa sa’at kemuadian, saya dan Pangeran segera bergegas membuka paket special itu.
(lagi…)
RAHASIA PANGERAN (bag 5) Februari 3, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Celengan, hadiah, Ita, pangeran, Rahasia, sepeda mini, surprise, Tabungan, ulang tahun
8 comments
(Bagian 5)
Keesokkan harinya , sekitar jam 3 sore, aku, suami dan pangeran sudah
tiba di depan rumah ibu Ita. Tapi keadaan rumah tampak sepi dan
lenggang saja.
”Assalamualaikum”, ujarku, pangeran dan suami hampir berbarengan.
Sekali lagi kami mengulanginya, ”Assalamualaikum”
Tapi lagi-lagi kami tidak mendapatkan jawaban dari dalam rumah.
Lalu aku berinisiatif untuk bertanya kepada seorang tetangga yang berada
selang dua rumah dari rumah bu Ita. Kebetulan ibu ini sedang duduk-
duduk di terasnya.
”Ma’af bu… mau tanya, apa ibu tahu ibu Ita ada di rumah nggak ?”, tanya
saya kepada ibu ini.
”O, ibu Ita sudah sekitar 4 bulan ini pindah dari sini bu”, jawab wanita
ini pendek.
”O, begitu, ibu tahu nggak keluarga ibu Ita pindah kemana ?”, tanya
saya lagi kepada ibu ini.
”Hem…”, wanita ini tampak ragu menjawab pertanyaan saya.
“Ma’af bu…saya Bintang, kebetulan anak saya Pengeran adalah muridnya
bu Ita, saya ingin mengantar sesuatu buat ibu Ita. Apa ibu bisa kasih tahu
alamatnya bu Ita ?”, kali ini saya mencoba menyakinkan kepada mantan
tetangga bu Ita ini maksud kedatangan saya.
“O, begitu…Yach, sebentar dulu yach neng, saya coba tanyakan dulu ke
anak saya, rasa-rasanya pernah nyimpen alamatnya bu Ita, pas tempo
hari pindahan”, ujar wanita ini lagi bergegas meninggalkan kami sejenak.
Tak lama kemudian wanita ini kembali dan menyodorkan secarik
kertas, ”Ini neng alamatnya”.
”Wah, terima kasih banyak yach bu, kalau begitu kami pamit dulu, mau
langsung kesana”, ujar saya mengakhiri percakapan dengan wanita ini.
****
Ternyata agak susah juga mendapatkan alamat ini. Tak kurang dari
setengah jam perjalanan kami tempuh. Jalan menuju alamat ini agak
sempit dan banyak lubang. Kami sempat bertanya beberapa kali dalam
perjalanan kepada beberapa orang yang kami jumpai. Berbeda sekali
dengan rumah bu Ita sebelumnya.
Dalam perjalanan kesini, Pangeran mengutarakan kalau bu Ita memang
pernah cerita akan pindah ke kontrakan yang baru, karena kontrakannya
sekarang akan dipakai oleh yang punya rumah. Oooo…
Akhirnya pencaharian kami berakhir disebuah rumah yang mungil tanpa
pagar di sudut gang. Rumah ini kelihatannya cukup rimbun. Pot-pot bunga
dari kaleng bekas tampak menghiasi pekarangan rumah dengan anggun.
Bunga kuping kancil dan sirih gading nampak merambat di dinding samping
rumah. Meski rumahnya mungil dan sederhana, namun tetap tampak asri,
gumamku dalam hati.
Tiba-tiba keluar sesosok bayangan dari sampingku yang membuat aku
hampir terperanjat.
”Cari siapa yach ?”, ujar seorang laki-laki yang keluar dari samping rumah.
”Assalamualaikum pak”, ujarku agak terbata menyambut kehadiran laki-laki
ini yang juga langsung dijawab salam olehnya.
”Pak, apa betul ini rumah ibu Ita”, tanya saya lagi.
