Hukum Kendaraan Sampah Maret 10, 2009
Posted by elindasari in Renungan.Tags: Hati, HP, Hukum, Kantor, Kendaraan, Mobil Van, Prilaku, Sampah, Senyum, Taksi, Voucher
6 comments

Hari ini saya sengaja naik sebuah taksi untuk berangkat ke kantor. Kebetulan pula, pulsa HP saya sa’at saya menelpon sedang memasuki masa tenggang. Jadi dalam perjalanan ke kantor saya sempat singgah terlebih dahulu di sebuah toko yang kebetulan menjual pulsa HP. Sengaja saya minta bapak supir taksi untuk parkir sebentar sepeninggalan saya membeli voucher HP.
Tak lama kemudian saya sudah mengisi ulang voucher tersebut dan HP saya sudah bisa saya gunakan untuk bertelpon ria kembali dengan anak saya, yang kebetulan hari ini tidak saya antar ke sekolah. Biasa sekedar control jarak jauh, apakah pangeran sudah tiba di sekolah atau belum.
Tak lama kemudian, kami mulai memasuki jalan protocol. Suasana padat dan macet mulai terasa, apalagi pada jam kantor adalah rutinitas sehari-hari untuk kota Jakarta, yang mungkin bagi kebanyakan orang Jakarta adalah hal yang sungguh membosankan.
Tapi berhubung kali ini saya naik taksii, jadi saya nggak mau ambil pusing. Saya tinggal duduk manis di kursi belakang. Sekali-sekali saya mulai memencet-mencet tuts yang ada di HP, sekedar memindahkan channel info dari radio, untuk mengisi kebosanan selama di perjalanan karena kebetulan jalanan lumayan padat merayat. “Hem…nothing to do”gumamku dalam hati.
Ah, saya mulai memperhatikan gerak-gerak bapak sopir taksii yang sedari tadi menyetir.
Kebetulan bapak supir taksii ini pembawaannya, baik sikap orangnya maupun caranya mengemudi cukup tenang. Ndak ngasah-ngusuh, jadi saya sangat menikmati perjalanan ke kantorku dengan taksi kali ini.
“Aha, jalanan mulai cair kepadatannya”, mudah-mudahan saya nggak telat nich, gumanku lagi dalam hati, karena akhirnya mobil taksi yang kutumpangi sudah bisa berjalan mulus kembali. Meski masih dalam tempo yang tetap nyaman.
(lagi…)
SKETSA “MENTARI EMAS” Desember 12, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: Do'a, Emas, Hati, mentari, Tuan, Tuhan
6 comments

Kusketsa mentari emas yang congkak,
Kokoh berdiri menikam laut,
Meski akan tenggelam di ufuk cakrawala,
Berteman senja nan mulai turun memekat,
Angin seakan mati, lautpun sekonyong terpukau,
Henyak terdiam, hening menyelimuti alam,
Bumi terdiam, sunyi sepi mencekam,
Seakan menunggu keputusan sakral,
Menunggu torehan alam,
Haus tuk melukis sketsa wajah bijaksana,
Mentari emas,
Aku tak habis mengerti,
Mengapa jerit hati mereka seakan tak bersuara,
Ratap jiwa mereka sekan lenyap di telan dahaga,
Dirundung gemuruh gundah gulana tak terperih,
Ratap hatiku coba mengetuk dirimu,
Jelmaan manusia mentari emas,
Mungkin lewat segumal nyanyian,
Aku dapat menyusup kalbumu,
Ku susun huruf, kurangkai kata,
Sekedar menguak jendela hatimu,
Jendela hati kita semua yang mungkin bisa terbuka,
Tuk sekedar mendengar keluh mereka,
Jeritan kecil, manusia-manusia kecil nan renta,
Berwajah kusut masai kala terpanggang getir,
Tinggal di kaki langit, disela pilar rumput yang semakin menghimpit,
Digerus zaman yang mulai tak banyak tuan,
Dikurung berjuta mata yang menatap hilang dan hampa,
Tuhan,
Kuserahkan jiwa raga mereka lewat titah-Mu,
Tuk merubah hitam putih potret kelam tanah ini,
Tuk mengobati pertiwi dan selaksa jiwa manusia,
Yang mulai kerdil menikam tak berhati,
Mulai congkak bersinar bak Mentari Emas nan panas,
Tuhan,
Dengar do’a kami,
Arahkan mata hati mereka,
Yang bermain di perlehatan negeri ini,
Agar mereka tak selalu tutup mata,
Yang tak mampu mendengar jerit hati perih mereka,
Yang terkalahkan karena keadaan & kondisi,
Yang terabai oleh waktu yang tergerus zaman,
Yang selalu memerah luka, tersiksa kefakiran,
Karena jejak dibakar sketsa “Mentari Emas”
Sepenggal Cerita di Gubuk Reot November 17, 2008
Posted by elindasari in Renungan.Tags: cahaya, gubuk, Hati, hibur, koran bekas, lelaki kecil, perempuan tengah baya
5 comments
Matahari telah tenggelam beberapa jam yang lalu. Hari telah gelap, hanya seberkas cahaya lampu pijar 5 watt yang masih menyala di sudut gubuk ini. Nyamuk mulai berkejaran kesana kemari mencari pendonor. Namun mata Yanto masih enggan di ajak pergi ke peraduan malam.