”O, betul, ini siapa yach ?”, laki-laki ini balik bertanya kepadaku.
”Saya Bintang, ini Pangeran putra saya,…muridnya bu Ita”, lanjut saya
lagi mencoba menjelaskan.
”Ayo, masuk bu Bintang, ayo Pangeran”, ujar laki-laki ini ramah.
”Sebentar yach saya suruh anak saya untuk penggil bu Ita dulu ke masjid,
tadi lepas Zuhur kebetulan ada pengajian”. Biasanya sich…lepas Ashar
udah pulang kok”, ujar laki-laki ini lagi sambil meminta anaknya ”Ali” untuk segera menyusul ibunya ke masjid tak jauh dari rumah.
Tak lama kemudian kami melihat ibu Ita dan anakknya di ujung gang.
Aku, pangeran dan suamiku bergegas menurunkan sepeda mini buat bu Ita.
Aku sengaja mengajak suami bu Ita untuk membuat sebuah surprise kecil
buat isterinya. Kebetulan suaminya bu Ita setuju. (Hehehe…dasar iseng….)
Nah, tepat ketika bu Ita dan Ali tiba di depan rumah dan mengucapkan
salam, ”Assalamualaikum”, kami serentak menjawab ”Waalaikumsalam”,
dan muncul secara bersamaan.
Kontan saja bu Ita agak kaget atas kehadiran kami di rumahnya.
Lalu kami meminta ibu Ita untuk menutup mata dan mengarahkannya ke
samping rumah. Untungnya bu Ita langsung menurut saja, atas permintaan
kami yang spontan dan tiba-tiba ini. Bu Ita menutup matanya dengan
kedua belah tangannya.
”Nggak boleh ngintip yach bu !”, ujar suami bu Ita nggak mau kalah untuk
beri kejutan kepada isterinya.
”Teretet…sekarang bu Ita boleh buka matanya”, ujar Pangeran setengah
berteriak.
Dalam sekejap bu Ita melepaskan kedua belah tangan yang tadi menutup
mukanya.
Melihat hadiah sebuah sepeda mini buat dirinya bu Ita tak dapat menahan
titik air matanya. Mata ini seketika jadi berkaca-kaca.
Bibir bu Ita langsung berujar ”Terima kasih yach bu, Pak, Pangeran”.
”Ibu jadi malu”, ujar bu Ita lagi dengan wajah yang mulai merona.
”Bu Ita ini sekedar hadiah dari kami di hari Ultah Ibu”. ”Terima kasih atas
bimbingan ibu Ita selama ini buat pangeran”. ”Semoga ibu Ita dan keluarga
berkenan menerima hadiah sederhana ini yach bu”, ujarku mewakili
Pangeran dan suami sambil memeluk bu Ita, yang masih menangis haru
sekaligus bahagia menerima semua ini.
****
Setelah menikmati hidangan teh hangat dan bakwan sayur yang sengaja
dibuat bu Ita akan kehadiran kami, kami mohon pamit. Aku, pangeran
dan suami diantar bu Ita sekeluarga sampai di ujung gang tempat suamiku
memarkir mobil.
”Sekali lagi terima kasih yach pak, bu, pangeran”, ujar bu Ita dan suami
mengantar kepulangan kami.
Kami semua selambaikan tangan perpisahan sore ini dengan berjuta
perasaan di dada kami. Perasaanku kali ini sangat berbahagia, karena
ternyata dibalik Rahasia Pangeran kali ini, menyimpan peristiwa yang
sangat berarti bagi seorang bu Ita. Guru yang selama ini telah membimbing
putraku jadi gemar melukis seperti diriku. Sekali lagi terima kasih bu Ita
dariku dan pangeran kecilku. Semoga ibu Ita dan keluarga selalu berbahagia.
Cerita ini kupersembahkan buat :
“Ibu Ita Ayuningtyas dan keluarga”
Semoga cerita tersebut bermanfa’at & memberi inspirasi.