“Mak, Yanto lapar mak !”, rengek yanto kecil yang sedang duduk di balei-balei sebelah ibunya, sambil mengayunkan kakinya pelan ke depan dan ke belakang dengan irama yang sedikit gontai. Namun, perempuan tengah baya itu hanya bisa menatap dengan lembut anaknya yang merenggek. Sebenarnya hati kecil perempuan tengah baya itu rasanya teriris-iris mendengar renggekan putanya ini.
Terpapar jelas di depan matanya, kondisi gubuk yang ditempatinya bersama anak semata wayangnya ini. Kondisi gubuknya ini sangat reot dan siap digusur kapan saja oleh aparat keamanan kota. Hem, semakin miris hati perempuan tengah baya ini.
Sekarang di gubuk reot inipun, tidak ada sama sekali makanan yang masih tersisa.
Hanya ada air putih yang masih ada di botol bekas minuman ringan yang berada diatas meja tua mereka.
Lalu, perlahan diraihnya botol itu dan di ulurkannya ke mulut anaknya yang telah, yang sedari tadi merengek karena lapar. Yanto kecil meneguk beberapa kali air dari botol itu, dia berusaha menghilangkan rasa lapar dengan meminum air tersebut.
(lagi…)
SEPOTONG HATI November 7, 2008
Posted by elindasari in Renungan.Tags: beautiful, friend, Hati, heart, perfect, radical
13 comments
Dalam sebuah kisah “The Perfect Heart VS The Beautiful Heart” saya mendapatkan suatu pelajaran yang menurut saya patut untuk kita renungkan dan kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari. Disini saya mendapatkan :
DEFINITION OF A FRIEND
A friend should be Radical. They should love you when you’re unlovable, Hug you when you’re un-huggable, and Bear you when you’re unbearable. They should cheer when the whole world boos. Dance when you get good news and cry when you sad, too.
But most of all a friend should be Mathematical. They should Multiply the joy, Divide the sorrow, Subtract the past, Add to tomorrow. Calculate the need deep in your heart, and Always be bigger than the sum of all their parts.
Dalam kisah tersebut diceritakan demikian :
Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah.
Tapi tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata “Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku?”.
Lalu, kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu.
GORESAN TERCINTA BUAT IBU & AYAH Juni 5, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: bahagia, Hati, ibu & ayah, rindu, tercinta, teringat, Tuhan
5 comments
Saat kutengadahkan mukaku ke atas menatap terik mentari,
Saat kutatap gemerlap bintang di kala gelap yang siap mengantarkan mimpi,
Tergores sepasang nama,
Nama yang selalu kuingat dalam benak diri,
Saat kupalingkan mukaku ke bawah menatap dinding & lantai,
Tetap tergores sepasang nama,
Nama yang selalu kukenang hingga akhir hayat diri,
Saat kulalui hari-hari berganti,
Tetap selalu tergores,
Tetap terukir dalam sanubari ini,
Tetap tertata, tersusun dengan indah,
Sepasang nama yang akan selalu kuteladani,
Sepasang nama,
Nama… yang selalu rela berkorban untukku,
Berkorban hingga akhir hayat mereka,
Yang selalu merelakan & mengiklaskan hidupnya,
Untuk diriku,
Untuk kebahagianku,
Untuk membimbingku,
Untuk menempah diriku,
Menjadi seorang MANUSIA,
Bait Untuk Sang Pujangga April 15, 2008
Posted by elindasari in puisi.Tags: Hati, puisi, Pujangga
7 comments
Ingin kututup sekat hati ini,
Sekat hati yang paling rapat,
Yang dulu pernah rapuh,
Dimakan rayap waktu,