Puisi Buat Seorang Sahabat Juli 22, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: bahagia, Best Friend, Mei, Sahabat, ulang tahun
162 comments

Sahabat,
Hari ini tanggal 1 Mei yang Bahagia bagimu,
Aku berharap dapat membawakan semua kemegahan bunga di bulan Mei untukmu,
Aku berharap dapat mengirimkan sebuah kejutan kebahagiaan untukmu,
Dengan berjuta corak warna
Dengan aneka keharuman bunga di bulan Mei,
Di bulan Mei yang indah ini,
Aku berharap,
Aku dapat menulis sebuah puisi untukmu,
Aku berharap,
Aku bisa melukismu, sebagai seorang Sahabat!
Namun aku tidak akan pernah mampu memberimu,
Karena aku tidak dapat mengekspresikan
perasaan ini,
Di dalam kehadiranmu,
Kau telah membawakan aku kegembiraan,
Kau membawakan aku rasa bahagia yang
tidak pernah berakhir,
Tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan perasaan yang terdalam ini,
Karena hanya akan mengalir di dalam hatiku,
Selamanya … Selamanya …
Namun pada momen ini,
Aku dengan semua bunga di bulan Mei,
Aku dengan semua cahaya bintang,
Aku, ….diriku,
Pada hari yang indah pada tgl 1 Mei ini,
Mengucapkan,
Selamat Ulang Tahun, “Happy Nice Day for You !”
My Best Friend.
Sahabat,
Hari ini tanggal 1 Mei yang Bahagia bagimu,
Aku berharap dapat membawakan semua kemegahan bunga di bulan Mei untukmu,
Aku berharap dapat mengirimkan sebuah kejutan kebahagiaan untukmu,
Dengan berjuta corak warna
Dengan aneka keharuman bunga di bulan Mei,
Di bulan Mei yang indah ini,
Aku berharap,
Aku dapat menulis sebuah puisi untukmu,
Aku berharap,
Aku bisa melukismu, sebagai seorang Sahabat!
Namun aku tidak akan pernah mampu memberimu,
Karena aku tidak dapat mengekspresikan
perasaan ini,
Di dalam kehadiranmu,
Kau telah membawakan aku kegembiraan,
Kau membawakan aku rasa bahagia yang
tidak pernah berakhir,
Tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan perasaan yang terdalam ini,
Karena hanya akan mengalir di dalam hatiku,
Selamanya … Selamanya …
Namun pada momen ini,
Aku dengan semua bunga di bulan Mei,
Aku dengan semua cahaya bintang,
Aku, ….diriku,
Pada hari yang indah pada tgl 1 Mei ini,
Mengucapkan,
Selamat Ulang Tahun, “Happy Nice Day for You !”
My Best Friend.
ULANG TAHUN UNTUK DIRIKU Mei 8, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: berkah, harapan, lilin, ulang tahun
8 comments
Nyala api lilin ulang tahun, tahun ini kutiup lagi,
Tapi kali ini, dengan harapan yang lebih besar !
Api lilin ini, akan selalu menyala,
Terus menyala tanpa pernah padam,
Kan kujadikan bara di seluruh hatiku,
Agar aku selalu kuat menantang hari,
Tidak takut dengan aral yang selalu menggoda,
Berani untuk selalu bermimpi indah dan menakjubkan,
Karena aku sangat yakin,
Ulangtahunku adalah berkah yang indah,
Patut untuk kurayakan, meski dengan konsep yang berbeda,
Setidaknya, ini kan kupakai sebagai catatan hidup,
Hitam, putih, biru… penuh corak dan warna,
Bagiku itu bagian dari scenario-Ilahi,
Aku mencintai diriku, begitu pula hidupku,
Karena bagiku semua ini adalah berkah yang tak terbatas,
Selamat ulang tahun untuk diriku,
Semoga kali ini dengan sisa umur yang penuh berkah dari-NYA.
AMIEN !